"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Malam itu berakhir dengan kehangatan jas Bintang yang masih tersampir di bahu Afisa. Namun, agenda mereka belum usai. Desember 2021 bukan hanya tentang lamaran yang tertunda, tapi juga tentang tradisi tahunan Keluarga Fernandes yang tidak pernah absen: Gala Akhir Tahun.
Mobil Bintang meluncur membelah kemacetan Jakarta menuju kediaman mewah keluarga besarnya. Afisa merapikan tatanan rambutnya, mencoba menutupi kegugupan yang selalu muncul setiap kali ia harus berhadapan dengan "standar" keluarga Bintang.
"Fis, santai saja. Papa dan Mama sudah menganggapmu anak sendiri. Apalagi ada 'si biang kerok' itu," bisik Bintang sambil melirik ke arah pintu besar rumahnya.
Begitu pintu terbuka, sosok pria dengan kemeja flanel yang jauh dari kesan formal langsung menghambur ke arah mereka.
"Pemenang trofi debat nasional kita akhirnya datang!" seru Arkan, adik Bintang.
Arkan tidak berubah. Meskipun kini ia menyandang gelar Magister Hukum dari UI dan memegang posisi strategis sebagai penasihat hukum di perusahaan papanya, ia tetap Arkan yang dulu—rekan debat Afisa yang paling solid dan satu-satunya orang yang tahu betapa hancurnya Afisa dulu
"Arkan, jaga sikapmu. Afisa baru saja pulang sidang," tegur Bintang, meski ia tersenyum melihat keakraban keduanya.
Arkan tertawa lepas, merangkul bahu Afisa layaknya sahabat lama. "Tenang, Kak. Aku dan Afisa punya bahasa hukum yang tidak akan Kakak mengerti. Bagaimana, Partner? Kudengar firma hukummu lagi menangani kasus lahan di Jakarta Utara? Butuh bantuan dari sisi corporate papaku?"
Afisa terkekeh, beban di dadanya sedikit terangkat. "Fokus saja pada tesis S2-mu yang katanya belum jilid itu, Kan. Jangan sok mau jadi pahlawan kesiangan."
"Wah, mulut tajammu masih sama. Tidak heran Kak Bintang sampai melamar berkali-kali tapi masih saja kena skakmat," goda Arkan dengan nada jahil yang khas.
Meja makan panjang Keluarga Fernandes malam itu penuh dengan tawa. Ayah Bintang, seorang pengusaha tegas, dan Ibunya yang lembut, menyambut Afisa dengan pelukan hangat. Di sela-sela obrolan tentang ekonomi dan kesehatan, Afisa melirik ke arah Arkan. Arkan adalah saksi hidup transformasinya. Arkan yang dulu membantunya menyusun argumen saat otaknya tumpul karena patah hati.
Namun, di tengah keriuhan itu, mata Afisa kembali bertemu dengan tatapan Bintang. Bintang yang tenang, Bintang yang memberikan ruang, dan Bintang yang baru saja ia tolak (lagi) lamarannya di restoran tadi.
"Bin," bisik Afisa di bawah meja, saat yang lain sibuk mendengarkan cerita Arkan tentang dosen pengujinya yang killer.
"Ya?"
"Terima kasih sudah membawaku ke sini. Ke keluarga yang... terasa seperti rumah."
Bintang menggenggam tangan Afisa di balik taplak meja. "Ini rumahmu juga, Fis. Jika tidak sekarang, mungkin nanti saat kamu sudah siap menuliskan namamu di kartu keluarga kami."
Arkan, yang rupanya menyadari interaksi diam-diam itu, berdehem keras. "Ekhem! Kode etik advokat melarang adanya konspirasi di bawah meja, Saudara-saudara! Ingat, ada jomblo berintegritas di sini!"
Tawa pecah di ruang makan itu. Malam itu, di penghujung 2021, Afisa merasa ekuilibrium hidupnya perlahan mulai terbentuk. Ia punya karier yang gemilang, sahabat seperti Arkan yang selalu mendukung, dan pria seperti Bintang yang kesabarannya seluas samudra.
Ia tidak tahu bahwa hanya dalam hitungan minggu, surat tugas ke Semarang akan datang dan mengacak-acak kembali semua kenyamanan ini.