NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:983
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMUDI DITANGAN SENDIRI

Pagi itu, udara kota kecil ini terasa begitu menusuk tulang, namun hangatnya mesin motor matic biru navy yang baru saja dikirim sore kemarin memberikan sensasi semangat yang berbeda bagi Dina. Ia berdiri di halaman depan kosan, mengenakan jaket parkanya, sambil sesekali memutar gas pelan untuk memanaskan mesin. Suara mesin yang halus itu terdengar seperti melodi kemenangan di telinganya.

"Oke, Dina. Fokus. Rem kiri, gas kanan pelan-pelan," gumamnya pada diri sendiri, mencoba mengingat semua instruksi yang diberikan Adrian di lapangan bola tempo hari.

Baru saja ia hendak menaikkan standar samping, deru motor trail yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan gerbang. Letda Adrian turun dengan gerakan tangkas. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Ia tidak memakai jaket taktikalnya yang gagah, melainkan hanya kaos polo hitam yang pas di badannya, dan wajahnya tampak sedikit... bimbang?

Dina mengerutkan kening, menatap Adrian dengan jenaka. "Loh, Mas? Kenapa ke sini lagi? Kan Mas Adrian tahu saya sudah beli motor sendiri. Masa mau antar jemput lagi?" goda Dina sambil menepuk jok motor barunya yang masih terbungkus plastik di beberapa bagian.

Adrian tertegun. Ia sempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebuah gerakan yang sangat jarang dilakukan oleh seorang perwira yang biasanya selalu tampak tegas dan penuh perhitungan. Ia tertawa kecil, namun tawa itu terdengar sedikit kikuk.

"Iya, saya tahu Mbak sudah punya 'kuda' baru," ucap Adrian, mencoba mengatur ekspresi wajahnya kembali normal. "Cuma... saya mau memastikan Mbak Dina lancar nyetirnya sampai kantor. Kan ini hari pertama Mbak nyetir di jalan raya tanpa saya liatin langsung di samping. Medan di sini kan banyak tikungan tajam, Mbak."

Dina menahan tawa. "Mas Adrian, kemarin di lapangan saya sudah bisa lepas tangan satu lho. Mas masa nggak percaya sama murid sendiri?"

"Bukan nggak percaya, Mbak. Tapi tanggung jawab instruktur itu sampai muridnya selamat di tujuan," kilah Adrian cepat, meskipun telinganya mulai tampak sedikit memerah—entah karena dinginnya udara pagi atau karena alasan lain.

Tiba-tiba, suara tawa menggelegar memecah suasana canggung itu. Pak Dodo, suami Bu Ani yang juga menjabat sebagai Ketua RW di wilayah tersebut, muncul dari balik pagar rumahnya sambil membawa gelas kopi. Beliau rupanya sudah sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari teras.

"Halah, Mas Letnan! Alasan saja itu mah!" seru Pak Dodo sambil melangkah mendekat dengan sarung yang masih tersampir di pundak.

Adrian dan Dina menoleh serempak. "Pagi, Pak RW," sapa Adrian dengan sikap hormat otomatis.

Pak Dodo terkekeh, lalu menatap Dina dengan kerlingan mata yang penuh arti. "Nduk Dina, jangan mau dibohongi sama omongan 'prosedur keamanan' atau 'instruktur'. Mas Letnan ini ke sini sepagi ini bukan karena takut kamu jatuh dari motor, tapi itu karena naksir kamu!"

Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat suasana mendadak senyap sesaat. Dina merasa wajahnya panas seketika, sementara Adrian benar-benar mematung dengan mulut sedikit terbuka.

"Aduh, Bapak... Mas Adrian cuma bantu warga kok," sanggah Dina dengan suara yang mengecil, meskipun hatinya berdesir hebat.

"Halah, warga yang mana lagi yang dia jemput jam setengah tujuh pagi begini?" timpal Pak Dodo sambil menyeruput kopinya. "Mas Letnan ini biasanya jam segini sudah di lapangan apel, teriak-teriak kasih instruksi ke anggotanya. Eh, sekarang malah berdiri di depan kosan Mbak Dina cuma buat lihatin mesin motor dipanasin. Kalau nggak sayang, ya nggak mungkin begini toh?"

Adrian berdeham keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Pak RW ini sukanya bercanda pagi-pagi. Saya cuma menjalankan fungsi koordinasi wilayah, Pak."

"Koordinasi wilayah atau koordinasi hati, Mas?" goda Pak Dodo lagi sebelum berlalu masuk ke rumahnya. "Sudah sana, berangkat! Keburu siang nanti jalanan ramai!"

Setelah Pak Dodo masuk, suasana menjadi sangat sunyi. Dina menatap ujung sepatunya, sementara Adrian sibuk membenarkan letak kaca spion motornya sendiri yang sebenarnya sudah pas.

"Mas Adrian... benar kata Pak RW?" tanya Dina pelan, memberanikan diri.

Adrian menarik napas panjang. Ia melepas helmnya sejenak, menatap Dina dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang tidak lagi menyembunyikan apa pun di balik seragamnya.

"Mbak Dina," suara Adrian melunak, tidak lagi kaku. "Mungkin Pak RW ada benarnya. Saya... saya memang tidak pernah merasa sekhawatir ini pada keselamatan warga lain sebelumnya. Saya suka melihat Mbak Dina berjuang untuk mandiri, dan saya ingin ada di sana untuk memastikan Mbak benar-benar sampai di titik kemenangan itu."

Dina tersenyum tulus. Ia tidak merasa tertekan seperti saat bersama Rama. Ia justru merasa sangat dihargai.

"Kalau begitu, mari kita 'koordinasi wilayah' sampai kantor, Mas. Saya di depan, Mas di belakang jagain saya," ucap Dina sambil menyalakan lampu sen motornya.

Adrian tersenyum lebar, kali ini tanpa rasa kikuk. "Siap, laksanakan! Jalan pelan-pelan ya, Mbak."

Pagi itu, untuk pertama kalinya, Dina berkendara menuju masa depannya dengan tangan yang memegang kendali penuh, dan seorang pria hebat yang menjaganya dari kejauhan—bukan untuk mengurungnya, tapi untuk memastikan ia tetap tegak berdiri.

Dina tertawa kecil, tangannya masih memegang kemudi motor matic birunya yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. Ia menatap Adrian yang masih duduk tegak di atas motor trail hitamnya, tampak kontras namun entah bagaimana terlihat sangat serasi bersisian dengan motornya.

"Terima kasih sudah antar ya, Mas," ucap Dina tulus.

Adrian mengangguk mantap, namun tatapannya masih meneliti cara Dina memarkirkan motor. Ada kerutan tipis di dahinya—ekspresi khas seorang komandan yang sedang memastikan pasukannya berada di posisi yang benar.

"Nanti pulang, saya jemput lagi. Saya kawal dari belakang. Saya masih belum percaya Mbak lepas sendiri di jam pulang kantor," ucap Adrian tegas, suaranya bariton dan tidak menerima bantahan.

Dina menggeleng-gelengkan kepala, senyum geli menghiasi wajahnya. "Mas Adrian, saya ini beli motor justru supaya nggak merepotkan Mas terus. Masa sudah punya motor sendiri masih harus dikawal? Malu dilihat teman-teman kantor, Mas."

"Bukan merepotkan, Mbak. Ini namanya evaluasi lapangan," kilah Adrian cepat, meskipun ia sempat berdehem canggung saat melihat Olan melambaikan tangan dengan heboh dari pintu kaca kantor. "Sore itu arus jalan raya lebih padat. Banyak truk logistik lewat. Saya mau lihat gimana Mbak ambil keputusan di persimpangan pasar."

Dina tahu itu hanya alasan diplomatis Adrian. Di balik seragam dan ketegasannya, pria ini hanya ingin memastikan bahwa "murid" yang mulai ia sayangi ini benar-benar aman dari gangguan apa pun—termasuk gangguan dari masa lalu yang mungkin masih mengintai.

"Ya sudah, terserah instruktur saja kalau begitu," sahut Dina akhirnya, mengalah dengan senang hati. "Sampai ketemu sore nanti ya, Mas. Jangan telat, nanti saya duluan lho!"

"Siap. Saya pastikan sudah di sini sepuluh menit sebelum jam pulang," balas Adrian dengan senyum tipis yang sangat menenangkan.

Sepanjang hari di kantor, Dina bekerja dengan perasaan yang sangat ringan. Ia tidak lagi merasa seperti buronan. Bahkan saat ponselnya bergetar menunjukkan notifikasi pesan, ia tidak lagi melompat karena takut. Ia tahu, di luar sana, ada sistem yang menjaganya, ada warga yang menyayanginya, dan ada Adrian yang selalu siap siaga.

Olan menghampiri meja Dina saat jam istirahat sambil membawa dua cup jagung manis.

"Din, aku lihat tadi pagi ada pengawalan ketat ya? Pak Letnan sampai rela nungguin kamu parkir dulu baru dia pergi," goda Olan.

Dina tersenyum sambil menerima jagung manis itu. "Dia cuma khawatir, Lan. Maklum, instruktur setir motor yang terlalu berdedikasi."

"Berdedikasi atau jatuh cinta?" Olan menaikkan alisnya. "Tapi serius, Din. Aku senang lihat kamu sekarang. Kamu kelihatan... hidup. Nggak ada lagi binar ketakutan di matamu. Motor itu beneran jadi lambang kebebasanmu."

Dina mengangguk mantap. "Iya, Lan. Aku merasa punya kendali sekarang."

Sore harinya, tepat seperti janjinya, Adrian sudah bersandar di motor trailnya saat Dina keluar dari kantor. Mereka berkendara beriringan menembus keramaian kota kecil itu. Dina di depan, dan Adrian di belakangnya, menjaga jarak yang pas untuk memberikan ruang bagi Dina namun tetap cukup dekat untuk melindunginya.

Sesampainya di depan gerbang kos, Dina mematikan mesin motornya dengan rapi. Ia menoleh ke arah Adrian yang baru saja membuka kaca helmnya.

"Gimana, Mas? Saya sudah lulus evaluasi sore ini?" tanya Dina bangga.

Adrian turun dari motor, berjalan mendekat sambil melepas sarung tangannya. Ia menatap motor biru Dina, lalu menatap Dina dengan tatapan yang sangat hangat.

"Lulus. Cara Mbak ambil tikungan sudah tenang. Nggak kagok lagi," puji Adrian. Ia diam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah. "Besok... Mbak boleh jalan sendiri kalau memang mau. Tapi kalau Mbak nggak keberatan, saya masih ingin jadi bayangan di belakang Mbak setiap pulang kantor."

Dina tertegun. Ia menyadari bahwa pengawalan ini bukan lagi soal keamanan motor, tapi soal keinginan Adrian untuk menghabiskan waktu lebih lama dengannya.

"Saya nggak keberatan, Mas. Justru saya merasa lebih tenang kalau tahu ada Mas Adrian di belakang saya," jawab Dina tulus.

Malam itu, Dina duduk di depan laptopnya. Ia menghapus draf lama yang penuh dengan kesedihan, dan mulai mengetik judul baru untuk novelnya: "Kemudi di Tangan Sendiri".

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!