Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CERDIK
Bram lalu menyerahkan kartu milik Belinda kembali padanya.
"Ohh begitu, berarti ini tidak bisa dipakai?"
"Nanti saja pada waktu lain, gunakan ntuk keperluan dirimu."
Dia lalu mengambil beberapa gepok lagi lalu memasukkannya ke dalam plastik pembungkus.
Bram lalu keluar kamar. Hawa pagi menyeruak menghembus badannya. Segar sekali. Ia lalu menyerahkan uang itu pada seorang kaki tangannya untuk memegang uang itu, beserta catatan dari Belinda.
Bram berbicara sebentar dengan kaki tangannya, agak lama, lalu ia menyuruh beberapa orang pergi dan dua orang menunggu di sini bersama dia dan Belinda. Bram rasa dua orang untuk pagi ini cukuplah karena menurutnya aman pagi ini.
Belinda menunggunya dengan hati yang masih gembira, dia senang sekali mengetahui fakta bahwa Bram mencintainya. Dan bahagia sekali ia tahu ternyata dia satu-satunya perempuan yang diinginkan Bram. Bram belum pernah tertarik pada perempuan mana pun dan dialah satu-satunya wanita itu.
"Wow, he really love me!"
"waah, my husband very handsome."
"My husband, my mafia."
Belinda bahagia sekali hari ini, pesona Bram benar-benar memperdaya hatinya.
Belinda Dudu di atas kasur. Ia mengingat-ingat lagi malam dan pagi yang ia lalui bersama Bram.
Dia sudah seperti istrinya Bram, selalu menemani Bram dalam tidurnya. Lamunannya mengingat lagi malam ketiga pada hari itu. Oh God, i really wan't again. Belinda memegangi perutnya. Perutnya masih berasa agak nyeri.
Enam orang kaki tangan Bram pergi ke Kota terdekat, mereka akan menggunakan kapal, itu artinya mereka harus melewati jalan setapak kembali dan berjalan selama kurang lebih 8 jam perjalanan. Untungnya persediaan makanan dan minuman ada di pondok mereka. Jadi, kemungkinan anak buahnya itu akan kembali malam hari. Ia dan Belinda masih bisa makan pagi dan makan siang dengan sisa bekal yang ada di pondok.
Dua orang kaki tangannya tinggal bersama di pondok.
"Bos, kayu bakar di tempat persediaan habis."
"Sepertinya aku akan mencari ranting dan kayu bakar di belakang pondok."
Kaki tangan 5 bicara dengan suara baritonnya.
"oke."
"Aku dan Belinda akan berjalan sebentar di sekitar sini, gadis itu perlu penyegaran."
"Oke, Bos."
Bram lalu mengajak Belinda yang ada di kamar untuk berjalan-jalan di sekitar pondok, sekalian dia ingin mencari kayu bakar tambahan. Dia mengambil kapak yang ada di dapur pondok itu. Ada dua kapak. Besarannya sama besar, yang satu diserahkannya pada kaki tangan 5 dan yang satu lagi dipikulnya yang agak ringan.
"Hei, Belinda keluarlah!"
"Belinda!"
Mendengar Bram memanggilnya Belinda menghampiri, ia keluar dari kamarnya menuju halaman di pondok itu.
Yes, Honey?"
"Ayo kita berjalan-jalan sekitar sini!"
"Baiklah!"
Belinda berlari ke arah Bram, dia memeluknya.
"Waooo."
"Pemandangan yang indah, Honey."
Dia memegangi tangan Belinda.
Mereka menyusuri jalan setapak di belakang pondok, kaki tangan 4 mengikuti mereka di belakang, dia berusaha pura-pura tidak melihat kemesraan bosnya dan Belinda.
Telapak tangan Belinda memegangi telapak tangan Bram. Bram demikian erat memegangi tangan Belinda. Sesekali ia melirik pada perempuannya yang dengan gembira menengok kanan dan kiri sekeliling hutan. Rumput ilalang yang tinggi membuat badan kecilnya menjadi tambah imut.
Dia menggemaskan, lesung pipinya membuat cekungan di pipinya. Bibir kecilnya seakan membulat tiap kali melihat kupu-kupu, capung, atau burung yang terbang.
"Wahhh, baguss!!!"
"Wahhh..bagus sekali, Bram."
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆