Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia datang
"Bi Wati, Aliya mana?" tanya Ibas dengan panik saat tak menemukan sosok perempuan itu saat dia bangun tadi.
Bi Wati menatap keheranan. Baru kali ini, dia melihat Ibas bangun sepagi ini.
"Non Aliya lagi nyiram tanaman di depan," jawab Bi Wati.
Ibas menghela napas lega. Awalnya, dia pikir jika Aliya akan kabur lagi. Tapi, syukurnya dia salah.
Dia pun bergegas ke depan. Ingin membuktikan sendiri jika Aliya benar-benar masih di rumahnya.
"Al," sapa Ibas.
Perempuan itu pun menoleh. Tak ada senyuman. Hanya ada tatapan dingin yang terasa begitu asing.
"Udah bangun, Mas?" tanya Aliya basa-basi.
"Sudah," angguk Ibas agak canggung.
Biasanya, Aliya akan heboh membuat sarapan, menyiapkan pakaian, atau membuat teh untuk Ibas di pagi hari.
Namun, pagi ini begitu berbeda. Aliya tak melakukan semua itu. Sebaliknya, perempuan itu justru sibuk mengurus tanaman dibanding mengurus Ibas.
"Ada hal yang pengen aku sampaikan ke kamu. Bisa kita bicara sambil ngeteh aja, Mas?" tanya Aliya sambil mematikan selang air.
"Boleh," angguk Ibas.
Aliya tersenyum tipis. Dia melangkah lebih dulu menuju ke sebuah meja yang terletak di tengah-tengah taman.
Disana, sudah ada dua cangkir teh yang menunggu. Sepertinya, sudah disiapkan sedari tadi.
"Silakan diminum, Mas!" ujar Aliya mempersilakan.
Ibas membuka tutup cangkir keramik itu. Dia menyesap tehnya pelan.
"Kamu mau ngomongin soal apa, Al?" tanya Ibas kemudian.
"Soal batas-batas kita," jawab Aliya.
"Maksud kamu?"
"Mas Ibas bilang kalau aku harus nemenin Mas Ibas setiap kali Mas Ibas ketemuan sama Nadia, kan?"
Ibas mengangguk lagi. Tatapannya terlihat penuh tanda tanya.
"Semalam, aku bilang kalau aku bersedia. Tapi, aku punya permintaan khusus untuk kondisi itu," lanjut Aliya.
"Bilang aja! Kamu mau apa, Al?" tanya Ibas bersemangat. Mungkinkah, Aliya ingin meminta tambahan uang?
Tidak masalah.
"Aku menolak diam aja saat dihina. Aku juga menolak untuk menuruti setiap permintaan apapun yang diminta pacar Mas Ibas sama aku. Intinya, aku cuma datang buat nganterin Mas Ibas aja tanpa perlu dilibatkan dalam drama apapun."
"Soal itu, kamu tenang aja! Nadia, perempuan yang baik. Dia nggak mungkin menghina apalagi menyuruh-nyuruh kamu kayak pembantu."
"Bagus kalau begitu," angguk Aliya. Dia kembali menyesap tehnya dengan tenang.
"Al, saat sandiwara kita berakhir, kamu akan kemana?"
Gerakan Aliya yang hendak menyesap kembali tehnya seketika terhenti. Perempuan itu melamun sebentar sebelum berkedip lalu menurunkan cangkir tehnya diatas meja.
"Soal itu, Mas Ibas nggak perlu tahu. Toh, bukan urusan Mas Ibas lagi, kan?" jawab Aliya sambil tersenyum kecil.
Jawaban Aliya sama sekali tidak membuat Ibas jadi tenang. Sebaliknya, pria itu malah merasa khawatir.
Aliya sudah tidak punya keluarga. Jika sudah bercerai secara sah dan pergi dari rumahnya, mungkin hidup Aliya akan menderita. Dan, Ibas tidak mau jika hal itu sampai terjadi.
"Al, aku cuma..."
Perempuan itu tiba-tiba berdiri. Enggan melanjutkan percakapan ini lagi.
"Sudah agak siang. Sebaiknya, Mas Ibas mandi!"
Aliya pun pergi begitu saja. Ia meninggalkan Ibas sendirian di sana dengan perasaan yang tidak tenang.
"Sikap Aliya bikin aku ngerasa nggak nyaman. Kok, di sini agak sakit, ya?" gumam Ibas sambil menyentuh dada kirinya.
.......
"Bas!! Ibaasss!"
Suara teriakan itu terdengar nyaring saat Ibas masih berganti pakaian di kamar. Para pembantu keluar untuk menonton. Sementara, seorang security tampak berusaha mencegah perempuan itu untuk masuk tapi tidak bisa.
"Bas, keluar!"
Perempuan itu berteriak lagi. Dia menerobos masuk begitu saja ke dalam rumah.
Penampilannya berantakan. Dia masih menggunakan gaun tidur yang panjangnya tidak sampai lutut. Rambutnya mekar seperti rambut singa. Kantung matanya terlihat jelas.
"Ibas!!! Aku bilang, keluar!"
Prang! Prang!
Perempuan itu menjatuhkan beberapa hiasan yang berjejer rapi diatas meja buffet yang ada di ruang tamu. Suaranya cukup nyaring sehingga mengundang Aliya untuk datang melihat.
"Apa-apaan ini!?" tanya Aliya dengan nada sedikit meninggi. "Mbak ini siapa? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah orang dan ngancurin barang-barang punya orang?"
Perhatian wanita itu kini terpusat pada Aliya. Matanya yang merah menatap Aliya seolah sedang menatap musuh bebuyutan.
"Oh, jadi kamu orangnya?" tanya perempuan itu sambil menyeringai penuh kebencian. Nada suaranya terdengar rendah, sarat akan kemarahan yang begitu besar.
Dia menatap Aliya dengan murka. Kemudian, dia melangkah cepat menghampiri Aliya lalu menampar pipi Aliya dengan sangat keras.
Plak!
"Dasar pelakor!!! Berani-beraninya, kamu merebut Ibas dari aku! Gara-gara kemunculan kamu, Ibas jadi kurang perhatian sama aku. Semua ini karena kamu!!""
Telinga Aliya berdenging hebat. Matanya mulai memanas. Emosi perlahan naik hingga mencapai ubun-ubun. Jangan tanya kemana akal sehatnya. Semua mendadak hilang begitu saja.
Plak!
Tanpa pikir panjang, Aliya balas menampar perempuan itu jauh lebih keras.
"Kamu... berani nampar aku?" tanya perempuan itu. Agak terkejut dan tak menyangka.
"Kamu yang mulai duluan," balas Aliya. "Saya cuma balas apa yang Mbak lakuin sama saya."
"Kamu..."
"NADIA!!!" teriak Ibas panik saat melihat sang kekasih yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Lebih terkejut lagi saat melihat Nadia ditampar oleh Aliya.
"Al, apa-apaan ini? Kenapa kamu malah tampar Nadia?" tanya Ibas keberatan sambil menghampiri dan memeluk Nadia.
"Jadi... dia Nadia?" lirih Aliya dalam hati.
Aliya memang pernah melihat foto Nadia. Hanya saja, dia tak mengenali Nadia secara langsung karena perempuan itu saat ini tak memakai riasan apapun.
Wajahnya benar-benar polos dan berantakan.
"Al, kenapa bengong? Aku lagi tanya kamu! Kenapa kamu tega tampar Nadia, hah?" tanya Ibas sekali lagi.
"Dia duluan yang tampar aku. Wajar, kalau aku balik nampar dia, kan?" ujar Aliya membela diri.
Reflek, Nadia menggeleng. Dia memasang tampang polos tanpa dosanya untuk membodohi Ibas.
"Aku nggak nampar dia. Dia bohong, Bas," elak Nadia.
"Al, kamu keterlaluan. Minta maaf sama Nadia, sekarang!" pinta Ibas tanpa mencari tahu kebenaran lebih dalam.
"Aku nggak akan minta maaf!" tolak Aliya tegas.
"Al, aku bilang... minta maaf!" tegas Ibas penuh penekanan.
Aliya pun tersenyum mengejek. "Atas dasar apa aku harus menuruti perintah kamu, Bas? Kamu nggak lupa sama status kita sekarang, kan?"
"Kamu..." Ibas tak bisa berkata-kata. Sementara, Aliya tampak menggeleng pelan.
"Pantes aja Ayah sama Bunda nggak ngerestuin kamu sama dia. Ternyata... Perempuan yang kamu pilih, nggak lebih dari ular betina yang nggak tahu diri."
"Al, mulutmu!" tegur Ibas.
"Mulutku baik-baik aja," balas Aliya. "Nggak perlu kamu pedulikan!"
Aliya pergi begitu saja. Dia mengabaikan teriakan Ibas yang terus memintanya untuk kembali.
"Dulu, aku pasrah dan hanya diam karena menghormati kamu sebagai suamiku, Mas. Tapi, sekarang udah nggak lagi. Kamu sudah menjatuhkan talak. Jadi, aku nggak perlu cuma diam aja saat kamu tindas lagi."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺