NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan yang Baru Dimulai

Malam mulai turun perlahan di kota.

Lampu-lampu gedung tinggi menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya di antara jalan-jalan yang masih sibuk oleh kendaraan.

Di lantai paling atas gedung Hartono Group, ruang kerja Rania masih terang.

Sebagian besar karyawan sudah pulang sejak satu jam yang lalu, namun lampu di ruang direktur proyek itu tetap menyala.

Rania duduk di kursinya dengan beberapa berkas terbuka di meja.

Laptopnya menampilkan grafik keuangan dan laporan analisis proyek kerja sama dengan perusahaan Adrian.

Suasana ruangan tenang, hanya suara halus pendingin ruangan yang terdengar.

Dina, asistennya, berdiri di depan meja sambil memegang beberapa dokumen tambahan.

“Direktur, ini laporan terbaru dari tim analisis risiko.”

Rania menerima dokumen itu dan membacanya dengan cepat.

Angka-angka, grafik, serta proyeksi keuntungan dan kerugian memenuhi halaman-halaman tersebut.

Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya menutup laporan itu.

“Bagaimana pendapat tim?” tanya Rania.

Dina menjawab, “Mereka mengatakan proyek ini cukup menjanjikan, tapi kondisi keuangan perusahaan Adrian masih tidak stabil.”

Rania mengangguk pelan.

Hal itu sebenarnya sudah ia ketahui sejak awal.

Hartono Group terkenal sangat teliti dalam melakukan investasi. Mereka tidak pernah menaruh uang dalam jumlah besar tanpa analisis yang sangat mendalam.

Dan perusahaan Adrian memang sedang berada dalam tekanan.

Beberapa proyek besar mereka tertunda.

Beberapa investor mulai ragu.

Kerja sama dengan Hartono Group bisa menjadi penyelamat.

Namun Rania tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Jika Hartono Group menarik diri dari proyek ini, perusahaan Adrian bisa jatuh dalam waktu satu tahun.

Rania menatap laporan itu lagi.

Di dalam hatinya tidak ada rasa senang atau balas dendam seperti yang mungkin dibayangkan orang lain.

Yang ada hanya ketenangan dingin.

Dina memperhatikan ekspresinya dengan hati-hati.

“Direktur… apakah kita benar-benar akan melanjutkan kerja sama ini?”

Rania mengangkat matanya.

“Kenapa?”

“Karena…” Dina terlihat ragu, “perusahaan mereka cukup berisiko.”

Rania bersandar di kursinya.

“Kita tidak bekerja berdasarkan perasaan.”

Nada suaranya tenang.

“Jika proyek ini menguntungkan, kita lanjutkan.”

Dina mengangguk.

Ia sudah terbiasa dengan cara kerja Rania yang selalu rasional.

Namun sebelum ia sempat berbicara lagi, pintu ruang kerja itu diketuk.

Dina membuka pintu.

Seorang pria masuk.

Tinggi, dengan jas abu-abu yang tampak santai namun mahal.

Ekspresinya santai, bahkan sedikit malas.

Namun sorot matanya tajam.

“Masih bekerja sampai malam?” katanya sambil tersenyum tipis.

Dina langsung memberi sedikit hormat.

“Tuan Arsen.”

Pria itu berjalan masuk tanpa menunggu undangan.

Arsen adalah salah satu eksekutif senior di Hartono Group dan juga orang yang sangat dekat dengan keluarga pemilik perusahaan.

Rania menatapnya sebentar.

“Kau datang tanpa memberi kabar.”

Arsen duduk di kursi tamu di depan meja Rania.

“Aku lewat saja,” katanya santai. “Kupikir aku akan melihat bagaimana direktur proyek kita bekerja.”

Dina melihat mereka berdua sebentar.

“Kalau begitu saya akan keluar dulu.”

Rania mengangguk.

Ketika pintu tertutup, ruangan menjadi lebih sunyi.

Arsen melirik dokumen di meja.

“Masih memikirkan perusahaan Adrian?”

Rania tidak langsung menjawab.

Ia menutup laptopnya.

“Kita sedang menilai proyeknya.”

Arsen tertawa kecil.

“Benarkah hanya itu?”

Ia menatap Rania dengan lebih serius.

“Aku juga ikut rapat siang tadi lewat laporan tim.”

Rania tetap diam.

Arsen bersandar di kursinya.

“Aku juga tahu sesuatu yang menarik.”

Ia berkata dengan nada santai namun penuh arti.

“Direktur perusahaan itu adalah mantan suamimu.”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Rania menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku tidak pernah menyembunyikan itu.”

Arsen mengangkat alis.

“Memang tidak.”

Ia tersenyum kecil.

“Tapi aku tidak menyangka kalian akan bertemu lagi dalam situasi seperti ini.”

Rania berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar.

Kota terlihat seperti lautan cahaya di bawah sana.

“Dunia bisnis kecil,” katanya pelan.

Arsen memperhatikannya.

“Apakah kau ingin menghancurkannya?”

Pertanyaan itu terdengar sangat langsung.

Namun Rania tidak terlihat terkejut.

Ia tetap menatap keluar jendela.

“Bisnis bukan tempat untuk balas dendam.”

Arsen tertawa pelan.

“Jawaban yang sangat elegan.”

Ia berdiri dan berjalan mendekati jendela juga.

“Namun aku tetap penasaran.”

Ia menoleh ke arah Rania.

“Jika kau benar-benar ingin menjatuhkan perusahaan itu, Hartono Group bisa melakukannya dengan mudah.”

Rania akhirnya menoleh.

Tatapannya tenang.

“Aku tidak membutuhkan itu.”

Arsen memandangnya beberapa detik.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Baiklah.”

Ia kembali duduk.

“Tapi satu hal pasti.”

“Apa?”

Arsen berkata dengan nada santai.

“Adrian terlihat cukup terguncang hari ini.”

Rania tidak menjawab.

Namun di dalam hatinya, ia tahu Arsen mungkin benar.

Di sisi lain kota.

Lampu di kantor Adrian masih menyala meskipun jam kerja sudah lama berakhir.

Sebagian besar karyawan sudah pulang.

Koridor kantor terasa sunyi.

Di dalam ruangannya, Adrian duduk di kursi sambil membaca laporan keuangan perusahaan.

Namun pikirannya kembali melayang pada pertemuan siang tadi.

Wajah Rania muncul lagi di benaknya.

Tatapan tenang itu.

Nada suara profesional itu.

Wanita yang dulu pernah tinggal di rumahnya kini berbicara dengannya seperti orang asing.

Adrian menghela napas pelan.

Ia tidak tahu kenapa pikirannya terus kembali ke sana.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.

“Masuk,” katanya.

Pintu terbuka.

Clara masuk sambil membawa dua cangkir kopi.

“Kau masih di sini.”

Ia meletakkan salah satu cangkir di meja Adrian.

“Aku tahu kau belum pulang.”

Adrian melirik kopi itu sebentar.

“Terima kasih.”

Clara duduk di kursi di depan meja.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Akhirnya Clara berkata,

“Kau terus memikirkan Rania, bukan?”

Adrian mengangkat matanya.

“Aku memikirkan proyek.”

Clara tersenyum tipis.

“Kau tidak perlu berbohong padaku.”

Ia bersandar di kursinya.

“Aku juga melihat ekspresimu di ruang rapat tadi.”

Adrian tidak menjawab.

Clara melanjutkan dengan nada lebih pelan.

“Dia berubah banyak.”

Ia menatap Adrian.

“Lebih percaya diri. Lebih kuat.”

Adrian menutup berkas di depannya.

“Orang bisa berubah dalam tiga tahun.”

Clara memutar cangkir kopinya perlahan.

“Ya.”

“Tapi perubahan seperti itu biasanya tidak terjadi tanpa alasan.”

Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Aku penasaran siapa yang membantunya.”

Adrian tidak mengatakan apa-apa.

Namun kata-kata itu membuat pikirannya semakin tidak tenang.

Clara akhirnya berdiri.

“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”

Adrian menatapnya.

“Jika kau meremehkannya lagi, itu mungkin kesalahan besar.”

Setelah mengatakan itu, Clara berjalan keluar dari ruangan.

Adrian kembali sendirian.

Ia menatap jendela gelap di belakang mejanya.

Refleksi wajahnya sendiri terlihat samar di kaca.

Dan di dalam pikirannya, satu hal mulai terasa jelas.

Kembalinya Rania bukan kebetulan.

Ini mungkin awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa pahami.

...

Malam semakin larut.

Gedung kantor Adrian sudah hampir sepenuhnya gelap. Hanya beberapa lampu yang masih menyala di beberapa ruangan tertentu.

Salah satunya adalah ruang kerja Adrian.

Ia masih duduk di kursinya, menatap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan. Angka-angka itu terlihat jelas di layar, namun pikirannya tidak benar-benar memproses semuanya.

Beberapa kali ia membaca halaman yang sama tanpa benar-benar menyadarinya.

Pikirannya terus kembali ke satu hal.

Rania.

Tiga tahun lalu, ia yakin keputusan mengusir wanita itu adalah keputusan yang benar.

Saat itu ia percaya Rania hanya akan menjadi beban dalam hidupnya.

Rania tidak memiliki keluarga kuat.

Tidak memiliki koneksi bisnis.

Dan menurutnya, tidak memiliki kemampuan untuk bertahan di dunia yang keras.

Namun hari ini…

Wanita yang sama berdiri di ruang rapat sebagai wakil dari salah satu perusahaan investasi terbesar di kota.

Dan yang lebih aneh lagi…

Ia terlihat jauh lebih kuat daripada yang pernah Adrian bayangkan.

Adrian menutup laptopnya perlahan.

Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar di belakang mejanya.

Dari sana ia bisa melihat sebagian besar kota.

Lampu kendaraan bergerak seperti garis cahaya panjang di jalan raya.

Hidup terus berjalan di luar sana.

Namun pikirannya terasa lebih berat dari biasanya.

Tiba-tiba telepon di mejanya berdering.

Adrian kembali ke meja dan mengangkat telepon.

“Ya?”

Suara sekretarisnya terdengar dari ujung sana.

“Tuan Adrian, ada laporan tambahan dari tim keuangan mengenai Hartono Group.”

“Kirimkan ke emailku.”

“Baik, Tuan.”

Adrian menutup telepon.

Beberapa detik kemudian notifikasi email muncul di laptopnya.

Ia membuka kembali laptop itu dan membaca laporan yang baru saja dikirim.

Dokumen tersebut berisi analisis tentang Hartono Group.

Perusahaan itu sangat kuat secara finansial.

Investasi mereka selalu terencana dengan sangat baik.

Namun ada satu bagian yang membuat Adrian berhenti membaca.

Nama direktur proyek kembali muncul.

Rania.

Adrian menatap nama itu beberapa saat.

Ia mencoba mengingat kembali wanita yang dulu tinggal di rumahnya.

Rania yang selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan.

Rania yang selalu tersenyum meskipun ia jarang memperhatikannya.

Rania yang malam itu berdiri di ruang tamu dengan koper kecil di tangannya ketika ia menyuruhnya pergi.

Saat itu Rania hanya berkata satu kalimat.

"Aku mengerti."

Tidak ada teriakan.

Tidak ada air mata.

Hanya kalimat sederhana itu.

Adrian menutup matanya sejenak.

Ia tidak tahu kenapa kenangan itu tiba-tiba terasa lebih jelas sekarang.

Sementara itu di sisi lain kota.

Rania baru saja tiba di apartemennya.

Apartemen itu berada di salah satu gedung mewah di pusat kota.

Tidak terlalu besar, namun sangat elegan dan tenang.

Tempat itu jauh berbeda dari rumah besar keluarga Adrian yang dulu pernah ia tinggali.

Namun bagi Rania, tempat ini terasa lebih seperti rumah.

Ia melepas sepatu hak tingginya dan berjalan ke ruang tamu.

Lampu hangat menyinari ruangan yang sederhana namun rapi.

Di atas meja terdapat beberapa dokumen yang ia bawa pulang dari kantor.

Rania menuangkan segelas air untuk dirinya sendiri.

Ia duduk di sofa sambil membuka kembali berkas proyek kerja sama dengan perusahaan Adrian.

Namun baru beberapa halaman ia baca, ponselnya berdering.

Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit mengangkat alis.

Arsen.

Rania mengangkat telepon.

“Ada apa?”

Suara Arsen terdengar santai seperti biasa.

“Kau sudah pulang?”

“Baru saja.”

“Bagus. Aku hanya ingin memastikan kau tidak bekerja sampai tengah malam lagi.”

Rania tersenyum kecil.

“Sejak kapan kau peduli dengan jadwal kerjaku?”

Arsen tertawa pelan di ujung telepon.

“Sejak aku menyadari kau bisa bekerja tanpa henti selama dua hari jika tidak ada yang mengingatkanmu.”

Rania tidak menyangkal hal itu.

Arsen kemudian berkata dengan nada lebih serius.

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Apa?”

“Kau benar-benar baik-baik saja setelah bertemu Adrian hari ini?”

Rania terdiam beberapa detik.

Ia menatap berkas di tangannya.

“Aku baik-baik saja.”

Jawabannya terdengar sederhana.

Arsen tidak langsung menanggapi.

Ia seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Kalau begitu bagus.”

Namun sebelum menutup telepon, Arsen menambahkan satu kalimat lagi.

“Tapi jika suatu saat kau ingin menjatuhkan perusahaannya, aku tidak akan menghentikanmu.”

Rania tersenyum tipis.

“Kau terlalu dramatis.”

“Tidak. Aku hanya realistis.”

Rania tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian telepon ditutup.

Rania menaruh ponselnya di meja.

Ia kembali menatap dokumen proyek di tangannya.

Di halaman pertama terdapat nama perusahaan Adrian.

Ia menghela napas pelan.

“Ini hanya bisnis,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu pertemuan hari ini mungkin hanya awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.

Keesokan paginya.

Kantor Adrian kembali ramai seperti biasa.

Para karyawan datang lebih awal karena proyek kerja sama dengan Hartono Group menjadi topik utama di seluruh perusahaan.

Beberapa orang bahkan masih membicarakan direktur muda yang datang kemarin.

“Direktur Hartono Group itu benar-benar mengesankan.”

“Aku dengar dia yang memimpin seluruh presentasi sendirian.”

“Dia terlihat sangat tenang.”

Bisikan-bisikan itu terdengar di beberapa sudut kantor.

Namun di ruang kerja Adrian, suasana jauh lebih sunyi.

Ia sedang membaca laporan proyek ketika sekretarisnya masuk.

“Tuan Adrian, ada undangan makan siang dari Hartono Group.”

Adrian mengangkat kepalanya.

“Undangan?”

“Ya. Direktur proyek mereka ingin mendiskusikan beberapa detail kerja sama secara langsung.”

Sekretaris itu menyerahkan sebuah kartu undangan kecil.

Adrian mengambilnya.

Di sana tertulis tempat dan waktu pertemuan.

Dan di bagian bawah tertulis nama yang sangat ia kenal.

Rania.

Adrian menatap kartu itu cukup lama.

Sekretarisnya berdiri menunggu jawaban.

“Apakah Anda akan datang?”

Adrian akhirnya berkata,

“Ya.”

Sekretaris itu mengangguk dan keluar dari ruangan.

Adrian tetap duduk di kursinya sambil memegang kartu undangan tersebut.

Beberapa detik kemudian ia menaruh kartu itu di atas meja.

Untuk kedua kalinya dalam dua hari terakhir…

Ia akan bertemu Rania lagi.

Dan kali ini bukan di ruang rapat yang penuh orang.

Melainkan dalam pertemuan yang jauh lebih pribadi.

Adrian tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pertemuan itu.

Namun satu hal mulai terasa jelas baginya.

Kisah yang ia pikir sudah selesai tiga tahun lalu…

Ternyata belum benar-benar berakhir.

Dan tanpa ia sadari…

Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!