seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7: Retakan di Menara Gading
Suasana di butik "Le Magnifique" terasa mencekam, meski alunan musik klasik mengalun lembut di latar belakang. Bau parfum mawar Perancis yang menyengat memenuhi ruangan, sangat kontras dengan bau debu dan tanah becek yang baru saja ditinggalkan Dave di gang sempit tadi.
Dave melangkah masuk dengan sisa noda tanah di sepatunya. Ia melihat ibunya, Bu Sarah, duduk di sofa beludru sambil menyesap teh earl grey. Di sampingnya, Clara wanita yang dijodohkan dengannya tengah mematut diri di depan cermin raksasa dengan gaun malam berwarna merah marun yang mengekspos bahu.
"Kau terlambat dua jam, Dave," ujar Bu Sarah tanpa menoleh, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Ada urusan mendadak, Ma. Aku sudah bilang tadi," jawab Dave datar. Ia duduk di kursi tunggu, merasa asing di tempat yang biasanya menjadi zona nyamannya. Matanya menatap Clara, namun pikirannya masih tertinggal di Rumah Belajar Cahaya Iman. Ia teringat tawa Shafira, tawa yang tidak menuntut apa pun, berbeda dengan senyum Clara yang selalu terasa seperti sebuah transaksi bisnis.
Clara menghampiri Dave dengan gerakan yang dibuat-buat anggun. "Bagaimana menurutmu, Sayang? Apa gaun ini terlalu mencolok untuk Gala Dinner minggu depan?"
Dave menatap gaun itu, lalu beralih ke wajah Clara yang tertutup riasan tebal. Tiba-tiba, ia teringat wajah polos Shafira tanpa make-up. "Bagus. Tapi mungkin terlalu banyak memperlihatkan kulit. Kau akan kedinginan," jawab Dave asal.
Clara merengut, sementara Bu Sarah meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan yang tajam.
"Sejak kapan kau peduli soal suhu ruangan, Dave? Dan lihatlah sepatumu! Kau habis dari mana? Tanah itu... menjijikkan."
Dave melirik sepatunya. Tanah itu adalah bukti bahwa ia baru saja menyentuh realitas yang selama ini ia abaikan. "Aku hanya meninjau salah satu aset yang terbengkalai, Ma. Jangan dibesar-besarkan."
"Aset? Atau staf keuangan berhijab itu?" Bu Sarah berdiri, mendekati putranya. "Jangan pikir Mama tidak tahu. Ayahmu bercerita kau membatalkan pemecatannya. Dave, dengarkan Mama.
Mahesa Group dibangun dengan citra modern dan kelas atas. Kita tidak punya ruang untuk... sentimentil terhadap kelas bawah. Apalagi jika itu melibatkan perasaan."
"Ini bukan soal perasaan, Ma. Ini soal integritas," bela Dave, meski hatinya sendiri mulai ragu.
"Integritas tidak membayar tagihan operasional, Dave. Koneksi yang membayar. Dan keluarga Clara adalah koneksi terkuat kita saat ini," pungkas Bu Sarah tajam.
Di sisi lain kota, Shafira sedang duduk di meja makan kecilnya bersama Pak Rahman dan Farhan. Di depannya terletak carikan kertas dari Dave yang berisi nomor rekening yayasan. Hatinya bimbang. Di satu sisi, bangunan Rumah Belajar itu memang butuh perbaikan mendesak. Di sisi lain, ia tidak ingin berhutang budi pada pria yang pernah menghina keyakinannya.
"Kenapa diam saja, Nduk? Makanannya keburu dingin," tegur Pak Rahman lembut.
"Ayah... Pak Dave memberikan bantuan untuk Rumah Belajar. Jumlahnya kemungkinan besar cukup untuk memperbaiki seluruh atap dan membeli buku baru," lapor Shafira pelan.
Farhan, adiknya, bersorak kegirangan. "Wah, keren dong, Kak! Berarti Pak CEO itu nggak sejahat yang Kakak ceritakan?"
Shafira mendesah. "Itulah yang Kakak bingungkan, Han. Dia seperti dua orang yang berbeda. Kadang begitu angkuh sampai ingin rasa-rasanya Kakak berhenti kerja saat itu juga, tapi tadi... saat dia melihat anak-anak, matanya terlihat berbeda."
Pak Rahman menghentikan kunyahannya. Pria tua itu menatap putrinya dengan bijak. "Shafira, hati manusia itu milik Allah. Sifat keras itu seperti batu, tapi air yang tenang bisa melubanginya perlahan. Mungkin, kebaikan yang kamu tunjukkan adalah airnya. Jika dia memberi untuk yayasan, terimalah sebagai rezeki untuk anak-anak yatim itu. Bukan untukmu, tapi untuk mereka."
"Tapi Shafira takut ini hanya caranya untuk meremehkan saya lagi, Yah. Seolah semuanya bisa diselesaikan dengan uangnya."
"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, tapi menerima bantuan dengan niat murni untuk kepentingan umat juga adalah sebuah ibadah. Jangan biarkan egomu menghalangi hak anak-anak itu untuk belajar dengan nyaman," nasehat Pak Rahman.
Shafira menunduk. Kata-kata ayahnya selalu berhasil menenangkan badai di hatinya. "Baik, Yah. Besok Shafira akan menyerahkan nomor rekening yayasan secara resmi melalui sekretarisnya."
Senin pagi kembali menyapa dengan hiruk-pikuk Mahesa Group. Shafira melangkah masuk ke kantor dengan perasaan yang lebih ringan. Ia sudah memantapkan hati. Namun, baru saja ia duduk di mejanya, Riana mendekat dengan wajah pucat.
"Shaf, kamu dipanggil ke ruangan Bu Sarah. Sekarang," bisik Riana.
Jantung Shafira mencelos. Bu Sarah jarang sekali datang ke kantor kecuali ada hal yang sangat mendesak atau... sangat personal. Dengan langkah yang dipaksakan tegar, Shafira menuju lantai paling atas, tempat ruangan keluarga Mahesa berada.
Di dalam ruangan mewah itu, Bu Sarah duduk di balik meja kerja yang besar. Dave berdiri di dekat jendela, membelakangi mereka berdua, menatap pemandangan kota Jakarta.
"Duduk, Shafira," perintah Bu Sarah tanpa basa-basi.
Shafira duduk dengan punggung tegak. "Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
Bu Sarah melemparkan sebuah amplop cokelat ke depan Shafira. "Saya dengar dari supir pribadi Dave yang juga ayahmu—bahwa Dave mengunjungi tempat... kumuh bersamamu hari Sabtu lalu. Dan saya dengar ada pembicaraan soal bantuan dana."
Shafira melirik Dave, tapi pria itu tetap tidak bergeming.
"Dengarkan saya baik-baik, Nak," suara Bu Sarah merendah, namun setiap katanya terasa seperti sembilu. "Keluarga kami memang dermawan. Tapi kami tidak suka jika kedermawanan itu disalahgunakan untuk mendekati putra saya. Jika kau butuh uang untuk tempat belajarmu, ambil ini."
Shafira membuka amplop itu. Isinya adalah cek dengan nominal yang sangat besar, jauh lebih besar dari yang ia bayangkan untuk perbaikan atap.
"Ambil uang itu, perbaiki tempat kumuhmu, dan sebagai gantinya... saya ingin kau mengundurkan diri dari Mahesa Group hari ini juga. Jangan pernah muncul di depan Dave lagi, dan jangan pernah melibatkan ayahmu dalam urusan pribadimu dengan putra saya," lanjut Bu Sarah dengan senyum kemenangan yang tipis.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Shafira merasa harga dirinya seperti diinjak-injak di atas karpet mahal itu. Ia merasa napasnya sesak, namun ia menolak untuk menangis di depan wanita ini.
Tiba-tiba, Dave berbalik. Wajahnya keras, matanya berkilat marah. "Ma! Apa yang Mama lakukan?"
"Mama sedang menyelamatkanmu, Dave. Menyelamatkanmu dari drama kelas bawah yang tidak berguna ini," jawab Bu Sarah tenang.
Shafira perlahan menutup amplop itu. Ia berdiri, meletakkan kembali cek tersebut di atas meja dengan tangan yang stabil. Matanya menatap Bu Sarah dengan ketenangan yang mematikan.
"Ibu Sarah yang terhormat," suara Shafira mengalun lembut namun tegas. "Saya mungkin miskin di mata Ibu. Ayah saya mungkin hanya seorang tukang kebun yang Ibu anggap rendah. Tapi kami tidak pernah diajarkan untuk menjual harga diri kami, apalagi menjual iman kami demi selembar cek."
Shafira menatap Dave sejenak, ada kekecewaan yang mendalam di matanya. "Pak Dave, terima kasih atas niat baik Bapak hari Sabtu lalu. Tapi sepertinya, bantuan Bapak memiliki harga yang tidak sanggup saya bayar. Anak-anak di Rumah Belajar mungkin butuh atap baru, tapi mereka lebih butuh teladan tentang kejujuran dan kehormatan."
Shafira berbalik menuju pintu. "Saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya. Bukan karena saya takut pada Ibu, tapi karena saya tidak ingin bekerja di tempat di mana kebaikan dianggap sebagai ancaman."
"Shafira, tunggu!" teriak Dave.
Namun Shafira tidak menoleh. Ia keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, meninggalkan Dave yang kini berdiri berhadapan dengan ibunya sendiri dalam sebuah pertempuran yang baru saja dimulai. Di dalam dadanya, Shafira berbisik pada dirinya sendiri: Allah bersamaku. Dan itu sudah cukup.
.