Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima Kasih Karena Sudah Lebih Pintar
"Aluna.. bisa temui saya di ruangan."
Ucap Arka yang baru saja datang ke kantor.
Aluna langsung berdiri dan memasuki ruangan CEO.
"Ada apa, Pak."
Arka memberikan isyarat agar Aluna duduk.
Kemudian ia mendekati perempuan yang terlihat bingung itu.
"Saya ingin kamu membantu junior writer kita yang baru."
Aluna terlihat kaget.
"Yang baru?.. memangnya yang..."
"Yang lama sudah mengundurkan diri," Arka memotong kalimat Aluna, karena tidak ingin perempuan itu menyebut nama orang yang paling ia benci.
Aluna terdiam, wajahnya terlihat sedih.
Arka mengangkat dagu perempuan itu dengan tangannya.
"Aluna.. semua akan baik-baik saja."
Arka menatap dalam wajah Aluna.
Aluna tersenyum tipis, ia mencoba mempercayai kalimat bosnya.
"Kalau begitu, besok saya akan membimbing junior writer kita yang baru."
Senyuman manis terpancar dari wajahnya.
Aluna berdiri, hendak pamit untuk kembali ke ruangannya.
Namun Arka menahan tangannya.
"Terima kasih karena telah menjadi pintar," ucap pria itu.
Aluna tertawa.
"Malam ini saya ingin merayakan atas kepintaran mu," Lanjutnya.
Aluna mengerutkan keningnya.
"Apa selama ini saya benar-benar sebodoh itu di mata Bapak?" ucap Aluna kesal.
Arka mengangkat bahunya.
Aluna melangkah mendekati pintu.
"Kamu tidak bisa menolak."
Kalimat Arka membuatnya berhenti.
"Jika kamu menolak, mungkin pekerjaan mu yang akan menjadi taruhannya."
Kalimat Arka terasa seperti ancaman.
Aluna menoleh, menatapnya dengan sinis.
"Terus saja mengancam saya," balasnya. "Saya tidak akan takut lagi, karena saya sudah pintar."
Aluna bergegas membuka pintu dan menghilang secepatnya.
Perempuan itu berhasil membuat Arka tertawa.
***
"Pak Arka, sebenarnya Anda ini mau makan apa?" ucap Aluna kesal. "Kita sudah mengelilingi semua pedagang."
Sore itu sepulang kerja.
Aluna akhirnya menuruti keinginan bosnya, mencari makan di tempat wisata kuliner yang biasa ia datangi bersama Revan dan Helena dulu.
"Entahlah... Saya juga bingung mau makan apa."
Pria itu menggaruk kepalanya.
Langkah Aluna berhenti setelah mendengar kalimat itu.
"Kalau Bapak hanya ingin berkeliling, lebih baik kita ke lapangan saja."
Ucap Aluna yang semakin kesal.
"Main bola?"
Tanya Arka.
"Jogging," jawab Aluna singkat lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Arka.
Arka sedikit mengejarnya.
"Oke.. oke. Kalau begitu terserah kamu saja, ingin makan apa."
Langkah Aluna terhenti.
"Astagaaa... Kenapa tidak dari tadi?"
Arka tertawa puas.
Akhirnya mereka sampai di meja makan.
Aluna menyantap dengan lahap makanannya, sedangkan Arka, hanya mengaduk-aduk isi mangkuknya.
"Kenapa harus seblak?"
Arka menatap mangkuk itu.
"Loh.. katanya terserah saya."
Mulut perempuan itu penuh dengan makanan.
Arka menatap datar perempuan dihadapannya.
"Sudah.. makan saja. Ini adalah makanan favorit perempuan," katanya dengan mulut yang masih mengunyah. "Eh.. saya lupa kalau Bapak bukan perempuan."
Aluna terkekeh puas.
"Rasakan," ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Dengan terpaksa, Arka mulai menyantap seblak itu. Rasa pedasnya membuatnya sesekali menggaruk kepalanya.
Wajahnya memerah, keringat terus menetes dari pelipisnya.
Setelah menghabiskan semangkuk seblak, Aluna membawa Arka kembali menyusuri area kuliner.
Jalanan yang sempit membuat beberapa orang berdesakan.
Arka memeluk pinggang Aluna saat mereka hendak melewati beberapa kerumunan.
Mereka berhenti pada sebuah gerobak durian kocok.
"Bapak pernah makan ini?"
Menunjuk pada salah satu gerobak.
Arka menggeleng.
"Pak.. saya mau dua."
Kata Aluna kepada pedagang itu.
Beberapa saat kemudian es durian kocok mendarat ditangan mereka.
"Ini bisa menghilangkan rasa pedasnya."
Aluna menyuruh Arka untuk memakannya.
Lalu mereka berjalan kembali dan berhenti di sebuah kursi yang terletak di sebuah bangunan yang tampak kosong.
"Akhirnya bisa menjauh dari kerumunan."
Arka melonggarkan dasinya.
Melihat bosnya lelah, Aluna merasa kasihan.
"Saya minta maaf, sudah membuat Bapak merasa tidak nyaman."
Arka menatap perempuan di sampingnya.
"Saya merasa senang," ucapnya. "Selama itu bersama mu."
Aluna menghentikan tangannya yang sedang mengaduk-aduk es.
"Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."
Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya.
"Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu."
Katanya lirih.
Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.
Arka bingung melihatnya.
"Kamu sedang apa?"
"Menarik ucapan saya."
Mereka tertawa bersamaan.
Malam itu terasa hangat bagi Arka.
Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah,
hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.
Seblak—
bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya.
Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.
Ia tidak terbiasa.
Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.
Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke tempat yang jauh lebih baik.
Restoran dengan hidangan yang lebih “layak” untuknya.
Tapi ia tahu—
Aluna mungkin tidak akan menikmati semua itu,
seperti caranya menikmati semangkuk seblak sederhana malam ini.
Beberapa saat kemudian, perempuan di sampingnya terhuyung, tangannya memegangi kepalanya.
"Aluna, kamu kenapa?"
Tanya Arka sedikit panik.
"Kepala saya tiba-tiba pusing," Aluna menyipitkan matanya.
"Yasudah kita pulang saja."
Namun saat Aluna hendak berdiri dari duduknya, tiba-tiba cairan keluar dari mulutnya.
Perempuan itu kini muntah secara tiba-tiba dan mengenai jas bosnya.
Ia langsung panik, berkali-kali meminta maaf pada bosnya.
"Maafkan saya, Pak.. sepertinya saya kebanyakan makan seblak."
Arka tidak bereaksi apapun.
Ia justru lebih mengkhawatirkan Aluna.
"Bapak bisa mampir dulu ke kosan saya untuk membersihkan diri."
Aluna merasa tidak enak pada pria itu.
Mereka pun pergi menuju kosan Aluna.
"Kamu tinggal disini?" tanya Arka, matanya menyapu seluruh area kosan itu.
"Iya, saya sekarang tinggal disini."
Aluna melangkah menuju pintu kosnya.
Arka mengikutinya dari belakang.
"Ini khusus perempuan kan?"
"Tidak.. ini campuran. Laki-laki dan perempuan."
Arka terdiam sesaat.
Pintu itu terbuka, Aluna mempersilakan Arka masuk.
Kosan itu terlihat rapi, pernak-pernik wanita menghiasi seisi ruangan.
Cat tembok berwarna pink menambah kesan feminim.
"Kamar mandinya di belakang, Pak."
Kata Aluna menyuruh Arka mengganti pakaiannya.
Arka masuk membawa kaos yang tadi ia beli dijalan untuk mengganti jasnya.
Aluna duduk di atas kasurnya, menunggu pria itu.
Beberapa saat kemudian Arka muncul tanpa memakai baju. Ia bertelanjang dada.
Sontak Aluna kaget.
"Loh.. kenapa tidak dipakai?"
Arka memegangi kaos itu.
"Ternyata kaosnya kecil."
Aluna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia bingung harus bagaimana.
Arka tiba-tiba ikut duduk di sebelah Aluna, reflek Aluna menggeser dirinya.
Mata pria itu menyapu seluruh ruangan, sedangkan Aluna hanya tertunduk tidak berani menatap bosnya yang tidak memakai baju.
"Kamu tidak apa-apa sendirian?"
Tanya Arka kemudian.
"Saya lebih nyaman seperti ini," jawab Aluna. "Daripada membersamai orang yang sebenarnya tidak menginginkan saya."
Arka memperhatikan perempuan itu, sedang meremas-remas jarinya, wajahnya tertunduk, sebagian helai rambutnya jatuh kedepan menutupi wajahnya.
Arka meraih rambutnya, merapikan kebelakang. Kini pria itu bisa melihat wajah Aluna.
"Kenapa kamu selalu menunduk?"
"Karena saya.. bawahan Anda."
Kalimat itu keluar begitu saja, kalimat paling jujur dalam dirinya.
Arka mendekatkan tubuhnya pada perempuan itu, tangannya meraih wajah Aluna agar menoleh padanya.
Tatapan mereka bertemu.
Hening sesaat.
Arka mendekatkan wajahnya, tanpa peringatan, tanpa mengizinkan Aluna untuk menolak.
Bibirnya menyentuh lembut bibir hangat Aluna.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi."
Lalu ia kembali mengecup bibirnya.
Aluna mendorong pelan dada pria itu, telapak tangannya menyentuh hangat dada bidangnya.
"Tapi.. kenyataannya memang seperti itu."
***