NovelToon NovelToon
Kehilangan Di Hari Pelantikan

Kehilangan Di Hari Pelantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.

Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.

Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Keesokan harinya.

Nathan datang ke apartemen Calista bersama Marcus dan beberapa anak buahnya. Wajahnya dingin dan tegang sejak turun dari mobil.

Begitu pintu apartemen terbuka, Nathan langsung menatap sekeliling ruangan dengan tajam.

“Periksa seluruh ruangan ini. Jangan sampai ada yang terlewat!” perintahnya dengan suara rendah namun tegas.

Hari itu Nathan mengenakan kemeja biru dengan jas panjang, sementara sarung tangan hitam sudah menutupi kedua tangannya.

“Baik, Tuan,” jawab mereka serentak.

Para anak buahnya segera berpencar. Ada yang membuka laci-laci meja di ruang tamu, ada yang memeriksa di bawah sofa, meja, dan rak, sementara yang lain menuju dapur untuk mencari sesuatu yang mencurigakan.

Sementara itu Nathan berjalan perlahan menuju kamar Calista.

Begitu pintu kamar terbuka, langkahnya sedikit melambat.

Ruangan itu masih terasa seperti ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Namun kini terasa sunyi dan dingin.

Nathan menatap sekeliling kamar itu sebelum akhirnya berjalan menuju lemari pakaian Calista.

Ia membuka pintunya.

Nathan sedikit terdiam.

Di dalam lemari itu tidak ada sehelai pakaian pun.

Tatapannya langsung mengeras.

Nathan kemudian membuka laci-laci lemari satu per satu, tetapi semuanya kosong.

Ia tidak berhenti di situ.

Nathan membongkar selimut di atas kasur, mengangkat bantal, bahkan memeriksa samping meja kecil di dekat tempat tidur.

Namun tetap tidak menemukan apa pun.

“Calista… kenapa kau tidak meninggalkan petunjuk sama sekali?” gumam Nathan lirih.

Ketika ia kembali menarik salah satu laci meja kecil di samping kasur, tangannya berhenti.

Di dalam laci itu terdapat sebuah buku diary.

Nathan mengambilnya perlahan.

Ia membuka halaman pertama yang berisi tulisan tangan Calista.

Nathan mulai membaca.

“Pergi ke suatu tempat yang jauh adalah untuk meninggalkan semuanya.

Keinginan terakhirku hanya bertemu dengan Nathan dan makan bersamanya.

Namun sayang dia tetap harus pergi karena urusan kerja dan impian yang dia kejar.”

Tangan Nathan sedikit menegang saat membalik halaman berikutnya.

“Hubungan kami sejak awal sudah tidak baik.

Pria yang aku cintai lebih mengutamakan kariernya daripada hubungan kami.”

Tatapan Nathan perlahan berubah suram.

“Bukan pertama kali aku ditinggalkan demi urusan kerja. Dan akhirnya aku sadar, yang dia butuhkan bukan aku… tapi posisi tinggi di tempat ia bekerja.”

Nathan menelan napas pelan.

“Apa yang aku alami, biar aku sendiri yang menanggungnya. Siapa pun pelakunya sudah tidak penting lagi.”

Nathan berhenti membaca.

Tangannya yang memegang diary itu sedikit bergetar.

Bayangan masa lalu mereka perlahan muncul di benaknya.

Ia teringat pertemuan terakhir mereka.

Saat itu Calista menatapnya dengan mata yang penuh luka.

“Apakah kau pernah mencintaiku?” tanya Calista waktu itu dengan suara pelan namun penuh kesedihan.

Nathan terdiam saat mengingatnya.

Saat itu ia tidak menjawab apa pun. Ia hanya berbalik pergi karena harus menghadiri rapat penting.

Kini suara Calista yang pilu itu kembali terngiang jelas di kepalanya.

Nathan menutup diary itu perlahan.

Tatapannya jatuh ke lantai kamar yang kosong.

Penyesalan perlahan memenuhi dadanya.

Nathan menutup diary itu perlahan, lalu menyimpannya ke dalam saku jasnya. Wajahnya kembali dingin, tetapi sorot matanya tampak lebih berat dari sebelumnya.

Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.

Pintu kamar mandi dibukanya pelan.

Nathan menatap sekeliling ruangan itu. Pandangannya jatuh pada wastafel.

Di sana tidak ada sabun cuci muka, tidak ada sikat gigi, tidak ada perlengkapan pribadi seperti biasanya.

Alis Nathan sedikit berkerut.

Ia lalu menoleh ke arah tong sampah di sudut kamar mandi.

Di dalamnya terlihat sesuatu yang mencurigakan.

Nathan melangkah mendekat.

Ia melihat sepotong pakaian berwarna putih yang terlipat berantakan di dalam tong sampah itu.

Tanpa menunggu lama, Nathan langsung mengambilnya.

Itu adalah set dress putih milik Calista. “Ini adalah pakaian yang dikenakan Calista… sama seperti yang terlihat di rekaman,” ucap Nathan pelan.

Ia membolak-balik pakaian itu dengan hati-hati.

Namun saat rok bagian belakang terlihat, gerakan tangannya langsung berhenti.

Di sana terdapat bercak darah yang sudah mengering.

Tidak hanya itu, ada juga bekas cairan lain yang telah mengering di kain tersebut.

Mata Nathan langsung membulat besar.

Napasnya tertahan sejenak.

Bayangan rekaman CCTV kembali muncul di benaknya.

Calista yang berjalan tertatih-tatih, tubuhnya membungkuk menahan sakit, sambil menangis di lorong apartemen.

Tangan Nathan perlahan mengepal kuat pada pakaian itu. “Jangan-jangan…” ucapnya lirih.

Suara kain yang diremas terdengar pelan di tangannya.

Tatapan Nathan berubah semakin gelap.

Sesaat kemudian Marcus masuk ke kamar itu.

“Tuan, apakah Anda menemukan sesuatu?” tanyanya.

Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat pakaian putih itu sedikit.

Marcus langsung melihat bercak darah di rok tersebut.

Wajah Marcus ikut menegang.

“Ini… darah?” gumamnya.

Nathan menatap bercak itu tanpa berkedip.

“Marcus,” katanya dengan suara rendah.

“Ya, Tuan.”

Nathan menggenggam pakaian itu semakin erat.

“Bawa ini ke laboratorium forensik terbaik.”

Tatapannya berubah sangat dingin. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Calista malam itu.”

1
Kinara Widya
jadi perawat Nathan selamanya..liora
Fortu
Tanda tanda ingatan mulai pulih ini
Fortu
semoga musuh Nathan tidak menyakiti Liora lagi
Fortu
syukurlah kalau tes DNA
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
Fortu
ketemu ehh
Fortu
Ternyata hilang ingatan
Fortu
lalu ceritanya gimana identitas Calista bisa ada dimayat satunya, apakah ada orang yang memindahkan??
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
Fortu
bener kan si pak Tua ini
ckckck
Fortu
wahhhh tragedi berdarah
apakah Calista korban juga dari james
Fortu
licik juga Tuan James

btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???

wah Nathan main halus ini
Fortu
Apakah james ayahnya jims yang melakukan itu🤔🤔
Fortu
Pasti diperkosa oleh Jims🤔🤔🤔
Fortu
Apa dia dapat kekerasan dari jim??
Fortu
Masalah Calista Li apa ya sampai buruh diri
Fortu
Yang ditemukan dilaut itu ada dua ya🤔
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???
Fortu
mampir
Kinara Widya
iya...itu namamu Liora...
Kinara Widya
Nathan d lawan
Dini Anggraini
Marcus maaf salah tadi bunda🙏
Dini Anggraini
Nathan saat kamu menemui calista sebaiknya kamu dan Marco menyamar menjadi cewek atau apapun itu jadi saat kalian ke rumah sakit tidak ada yang mengenali kalian jangan sampai musuh2 mu menargetkan calista dan kamu kehilangan calista untuk kedua kalinya. 🙏🙏😍😍😍
Dini Anggraini: q kasihan calista bila jadi incaran musuhnya nathan kakak author dulu dia masih punya kesempatan kedua hidup lagi bila sekarang di incar kelemahan nathan q gak tahu lagi bagaimana jadi calista nanti kak. 👍👍👍😂😂😂
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!