NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, seorang yatim piatu yang kehilangan orang tuanya akibat kekejaman prajurit kerajaan, diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh. Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Amukan di Aula Keagungan dan Latihan dari Neraka

Suara dentuman keras mengguncang pilar-pilar Aula Keagungan yang terbuat dari berlian abadi.

Cahaya emas yang tadinya tenang dan agung kini berkobar liar, beradu dengan aura biru kehitaman yang memancar dari tubuh Wira Wisanggeni.

Para Jenderal Langit, prajurit-prajurit perkasa yang telah hidup selama ribuan tahun, tampak ragu-ragu.

Mereka belum pernah melihat entitas seperti ini, seorang dewa baru yang tidak memiliki keanggunan surgawi, melainkan kemarahan liar seorang pemuda yang kehilangan rumahnya.

"Menjauh dariku, kalian semua!" teriak Wira. Suaranya bergema, meretakkan lantai kristal di bawah kakinya.

"Wira Wisanggeni! Kau berada di hadapan Tetua Langit! Berlututlah atau jiwamu akan dipisahkan dari inti keabadianmu!" balas Dewa Brahma Wijaya dengan suara yang menggelegar seperti guntur.

Wira menyeringai, sebuah seringai dingin yang tidak lagi menampakkan jejak bocah konyol dari Hutan Terlarang.

Rambut peraknya berpendar terang, dan sayap hitam di punggungnya mengepak kuat, menciptakan gelombang tekanan yang mematikan.

"Berlutut? Aku bahkan tidak tahu siapa kalian, kenapa aku harus berlutut pada kakek-kakek yang suka berteriak?" ucap Wira.

"Dan jangan panggil aku dengan nama itu jika kalian tidak bisa memberitahuku apa artinya! Aku mencium aroma ubi... aku merasakan rindu yang menyesakkan dada... dan itu tidak ada di sini! Aku ingin turun!"

"Turun ke Bumi adalah terlarang bagi mereka yang telah menyeberangi gerbang emas tanpa izin khusus!" teriak Jenderal Langit bernama Karna Jaya, sambil menghujamkan tombak cahayanya ke arah dada Wira.

Wira tidak menghindar. Ia menangkap ujung tombak itu dengan tangan kosong. Telapak tangannya mengeluarkan uap hitam yang seketika melumat energi cahaya pada tombak tersebut hingga hancur menjadi serpihan.

"Kalau begitu, aku akan membuat izin namaku sendiri!"

Wira melesat maju, bukan dengan teknik yang halus, melainkan dengan hantaman brutal. Ia menabrak barisan Jenderal Langit seperti meteor yang menghantam gunung.

Aula Keagungan yang suci itu mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang kacau.

Wira menghantam, menendang, dan melepaskan ledakan energi biru-hitam ke segala arah. Ia tidak peduli pada peraturan disana, ia hanya ingin mencari jalan keluar dari penjara emas yang indah ini.

"Cukup!" Brahma Wijaya bangkit dari singgasananya.

Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah rantai cahaya yang disebut Rantai Penjerat Takdir meluncur dari langit-langit aula, melilit tubuh Wira dengan sangat erat.

Rantai ini tidak hanya mengikat fisik, tetapi juga mengunci aliran energi sukma.

Wira terjatuh ke lantai, mengerang kesakitan saat rantai itu mulai membakar kulit dewa-nya. "Argh! Apa... apa ini?!"

"Itu adalah pengingat bahwa di sini, hukum kami adalah mutlak," ucap Brahma Wijaya dingin.

"Kau akan dibawa ke Paviliun Sunyi. Di sana, kau akan bermeditasi sampai identitas manusiamu sepenuhnya menguap. Kau akan lupa pada aroma ubi itu, kau akan lupa pada kerinduanmu, dan kau akan menjadi senjata murni milik Alam Dewa."

Wira terus meronta, mata merah-birunya berkilat penuh kebencian. Namun, kekuatan rantai itu terlalu besar untuk kondisinya yang belum stabil.

Perlahan, kesadarannya mulai memudar saat para penjaga menyeretnya keluar dari aula menuju penjara paling sunyi di langit.

Di saat yang sama, jauh di bawah samudera awan, di sebuah lembah tersembunyi yang diselimuti kabut abadi di pinggiran Hutan Terlarang, pemandangan yang tak kalah mengerikan tersaji.

Sekar Arum berdiri di tengah sebuah kolam yang airnya berwarna hitam pekat dan berbau belerang.

"Keluar dari kolam itu, Sekar! Jika kau tidak kuat, tubuhmu akan hancur menjadi abu sebelum kau sempat mencapai Ranah Perak puncak!" teriak Dewi Shinta Aruna dari tepi kolam.

Sekar Arum tidak menjawab. Giginya gemeretak menahan rasa sakit yang luar biasa.

Air hitam itu adalah Cairan Pemurnian Tulang Iblis, sebuah zat yang hanya digunakan oleh mereka yang ingin mencapai kekuatan besar dalam waktu yang sangat singkat dengan taruhan nyawa.

"Aku... tidak akan... keluar..." desis Sekar. Kulitnya mulai melepuh, namun ia terus menggenggam Pedang Pemutus Takdir yang tertancap di dasar kolam.

"Wira sedang menderita di atas sana... dia sendirian... aku tidak boleh kalah hanya karena rasa sakit ini!"

Dewi Shinta menghela napas, matanya memancarkan rasa sedih sekaligus bangga. "Latihan ini disebut 'Pencabutan Nyawa' karena setiap detik kau berada di sana, jiwamu ditarik paksa untuk melepaskan segala keterikatan manusiawi agar bisa menampung energi dewa. Jika kau berhasil, kau akan melompati tiga tingkatan ranah sekaligus. Jika gagal... kau bahkan tidak akan punya kuburan."

Tiba-tiba, Pedang Pemutus Takdir di tangan Sekar mulai bergetar. Pedang itu seolah merespons penderitaan pemilik aslinya di langit sana.

Energi biru-hitam mengalir dari pedang masuk ke dalam tubuh Sekar, bertabrakan dengan cairan hitam kolam.

"AAAAAAAHHHHH!"

Sekar menjerit histeris saat pembuluh darahnya mulai menonjol dan matanya berubah warna menjadi perak sesaat. Cahaya besar meledak dari pusat kolam, melemparkan air hitam hingga puluhan meter ke udara.

Saat cahaya meredup, Sekar berdiri tegak di atas air. Rambutnya kini memiliki gurat-gurat perak, dan auranya telah menembus Ranah Emas tingkat awal.

Dalam satu malam, ia telah melakukan apa yang bagi pendekar lain membutuhkan waktu lima puluh tahun. Namun, wajahnya kini pucat pasi, dan ada garis darah yang mengalir dari telinganya.

"Guru... aku bisa merasakannya," ucap Sekar dengan suara yang parau.

"Aku bisa merasakan keberadaan Wira di langit. Tapi... auranya sangat lemah. Dia sedang dikurung."

Dewi Shinta mendekat, membalut tubuh Sekar dengan jubah putih.

"Kau telah berhasil melewati tahap pertama. Tapi ingat, Sekar, Ranah Emas hanyalah tiket masuk ke gerbang terendah Alam Dewa. Untuk bisa menantang para Tetua Langit dan membawa Wira kembali, kau butuh sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan."

"Apa itu, Guru?" tanya Sekar.

"Kau butuh aliansi," jawab Dewi Shinta.

"Dewa-dewa di atas sana tidak semuanya setuju dengan kebijakan Brahma Wijaya. Ada faksi kuno yang merindukan keseimbangan antara Bumi dan Langit. Dan di Bumi pun, kau tidak bisa bergerak sendiri. Adipati Kalingga masih hidup, dan dia sedang mengumpulkan kekuatan dari dimensi bawah yang jauh lebih mengerikan daripada mayat hidup di Galuhwati."

Sekar menatap Pedang Pemutus Takdir yang kini terasa lebih ringan di tangannya. "Aku tidak peduli pada aliansi atau politik mereka. Siapa pun yang menghalangi jalan untuk menjemput Wira, akan kutebas dengan pedang ini."

Dewi Shinta tersenyum pahit. "Persis seperti Wira. Kalian berdua memang sepasang badai yang akan meruntuhkan tatanan dunia."

Kembali ke Paviliun Sunyi di Alam Dewa. Wira terantai di sebuah pilar batu yang melayang di tengah ruangan hampa udara.

Tidak ada suara, tidak ada cahaya, hanya ada kekosongan yang menyesakkan. Ini adalah siksaan psikologis paling berat bagi dewa mana pun.

Namun, di tengah kesunyian itu, Wira mulai mendengar sesuatu. Bukan suara dari luar, melainkan suara dari dalam intinya.

"Wira... ubi bakar itu rasanya manis jika dimakan saat hujan..."

Itu adalah suaranya sendiri di masa lalu. Ingatan yang seharusnya dihapus oleh Rantai Penjerat Takdir justru mulai mengkristal di dalam batinnya.

Semakin keras Brahma Wijaya mencoba menekan kemanusiaan Wira, semakin kuat ingatan itu bertahan, seperti bara api yang tertimbun salju.

"Aku... Wira..." gumamnya di tengah kegelapan.

"Aku bukan senjata kalian. Aku bukan pilar penahan gerbang kalian. Aku adalah manusia yang merindukan rasa manis ubi bakar... dan aku akan membakar seluruh surga ini jika itu yang diperlukan untuk kembali!"

Tiba-tiba, sebuah bayangan muncul di depan Wira. Sosok itu mengenakan jubah abu-abu sederhana, sangat kontras dengan kemegahan Alam Dewa. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun auranya sangat akrab.

"Siapa kau?" tanya Wira lemah.

"Aku adalah bagian dari dirimu yang kau tinggalkan di Bumi," ucap sosok itu.

"Wira, kau ditarik ke sini karena rencana besar Adipati Kalingga. Dia ingin kau terjebak di sini agar dia bisa membangkitkan Raja Iblis tanpa ada gangguan darimu. Jika kau ingin keluar, kau harus menghancurkan inti kedewaanmu dan membiarkan sisi manusiamu mengambil alih sepenuhnya."

"Tapi... jika aku menghancurkan inti kedewaanku, aku akan mati, kan?"

Sosok itu tertawa kecil. "Mati sebagai manusia jauh lebih baik daripada hidup selamanya sebagai alat yang tidak punya ingatan. Pilihannya ada padamu,"

Wira terdiam. Ia merasakan Rantai Penjerat Takdir semakin mengencang, mencoba menyedot sisa-sisa ingatannya.

Di kejauhan, ia seolah melihat wajah seorang gadis yang tersenyum padanya di bawah pohon beringin. Namanya mulai terdengar jelas di telinganya.

"Sekar..."

Diiringi raungan yang mengguncang seluruh Paviliun Sunyi, Wira mulai mengerahkan seluruh energinya untuk melawan arah aliran Rantai Penjerat. Ia tidak mencoba memutuskannya, tapi ia memaksakan energinya meledak ke dalam dirinya sendiri.

BUM!

Goncangan hebat terasa hingga ke Aula Keagungan. Brahma Wijaya yang sedang bermeditasi langsung membuka matanya dengan terkejut. "Apa?! Dia mencoba menghancurkan intinya sendiri? Dia gila!"

Namun, saat para penjaga sampai di Paviliun Sunyi, mereka hanya menemukan rantai yang hancur dan pilar yang patah. Wira Wisanggeni telah hilang. Namun, ia tidak turun ke Bumi.

Wira terlempar ke Ranah Antara, sebuah dimensi pembuangan yang terletak di antara Langit dan Bumi, tempat di mana monster-monster buangan dan dewa-dewa yang gagal dibuang.

Di sana, Wira jatuh di atas tumpukan tulang-tulang raksasa, tubuhnya penuh luka dan rambutnya kembali berubah menjadi hitam, namun matanya kini sepenuhnya berwarna biru langit yang jernih.

Ia kehilangan sayap hitamnya, ia kehilangan sebagian besar kekuatan dewa-nya, tapi ia mendapatkan kembali namanya.

"Aku... Wira Wisanggeni," ucapnya sambil berusaha bangkit, meski kakinya gemetar.

Ia menatap langit yang gelap di Ranah Antara. Di depannya, ribuan mata merah mulai menyala dari balik kegelapan.

Monster-monster penghuni Ranah Antara mulai mencium aroma daging manusia yang segar.

"Wah, sepertinya aku jatuh di tempat yang salah lagi," gumam Wira, mencoba memaksakan sebuah senyum konyol meski darah menetes dari bibirnya.

"Yah, setidaknya di sini tidak ada dewa-dewa sombong yang suka berteriak. Mari kita lihat apakah monster-monster ini bisa membantuku menemukan jalan pulang."

Wira berdiri tegak, memegang sepotong tulang panjang yang tajam sebagai senjata sementara.

Di Bumi, Sekar Arum mulai melangkah menuju gerbang pendakian langit pertama, sementara di Alam Dewa, Brahma Wijaya memerintahkan pengejaran besar-besaran.

Dan di kegelapan terdalam Galuhwati, Adipati Kalingga baru saja menyelesaikan kalimat terakhir dari mantra pemanggil Raja Iblis.

"Datanglah... dan hancurkan keseimbangan ini selamanya!"

Dunia kini berada di ambang kehancuran dari tiga sisi yang berbeda, dan Wira Wisanggeni harus merangkak keluar dari neraka antah-berantah untuk mencegah kiamat yang ia sendiri pun tak yakin bisa ia hentikan.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!