Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis yang Katanya Terlalu Bebas
Sore itu Alya duduk sendirian di dekat jendela kafe kecil yang terletak di sudut jalan pusat kota. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa pengunjung yang sedang bekerja dengan laptop atau berbincang pelan sambil menikmati kopi mereka. Sinar matahari yang mulai condong ke barat masuk melalui kaca besar, membuat meja kayu di depannya tampak hangat dengan warna keemasan lembut.
Di depan Alya ada secangkir matcha latte yang sudah hampir dingin.
Namun sejak lima belas menit terakhir ia hanya memegang sedotannya tanpa benar-benar meminumnya.
Pikirannya sedang melayang ke banyak hal sekaligus.
Alya menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menghela napas pelan. Dari luar, hidupnya selalu terlihat santai dan menyenangkan. Ia dikenal sebagai gadis yang mudah bergaul, tidak pernah terlihat murung terlalu lama, dan hampir selalu punya cerita lucu untuk membuat teman-temannya tertawa.
Namun hari itu, entah kenapa pikirannya terasa sedikit berat.
“Kenapa harus dijodohkan sih,” gumamnya pelan.
Ia memutar sedotan di dalam gelas sambil menatap jalanan di luar jendela. Orang-orang berjalan lalu lalang dengan kehidupan mereka masing-masing, seolah dunia berjalan normal tanpa ada satu pun yang tahu bahwa Alya sedang mempertanyakan takdir hidupnya sendiri.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir, hidup Alya tidak pernah buruk.
Sejak kecil ia selalu dikelilingi banyak teman. Di sekolah ia termasuk siswa yang cukup populer, bukan karena drama atau sensasi, tetapi karena sifatnya yang easy going. Alya mudah berbicara dengan siapa saja, mulai dari siswa yang paling pendiam sampai yang paling ramai.
Nilainya juga bagus.
Bahkan ketika ia kuliah di jurusan Manajemen Bisnis—jurusan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia pilih dengan sepenuh hati—Alya tetap lulus dengan predikat terbaik.
IPK 3.92.
Angka itu masih tersimpan rapi di ingatannya.
Lucunya, meskipun pintar dan punya banyak kemampuan, Alya tidak pernah benar-benar terlihat sibuk seperti orang lain seusianya. Banyak orang mengira ia hanya gadis santai yang hidup tanpa arah jelas.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Alya memang bekerja.
Hanya saja pekerjaannya tidak selalu terlihat seperti pekerjaan tetap.
Ia cukup sering menerima pekerjaan freelance sebagai model katalog atau iklan kecil. Wajahnya yang manis dengan lesung pipi khas membuat beberapa brand lokal senang bekerja dengannya. Tidak sampai menjadi selebritas besar, tetapi cukup untuk membuat Alya memiliki penghasilan sendiri.
Selain itu, ia juga membantu usaha ibunya.
Ibunya, Lestari, memiliki sebuah toko bunga kecil bernama Lestari Bloom yang terletak di pinggir jalan utama kota. Dahulu toko itu cukup ramai dan memiliki beberapa karyawan, tetapi beberapa tahun terakhir bisnis bunga tidak selalu stabil.
Sekarang toko itu hanya memiliki satu karyawan tetap.
Sisanya, ibunya dan Alya sendiri yang mengurus semuanya.
Alya bertugas mengelola media sosial toko tersebut. Ia memotret rangkaian bunga, membuat caption menarik, dan sesekali menerima pesanan melalui pesan online. Ia bahkan pernah membuat beberapa video pendek yang cukup viral di internet, membuat toko bunga kecil itu kembali dikenal oleh pelanggan baru.
Karena itulah jadwal Alya sering terlihat santai.
Ia bisa bekerja dari rumah, dari kafe, bahkan dari mobil sekalipun.
Namun di balik semua itu, Alya juga tahu kondisi keluarga mereka tidak selalu stabil.
Ayahnya, Bima Prameswari, memiliki usaha distribusi elektronik. Perusahaannya bernama Prameswari Digital Supply, sebuah gudang distribusi yang memasok berbagai perangkat elektronik ke toko-toko kecil di kota mereka, mulai dari televisi, laptop, hingga smartphone.
Bisnis itu dulu cukup besar.
Namun persaingan di dunia elektronik sangat keras.
Beberapa tahun terakhir, perusahaan ayahnya sempat mengalami penurunan yang cukup berat karena munculnya distributor besar dari luar kota yang menawarkan harga lebih murah.
Alya tidak pernah benar-benar bertanya terlalu dalam tentang kondisi bisnis ayahnya.
Namun ia tidak bodoh.
Ia tahu keluarganya sedang berusaha bertahan.
Ia juga tahu bahwa keluarga Adrian adalah salah satu pemain besar di industri teknologi, terutama setelah perusahaan Aurelia Technologies berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Alya menyandarkan dagunya di tangan sambil menatap langit yang mulai berubah warna di luar jendela.
“Jadi ini semacam… aliansi bisnis ya?” gumamnya.
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Kalimat itu terdengar seperti cerita kerajaan di film sejarah. Pernikahan untuk menyatukan dua keluarga agar kekuatan mereka menjadi lebih stabil.
Namun semakin ia memikirkannya, semakin masuk akal rasanya.
“Kalau begitu… aku ini semacam… pion politik?” katanya sambil mengangkat alis.
Alya langsung tertawa kecil.
Ia memang pandai membuat pikirannya sendiri terdengar lebih dramatis dari kenyataan.
Namun jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa sedih yang sulit dijelaskan.
Alya tidak pernah benar-benar membayangkan dirinya menikah muda.
Ia selalu berpikir hidupnya akan berjalan sedikit lebih bebas.
Ia ingin mencoba banyak hal berjalan ke berbagai negara, mencoba berbagai makanan aneh di dunia, bernyanyi di panggung kecil, bahkan mungkin suatu hari membuka brand fashion sendiri.
Pernikahan bukan sesuatu yang ia tolak sepenuhnya.
Hanya saja… bukan sekarang.
Pikirannya tiba-tiba melayang ke masa lalu.
Sebuah kenangan lama muncul begitu saja seperti potongan film yang diputar ulang.
Beberapa tahun lalu, ketika ia masih kuliah.
Ia pernah memiliki seorang pacar yang sangat menyenangkan.
Seorang pria dengan kepribadian yang cerah, sedikit jahil, dan selalu memiliki energi yang membuat suasana menjadi hidup. Teman-teman mereka sering bercanda bahwa hubungan mereka terlihat seperti pasangan karakter drama komedi.
Alya selalu tertawa keras, sementara pria itu sering melemparkan lelucon yang kadang absurd tapi selalu berhasil membuatnya tersenyum.
Kepribadiannya mengingatkan Alya pada seseorang seperti Sunwoo dari The Boyz penuh energi, sedikit usil, tetapi sangat hangat.
Sementara Alya sendiri, kalau dipikir-pikir, memang sering dibandingkan dengan tipe gadis seperti Yuju dari GFriend ..., ceria, vokalnya kuat ketika bernyanyi, tetapi juga cukup serius ketika mengerjakan sesuatu.
Hubungan itu tidak berlangsung sangat lama.
Bukan karena mereka bertengkar besar.
Mereka hanya berjalan ke arah yang berbeda.
Namun kenangan itu tetap terasa hangat.
Alya tersenyum kecil ketika mengingat suatu malam ketika mereka duduk di trotoar setelah makan street food. Mereka tertawa karena hal yang sangat bodoh..., pria itu mencoba makan takoyaki yang terlalu panas dan akhirnya melompat-lompat seperti anak kecil.
“Aduh panas! Panas!” katanya waktu itu.
Alya sampai tertawa sambil memegangi perutnya.
Kenangan itu terasa begitu ringan.
Begitu bebas.
Alya menarik napas panjang lalu kembali menatap gelas matcha latte di depannya.
Hidup memang aneh.
Kadang berubah tanpa kita benar-benar siap.
Namun meskipun begitu, Alya bukan tipe orang yang mudah tenggelam dalam kesedihan terlalu lama.
Ia mengangkat gelasnya akhirnya dan meminum matcha latte itu sampai setengah.
“Ya sudahlah,” katanya pelan pada dirinya sendiri.
Kalau memang hidupnya akan berubah, ia hanya bisa menjalaninya dengan caranya sendiri.
Lagipula… calon suaminya bukan orang yang buruk.
Alya memutar sedotan di gelasnya lagi sambil tersenyum kecil.
“Cuma agak dingin saja.”