Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. Mandi Darah dan Dendam
Aira berdiri mematung di depan pintu ganda yang menuju ke ruang mandi pribadi Isabella.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Dante, yang masih berdiri di luar kamar, bisa mendengarnya.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di tangannya.
“Ingat Aira, kau adalah Isabella. Kau pemilik rumah ini. Mereka hanya pelayan,” bisiknya pada diri sendiri, meskipun ia merasa seperti penipu besar.
Ia mendorong pintu itu.
Uap hangat langsung menerjang wajahnya, membawa aroma minyak esensial mawar dan sandalwood yang pekat.
Ruang mandi itu lebih luas dari apartemen Aira di dunia nyata.
Lantainya terbuat dari marmer hitam yang berkilau, dan di tengahnya terdapat bak mandi emas raksasa yang sudah terisi air dengan kelopak mawar merah yang mengapung di permukaannya.
Di samping bak mandi itu, berdiri seorang pria.
Dia adalah Kael.
Jika Dante adalah es yang tenang, maka Kael adalah api yang membara. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan kemeja putihnya yang basah oleh uap air menempel ketat di tubuhnya yang atletis, memperlihatkan garis-garis otot yang keras. Lengan kemejanya digulung, memperlihatkan bekas luka memanjang di lengan bawahnya—sisa-sisa masa lalunya sebagai tentara bayaran.
Kael tidak membungkuk. Ia hanya menatap Aira dengan mata yang penuh kebencian murni.
"Anda terlambat sepuluh menit, Nyonya," suara Kael kasar dan parau.
"Apakah Anda begitu sibuk bermanis-manis dengan Dante sampai lupa bahwa saya sudah menunggu di sini seperti anjing?"
Aira tersentak.
Di dalam film, Kael memang karakter yang paling vokal menunjukkan ketidaksukaannya pada Isabella. Isabella sering menyiksanya, memaksanya berlutut berjam-jam hanya untuk melihatnya menderita.
"Aku... aku tidak memintamu menungguku," sahut Aira pelan.
Kael tertawa sinis. Ia melangkah maju, langkah kakinya yang berat menggema di ruangan yang lembap itu. Ia berhenti tepat di depan Aira, membuat Aira harus mendongak untuk menatap wajahnya yang tajam dan hidung mancungnya yang sempurna.
"Tidak meminta? Anda yang membuat aturan, Nyonya Isabella. 'Kael harus ada di sana untuk membasuh setiap jengkal kulitku', bukankah itu perintah Anda kemarin?" Kael menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Aira.
"Atau apakah Anda ingin saya melakukan lebih dari sekadar membasuh hari ini?"
Tangan Kael yang kasar dan panas tiba-tiba meraih pinggang Aira, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan.
Aira bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus gaun tidur tipisnya. Sensasi itu begitu asing dan mengejutkan bagi Aira yang seumur hidupnya bahkan belum pernah berpegangan tangan dengan pria.
"L-lepaskan, Kael!" Aira mencoba mendorong dada Kael, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
"Kenapa? Biasanya Anda suka saat saya kasar," bisik Kael, jarinya merayap ke arah punggung Aira, menyentuh kulit telanjangnya di balik celah gaun.
"Ada apa dengan mata itu? Kenapa kau menatapku seolah kau adalah kelinci yang ketakutan? Di mana Isabella yang senang menginjak kepalaku?"
Kael menyadari sesuatu yang aneh. Wanita di pelukannya ini gemetar bukan karena marah, tapi karena malu yang amat sangat. Wajahnya merona merah padam hingga ke leher.
"Kau... kau bukan Isabella yang biasanya," gumam Kael, matanya menyipit penuh selidik. Ia mencengkeram bahu Aira sedikit lebih keras.
"Siapa kau sebenarnya? Apa ini permainan baru untuk menjebakku agar aku melakukan kesalahan dan kau punya alasan untuk mencambukku lagi?"
Aira teringat naskah asli. Di adegan ini, Isabella seharusnya menampar Kael dan memerintahkannya untuk berlutut. Jika ia tidak melakukannya, Kael yang cerdas akan segera menyadari bahwa jiwanya telah tertukar.
Aira memaksakan dirinya. Ia mengangkat tangannya dan—PLAK!—menampar pipi Kael dengan keras.
Suasana seketika menjadi sunyi senyap. Hanya suara tetesan air dari kran emas yang terdengar. Kael memalingkan wajahnya, bekas merah mulai muncul di kulit porselennya.
"Beraninya kau menyentuhku tanpa izin," ujar Aira dengan suara yang ia usahakan tetap dingin dan angkuh, meskipun hatinya menjerit minta maaf.
"Keluar. Aku akan mandi sendiri. Dan jika kau berani masuk lagi sebelum kupanggil, aku akan memastikan Dante memberikan 'pelajaran' tambahan untukmu di ruang bawah tanah."
Kael perlahan menoleh kembali. Alih-alih marah, sebuah senyum miring yang berbahaya muncul di bibirnya. Ia menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari.
"Ah, ternyata kau masih ada di sana, Nyonya yang kejam," kata Kael dengan nada yang lebih rendah dan penuh tantangan. Ia membungkuk sedikit, menatap tepat ke mata hijau Aira.
"Baiklah. Mandilah. Tapi ingat, Nyonya... air yang hangat tidak akan bisa menghapus dosa-dosa yang sudah kau perbuat pada kami. Aku akan menunggumu di luar dengan pakaianmu. Dan jangan harap aku akan memalingkan wajah saat kau keluar nanti."
Kael berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Aira yang hampir jatuh terduduk karena lemas. Ia menatap tangannya yang tadi menampar Kael—tangannya masih terasa panas.
Aira menatap air di bak mandi yang dipenuhi kelopak mawar merah. Ia merasa seperti sedang terjebak di tengah kawanan serigala yang sedang lapar, dan satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan berpura-pura menjadi pemimpin serigala yang paling haus darah.
Aira mematung di dalam bak mandi, membiarkan air hangat perlahan merayapi kulitnya yang memerah—bukan hanya karena panas air, tapi karena sisa sentuhan Kael yang masih terasa membakar di pinggangnya.
Di balik pintu yang baru saja tertutup, ia bisa mendengar langkah kaki Kael yang menjauh.
Ia meraih spons sutra yang ditinggalkan Kael. Benda itu masih hangat. Saat ia mengusapkannya ke bahu, ia menyadari betapa kontrasnya hidupnya sekarang.
Di apartemennya, mandi adalah rutinitas cepat sebelum berangkat kerja; di sini, setiap gerakan terasa seperti sebuah ritual yang diawasi.
Cahaya dari chandelier kristal di atasnya memantul di permukaan air, menciptakan pola cahaya yang bergerak-gerak di langit-langit gotik yang tinggi, seolah-olah ruangan ini sendiri sedang bernapas.
Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu yang janggal. Di sudut bak mandi emas itu, ada sebuah botol kecil berwarna biru tua yang tidak ia perhatikan sebelumnya.
Botol itu tidak memiliki label, hanya sebuah segel lilin merah dengan simbol mawar yang tercekik—simbol yang sama dengan yang ada di dinding marmer.
Aira meraih botol itu dengan jari yang gemetar. Saat tutupnya dibuka, aroma yang keluar bukan lagi mawar, melainkan bau logam yang samar, bercampur dengan sesuatu yang manis namun menusuk. Racun? Atau obat penenang?
"Nyonya? Apakah Anda masih di dalam?"
Suara itu lembut, sangat berbeda dengan Kael. Itu adalah Julian. Pelayan yang dalam film dikenal sebagai 'Si Pemikat Ular'.
Aira segera menyembunyikan botol itu di bawah tumpukan kelopak mawar. "Aku sedang mandi, Julian! Jangan berani-berani masuk!"
Terdengar tawa halus dari balik pintu.
"Oh, saya tidak akan masuk tanpa izin... kecuali jika Anda yang memohon. Saya hanya membawakan teh melati kegemaran Anda. Teh yang selalu membuat Anda 'lunak' di tangan saya."
Kata-kata Julian penuh dengan implikasi yang membuat perut Aira mulas. Di dunia film ini, Isabella dan Julian memiliki hubungan yang sangat manipulatif.
Julian sering menggunakan ramuan dan teh khusus untuk mengendalikan emosi Isabella yang meledak-ledak, sementara Isabella menggunakannya sebagai alat untuk memata-matai pelayan lainnya.
"Tinggalkan saja di luar!" teriak Aira, mencoba menstabilkan suaranya.
"Sayangnya, teh ini harus diminum selagi panas agar khasiatnya bekerja maksimal pada aliran darah Anda," balas Julian.
Aira bisa mendengar kenop pintu berputar pelan.
"Dante memberikan izin pada saya untuk memastikan Anda tidak pingsan karena terlalu lama berendam. Anda tahu sendiri, Dante sangat... posesif terhadap kesehatan Anda."
Pintu terbuka sedikit, hanya cukup untuk memperlihatkan sebagian wajah Julian yang rupawan dengan senyum manis yang mematikan. Matanya menatap langsung ke arah mata hijau Aira yang kini melebar karena panik.
Aira menyadari bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan kemarahan fisik dari Kael, tapi juga permainan mental dari Julian. Di rumah ini, bahkan secangkir teh bisa menjadi senjata.
Ia harus memutuskan: apakah ia akan meminum teh itu dan membiarkan Julian masuk ke dalam pertahanannya, atau menolaknya dan memicu kecurigaan yang lebih besar?
Setiap detik berlalu dengan lambat, seperti tetesan air hangat yang jatuh dari ujung sponsnya. Slow burn ini bukan hanya tentang cinta atau nafsu, tapi tentang siapa yang akan bertahan paling lama sebelum topeng mereka hancur berkeping-keping.
"Masuklah, Julian," ujar Aira akhirnya, suaranya kini lebih rendah dan penuh rahasia. "Letakkan tehnya, dan mari kita lihat... siapa yang sebenarnya sedang bermain dengan api di sini."
Lanjuutt