Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis dari Dunia Yang Berbeda
Pagi itu datang seperti biasa.
Matahari belum terlalu tinggi, tapi panasnya sudah mulai terasa menembus atap seng bengkel kecil milik Ryan. Suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalan depan menjadi latar yang tak pernah berubah.
Ryan sudah kembali bekerja.
Seolah tidak terjadi apa-apa kemarin.
Tangannya sibuk membongkar mesin motor, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun jika diperhatikan lebih dalam… ada sesuatu yang berbeda.
Pikirannya tidak sepenuhnya di sini.
Beberapa kali ia berhenti.
Bukan karena kesulitan.
Melainkan karena tanpa sadar… ia teringat sesuatu.
Atau lebih tepatnya—
seseorang.
“Arini…”
Nama itu terlintas begitu saja.
Ryan langsung menggeleng pelan, mencoba fokus kembali.
“Ngapain dipikirin,” gumamnya.
Itu hanya pertemuan singkat.
Tidak ada arti apa-apa.
Harusnya begitu.
Namun kenyataannya… tidak sesederhana itu.
Siang hari mulai mendekat.
Bengkel mulai sepi.
Ryan duduk sebentar, mengelap tangannya dengan kain kotor. Ia mengambil minum, lalu menatap jalanan kosong di depannya.
Tanpa alasan yang jelas…
ia seperti menunggu.
Dan ia sendiri tidak suka perasaan itu.
“Aneh,” katanya pelan.
Namun sebelum ia sempat mengalihkan pikirannya—
suara mesin mobil terdengar lagi.
Ryan refleks menoleh.
Dan dalam sekejap…
jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Mobil yang sama.
Mobil yang kemarin.
Mobil itu berhenti tepat di depan bengkelnya.
Ryan tidak langsung berdiri.
Ia hanya menatap.
Seolah memastikan bahwa ini bukan kebetulan biasa.
Pintu mobil terbuka.
Dan benar saja—
Arini turun dari sana.
Hari ini ia terlihat sedikit berbeda. Masih sederhana, tapi ada kesan lebih santai. Rambutnya terikat sebagian, memperlihatkan wajahnya dengan lebih jelas.
Dan entah kenapa…
Ryan merasa tempat ini tiba-tiba terasa sempit.
“Permisi,” ucap Arini, kali ini dengan senyum tipis.
Ryan berdiri, mencoba terlihat biasa saja.
“Iya… ada masalah lagi?”
Arini menggeleng.
“Tidak.”
Ryan sedikit bingung.
“Lalu?”
Arini melangkah mendekat.
“Aku cuma mau memastikan… mobilnya benar-benar sudah tidak bermasalah.”
Ryan mengangguk pelan.
“Oh… ya sudah saya cek lagi.”
Ia membuka kap mobil, memeriksa dengan cepat. Semua masih dalam kondisi baik.
“Tidak ada masalah,” katanya singkat.
Arini mengangguk.
Namun ia tidak langsung pergi.
Ia justru tetap berdiri di sana.
Melihat sekitar bengkel.
Melihat dinding yang sudah usang.
Melihat alat-alat sederhana yang tertata seadanya.
Melihat kehidupan yang jauh dari dunia yang ia kenal.
“Sejak kapan kamu buka bengkel di sini?” tanyanya tiba-tiba.
Ryan sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
“Sudah lama,” jawabnya. “Sejak… tidak ada pilihan lain.”
Arini menatapnya.
Jawaban itu sederhana.
Namun terasa berat.
“Kamu kerja sendiri?” lanjutnya.
Ryan mengangguk.
“Belum mampu bayar orang.”
Arini terdiam sejenak.
Lalu tanpa sadar berkata,
“Kamu hebat.”
Ryan langsung mengerutkan kening.
“Hah?”
Arini tersenyum tipis.
“Tidak semua orang bisa bertahan seperti kamu.”
Ryan tidak langsung menjawab.
Ia tidak terbiasa dipuji.
Terlebih dari orang seperti Arini.
“Biasa saja,” katanya akhirnya.
Arini tidak membantah.
Namun dari sorot matanya… jelas ia tidak menganggap itu biasa.
Beberapa detik hening.
Lalu Arini bertanya lagi,
“Kamu selalu di sini?”
Ryan mengangguk.
“Iya.”
Arini tampak berpikir sejenak.
Seolah menimbang sesuatu.
Lalu ia berkata pelan,
“Kalau aku datang lagi… tidak masalah?”
Ryan sedikit terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun entah kenapa… terasa berbeda.
Ia menatap Arini beberapa detik.
Lalu menjawab,
“Ya… tidak masalah.”
Arini tersenyum.
Kali ini lebih jelas.
“Baik.”
Ia berbalik, berjalan menuju mobilnya.
Namun sebelum masuk, ia berhenti.
Menoleh kembali.
“Ryan.”
“Iya?”
“Terima kasih… yang kemarin.”
Ryan mengangguk pelan.
Arini masuk ke mobil.
Mesin menyala.
Dan sekali lagi—
mobil itu meninggalkan bengkel kecil itu.
Namun kali ini berbeda.
Ryan tidak hanya berdiri diam.
Ia tersenyum tipis.
Sesuatu yang jarang terjadi.
Dan tanpa ia sadari—
bengkel kecil itu…
yang biasanya terasa sunyi dan biasa saja…
hari ini terasa sedikit lebih hidup.