Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama
Semua sudah rapi dan siap.
Kami pun mulai meninggalkan danau, bersiap pulang.
Aku naik ke mobil dan duduk di kursi belakang. Kepalaku kusandarkan ke kaca jendela yang sedikit bergetar saat mesin dinyalakan. Badanku terasa pegal setelah banyak aktivitas sejak pagi.
Suasana alam yang tadi begitu segar perlahan menghilang, berganti dengan dinginnya udara dari AC mobil.
Baru beberapa meter berjalan, tanganku refleks meraba kantong, mengambil handphone. Aku mulai melihat kembali momen-momen yang tadi sempat kuabadikan.
“Nanti foto dan videonya kirim semua ya!” seru Cila di sampingku.
Aku sedikit terkejut. Tanpa kusadari, dia sudah ikut melihat isi handphoneku.
“Iya. Sekarang aja nih, takut nanti lupa,” jawabku sambil menyerahkan handphone.
Tak lama setelah itu, mobil memasuki jalan besar dan berhenti di sebuah restoran dengan area parkir yang cukup luas dan sepi.
“Kita makan dulu. Kalian lapar, kan?” kata Ayah Cila sambil menoleh ke arah kami.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Iya nih, aku lapar banget,” jawab Cila cepat.
Kami turun dari mobil, merapikan baju yang sedikit kusut karena terlalu lama bersandar, lalu berjalan masuk ke dalam restoran.
Aku dan Cila duduk di meja, sementara Ayah Cila memesan makanan. Tak lama, Pak Bobi datang menyusul.
Setelah pesanan di antarkan, kami pun makan.
Tidak banyak yang dibicarakan. Mungkin karena semuanya sudah lelah.
Setelah selesai, Ayah Cila melakukan pembayaran, lalu menghampiri kami.
“Ayo, kita lanjut jalan,” ujarnya.
Tak lama, kami kembali berada di dalam mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.
Sepanjang jalan, hanya terdengar suara mesin dan pemandangan di luar jendela yang terus bergerak.
Pikiranku masih tertinggal di danau.
Perlahan, kantuk mulai datang—mungkin karena lelah dan kenyang.
Sebelum benar-benar terlelap, aku menoleh ke arah Cila.
“Udah dikirim semua fotonya, Sil?” tanyaku pelan.
“Sebentar lagi,” jawabnya sambil fokus pada HP-ku.
Tak lama kemudian, ia menyodorkannya kembali.
“Nih, udah selesai.”
Aku mengangguk dan memasukkan HP itu ke saku celana.
“Sil, aku tidur ya… ngantuk,” ucapku.
“Iya, aku juga lelah,” jawabnya singkat.
Aku kembali bersandar.
Dan tanpa sadar, aku pun tertidur.
Mungkin karena lelah, kami tidur nyenyak di sepanjang perjalanan hingga mobil berhenti di depan rumah Cila. Aku tersadar saat mendengar suara pintu gerbang dibuka.
Kami sampai saat sore mulai teduh. Hari yang menyenangkan, tapi juga melelahkan.
Kami turun dari mobil. Aku mengambil barangku—hanya sebuah tas berisi pakaian kotor dan basah. Setelah itu, aku menghampiri Ayah Cila.
“Om, aku pulang ya. Makasih udah ngajak aku liburan,” ucapku. Mataku masih sedikit merah, rambutku pun berantakan karena tidur di mobil.
“Iya, Ndra,” jawabnya sambil tersenyum. “Istirahat di sini dulu aja. Kamu kelihatan capek banget.”
“Enggak, Om. Makasih, hehe. Rumah aku kan dekat,” jawabku sambil tertawa kecil.
Aku lalu menoleh ke arah Cila.
“Makasih ya, Cil.”
“Iya,” jawabnya sambil tersenyum tipis, meski terlihat lelah.
“Aku pulang ya.”
“Iya,” balasnya sambil melambaikan tangan.
Aku pun berjalan pulang lewat halaman belakang seperti biasa, supaya lebih dekat.
Sesampainya di rumah, kulihat Ibu sedang fokus di depan laptop di ruang kerja.
“Bu, aku pulang,” ucapku sambil tetap berjalan menuju kamar.
“Oh iya. Udah makan belum, sayang?” tanya Ibu.
“Nanti aja, Bu,” jawabku singkat sambil terus melangkah.
Saat menaiki tangga menuju lantai dua—di mana kamar kami saling berseberangan dengan ruang tengah di antaranya—Kak Marisa keluar dari kamarnya.
“Widih, seru nggak liburannya?” tanyanya.
“Seru dong!” jawabku cepat. “Aku istirahat dulu ya, Kak.”
“Hmm,” responnya singkat.
Aku pun masuk ke kamar, lalu menjatuhkan badan ke atas kasur. Pandanganku tertuju ke langit-langit.
Perlahan, kurasakan suasana rumah yang sempat terasa asing setelah perjalanan jauh.
Aku terdiam sejenak, lalu pikiranku melayang.
Sepertinya… aku dan Cila semakin dekat. Dia juga terlihat nyaman saat bersamaku.
Tanpa sadar, aku tersenyum sendiri.
Aku menghela napas panjang, lalu bangkit dari tempat tidur. Langkahku berhenti di depan cermin. Sambil membersihkan kotoran di sudut mata, aku menatap wajahku sendiri.
“Mulai sekarang… aku harus berubah,” gumamku dalam hati.
Entah kenapa, keinginan itu terasa kuat. Aku ingin mulai menjaga diri—tidak terlalu sering terpapar terik matahari, mulai terbiasa rapi dan wangi, juga lebih memperhatikan apa yang kumakan. Mungkin… aku juga harus mulai rutin berolahraga.
Pikiranku lalu teringat sesuatu.
Jam tangan dari Cila.
Aku segera mengambil tas yang kubawa dari danau kemarin. Dengan hati-hati kubuka, lalu kuambil kotak kecil berisi jam tangan itu. Kuperiksa perlahan, memastikan tidak ada goresan sedikit pun.
“Masih mulus… aman,” batinku lega.
Aku tersenyum kecil, lalu menyimpannya kembali di dalam kotak dan meletakkannya di meja belajar.
Setelah itu, aku memutuskan untuk mandi dan mengganti pakaian.
Selesai bersih-bersih, aku kembali merebahkan diri di kasur. Tanganku meraih HP, membuka galeri, lalu melihat foto dan video yang kami ambil di danau.
Satu per satu kenangan itu kembali terputar.
Dan entah kenapa… perasaan itu justru membuatku semakin yakin.
Aku ingin berubah.
Beberapa saat kemudian, perutku mulai berbunyi. Rasa lapar akhirnya datang juga.
Tepat saat itu, suara Ibu terdengar dari bawah.
“Ndra, sini nak. Waktunya makan!”
“Iya, Bu!” jawabku dari kamar.
Aku pun segera keluar, lalu bergegas menuju dapur.
Saat kami bersiap untuk makan, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu belakang.
“Permisi, Den… Den Rendra…”
Ternyata Bude Wati, ART di rumah Cila.
“Iya, Bu. Masuk aja,” sahut Ibu sambil berdiri dan membukakan pintu belakang.
Namun Bude Wati tidak masuk. Ia hanya menyodorkan sebuah kotak makan.
“Ini ikan hasil mancing tadi, sudah saya masak,” ujarnya.
“Wah, jadi ngerepotin. Biasanya Cila yang antar. Cilanya mana?” tanya Ibu.
“Iya, Bude… Cilanya mana?” timpalku ikut penasaran.
“Non Cila lagi istirahat, sepertinya kecapekan,” jawab Bude Wati.
“Ya sudah, saya pamit dulu ya. Lagi buru-buru soalnya,” lanjutnya.
“Oh iya, terima kasih ya, Bude,” kata Ibu.
“Iya,” jawabnya singkat, lalu langsung pergi.
Kami pun kembali ke meja makan dan mulai menikmati hidangan.
Aku mencoba ikan hasil tangkapan tadi. Rasanya enak—mungkin karena ada kenangannya juga di balik itu.
Sambil makan, Kak Marisa mulai bertanya.
“Gimana liburannya? Seru nggak?”
“Seru banget!” jawabku semangat.
Aku pun mulai menceritakan semua kejadian di danau—dari berenang, bercanda, sampai memancing.
Obrolan kami dipenuhi tawa. Ibu sesekali ikut tersenyum, bahkan tertawa kecil mendengar ceritaku.
Setelah selesai makan, aku kembali ke kamar. Aku menyikat gigi, mencuci kaki, dan bersiap untuk tidur karena hari sudah semakin malam.
Selesai itu, aku duduk di tepi kasur, memikirkan apa saja yang akan kulakukan besok. Aku ingin mulai lari pagi, mungkin harus buat list apa saja yang harus aku beli, dan mulai menjalani rutinitas yang lebih sehat.
Aku mengambil HP, lalu memasang alarm agar tidak bangun kesiangan.
Setelah semuanya selesai, aku merebahkan tubuh di kasur. Pandanganku kembali tertuju ke langit-langit kamar.
Sunyi.
Dan di situlah pikiranku mulai melayang.
Aku teringat kembali hari ini.
Tentang danau yang tenang… tawa yang terasa ringan… dan momen-momen kecil yang entah kenapa terasa berbeda.
Tentang Cila.
Caranya tertawa.
Caranya berbicara.
Dan bagaimana dia terlihat nyaman saat bersamaku.
Aku menarik napas pelan.
“Benarkah… dia nyaman? Atau cuma aku yang terlalu berharap?” pikirku.
Pertanyaan itu menggantung.
Tapi anehnya, aku tidak merasa gelisah.
Justru sebaliknya… ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Aku teringat jam tangan itu.
Benda kecil, tapi entah kenapa terasa berarti.
Bukan karena harganya.
Tapi karena siapa yang memberikannya.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau aku mau berubah… aku harus serius.”
Bukan hanya karena Cila.
Tapi juga untuk diriku sendiri.
Perlahan, mataku mulai terasa berat.
Pikiranku mulai mengabur, digantikan rasa lelah yang sejak tadi tertahan.
Dengan satu napas panjang, aku memejamkan mata.
Malam itu, aku tertidur dengan satu hal yang pasti—
Besok… aku akan mulai berubah.
Dan mungkin…
Hari ini bukan sekadar kenangan.
Tapi awal dari sesuatu yang baru.