Menceritakan Kayla Eleody Seorang gadis kaya raya dengan kehidupan glamour sempurna, gadis pemberani ini tiba tiba saja bertukar jiwa dengan Zara seorang gadis miskin yang menjadi korban bully di sekolah, mampukan Kayla hidup dalam raga Zara dengan segala kesulitannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourbee Lebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Rencana michele
Selama beberapa hari ini Michele dan teman temannya tak datang untuk mengganggu, bahkan Zara hampir tak melihat keberadaan ketiganya
Namun bukan hanya itu, menurutnya mimi juga sudah tak pernah mendekat padanya, padahal beberapa waktu lalu gadis itu sempat ingin menjadikan nya teman.
Kini Zara memutuskan untuk mengikuti rasa penasaran nya, ia datang dan mendekati mimi yang berada di bangkunya.
"Mi?" Zara menepuk pundak mimi, pelan.
Sangat pelan.
namun berbeda dengan respon yang di berikan gadis itu, mimi tampak kaget dan menatapnya takut.
"Lo kenapa? perasaan gue mukulnya biasa aja" Tandas Zara.
"Gak apa kok, kamu ngapain kesini?" Tanya mimi was was.
"Ya gak ngapa ngapain sih, tapi kan lo sendiri yang bilang kalau kita ini temen, lo lupa?"
Mimi menggeleng pelan, "mulai sekarang kamu jangan deketin aku, aku gak mau kena masalah" Cicit mimi.
"Hah?! maksud lo gue sumber masalah?"
Tanpa menjawab Zara mimi berdiri dari bangku nya dan keluar kelas.
"Kenapa sih? aneh banget!"
"Lo ngapain di sini?" Leon tiba tiba saja mendudukkan dirinya di samping Zara.
"Lagi mikirin apa sih?" Tanya Leon penasaran.
"Menurut lo mimi kenapa?" Tanyanya pada Leon.
"Kenapa gimana? dia kan emang gitu 11 12 sama lo" Kata nya.
"Serius dong!"
"Ya gatau kenapa nanya gue emang gue bapaknya?"
"Ya kali aja kan, padahal kemaren kemaren dia tuh bilang mau jadi temen gue, eh sekarang dia sendiri yang menjauh, dasar aneh" Cibir Zara.
Leon mengendikkan bahunya tak peduli.
...****************...
"Rasanya puas banget habis mukulin mimi, dia sampek muntah anjing ih jorok banget" Ruri tertawa terbahak bahak.
"Kira kira dia ngadu gak ya ke zara?" Bisik windi.
"Mana mungkin, mau cari mati apa dia mau ngadu ke zara" Balas Michele.
Ketiganya tengah berada di rooftop sekolah siang ini, membolos jam pelajaran.
"Cell? lo gak pengen banget apa ngeliat Zara kaya dulu?" tanya windi.
"Jangan di Tanya ya jelas gue pengen banget lah, tapi gue masih gak tau gimana caranya, habisnya dia udah berani ngelawan dan kita bakalan berakhir ke ruang bk, gak baik buat gue, bisa abis gue sama nyokap" kata Michele.
"Pernah gak sih lo kepikiran buat nyuruh cowok eksekusi dia, maksudnya mungkin aja dia jadi takut dan gak berani lagi, dulu kan Zara juga takut sama kita makanya gak berani lapor, intinya kita buat dia takut dan trauma dulu baru dia paham supaya gak macem macem sama kita"
"Cerdas juga lo!" Puji Michele pada windi.
"Ya iyalah! gue gituloh!"
"Tapi nyuruh siapa cell?"
"Yang jelas cowok yang gak niat sekolah biar dia gak nyesel nyesel banget kalo kena bk" Kekeh michele.
"Gue ada ide!" Kata ruri.
...****************...
Mimi berjalan mendekat pada Zara, walaupun tampak ragu namun Mimi tetap pada langkahnya yang pelan.
"Zara?" Panggilnya.
"Ha? kenapa?" Tanya Zara.
"aku mau minta maaf masalah tadi, aku gak bermaksud apapun" Cicit Mimi pelan.
"Jujur lo aneh sih, tapi yaudah lah gak penting juga buat gue, kenapa?"
"N-nanti pulang sekolah bisa ke belakang gudang sebentar? ada yang mau aku omongin" Katanya.
"Kenapa gak sekarang aja?"
"G-gak bisa, nanti kamu tunggu aku di sana ya?" Pinta mimi.
"Oh oke deh, ntar gue kesana" Zara mengangguk setuju.
"Maafin aku Zara, maaf"
30 menit yang lalu...
Plakk
Sebuah tamparan mendarat di pipi ketika badan mimi baru saja terhantuk pada tembok gudang dengan keras.
"Gue perintahin lo buat bawa Zara ke belakang sekolah nanti!" Kata Michele.
"T-tapi kak, aku udah gak bertemen sama Zara" cicit mimi.
"Gausah sok cari aman deh! lo bawa dia atau gue botakin rambut lo!" Ancamnya.
"i-iya kak iya" Pasrah mimi.
Sepulang sekolah....
Sesuai dengan janji nya pada mimi kini Zara berdiri menunggu mimi di gudang kosong belakang sekolah.
"Zara?!" Panggil seseorang.
Dua orang pemuda dengan seragam yang sama dengan nya datang bersama Michele dan kedua temannya, ruri dan windi.
"Apa apaan nih?!" Tanya Zara.
"Mimi udah jebak lo" Kata Michele.
"Maksudnya?"
" Jadi sebenernya bukan Mimi yang pengen ketemu sama lo, tapi kita kita" Kata michele.
"Cantik juga cell" Celetuk salah satu teman lelaki Michele.
"Ambil aja, gue yakin dia masih perawan" Michele tertawa ketika mengatakan nya.
"Mau lo apa sih!?" Tanya Zara.
"Gue mau lo tunduk sama gue kaya dulu!" Michele berkata dengan nada tinggi.
"Lo berharap gue tunduk sama lo karena takut sama mereka berdua?" Zara menunjuk kedua teman lelaki Michele.
"Lo gak takut, gue yakin lo gak sekuat itu buat ngelawan cowok!"
"Mendingan lo bertiga aja sini maju lawan gue! dan kalo kalian berdua masih mau di anggep laki mending kalian diem aja!" Kata Zara.
"Terserah lo mau nganggep gue laki apa bukan, tapi boleh lah gue cobain lo, sekali aja kalo enak nanti nambah" Pemuda itu tertawa sambil bertepuk tangan, keempat orang lain nya pun juga ikut tertawa mendengar ucapan menjijikkan tersebut.
"Dasar mental bully, gua gak bisa bayangin gimana keluarga kalian ngedidik anaknya jadi setan berkedok siswa SMA gini, tapi yang pasti keluarga kalian itu, berantakan!" Cibir Zara.
"Kurang ajar banget nih anak" Ruri menyahut.
"Kalian bertiga diem aja, dia udah jadi urusan gue sekarang" Kata pemuda bernama tag Ryan itu.
Ryan bersama dengan salah satu temannya bernama angga mendekati zara yang masih diam di tempat nya.
"Kalo kalian berani nyentuh gue, gue bakalan laporin kalian ke polisi, gue gak main main!" Ancam Zara.
"Emang lo punya duit, jaman sekarang gada duit gak bakalan di tanggepi" Tandas Ryan.
Michele ruri dan windi tertawa puas melihat Zara yang tampak waspada, walaupun gadis itu tak terlihat takut namun tetap saja ia tahu Zara tak akan bisa menghadapinya.
Sementara itu...
Leon yang masih mengenakan pakaian futsalnya berdiri di gerbang besar sekolah, ia berniat mencegat Zara untuk pulang bersama namun gadis itu masih tak terlihat mata bahkan saat siswa dan siswi di kelasnya hampir habis.
"Kemana tuh anak?" Gumam Leon.
Saat sedang menunggu ia tak sengaja menangkap kehadiran Mimi, gadis itu akan keluar dari gerbang membawa ponsel dengan tangan yang bergetar, Leon bermaksud untuk bertanya pada Mimi.
"Mimi?!" Panggilnya.
Mimi terhenyak kaget saat seseorang memanggil namanya dengan kuat, ia terlihat ketakutan.
"Kenapa lo?" Tanya Leon.
"E-enggak apa apa kok" Jawabnya gugup.
"Lo liat zara?"
"Aku jahat, aku gak mungkin kaya gini ke Zara, dia udah berkali kali bantu aku" Batin Mimi.
Mimi menatap Leon kemudian menunduk lagi, ia melakukannya berkali kali seperti seseorang yang tengah mengalami keraguan.
"T-tolong zara!"