NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Cavell

...୨ৎ──── C H E R R Y────જ⁀➴...

Karena Cavell ada di rumah, aku menghabiskan seharian penuh di kamar buat bikin tutorial skincare.

Suasana saat sarapan tadi tegang banget, jadi aku melewatkan makan siang. Waktu Livinia datang mengecekku, aku bilang kalau aku lagi kerja dan dia gak perlu khawatir.

Karena aku tahu aku gak bisa melewatkan makan malam, aku mengecek penampilanku di cermin. Aku memakai gaun koktail hitam pendek dengan bagian atas yang cukup terbuka.

“Kamu pasti bisa bertahan buat makan malam bareng Cavell,” gumamku sebelum keluar dari kamar.

Aku berjalan menyusuri koridor. Saat berbelok di tikungan, mataku langsung jatuh ke Cavell yang datang dari sayap lain rumah ini. Aku memperlambat langkah supaya dia turun tangga duluan.

Tatapannya berhenti di aku sepersekian detik, lalu dia gak mengatakan apa pun.

Aku belum banyak berinteraksi dengannya, tapi jelas dia tipe pria yang irit bicara.

Aku mengikuti dia menuruni tangga. Tatapanku menyapu bahunya yang lebar sebelum akhirnya berhenti pada pistol di pinggangnya.

Bahkan di rumah, dikelilingi pasukan anak buahnya, dia tetap bersenjata.

Saat aku melangkah di anak tangga terakhir, tumit kiriku tiba-tiba patah. Tanpa berpikir, aku pun langsung mengulurkan tangan buat menahan diri. Telapak tanganku mengenai pistol di punggung Cavell, dan seketika darah rasanya menghilang dari wajahku.

Sial.

Cavell langsung berbalik. Saat aku menarik napas karena kaget, jarinya langsung mencengkeram leherku dengan kasar. Tubuhku diputar sebelum dia melemparku ke lantai.

Rasa sakit menjalar di pinggul dan tulang belikatku. Udara keluar dari paru-paruku, dan detik berikutnya moncong pistolnya sudah menekan dahi aku.

Sial.

Sial.

Sial.

Ketakutan pun memenuhi tubuhku saat aku memaksa kata-kata keluar dari tenggorokan yang dicekiknya.

“Itu ... cuma ... aku kepleset ....”

Dia berjongkok di atasku. Wajahnya keras seperti batu, matanya berbahaya.

Jantungku berdetak kencang saat aku menatapnya. Suara tercekat keluar dari tenggorokanku ketika aku mencoba bernapas.

“Itu kecelakaan,” napasku terengah. “Tumitku ... aku tersandung.”

Dia bergerak sedikit. Tanpa melepaskan cengkeramannya di leherku, dia melihat sepatuku yang rusak. Sepertinya penjelasan aku cukup buat dia.

Akhirnya dia melepaskanku lalu berdiri tegak.

Astaga.

Aku menarik napas dalam-dalam sambil buru-buru bangkit berdiri. Saat mataku jatuh pada Cavell yang sudah berjalan menjauh sambil menyelipkan kembali pistolnya ke pinggang, kemarahan mulai berputar di dadaku.

Bajingan.

Dia baru saja membantingku ke lantai dan hampir mencekikku sampai mati, tapi dia bahkan gak repot-repot mengatakan satu kata pun?

Aku melepas sepatu yang rusak dari kakiku dan hampir melemparkannya ke punggungnya. Untungnya aku masih sempat menahan diri.

Dengan cemberut menatap punggungnya yang menjauh, aku menekan tombol di dinding untuk memanggil lift. Saat pintunya terbuka, aku masuk lalu menatap sepatu bodoh yang hampir membuatku mati tadi.

Bahu dan pinggulku masih sakit. Tanganku yang gemetar naik ke leher. Dia gak perlu bereaksi segila itu.

Seolah-olah aku mau membunuh dia?

Helooo, aku bukan orang bodoh, dan jelas aku juga gak punya keinginan mati di tangan dia.

Aku kembali ke kamar, mengganti sepatu dengan cepat, lalu bergegas menuju ruang makan.

Aku bahkan gak menoleh ke arah Cavell. Aku hanya memberikan senyum terpaksa kepada Nyonya Persie sebelum duduk di samping Vloo.

Yang penting aku bisa melewati makan malam ini dengan kepala tegak.

Setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan, aku sudah jadi ahli di bidang menyembunyikan perasaan. Aku menolak menunjukkan sisi rapuhku karena aku tahu orang-orang akan memanfaatkannya.

Aku mengambil gelas air dan meneguknya.

Saat aku menaruh gelas kembali di meja, mata Nyonya Persie terpaku di leherku.

“Itu memar dari mana?”

“Memar?” tanya Nyonya Rose dengan wajah tegang.

Udara di sekitar meja terasa menegang. Aku tahu kalau aku menoleh ke Cavell, dia mungkin akan memberi tatapan peringatan supaya aku diam saja.

Tapi keras kepalaku yang sempat tidur minggu lalu langsung bangkit lagi. Amarahku pun ikut menyala.

Aku gak pernah menyembunyikan memarku, dan aku menolak berbohong demi orang lain. Hal itu sudah sering membuatku kena masalah.

Kenangan saat Herman memukuliku hanya karena aku berenang di siang bolong, tiba-tiba muncul di kepala. Teman-temannya datang dan melihatku memakai baju renang.

Hari itu kakakku sampai membuat rahangku bergeser. Saat pastor kami datang menjenguk, aku gak bersembunyi seperti yang diperintahkan.

Pastor itu juga gak melakukan apa pun saat melihat wajahku yang babak belur.

Aksi kecilku itu membuat aku dihukum sampai dua tulang rusuk patah dan tiga hari dikurung di kamar tanpa makanan.

Walaupun aku tahu mulutku mungkin akan membuatku dipukuli lagi, kata-kata tetap keluar dari bibir aku.

“Aku kesandung dan tanpa sengaja nyentuh pistol Tuan Rose. Dia langsung mencengkeram leherku dan banting aku ke lantai.”

Nyonya Rose langsung menghela napas. Wajahnya berubah pucat sekali. Dia mengeluarkan suara tercekat, hampir sama seperti yang aku keluarkan saat anaknya hampir mencekikku tadi.

Cavell langsung berdiri. Dia memegang bahu Mamanya lalu berjongkok di samping kursinya.

Nada suaranya mengejutkan karena terdengar sangat lembut. “Tarik napas, Ma.”

Napas Mamanya semakin cepat. Jelas sekali dia sedang mengalami serangan panik.

Sial.

“Maaf,” kataku pelan. Aku merasa sangat bersalah karena gak menutup mulutku. Aku sama sekali gak berniat membuat Nyonya Rose mengalami serangan panik.

“Keluar!” bentak Cavell. “Semuanya!”

Aku langsung berdiri dan keluar dari kursi dalam sepersekian detik. Saat aku berlari ke koridor, aku mendengar Cavell bergumam dengan lembut.

“Gak apa-apa, Ma. aku di sini. Mama aman. Dia gak bisa menyakiti Mama lagi.”

Nyonya Persie memegang lenganku dan menatapku dengan khawatir.

“Kamu baik-baik aja?”

“Sekarang bukan waktunya, Ma,” gumam Vloo. “Cherry, sebaiknya kamu kembali ke kamar.”

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!