Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 25.
Suasana aula Rumah Sakit Cakrawala masih tegang setelah pernyataan Arunika.
Para wartawan yang awalnya hanya ingin meliput proyek penelitian kini mendapatkan bahan berita yang jauh lebih besar. Kamera-kamera terus menyala, bisikan terdengar di berbagai sudut ruangan.
“Dia benar-benar menolak Simon di depan umum…”
“Berani sekali.”
“Direktur Wijaya dipermalukan seperti itu…”
Simon berdiri kaku di tengah aula, tangannya masih memegang bunga yang kini terasa seperti benda paling memalukan di dunia. Ia menatap Arunika yang berdiri di atas panggung, wanita itu sama sekali tidak terlihat ragu. Tidak ada kemarahan dan tak ada emosi berlebihan, hanya ketenangan yang dingin.
Justru itu yang membuat dada Simon terasa semakin sesak.
“Arunika…” ucapnya pelan.
Namun wanita itu tidak lagi menatapnya.
Sebaliknya, Arunika mengalihkan perhatiannya pada para wartawan. “Saya harap acara hari ini tetap fokus pada proyek penelitian medis.”
“Saya tidak memiliki komentar lebih jauh tentang kehidupan pribadi saya.” Suaranya tenang namun tegas.
Seorang wartawan langsung bertanya lagi.
“Dokter Arunika! Apakah Anda benar-benar menciptakan obat untuk menetralisir racun langka?”
Beberapa kamera langsung mengarah padanya.
“Itu hanya formula sementara.” Arunika menjawab dengan sederhana.
Namun salah satu profesor medis yang berdiri di dekat panggung langsung menyela.
“Formula sementara?” pria tua itu tertawa kagum. “Dokter Arunika, Anda terlalu rendah hati.”
Ia menoleh ke arah wartawan. “Obat yang dia buat untuk racun itu, bahkan belum pernah ada dalam literatur medis.”
Ruangan itu kembali riuh.
“Apakah itu berarti penelitian baru akan dimulai?”
“Dokter Arunika! Apakah Anda akan memimpin penelitian tersebut?”
Di sisi panggung, Angkasa melangkah maju. Ia berdiri di samping Arunika, aura kepemimpinannya langsung membuat ruangan kembali tenang. “Pertanyaan mengenai penelitian akan dijawab setelah konferensi resmi.”
Suaranya tenang namun tidak bisa dibantah, beberapa wartawan langsung mengangguk.
Namun tatapan Angkasa sempat melirik ke arah Simon yang masih berdiri di tengah aula. Pandangan pria itu dingin. Tanpa kata-kata, pesan itu sudah jelas tertuju pada Simon.
Pergilah.
Simon mengepalkan tangannya. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Nyonya Mirna menarik lengannya. “Simon, ayo kita pulang.”
Simon menatap ibunya. “Ma—”
“Cukup.” Suara Nyonya Mirna terdengar pelan namun tajam, ia sudah cukup kehilangan muka hari ini.
Akhirnya Simon hanya bisa menatap Arunika sekali lagi, tapi wanita itu bahkan tidak melihat ke arahnya lagi. Perlahan Simon berbalik, buket bunga yang ia bawa akhirnya ia letakkan di meja resepsionis sebelum pergi.
Beberapa wartawan langsung mengambil foto.
Judul berita sudah terbentuk di kepala mereka.
“Direktur Wijaya Ditolak Istri di Depan Publik.“
___
Setelah acara selesai, aula mulai sepi. Para dokter kembali ke ruang masing-masing. Wartawan juga mulai meninggalkan rumah sakit.
Arunika akhirnya berjalan keluar dari ruangan konferensi. Ia terlihat sedikit lelah, tetapi wajahnya masih setenang biasanya.
Baru beberapa langkah berjalan, sebuah suara memanggilnya.
“Arunika.”
Ia berhenti.
Angkasa berdiri beberapa meter di belakangnya, pria itu masih mengenakan jas hitam yang sama.
“Acara hari ini cukup melelahkan,” katanya.
Arunika menatapnya sebentar. “Masih ada rapat tim penelitian.”
“Kau benar-benar tidak memberi dirimu waktu istirahat.” Angkasa tersenyum tipis.
Arunika menjawab datar, “Saya sudah terbiasa.”
Wanita itu lalu berjalan pergi menuju koridor penelitian, sementara Angkasa masih berdiri di tempatnya. Matanya mengikuti langkah wanita itu sampai menghilang di tikungan lorong.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Ia langsung menjawab. “Ya.”
Suara dari ujung telepon terdengar serius. “Tuan Angkasa, kami menemukan sesuatu.”
Tatapan Angkasa langsung berubah tajam.
“Katakan?”
“Kami akhirnya menemukan pergerakan organisasi Kenzo di Indonesia.”
Angkasa menyipitkan mata. “Di mana?”
“Jakarta.”
Angkasa menatap ke arah lorong tempat Arunika pergi tadi. “Temukan tempat itu. Jika kita berhasil menemukannya… aku yakin akan ada banyak bukti kejahatannya di sana.”
“Dan juga, perketat pengawasan.” Suaranya berubah rendah.
“Baik, Tuan.”
Angkasa menambahkan satu kalimat lagi. “Jangan sampai Dokter Arunika mengetahui ini.”
“Dimengerti.”
Telepon terputus.
Angkasa berdiri diam beberapa detik.
“Kenzo… kali ini, aku akan menangkapmu!” Tatapannya menjadi dingin seperti es.
/Chuckle//Chuckle//Chuckle/ ,,
Masih byk misteri ny niih ,,
next kakak
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️