NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Operasi Mandiri

Bab 20: Operasi Mandiri

Bau karbol dan antiseptik menyeruak masuk ke indra penciuman Kenzi, memaksa matanya terbuka perlahan. Pandangannya buram, namun ia mengenali langit-langit putih dan pola pencahayaan minimalis itu. Ia berada di unit medis darurat di lantai bawah tanah kediaman Wijaya—sebuah fasilitas rahasia yang bahkan Bram jarang diizinkan masuk.

"K-Kenzi? Kau sadar?" Suara Alana terdengar bergetar, penuh kecemasan.

Kenzi mencoba bangkit, namun rasa sakit yang tajam meledak di bahu kirinya. Ia mendesis pelan. Ingatan tentang ballroom yang kacau, Viper yang pingsan, moncong senjata di balkon, dan sensasi peluru menembus dagingnya kembali dengan cepat.

Unit Diagnostik Internal (Terkalibrasi Kembali): Kesadaran pulih. Denyut nadi rendah, 55 bpm. Kehilangan darah: Est. 350cc (Stabil). Luka tembus bahu kiri, deltoid posterior. Risiko infeksi: Sedang.

"Nona, Anda seharusnya berada di kamar," suara Kenzi serak, namun tetap dingin. Ia menolak menunjukkan kelemahan di depan target.

"Ayah... Ayah menyuruhku di sini sampai kau sadar," Alana duduk di kursi di samping tempat tidur Kenzi. Matanya sembab, bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya. "Kenapa kau lakukan itu, Kenzi? Kenapa kau menerjang peluru untukku?"

"Utang..." Kenzi terdiam sejenak, mencari alasan taktis yang masuk akal. "Utang kontrak. Misi saya adalah menjaga Anda tetap utuh sampai data Proyek Phoenix diserahkan."

"Bohong!" Alana berteriak pelan, air mata kembali menggenang. "Di gudang tua... kau membiarkanku memegang jantungmu. Kau bilang ketakutan itu mekanisme pertahanan. Kau... kau punya perasaan, Kenzi. Kau bukan mesin!"

Kenzi menatap mata Alana. Di tengah rasa sakit yang berdenyut, ia melihat pantulan dirinya—sebuah anomali emosional yang ia sebut 'bug'. Baginya, menyelamatkan Alana adalah kalkulasi untuk menjaga aset tetap utuh, sebuah tindakan non-optimal bagi seorang pengawal dalam kondisi penyamaran yang mulai terbongkar. Namun, saat itu, logikanya seakan lumpuh oleh dorongan insting yang tidak logis.

"Lupakan apa yang saya katakan di gudang, Nona. Itu hanya taktik untuk menenangkan Anda," Kenzi mencoba bangkit lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. Ia harus segera menangani lukanya.

Di meja medis di seberang ruangan, Kenzi melihat kit bedah dasar. Ia tahu unit paramedis Wijaya akan tiba dalam hitungan menit, namun Kenzi tidak bisa membiarkan mereka menyentuh lukanya. Di balik tato organisasi yang disamarkan, terdapat chip pelacak biologis yang hanya bisa dideteksi oleh peralatan medis organisasi. Jika tim medis Wijaya menemukannya, penyamarannya akan runtuh.

Kenzi menarik napas perlahan, menekan bug emosional itu ke sudut tergelap jiwanya. Ia adalah mesin dendam, dan Alana... Alana hanyalah aset yang harus ia amankan, sekaligus putri dari monster yang harus ia hancurkan. Kelembutan yang sempat muncul di gudang tua adalah kelemahan yang mematikan.

"Nona, di kit bedah itu, ada jarum, benang bedah, dan antiseptik. Tolong bawakan kemari."

Alana terbelalak. "Untuk apa? Paramedis akan segera datang!"

"Mereka tidak akan sampai tepat waktu. Luka ini harus segera ditutup untuk mencegah kehilangan darah lebih lanjut dan infeksi," Kenzi berbohong. Alasan sebenarnya jauh lebih gelap. "Bawakan kit itu, atau saya tidak akan bisa menyelesaikan misi kontrak saya."

Alana ragu sejenak, namun logika dingin Kenzi mulai merasuki pikirannya. Ia berdiri, tangannya gemetar saat mengambil kit bedah dasar dan membawakannya ke tempat tidur Kenzi.

Kenzi mengambil jarum dan benang bedah. Ia menatap Alana, wajahnya tetap kaku tanpa ekspresi. "Nona, apa yang akan Anda lihat selanjutnya tidak logis dalam standar kemanusiaan Anda. Fokuslah pada fakta bahwa ini adalah prosedur medis yang diperlukan."

Tanpa bius, tanpa ragu, Kenzi menusukkan jarum bedah ke kulitnya yang robek.

"Kenzi!" Alana terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan teriakan.

Kenzi tidak bergeming. Monolog internalnya melakukan kalkulasi taktis pada setiap tusukan.

Diagnosis Internal: Nyeri akut, skala 9/10. Reaksi biologis (Keringat dingin, peningkatan denyut nadi) ditekan melalui teknik kontrol otonom level 5. Fokus pada penutupan arteri superfisial.

Air mata Alana mengalir deras. Ia menyaksikan ketangguhan fisik Kenzi yang tidak manusiawi. Tidak ada teriakan, tidak ada erangan, hanya tatapan dingin Kenzi yang fokus pada lukanya. Bagi Alana, ini adalah sisi gelap Kenzi yang jauh lebih menakutkan daripada belati pelayan di ballroom. Pria ini benar-benar tidak mengenal rasa sakit, tidak mengenal ketakutan—sebuah mesin pembunuh yang hatinya telah dingin sekeras es.

"Kenzi, kumohon... ini mengerikan," bisik Alana, tubuhnya bergetar hebat.

Kenzi tidak menjawab. Ia menyelesaikan jahitan terakhir, memotong benang, dan mengoleskan antiseptik. Seluruh proses itu berlangsung kurang dari tiga menit. Keringat dingin membasahi dahinya, namun napasnya tetap stabil.

"Luka tertutup. Efisiensi motorik lengan kiri pulih hingga 75%. Risiko infeksi diredam," desis Kenzi. Ia menatap Alana. "Saya menepati utang saya, Nona. Setidaknya untuk malam ini."

Pintu unit medis terbuka. Bram dan tim paramedis Wijaya merangsek masuk. Bram menatap Kenzi, lalu menatap kit bedah yang berlumuran darah di tempat tidur. Kecurigaannya semakin mendalam.

"Nona Alana! Anda aman?!" teriak Bram. Ia menoleh ke arah salah satu paramedis. "Periksa luka pada anak baru! Pastikan dia tidak menyembunyikan sesuatu!"

Paramedis Wijaya mendekat, namun Kenzi mengangkat tangan kanannya. "Luka sudah ditangani. Jahitan dasar. Prosedur standar dalam kondisi darurat tanpa bius."

Kata-kata Kenzi meledak di unit medis. Paramedis Wijaya tertegun, menatap Kenzi dengan pandangan yang sulit diartikan—antara rasa hormat sebagai sesama kombatan dan kecurigaan yang makin mendalam. Bram mengepalkan tinjunya, paranoia-nya mencapai titik puncaknya.

"Misi sabotase Proyek Phoenix telah berubah, Bram," ujar Kenzi dingin, matanya menatap Bram dengan tantangan yang dingin. "Ini bukan lagi soal pengawal sipil. Ini soal variabel Alana yang tidak logis... variabel yang mulai menuntut haknya untuk dirasakan."

Malam itu, di tengah kemeriahan pesta yang telah runtuh, Alana menyadari satu hal: Bahaya terbesar bukanlah orang-orang bermasker yang ingin membunuhnya, melainkan pria yang kini sedang berdiri di hadapannya—pria yang hatinya benar-benar dingin sekeras es. Perang dingin di dalam kediaman Wijaya baru saja dimulai.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!