"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Satu Milyar
"Kamu...." kening Nyonya Ellen berkerut. Ia melihat Deana dengan pipi yang merah, pun tatapannya terluka.
“Ya Tuhan... ini ada apa?” tanya Nyonya Ellen.
"Jadi... Ini Deana?" tanyanya lagi.
Deana mengangkat wajahnya, cukup tersentak dengan apa yang dilihatnya, "Bu... Nyonya." ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.
Di sampingnya, Lena mengintip dari balik tubuh Mommy Ellen.
Dan dalam sekejap, bola mata kecil itu membesar, “Kakak cantik?” serunya senang.
Suara polos itu menggema dan semua orang langsung terdiam.
Lena langsung melepaskan tangan Nyonya Ellen dan berhambur berlari kecil menghampiri Deana.
“Kenapa Kakak cantik di sini...?” tanya Lena. Perempuan berumur lima tahun itu langsung duduk di pangkuan Deana.
Deana terdiam, ia tidak berani menolak. Hatinya yang sejak tadi keras, mendadak goyah.
Namun Lena belum berhenti, matanya menangkap sesuatu, pipi Deana yang merah.
Ekspresi Lena berubah, “Kakak, siapa yang nakal...?” gumamnya pelan.
Lalu dengan tangan kecilnya, ia menyentuh pipi Deana dengan hati-hati, “...Sakit ya?”
Deana tersenyum lalu menggeleng, ia cukup canggung karena semua orang menatapnya, "Tidak. Eum, Kakak tidak apa-apa, ini tidak sakit." balasnya lalu mengelus pundak Lena.
"Lena senang Kakak Cantik di sini, Kakak dijemput Daddy?" tanyanya lalu menoleh pada Reno.
Reno meraup wajahnya kasar, ternyata Kakak Cantik itu adalah Deana.
"I...iya, Daddy membawanya kemari, apa Len senang, hm?"
"Yeayy... Terima kasih Daddy!" Lena turun dari pangkuan Deana lalu mendekati Reno dan mencium pipinya.
Reno mengelus pipi Lena, "Lena main dulu dengan Sus Ina ya." ucapnya mencoba agar Lena keluar dan tidak melihat sesuatu yang tak pantas dilihat oleh anak kecil seusia putrinya.
Foto-foto vul*gar itu masih ada di lantai, untung Lena sama sekali belum melihatnya, fokusnya hanya pada Deana.
"Len mau main sama Kakak Cantik."
Deana tersenyum sambil mengangguk, "Iya nanti Kakak temani ya."
Suster Ina menyelonong masuk dan membawa Lena keluar, "Ayo Nona, kita tunggu di luar saja." ajaknya.
"Ayo Sus!" Lena pun senang karena ia akan mengambil dan mengeluarkan semua mainan terbaiknya yang ia akan tunjukkan pada Kakak Cantiknya.
Sementara Tuan Samuel masih tetap di tempatnya, tatapannya dingin, tidak tergoyahkan.
Namun, perhatian Nyonya Ellen belum selesai. Tatapannya kembali bergerak, dari wajah Deana, turun ke lantai....
Dan berhenti pada foto-foto yang berserakan. Keningnya mengernyit, “Apa itu...?” gumamnya pelan.
Nyonya Ellen melangkah mendekat dan mengambil salah satu fotonya.
Deana meremas kedua tangannya, ia tidak berani berbuat apa-apa dan hanya bisa diam.
Wajahnya Nyonya Ellen seketika berubah, “Ini...?” matanya membesar, menatap lebih teliti. Foto itu jelas, terlalu jelas.
“Reno....” suara Nyonya Ellen mulai bergetar. Ia juga mengambil beberapa foto lain dan melihat satu per satu.
Dan setiap lembar, membuat ekspresinya semakin berubah. kekecewaan, kemarahan, dan menjijikan.
“Jadi ini maksud semua ini...?” Nyonya Ellen menatap tajam ke arah Deana.
Tatapan yang tadi sempat lembut, kini berubah sepenuhnya, “Kamu...." suara Nyonya Ellen pelan, tapi penuh tekanan.
“Kamu berani-beraninya....” lanjut Mommy Ellen, langkahnya mendekat ke arah Deana yang masih duduk anteng itu.
“Masuk ke keluarga kami dengan cara seperti ini?" tanyanya dengan tatapan nyalangnya.
“Kamu pikir kami keluarga seperti apa?!” suara Nyonya Ellen mulai meninggi. Tangannya mengepal, foto-foto itu diremas, “Perempuan seperti kamu... menjebak anak saya?!” serunya keras.
“Tidak Nyonya!” Deana akhirnya bersuara, suaranya tegas, “Semua itu tidak seperti yang terlihat Nyonya.”
"Tidak bagaimana, ini semua sudah jelas! Benar-benar wanita samp*ah, murah*an!" bentak Nyonya Ellen menunjuk wajah Deana, "Pergi kau dari sini!" lanjutnya.
Reno menegang, "Mom, cukup... Deana tidak salah, di sini Reno yang salah. Reno minta maaf." Reno memejamkan matanya kuat-kuat.
"Saya tidak sekalipun mencoba untuk menjebak Tuan Reno, saya berani sumpah." lanjut Deana menunduk.
“Saya tidak butuh penjelasan dari wanita murahan seperti kamu!” lanjut Mommy Ellen dengan emosi yang meledak.
Hati Deana terseset mendengarnya, kalimat itu bagaikan tamparan keras untuknya.
Reno akhirnya melangkah maju, “Cukup, Mom.” nada suaranya rendah, tapi jelas menahan emosi.
Nyonya Ellen menatap Deana, "Mommy tidak sudi, kamu menikah dengan perempuan ini, Ren. Dia menginginkanmu dengan cara kotor dan tidak mau mengaku." ejeknya lagi.
"Saya tidak pernah melakukan hal serendah itu Tuan, Nyonya, hiks, hiks....” lirih Deana dengan air matanya yang ikut keluar. Sedaritadi ia tahan-tahan, akhirnya tidak bisa ia tahan lagi.
Nyonya Ellen justru memalingkan wajahnya, "Keluar. Cepat angkat kaki dari rumah saya."
Deana mengangguk. Dengan cepat ia melangkah pergi keluar dengan sedikit berlari.
"Deana!" panggil Reno.
"Reno! dia bukan wanita yang baik untukmu." bentak Nyonya Ellen marah.
Reno menghela napasnya berat, "Dad, Mom, Deana tidak seburuk itu. Reno yang sudah salah karena mabuk dan mencelakainya."
Nyonya Ellen menggeleng, "Pokoknya Mommy tidak setuju." bentaknya lagi.
"Daddy juga. Berikan saja dia uang satu milyar, pasti dia senang. Karena memang itu tujuan dia sebenarnya." timpal Tuan Samuel menambahi.
Reno meraup wajahnya kasar. Ingin mengejar Deana, tapi perempuan itu sudah menghilang dan pasti sudah jauh.
Sementara itu di bawah, Lena menyeru nama Deana, "Kakak Cantik... Kakak Cantikk!!" serunya.
Deana menoleh lalu tersenyum, ia tidak tega melihat Lena yang sedang berlari ke arahnya itu, "Anak manis."
Deana mengadahkan kedua tangannya ke depan, "Lena cantik, maaf ya Kakak hari ini nggak bisa main sama Len. Kakak ada perlu, jadi Kakak harus pergi, nanti Kakak ke sini lagi, oke?" Deana merapihkan rambut Lena yang terurai panjang itu.
Lena menggeleng, ia memeluk erat leher Deana. Lena juga memberikan kecupan kecilnya di pipi Deana, "Len ingin main barbie sama Kakak, Len juga ingin tidur sama Kakak Cantik."
Deana tertawa pelan, "Iya, lain kali Kakak ke sini lagi. Sekarang Kakak pergi dulu. Lena di sini dengan Suster ya...." Deana menarik lembut tangan Lena dari lehernya, dan langsung bergegas berlari ke luar.
"Kakak! Tidak! Jangan!" Lena mengejar Deana dengan langkah kecilnya.
"Hiks... Hiks... Kakak Cantik! Jangan pergi! Len mau main sama Kakak, hiks... Hiks...." Lena menggelengkan kepalanya pelan. Kakinya berusaha mengejar Deana sampai halaman depan.
Tapi, Deana sudah lebih dulu naik mobil taxi yang lewat di depan rumah Reno.
"Kakakk!!! Kakak Cantik!" teriak Lena dengan suara seraknya.
Suster Ina dan Pak Dadang mengejar Lena. Suster Ina langsung menggendongnya dan mengelap air matanya, "Sayang, nanti Kakaknya main lagi. Kita masuk ya." ajak Suster Ina.
"Huaaa, huaaa...! Kakak Cantik...!" serunya masih menangis dengan kencang.
Di dalam mobil taxi, Deana melihatnya sangat teriris. Ia sangat menyukai anak-anak, tapi keadaan membuatnya untuk segera pergi dari rumah kejam itu.