melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sosok misterius
Pintu kantor menutup pelan setelah Wulan pergi.
Suara langkahnya menghilang di lorong, lalu benar-benar lenyap.
Ruangan kembali sunyi.
Agung masih berdiri di tempatnya beberapa detik. Pandangannya jatuh ke meja kerja, tepat pada kertas kecil bergambar abu-abu yang tergeletak di sana.
Foto USG.
Ia menatapnya tanpa menyentuh.
Bayangan kecil yang kabur itu tidak terlihat seperti apa pun bagi orang lain.
Namun ia tahu artinya.
Tangannya akhirnya bergerak. Ia mengambil kertas itu, menatapnya lebih dekat.
Lalu dengan gerakan tenang, ia membuka laci meja dan memasukkannya ke dalam.
Laci itu tertutup dengan suara klik pelan.
Seolah masalah itu juga ikut terkunci di sana.
Agung kembali duduk di kursinya.
Ia menyalakan laptop dan membuka beberapa dokumen kerja.
Angka-angka.
Laporan.
Kontrak.
Hal-hal yang bisa ia kendalikan.
Hal-hal yang tidak melibatkan emosi.
Di kepalanya, percakapan dengan Wulan barusan sudah ia tempatkan dalam satu kotak kecil bernama kesalahan masa lalu.
Dan kotak itu tidak perlu dibuka lagi.
Baginya, keputusan sudah selesai.
Ia tidak akan mengubah hidupnya karena satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Di sisi lain kota, Wulan duduk sendirian di kamar kecilnya.
Lampu masih redup seperti malam sebelumnya.
Namun kali ini ia tidak menyalakan kipas angin.
Udara terasa berat.
Ia duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan.
Percakapan dengan Agung terus terulang di kepalanya.
Itu bukan masalahku.
Kalimat itu seperti jarum kecil yang menusuk berulang-ulang.
Ia memejamkan mata.
Namun bayangan lain segera muncul.
Perutnya yang perlahan membesar.
Tatapan orang-orang di kedai.
Bisikan tetangga.
Ia membayangkan pelanggan yang selama ini tersenyum ramah akan mulai berbisik satu sama lain.
“Apa kamu lihat perutnya?”
“Dia belum menikah, kan?”
“Siapa ayahnya?”
Dada Wulan terasa semakin sesak.
Ia menarik napas panjang, tapi napas itu tidak cukup.
Tangannya tanpa sadar menekan perutnya lagi.
“Tolong… jangan buat semuanya lebih sulit,” bisiknya pelan.
Namun yang ia dengar hanya keheningan kamar.
Hari-hari berikutnya terasa semakin berat.
Di kedai, Wulan mencoba bersikap seperti biasa.
Ia memasak.
Melayani pelanggan.
Mengatur kasir.
Namun pikirannya sering kosong.
Suatu siang, ia hampir menjatuhkan panci panas karena tangannya gemetar.
“Kak Wulan!” seru Melda kaget.
Wulan cepat meletakkan panci itu kembali.
“Aku tidak apa-apa,” katanya cepat.
Tetapi wajahnya pucat.
Melda menatapnya dengan khawatir.
“Kamu kelihatan capek sekali akhir-akhir ini.”
“Cuma kurang tidur.”
Jawaban yang sama.
Namun kali ini bahkan Wulan sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.
Malam hari menjadi waktu paling sulit.
Ketika kedai tutup.
Ketika kota mulai sepi.
Ketika tidak ada pekerjaan yang bisa mengalihkan pikirannya.
Wulan sering duduk lama di depan cermin.
Ia memperhatikan tubuhnya dengan teliti.
Masih sama.
Masih belum terlihat.
Namun ia tahu waktu terus berjalan.
Tiga bulan akan menjadi empat.
Empat akan menjadi lima.
Dan suatu hari, semua orang akan tahu.
Pikiran itu membuat perutnya terasa mual.
Suatu malam ia bahkan membuka internet di ponselnya.
Jarinyanya gemetar saat mengetik.
"Perempuan hamil tanpa suami."
Puluhan artikel muncul.
Cerita-cerita.
Komentar orang.
Sebagian penuh penghakiman.
Sebagian penuh kasihan.
Tidak ada yang benar-benar menenangkan.
Wulan menutup ponselnya dengan cepat.
Air mata tiba-tiba jatuh tanpa ia sadari.
“Aku kuat…” bisiknya pada dirinya sendiri.
Namun kalimat itu terdengar semakin rapuh setiap kali diucapkan.
Beberapa minggu berlalu.
Tubuhnya mulai berubah sedikit.
Perubahan yang mungkin tidak terlihat jelas bagi orang lain.
Namun ia bisa merasakannya.
Perutnya terasa lebih sensitif.
Tubuhnya lebih cepat lelah.
Pagi hari ia sering merasa mual.
Suatu pagi, saat membuka kedai, ia tiba-tiba harus berlari ke kamar mandi.
Ia muntah cukup lama.
Ketika keluar, wajahnya pucat.
Melda yang melihat langsung panik.
“Kak, kamu sakit?”
Wulan menggeleng.
“Hanya masuk angin.”
Namun kali ini Melda tidak langsung percaya.
Ia menatap Wulan lebih lama dari biasanya.
“Kalau kamu butuh istirahat, bilang saja.”
Wulan hanya tersenyum kecil.
Namun di dalam kepalanya, ketakutan semakin besar.
Ia mulai merasa seolah semua orang bisa melihat rahasianya.
Setiap tatapan terasa mencurigakan.
Setiap bisikan terdengar seperti tentang dirinya.
Padahal mungkin tidak.
Tetapi pikirannya tidak bisa berhenti.
Suatu sore setelah kedai tutup, Wulan duduk sendirian di kursi kasir.
Lampu ruangan sudah dimatikan sebagian.
Suasana temaram.
Tangannya kembali menyentuh perutnya.
“Kamu tidak salah,” katanya pelan.
“Yang salah dunia ini.”
Namun kalimat itu tidak benar-benar membuatnya merasa lebih baik.
Di tempat lain, kehidupan Agung berjalan seperti biasa.
Rapat bisnis.
Pertemuan dengan investor.
Acara makan malam dengan rekan kerja.
Namanya semakin dikenal.
Perusahaannya berkembang pesat.
Tidak ada satu pun orang di dunia profesionalnya yang tahu tentang Wulan.
Dan Agung memastikan itu tetap seperti itu.
Suatu malam, ia pulang ke apartemennya yang luas dan tenang.
Ia meletakkan jas di kursi.
Lalu membuka laci meja di ruang kerja kecilnya.
Foto USG itu masih di sana.
Ia menatapnya sebentar.
Tidak lebih dari beberapa detik.
Lalu menutup laci kembali.
Baginya, itu bukan tanggung jawab.
Itu hanya pengingat bahwa ia harus lebih berhati-hati di masa depan.
Sementara itu, kondisi Wulan semakin memburuk.
Ia mulai sulit tidur.
Setiap malam pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk.
Ia membayangkan pelanggan berhenti datang ke kedai karena gosip.
Ia membayangkan tetangga menjauh.
Ia membayangkan anaknya suatu hari bertanya tentang ayahnya.
Pertanyaan yang tidak tahu bagaimana ia jawab.
Suatu malam ia duduk di lantai kamar, memeluk lututnya.
Air mata jatuh tanpa henti.
“Aku tidak tahu harus bagaimana…” katanya dengan suara pecah.
Perasaan terjebak itu semakin kuat.
Ia ingin melawan.
Ia ingin tetap kuat seperti dulu.
Namun tekanan dari pikirannya sendiri seperti tembok yang terus mendekat.
Dunia di luar sebenarnya masih sama.
Tetapi di dalam kepalanya, semuanya terasa runtuh perlahan.
Dan di tengah semua ketakutan itu,
Wulan mulai tenggelam dalam kesunyian yang semakin dalam.Malam itu hujan turun tipis di luar jendela kamar kecil Wulan.
Ia duduk di tepi ranjang dengan mata sembab, memandang jalanan yang basah di bawah lampu kuning.
Tangannya kembali menyentuh perutnya yang kini mulai terasa berbeda.
“Maafkan aku… kalau aku belum cukup kuat,” bisiknya lirih.
Air mata jatuh lagi.
Namun di tengah tangis itu, tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Wulan mengusap matanya lalu membuka pesan itu perlahan.
Isi pesannya hanya satu kalimat pendek.
"Saya tahu tentang anak itu… dan tentang Agung."
Jantungnya langsung berdegup keras.
Di bawah kalimat itu ada satu lagi pesan.
"Jika kamu ingin kebenaran terungkap, temui saya besok."
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.