"Kecerdasanmu mati di jalanan bersama jaket kurirmu, Arka."
Hinaan Sarah di hari kelulusannya menjadi luka terdalam bagi Arka, pria yang rela putus kuliah demi membiayai hidup gadis itu. Diinjak-injak oleh Rian Wijaya sang pewaris korporat, Arka mencapai titik nadir hingga sebuah suara dingin bergema: [Sistem Sovereign Architect Aktif].
Sistem ini tidak memberinya uang instan, melainkan 'mata' untuk melihat celah busuk di balik kemegahan kota. Bermodal sepuluh ribu rupiah dan otak jenius yang dianggap sampah, Arka mulai merancang arsitektur balas dendamnya.
Bukan dengan senjata, tapi dengan memutus urat nadi ekonomi sang konglomerat. Satu per satu gedung pencakar langit akan bertekuk lutut, dan Sarah akan menyadari bahwa pria yang ia buang adalah penguasa tunggal atas cetak biru dunianya.
"Selamat datang di permainanku. Di sini, aku adalah arsiteknya, dan kau hanyalah debu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
## **Bab 7: Skakmat di Ruang Rapat**
Gedung pusat Wijaya Group berdiri angkuh mencakar langit Tanjungbalai, memantulkan cahaya matahari pagi pada fasad kacanya yang dingin. Di lantai paling atas, Ruang Rapat Garuda telah dipenuhi oleh para pria berjas mahal. Atmosfer di dalam sana begitu tegang, seolah-olah percikan api sekecil apa pun bisa memicu ledakan.
Rian Wijaya duduk di kursi kebesaran di ujung meja oval marmer. Ia terus membenahi dasi sutranya, gerakannya gelisah. Meskipun ia mencoba menampilkan wajah angkuh, lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan segalanya: semalam adalah neraka baginya. Harga saham yang terjun bebas telah memaksa para pemegang saham menuntut Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Di pojok ruangan, Sarah berdiri dengan buku catatan di tangan. Wajahnya pucat pasi. Sejak kejadian di depan Star Media kemarin, kata-kata Arka terus terngiang di kepalanya seperti lonceng kematian. *Rumah ini tidak dijual dengan harga diri.*
"Tenanglah, Rian," bisik Hendra Wijaya, sang patriark keluarga yang duduk di samping putranya. Suaranya berat dan penuh wibawa yang mengancam. "Kita masih memegang kendali mayoritas. Para pemegang saham ritel itu hanya lalat yang haus perhatian. Begitu rapat dimulai, kita bungkam mereka dengan janji dividen."
Rian mengangguk kaku. "Ya, Pa. Lagipula, siapa yang akan memimpin para 'semut' itu? Mereka tidak punya keberanian."
Tepat pukul 10.00, pintu ganda ruang rapat terbuka lebar.
Seorang pria melangkah masuk. Ia tidak mengenakan jaket kurir oranye, melainkan setelan jas hitam *slim-fit* yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Ia memakai masker hitam dan kacamata berbingkai perak. Di belakangnya, mengikuti seorang pengacara senior yang dikenal sebagai "Hiu Hukum" di Sumatera Utara.
Langkah kaki pria itu mantap, bergema di atas lantai kayu ek yang mahal. Ia berjalan langsung menuju kursi kosong di sisi meja yang berhadapan langsung dengan Rian.
"Siapa kau? Ini rapat tertutup!" bentak Rian, berdiri dengan kasar hingga kursinya berderit.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menggeser sebuah dokumen map biru ke tengah meja. Pengacaranya yang berbicara, "Klien saya mewakili Konsorsium Ritel Mandiri, pemegang 4,2 persen saham Wijaya Group. Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, kami berhak mengajukan mosi audit investigasi."
Rian tertawa meremehkan, meski jantungnya mulai berdegup kencang. "4,2 persen? Kau ingin menggoyang kursiku dengan recehan seperti itu? Jangan melawak!"
Sarah, yang berdiri tak jauh dari sana, terpaku. Ia menatap postur tubuh pria bermasker itu. Bahu yang lebar, cara dia meletakkan tangan di atas meja... ingatan Sarah melayang ke gang sempit di depan kafe Noir. *Mungkinkah?*
---
Pria bermasker itu perlahan membuka suaranya. Suaranya rendah, berwibawa, dan sangat tenang. "4,2 persen mungkin sedikit, Tuan Rian. Tapi jika 4,2 persen ini digabungkan dengan kepemilikan saham milik Clarissa Corp..."
Pintu kembali terbuka. Elina Clarissa masuk dengan langkah anggun, mengenakan gaun formal berwarna biru gelap. Ia tersenyum tipis ke arah pria bermasker itu, lalu duduk di sampingnya.
"Aku baru saja mengakuisisi 12 persen saham di pasar sekunder pagi ini, Rian," ucap Elina dengan nada santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Ditambah dengan mosi dari Tuan Arsitek di sampingku, kami memiliki cukup suara untuk memulai audit."
Wajah Hendra Wijaya mengeras. "Elina, kau bermain api. Apa motifmu mengganggu stabilitas kami?"
"Stabilitas?" Pria bermasker itu memotong. "Apa stabilitas yang dimaksud adalah memalsukan laporan okupansi Skyview Mall? Atau menggunakan dana renovasi struktur untuk menutupi hutang judi pribadi Tuan Muda Rian di Marina Bay?"
Rian memukul meja. "Fitnah! Kau tidak punya bukti!"
Pria itu mengeluarkan sebuah tablet, menggeser layarnya, dan seketika layar proyektor besar di belakang Rian menyala. Muncul foto-foto truk logistik yang "tersesat" semalam, tumpukan dokumen yang harusnya dihancurkan, dan yang paling mematikan: rekaman audio Rian yang memerintahkan penggusuran panti asuhan demi mendapatkan dana segar dari penjualan lahan.
*"Gusur saja panti itu... harganya lumayan kalau dijadikan gudang logistik."*
Suara Rian bergema di seluruh ruangan. Para pemegang saham lain mulai berbisik riuh, wajah mereka penuh kemarahan.
Sarah menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai menggenang. Jadi benar... Rian benar-benar monster yang menghancurkan rumah masa kecil Arka. Dan dia... dia adalah bagian dari rencana itu.
---
"Cukup!" teriak Hendra Wijaya, namun suaranya tenggelam dalam kegaduhan.
Arka—pria di balik masker itu—berdiri perlahan. Ia menatap Rian tepat di mata. Di bawah penglihatannya, Sistem memberikan data tekanan darah Rian yang sedang melonjak tajam.
**[Analisis Target: Rian Wijaya.]**
**[Status: Runtuh secara Mental. Kemampuan Menalar: 15%.]**
**[Rekomendasi: Berikan Serangan Pamungkas.]**
"Rian," ucap Arka, kali ini dengan nada yang lebih personal. "Kau meremehkan kecerdasan yang ada di jalanan. Kau pikir dengan uang dan nama besar, kau bisa menginjak rumah orang lain tanpa terluka?"
"Siapa kau sebenarnya?!" Rian berteriak histeris, mencoba meraih masker Arka.
Arka tidak menghindar. Ia justru perlahan melepaskan maskernya sendiri.
Ruang rapat mendadak sunyi sesaat. Sarah menjatuhkan buku catatannya. Hendra Wijaya mengerutkan kening. Rian... Rian mundur selangkah hingga menabrak mejanya sendiri.
"Arka?" bisik Rian, suaranya tercekat. "Si kurir miskin itu?"
"Aku lebih suka disebut sebagai 'Arsitek' dari kehancuranmu, Rian," Arka tersenyum dingin. "Kemarin kau bilang kecerdasanku mati di jalanan. Hari ini, kecerdasan itu yang akan memastikan kau tidak punya rumah untuk pulang."
Arka melemparkan sebuah surat kabar edisi sore yang baru saja naik cetak berkat koneksi Elina. Judul utamanya: **"PEWARIS WIJAYA GROUP DIDUGA GELAPKAN DANA PANTI ASUHAN UNTUK JUDI."**
"Polisi sedang menuju ke sini untuk menjemputmu atas tuduhan penggelapan dan penipuan publik," Arka merapikan jasnya. "Kursi ini... sudah bukan milikmu lagi."
Rian jatuh terduduk di lantainya yang mahal. Ia menoleh ke arah Sarah, mencari perlindungan. "Sarah! Sarah, katakan pada mereka ini tidak benar! Kau yang mengurus dokumennya, kan?!"
Sarah menatap Rian dengan tatapan kosong. Rasa bersalah, benci, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Ia melihat Arka—pria yang dulu ia buang—berdiri tegak seperti raja di tengah reruntuhan.
"Maaf, Rian," suara Sarah terdengar hampa. "Kecerdasan Arka tidak pernah mati. Yang mati... adalah nuraniku saat aku memilihmu."
Sarah berbalik dan berlari keluar ruangan sambil terisak, tidak sanggup lagi menatap mata Arka yang kini sedingin es.
---
Beberapa menit kemudian, petugas kepolisian benar-benar datang. Rian digiring keluar dengan borgol di tangannya, disaksikan oleh seluruh karyawan gedung yang biasanya menunduk hormat padanya. Hendra Wijaya hanya bisa terduduk diam, wajahnya menua sepuluh tahun dalam sekejap.
Di lobi utama, Elina berjalan di samping Arka. "Kau melakukannya. Kau menghancurkan Rian dalam satu gerakan skakmat. Apa langkahmu selanjutnya, Tuan Arsitek?"
Arka menatap ke luar jendela, ke arah deretan motor kurir yang terparkir di pinggir jalan. "Mengambil kembali apa yang mereka curi. Panti asuhan itu tidak akan pernah digusur."
"Dan Sarah?" Elina bertanya dengan nada menyelidik.
Arka terdiam sejenak. Ia meraba sakunya, menemukan bros perak yang sudah bengkok yang ia simpan sebagai pengingat luka. "Dia membuat pilihannya, Nona Elina. Dan di dunia ini, setiap pilihan punya harga yang harus dibayar."
Arka melangkah keluar dari gedung Wijaya Group. Ia menghirup udara Tanjungbalai yang berdebu, namun kali ini terasa begitu lega. Sistem di kepalanya memberikan notifikasi terakhir untuk hari itu.
**[Misi: Penyelamatan Panti Asuhan Selesai.]**
**[Reward: Akses Penuh ke Sistem Analisis Real Estate Tingkat Tinggi.]**
**[Saran: Gunakan Kemenangan ini untuk Membangun Pondasi Baru.]**
Arka menaiki motor Supranya yang butut, kontras dengan jas mahalnya yang masih terpakai. Ia melaju membelah kemacetan, kembali ke tempat ia berasal: jalanan. Namun kali ini, jalanan tidak lagi menganggapnya sebagai debu. Jalanan mengenalnya sebagai sang Arsitek yang baru saja meruntuhkan sebuah dinasti.
---
tapi alurnya terlalu lambat dan bertele tele.
tokoh utama memang mantan kurir,bagus banget ketika ia tak mengkikuti maunya sistem utk jd oportunis dan tak berperasaan.
tp kan oleh sistem dia udah dpt kemampuan analisis utk berani melawan dan berpikir cepat.
jadinya malah membosankan membaca cerita ini.