Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Infeksi
Perlahan, Tio berjalan mengikuti arus sungai.
Setiap langkah adalah perjuangan. Kaki kanan yang cedera harus diangkat agar tidak menyentuh tanah, sementara kaki kiri menopang seluruh berat badan, melompat-lompat kecil dengan bantuan tongkat bambu. Irama jalan ini tidak alami, tidak efisien, dan menguras energi luar biasa. Setelah satu jam, ia sudah kehabisan napas. Setelah dua jam, otot-otot di kaki kirinya bergetar karena kelelahan.
Tapi ia terus bergerak. Berhenti berarti mati. Ia sudah memutuskan.
Sungai kecil itu terus mengalir di sampingnya, kadang mendekat, kadang menjauh, tapi selalu dalam jangkauan pendengaran. Tio menjadikannya kompas, petunjuk arah yang tidak pernah salah. Air mengalir ke bawah, ke lembah, ke tempat di mana mungkin ada manusia.
Setiap satu atau dua jam, ia berhenti untuk beristirahat. Duduk di batu besar atau di batang pohon tumbang, minum seteguk air, mengatur napas, lalu melanjutkan lagi. Ritme ini membuatnya tetap hidup, setidaknya untuk hari ini.
---
Sekitar pukul dua siang, Tio berhenti di sebuah tempat di mana sungai membentuk kolam kecil yang tenang. Airnya jernih, dasarnya berupa pasir hitam dan kerikil. Ia duduk di batu di tepi kolam, melepas ransel, dan meregangkan punggung yang pegal.
Saat itulah ia memutuskan untuk memeriksa kakinya.
Perban darurat dari kain bekas kaosnya sudah kotor dan longgar. Tio membuka lilitannya perlahan, berhati-hati karena setiap sentuhan pada area yang bengkak pasti terasa sakit. Kain terakhir terlepas, dan ia melihat kakinya.
Miris.
Bengkaknya tidak berkurang—malah bertambah. Warna kemerahan kebiruan masih dominan, tapi di beberapa tempat mulai muncul warna kekuningan. Di satu titik, tepat di sisi luar pergelangan kaki, kulit tampak meregang dan mengkilap, dengan titik putih di tengahnya. Tio menyentuhnya pelan dengan ujung jari. Terasa hangat. Terasa lunak.
Ia menekan sedikit, dan dari titik putih itu keluar cairan. Nanah. Kental, kekuningan, berbau tidak sedap.
Kakinya Infeksi.
Tio memandangi kakinya, hatinya miris. Ini bukan sekadar cedera biasa. Ini luka yang membusuk, yang semakin parah karena ia terus menggunakannya untuk bergerak, karena ia tidak punya obat, karena ia tidak bisa membersihkannya dengan benar.
Infeksi, pikirnya. Ini bisa menyebar. Ini bisa masuk ke aliran darah. Ini bisa...
Ia tidak berani menyelesaikan kalimat itu. Tapi pertanyaan itu sudah muncul di benaknya, jelas dan menghantam.
Apakah aku akan mati di sini?
Sendirian. Tidak tahu arah kembali. Tidak memiliki makanan. Kaki terluka yang tidak bisa ditangani dengan baik. Tubuh yang semakin lemah setiap harinya. Dan di malam hari, bayangan-bayangan itu datang, mengawasi, menanti.
Apakah ini akhirnya?
Tio duduk di batu itu, memandangi kakinya yang membusuk, dan untuk beberapa saat ia benar-benar merasa putus asa. Bukan ketakutan seperti malam tadi—itu adalah ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Ini adalah keputusasaan yang tenang, yang datang ketika seseorang mulai menerima kemungkinan terburuk.
Air matanya jatuh lagi. Ia tidak menyekanya.
---
Tapi kemudian, sesuatu dalam dirinya bangkit. Sebuah naluri bertahan hidup. hasrat kemarahan. Atau memang mungkin hanya kebiasaan lama untuk tidak pernah menyerah.
Tidak. Tidak boleh menyerah. Belum waktunya.
Ia menengadah ke langit, menarik napas panjang, lalu menunduk lagi ke kakinya. Infeksi ini harus ditangani. Meskipun tidak sempurna, dan tidak ideal, tapi ia harus melakukan sesuatu.
Dengan hati-hati, Tio mencelupkan kakinya ke dalam sungai.
Air dingin menyentuh luka, dan rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tungkai. Tio meringis, hampir berteriak, tapi ia menahan. Ia membiarkan air sungai mengalir di sekitar pergelangan kakinya, membersihkan nanah yang keluar, mencuci kotoran yang menempel.
Beberapa menit ia bertahan dalam posisi itu, menggertakkan gigi menahan sakit. Air sungai yang dingin sedikit membantu mengurangi peradangan, setidaknya untuk sementara. Ketika ia mengangkat kakinya dari air, lukanya terlihat sedikit lebih bersih. Nanahnya hilang tercuci, menyisakan lubang kecil di kulit yang tampak merah dan basah.
Tio mengambil kain bekas perban tadi, mencucinya di sungai hingga bersih, lalu membalutnya kembali ke kakinya. Tidak ideal, tapi ini yang bisa ia lakukan. Setidaknya lukanya sudah dibersihkan. Setidaknya ada harapan.
---
Selesai dengan kaki, Tio sadar pada masalah lain: perutnya.
Kempes. Sangat kempes. Bahkan lebih dari lapar biasa—ini seperti ada lubang menganga di dalam perutnya, yang terus mengirim sinyal minta diisi. Perutnya keroncongan keras, bunyinya terdengar jelas di tengah suara sungai. Kadang-kadang, rasa sakit menyertainya—perih, melilit, seperti ada yang mencubit-cubit dari dalam.
Energinya sudah banyak berkurang. Ia bisa merasakannya. Jalan yang tadi pagi masih terasa berat, sekarang terasa hampir mustahil. Otot-ototnya lemas, tangannya gemetar, kepalanya kadang pusing kalau ia berdiri terlalu cepat.
Ia tahu apa penyebabnya. Sudah berapa hari ia tidak makan dengan layak? Sejak jatuh, ia hanya mengandalkan dua batang energi bar itu, itupun dihemat habis-habisan. Tubuhnya mulai memakan cadangannya sendiri—lemak, lalu otot. Dalam beberapa hari lagi, jika tidak ada makanan, ia akan mulai kehilangan kemampuan berpikir jernih, lalu organ-organnya akan mulai gagal satu per satu.
Tio membuka ransel, mengeluarkan sisa energi bar. Tinggal setengah batang. Ia memandanginya lama, lalu memutuskan untuk memakannya sekarang. Semuanya. Tubuhnya butuh energi, dan setengah batang ini mungkin bisa memberinya kekuatan untuk satu hari ke depan.
Ia menggigit kecil, mengunyah perlahan, menikmati setiap serat rasa yang tersisa. Manis, gurih, lumer di mulut. Surga kecil di tengah neraka.
Setelah habis, ia minum beberapa teguk air, lalu duduk bersandar, membiarkan energi meresap. Untuk beberapa saat, ia merasa sedikit lebih baik. Tapi ia tahu ini hanya sementara. Setelah ini, tidak ada lagi. Nol persediaan.
Besok bagaimana? pikirnya. Lusa bagaimana?
Ia tidak punya jawaban.
---
Perjalanan dilanjutkan. Tio kembali berjalan—melompat, merangkak, meluncur—mengikuti sungai yang terus mengalir. Sore mulai turun, dan ia harus segera mencari tempat untuk bermalam. Ia tidak ingin ketahuan gelap di tengah jalan.
Saat mencari lokasi yang aman, dari sudut matanya ia melihat sesuatu.
Bayangan. Di antara pepohonan, sekitar 50 meter dari sungai. Hitam, diam, menatap ke arahnya.
Tio berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi kali ini reaksinya berbeda. Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin karena sudah terlalu sering melihat mereka. Ia tidak lagi berlari atau panik. Ia hanya berdiri di sana, menatap balik bayangan itu.
Beberapa detik mereka saling menatap. Lalu bayangan itu bergerak—menghilang ke balik pohon, seperti tidak pernah ada.
Tio menghela napas. Mereka masih di sini. Mereka terus mengikuti.
Tapi anehnya, perasaannya kali ini bukan takut. Lebih kepada... pasrah. Atau mungkin mulai terbiasa. Seperti tetangga yang mengganggu, yang keberadaannya tidak bisa ia hindari, jadi ia belajar menerima.
Ia melanjutkan perjalanan. Di belakangnya, di antara pepohonan yang mulai gelap, bayangan-bayangan lain ikut bergerak, mengikuti dari kejauhan. Menjaga jarak, tapi tidak pernah benar-benar pergi.
Menunggu malam. Menunggu saatnya tiba.
---
Tio menemukan tempat untuk bermalam: sebuah gua kecil di tepi sungai, tidak jauh dari air. Tidak terlalu dalam—hanya ceruk di dinding tebing setinggi satu meter—tapi cukup untuk melindunginya dari hujan dan angin. Ia merangkak masuk, meletakkan matras, membentangkan sleeping bag.
Malam mulai turun. Suara sungai mengalir di depannya, menenangkan. Tapi ia tahu, di balik suara itu, suara-suara lain akan segera muncul. Monyet menjerit. Tawa melengking. Geraman aneh. Dan bayangan-bayangan yang mengawasi.
Tio duduk di mulut gua, memandangi sungai yang mulai gelap. Di tangannya, jurnal kecil dan pensil patah.
Ia menulis:
"Hari ke... aku tidak tahu. Sepertinya 7 atau 8.
Infeksi di kakiku semakin parah. Ada nanah. Aku sudah mencucinya di sungai, tapi aku tidak punya obat. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Makanan habis. Energi bar terakhir sudah kumakan siang tadi. Besok aku harus mencari makanan di hutan. Daun, buah, umbi—apa saja yang bisa dimakan. Atau aku akan mati kelaparan.
Bayangan-bayangan masih mengikutiku. Aku melihatnya tadi sore. Mereka tidak mendekat, tapi mereka selalu ada. Mungkin mereka menunggu aku mati. Mungkin mereka penjaga gunung ini, dan aku adalah penyusup yang harus diusir.
Aku tidak tahu lagi. Aku hanya tahu aku harus terus berjalan. Besok, lusa, selama masih bisa. Sampai aku menemukan jalan keluar. Atau sampai aku tidak bisa lagi.
Tuhan... jika ini memang akhirku, tolong beri aku kekuatan untuk menghadapinya dengan tenang. Tapi jika masih ada harapan... tolong tunjukkan jalannya.
Aku rindu ibu. Aku rindu rumah. Aku rindu hidup yang dulu aku anggap biasa.
Aku ingin pulang."
---
Tio menutup jurnal, menyimpannya. Lalu ia masuk ke dalam sleeping bag, menarik ritsleting hingga menutupi dagu. Di luar, malam semakin gelap. Suara sungai terus mengalir, tapi di atasnya, mulai terdengar suara-suara lain.
Monyet menjerit di kejauhan.
Tawa melengking, samar-samar.
Dan dari balik pepohonan, bayangan-bayangan mulai berkumpul, membentuk lingkaran di sekitar gua kecilnya.
Tio memejamkan mata. Ia terlalu lelah untuk takut. Malam ini, ia hanya ingin tidur. Besok, ia akan memikirkan cara bertahan lagi.
Malam ke empat tanpa api. Malam bersama bayangan.
Semoga ia bisa melewatinya.