NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapangan Panas

Jam menunjukkan pukul 07:30 pagi.

Cahaya matahari muda menembus tirai kamar Douma, memantulkan kilau lembut pada rambut putih peraknya yang sudah tertata rapi. Ia berdiri di depan cermin, menarik kerah seragam sekolahnya sedikit agar lebih nyaman. Seragam itu tampak seperti dirancang khusus untuknya—jatuh sempurna mengikuti garis tubuhnya yang proporsional.

Harum sabun dan parfum ringan masih melekat di kulitnya. Bersih. Segar. Tenang.

Namun pagi ini, gerakannya terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.

Douma mengangkat tas sekolahnya dengan satu tangan, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah ringan tapi tergesa.

Di dapur, ibunya sedang menyusun sarapan sederhana. Aroma roti panggang dan sup hangat memenuhi ruangan.

“Douma, sarap—”

Ucapan itu terpotong saat melihat putranya sudah berdiri di ambang pintu dapur.

“Ayah, ibu… aku berangkat sendiri hari ini,” katanya singkat, disertai senyum kecil yang sopan.

Ibunya berkedip. “Sendiri? Dengan apa?”

“Bus.”

Hening sepersekian detik.

Ibunya mengerjap lagi. “Bus?”

Douma hanya mengangguk santai. “Lebih praktis.”

Ia tidak menunggu interogasi lanjutan. Dengan lambaian kecil, ia sudah berbalik menuju pintu.

“Berangkat dulu.”

Pintu tertutup lembut.

Ibunya hanya bisa menghela napas sambil tersenyum kecil. “Anak itu…”

---

Udara pagi terasa segar saat Douma melangkah ke halte bus. Kota sudah mulai sibuk, tapi belum sepenuhnya padat. Kendaraan lalu-lalang dengan ritme teratur khas kota modern.

Bus datang tepat waktu.

Pintu terbuka dengan suara mekanis halus.

Douma naik tanpa menarik perhatian—atau setidaknya, begitulah niatnya.

Ia memilih kursi dekat jendela. Headphone sudah terpasang, memutar alunan musik instrumental yang tenang. Sinar matahari pagi menyentuh sisi wajahnya, menciptakan kontras lembut antara cahaya dan bayangan.

Ia mengeluarkan buku dari tas.

Judulnya:

“Prinsip Dinamika Energi Kuantum Modern”

Tangannya membuka halaman dengan santai, matanya fokus membaca. Tidak ada ekspresi berlebihan—hanya ketenangan alami.

Namun ketenangan itu… justru mencolok.

Beberapa penumpang mulai melirik.

“Eh… lihat anak itu…”

“Seragamnya… bukannya itu sekolah elit?”

“Iya… yang mahal banget itu…”

Bisik-bisik pelan mengalir.

“Kenapa naik bus?”

“Kelihatannya sederhana…”

“Dia model atau siswa?”

Douma tidak mendengar—atau mungkin tidak peduli.

Dunia luar seolah meredup di balik halaman buku.

Bus terus melaju.

Pemandangan kota berganti cepat di luar jendela. Cahaya matahari membuat rambut peraknya berkilau halus. Kulitnya yang bersih memantulkan cahaya seperti porselen hidup.

Seorang penumpang muda tanpa sadar menahan napas saat menatapnya.

“Astaga…tampan sekali”

Douma membalik halaman.

Tenang.

---

Tak lama kemudian, bus berhenti di halte depan sekolah.

Douma berdiri, menyelipkan buku kembali ke tas, lalu turun dengan langkah santai.

Gerbang sekolah sudah ramai.

Mobil mewah terparkir rapi. Siswa berdatangan dengan berbagai gaya. Tawa dan suara obrolan memenuhi udara pagi.

Di sisi gerbang, terdengar suara nyaring:

“Siapa yang masih pakai kendaraan umum ke sekolah?!”

“Hahaha! Kuno banget!”

Beberapa siswa tertawa.

Namun suara itu terputus begitu langkah Douma memasuki area.

Sepatu hitamnya menyentuh lantai dengan ritme tenang.

Tubuh tinggi proporsional itu bergerak anggun tanpa dibuat-buat. Rambut peraknya jatuh alami di dahi. Seragamnya rapi. Kulitnya bercahaya lembut di bawah matahari pagi. Mata cantik seperti buah persik. Menghipnotis siapa saja.

Dan bentuk indah terpahat itu—

Terlalu sempurna untuk diabaikan.

Keramaian mereda.

Seperti tombol volume yang diputar perlahan.

Beberapa siswa terdiam. Ada yang menelan ludah. Ada yang berkedip tak percaya.

“Dia…”

“Yang kemarin…”

“Douma…”

Bisik-bisik berubah menjadi gumaman kagum.

“Gila… tampan banget…”

“Kenapa dia naik bus…?”

“Dia selalu beda…”

Seorang siswi menutup mulutnya pelan. “Aku makin suka…”

“Aw… pangeran ku datang…”

Suara centil dan nakal terdengar dari berbagai arah.

Douma menarik napas pelan.

Tidak kesal.

Tidak terganggu.

Hanya… menerima kenyataan bahwa dunia memang ribut.

Ekspresinya tetap dingin, tenang, tak tersentuh. Sudut bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum penuh, hanya lengkungan tipis yang justru membuat beberapa jantung berdetak lebih cepat.

Ia berjalan melewati kerumunan seperti angin yang tidak meminta izin.

Setiap langkahnya stabil.

Aura yang dipancarkannya bukan tekanan… melainkan ketenangan yang membuat orang otomatis memberi jalan.

Seseorang berbisik pelan:

“Dia benar-benar… berbeda.”

Douma tidak berhenti.

Tidak menoleh.

Tidak memberi perhatian.

Baginya, ini hanya pagi biasa menuju sekolah.

Namun bagi banyak orang—

kedatangannya terasa seperti adegan pembuka sebuah cerita besar.

---

Douma tiba di kelas lebih awal dari kebanyakan siswa.

Pagi itu ruang Kelas I-A Pria masih sunyi. Cahaya matahari masuk dari panel kaca lebar di sisi ruangan, membentuk garis-garis terang di lantai yang mengilap. Sistem ventilasi cerdas menjaga suhu tetap nyaman—tidak terlalu dingin, tidak hangat—sempurna untuk belajar.

Douma duduk di kursinya dengan tenang. Tas diletakkan rapi. Ia membuka modul digital di meja transparan, membaca sekilas materi pelajaran pertama.

Langkah kaki terdengar dari pintu.

“Wah… kamu sudah datang duluan?”

Seorang siswa berambut cokelat gelap masuk dengan senyum lebar. Matanya hidup, ekspresinya mudah ramah. Dialah Minamoto Rei—teman yang semalam masih sempat mengirim pesan antusias.

“Biasanya orang tampan datang belakangan biar dramatis,” lanjut Rei sambil duduk di kursi sebelahnya.

Douma melirik sekilas.

“Kamu terlalu banyak menonton drama.”

Rei tertawa pelan. “Dan kamu terlalu serius untuk ukuran pagi hari.”

Pintu kembali terbuka.

Seorang siswa lain masuk dengan langkah santai namun penuh percaya diri. Rambutnya sedikit berantakan tapi justru memberi kesan kasual. Tatapannya tajam namun bersahabat.

“Sudah kumpul rupanya,” katanya.

Ini adalah Kuroda Shin—teman karib kedua Douma. Berbeda dari Rei yang ekspresif, Shin lebih tenang, tapi selera humornya halus dan tepat sasaran.

“Kalian berdua seperti sudah berteman lama,” kata Shin sambil duduk.

Rei mengangkat bahu. “Energinya cocok.”

Douma hanya menutup modul digitalnya.

“Aku belum mengiyakan.”

“Kamu juga belum menolak,” balas Rei cepat.

Shin terkekeh. “Artinya diterima.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Douma terangkat tipis.

Pelajaran pertama dimulai tak lama kemudian. Guru menjelaskan materi dengan sistem visual holografik yang interaktif. Diagram bergerak di udara, data disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa.

Kelas berjalan lancar. Douma menjawab beberapa pertanyaan dengan singkat dan tepat. Rei sesekali berbisik kagum, sementara Shin mencatat poin penting dengan cepat.

Energi kelas terasa hidup.

Dan sebelum terasa lama—

Jam makan siang tiba.

---

Kantin sekolah hari itu ramai seperti festival kecil.

Ruangannya luas, bertingkat, dengan area duduk yang terbagi rapi. Panel menu digital melayang di udara, menampilkan pilihan makanan hari ini. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan.

Douma, Rei, dan Shin memilih meja di sisi jendela.

Belum sempat Douma menyentuh makanannya—

“Ini… untuk kamu.”

Sebuah minuman diletakkan di meja.

Lalu cemilan.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Dalam waktu kurang dari satu menit, meja Douma dipenuhi minuman dan snack dari berbagai arah. Para siswi berdiri di sekitar dengan ekspresi berharap.

Rei menatap meja itu, lalu Douma.

“…Apakah kamu merasa sesak dengan semua ini?”

Shin menambahkan dengan wajah serius yang jelas pura-pura,

“Kami bisa membantu.”

Rei langsung menyambung,

“Membantu menghabiskannya.”

Douma menatap meja penuh itu… lalu tanpa banyak bicara mendorong semuanya ke arah dua temannya.

“Ambil.”

Rei dan Shin saling pandang—mata berbinar.

“Dengan senang hati.”

Douma kembali fokus ke makanannya sendiri.

Menu hari itu: lobster panggang dengan saus ringan, disajikan rapi. Jus buah persik dingin berada di sampingnya.

Ia makan dengan tenang, tidak terganggu oleh tatapan sekeliling.

Menu kantin selalu berubah setiap hari—dirancang oleh sistem nutrisi sekolah. Siswa bisa meminta penyesuaian minuman atau memilih cemilan dari etalase digital.

Dan semuanya… gratis.

“Sekolah ini berbahaya,” gumam Rei dengan mulut penuh snack.

“Kalau aku tidak olahraga, bisa tamat.”

Shin mengangguk. “Makanya basket nanti penting.”

Douma hanya menyeruput jusnya.

“Kalian terlalu berisik.”

---

lapangan basket sekolah dipenuhi energi.

Arena tersebut luas dan modern. Lantai berlapis material responsif yang mengurangi tekanan sendi. Pencahayaan otomatis menyesuaikan gerakan pemain. Sistem skor holografik melayang di udara.

Sorakan kecil terdengar dari tribun.

Di tengah lapangan berdiri guru olahraga—Takamura Ryuji—dengan pengeras suara.

“Baik! Hari ini seleksi tim basket dimulai!”

Sorak semangat membalas.

“Dan kalian tidak hanya latihan—kalian langsung bertanding melawan tim resmi sekolah!”

Keramaian meningkat.

Rei menepuk bahu Douma.

“Kesempatan emas!”

Douma tampak… tidak terlalu tertarik.

Namun namanya tetap dipanggil.

“Amatsuki Douma!”

Rei dan Shin bersorak.

“Itu dia!”

Dua tim segera berdiri di lapangan. Mayoritas pemain berasal dari Kelas I-A dan I-C, yang memang unggul secara fisik.

Pertandingan dimulai.

Bola bergerak cepat.

Douma menerima operan… dan bergerak.

Permainannya mengalir tanpa ragu. Setiap langkah terukur. Ia membaca posisi lawan seperti membuka peta. Bola terasa menyatu dengan ritme tubuhnya.

Di pinggir lapangan, wakil kapten tim basket—Kanzaki Haruto—mengamati dengan saksama.

“Gerakannya… efisien,” gumamnya.

“Tanpa gerakan sia-sia.”

Sorakan cheerleader memenuhi udara. Mereka menyemangati pemain dengan energi tinggi. Lapangan terasa panas—bukan hanya karena pertandingan, tapi karena intensitasnya.

Poin terus bertambah.

Waktu hampir habis.

Skor seri.

Perpanjangan detik terakhir.

Bola kembali ke Douma.

Ia melompat.

Fadeaway jumpshoot.

Tubuhnya melayang ringan. Gerakan bersih. Rambutnya mengikuti momentum. Keringat memantulkan cahaya lampu arena.

Bola berputar—

Dung!

Masuk.

Sorakan meledak.

Rei dan Shin berlari menghampiri.

“Gila!!”

Mereka mengangkat Douma tinggi-tinggi.

Ia hanya menghela napas, tapi senyum tipis muncul—cukup untuk membuat seisi lapangan bersorak lagi.

Pertandingan berakhir.

Di ruang ganti, suasana penuh tawa dan tepukan bahu.

“Permainanmu keren.”

“Kita harus latihan bareng.”

Pengumuman hasil seleksi akan keluar tiga hari lagi di papan informasi digital sekolah—Pusat Informasi Akademik.

Rei berkata pelan,

“Kamu pasti lolos.”

Shin menambahkan,

“Senior terlihat serius memperhatikanmu. Hati-hati—mereka kompetitif.”

Douma mengangkat bahu.

“Aku hanya bersenang-senang.”

Rei tertawa. “Ya… memang begitu dia.”

Shin mengangguk.

“Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.”

Douma berjalan keluar ruang ganti dengan langkah santai.

Hari itu berakhir dengan suara tawa dan energi baru.

Dan di antara keramaian…

sebuah tim mulai terbentuk.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!