"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAKIN MENJADI- JADI SI PICKME
Bulan sudah tinggi di langit malam ketika Lucian tiba di kediaman Elsworth untuk makan malam bersama Catharina dan Duke Henry. Ini adalah makan malam resmi pertama di mana Lucian hadir secara terbuka sebagai... apa, ya? Calon kekasih? atau mitra bisnis yang istimewa? Entah, Catharina sendiri belum yakin harus menyebut hubungan mereka apa.
Yang jelas, Duke Henry ingin bertemu langsung dengan pria yang mendekati putrinya.
Di ruang makan yang megah, Duke Henry duduk di ujung meja dengan postur yang mengintimidasi. Meski ia sudah menyetujui pembatalan pertunangan Catharina, bukan berarti ia akan dengan mudah menerima pria lain masuk ke kehidupan putrinya.
Lucian duduk dengan tenang di seberang Catharina, sesekali menolehkan kepala dan tersenyum menenangkan saat melihat Catharina yang sedikit gelisah. Bukan karena ia takut pada ayahnya, tapi karena ia tahu ayahnya bisa sangat... menekan.
"Jadi, Marquess Lucian," Duke Henry memulai dengan suara yang tegas sambil memotong steaknya tanpa mengangkat pandangan. "Ceritakan tentang dirimu. Apa rencanamu dengan putriku?"
Lucian meletakkan garpu dan pisaunya dengan sopan, lalu menatap Duke Henry dengan tatapan yang tidak kalah tegasnya.
"Yang Mulia Duke Henry, saya tidak akan berbasa-basi." Suaranya tenang dan jelas. "Saya tertarik pada putri Anda. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena kecerdasannya, keberaniannya, dan integritasnya. Saya ingin mendampinginya, baik sebagai mitra bisnis maupun sebagai pasangan hidup."
Catharina nyaris tersedak air minumnya. Njir, Langsung to the point sekali!
Duke Henry mengangkat alisnya. Satu alis, pelan, dan penuh makna. "Pasangan hidup? Kamu sudah berpikir sejauh itu?"
"Ya, Yang Mulia. Saya bukan tipe pria yang bermain-main. Kalau saya sudah menemukan wanita yang tepat, saya akan serius mengejarnya."
"Dan kamu yakin putriku adalah wanita yang tepat itu?"
"Sangat yakin."
Duke Henry menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Lucian dengan tatapan tajam seperti seorang hakim yang sedang menimbang kesaksian. Ia sedang mencoba membaca apakah pria di hadapannya ini tulus atau hanya mencari keuntungan dari nama keluarga Elsworth.
Yang ia temukan di mata Lucian adalah kesungguhan. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada kilatan licik yang biasanya mudah ia baca pada pria-pria yang datang dengan maksud tidak murni.
"Apa yang bisa kamu tawarkan untuk putriku?" Duke Henry meletakkan pisaunya, memberikan perhatian penuh. "Dia wanita yang mandiri sekarang. Dia punya bisnisnya sendiri. Dia tidak membutuhkan pria yang hanya mengandalkan gelar dan kekayaan warisan."
"Yang bisa saya tawarkan adalah kemitraan yang setara, Yang Mulia." Lucian tidak berkedip. "Saya tidak akan memperlakukan putri Anda sebagai hiasan atau kebanggaan yang dipajang. Saya akan memperlakukannya sebagai mitra yang saya hormati dan sayangi. Keputusan akan kami buat bersama. Bisnis akan kami jalankan bersama. Hidup akan kami jalani bersama, bukan saling mendahului."
Catharina merasakan sesuatu menghangat di dadanya mendengar kata-kata itu. Inilah yang selama ini ia cari tanpa tahu namanya. Kemitraan yang setara. Bukan dominasi, bukan ketergantungan.
Duke Henry terdiam cukup lama. Ruangan hening sampai suara api di perapian pun terdengar jelas. Lalu, perlahan, sudut bibirnya bergerak ke atas. Senyum kecil yang jarang sekali muncul di wajah pria itu.
"Kamu lolos ujian pertama, Marquess Lucian. Tapi ingat baik-baik," nada suaranya kembali berat, "kalau kamu menyakiti putriku, gelar marquess-mu tidak akan melindungimu dari kemarahan seorang ayah."
Lucian tersenyum, tidak gentar sedikit pun. "Saya tidak akan pernah menyakitinya, Yang Mulia. Itu janji saya."
Catharina menghembuskan napas panjang yang sudah ia tahan sejak tadi. Ayahnya menerima Lucian. Langkah pertama sudah terlewati.
Makan malam berlanjut dengan suasana yang jauh lebih hangat. Duke Henry bahkan sesekali tertawa mendengar beberapa cerita Lucian tentang perjalanan bisnisnya. Catharina senang melihat dua pria paling penting dalam hidupnya kini bisa duduk satu meja dengan akrab.
Setelah makan malam selesai, Lucian dan Catharina berjalan-jalan di taman kediaman sambil menikmati udara malam yang sejuk. Bintang-bintang bertaburan di langit, dan aroma melati liar dari ujung taman berhembus lembut.
"Ayahmu cukup membuat jantung copot," ujar Lucian akhirnya sambil tertawa pelan.
"Aku sudah memperingatimu." Catharina menoleh dengan senyum. "Tapi kamu tidak gentar sedikit pun. Aku kagum."
"Aku serius dengan apa yang aku katakan tadi, Catharina." Lucian meraih tangan Catharina dan menggenggamnya pelan. "Aku ingin kita bersama. Untuk jangka yang panjang."
Catharina menatap wajah Lucian di bawah cahaya bulan. Ada kejujuran di sana yang tidak bisa dipalsukan. "Aku juga, Lucian. Tapi aku ingin kita membangun hubungan ini dengan pondasi yang kuat. Tidak terburu-buru. Pelan tapi pasti."
"Aku mengerti." Lucian membalas genggamannya. "Dan aku akan menunggu. Selama yang kamu butuhkan."
Mereka berhenti di bawah sebatang pohon besar yang bunganya yang putih berjatuhan perlahan, tertiup angin malam. Lucian melingkarkan tangannya dari belakang, memeluk Catharina dengan lembut, dan Catharina membiarkan dirinya bersandar.
"Kamu tahu, Lucian... untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar bahagia. Bukan bahagia karena orang lain mengizinkanku bahagia. Tapi bahagia karena aku sendiri yang memilihnya."
"Dan aku akan pastikan perasaan itu tidak akan hilang." Lucian berbisik di dekat telinganya. "Itu janjiku."
Mereka berdiri di sana, diterangi cahaya bulan, tidak tahu bahwa dari balik kegelapan di sisi lain taman, sepasang mata hijau penuh kebencian sedang mengamati mereka dengan sangat seksama.
Elise bersembunyi di balik semak-semak yang lebat, tangannya mencengkeram botol racun kecil itu erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ia berhasil menyelinap ke kediaman Elsworth dengan menyamar sebagai pelayan yang mengantar kiriman barang dari kediaman Nightshade.
"Nikmati kebahagiaanmu selagi masih bisa, Catharina," bisiknya dengan senyum yang tidak menyerupai senyum sama sekali. "Karena sebentar lagi, semuanya akan hancur."
***
Hari berikutnya adalah hari yang sibuk bagi Catharina. Ia akan mengadakan pembukaan perdana untuk salon kecantikannya yang ia beri nama "Rumah Kecantikan Catharina".
Salon itu berada di distrik elit pusat kota, dengan desain yang mewah namun tidak berlebihan. Ruang dalamnya memadukan nuansa modern dan klasik dengan dominasi warna putih, emas, dan merah muda pucat yang elegan. Setiap sudut dirancang dengan penuh perhatian sampai ke detail terkecil.
Catharina merancang semua jenis perawatan sendiri berdasarkan pengetahuan tentang perawatan kulit yang ia bawa dari kehidupan lamanya. Ada perawatan wajah dengan bahan-bahan alami, hair spa, pijat relaksasi, bahkan nail art yang belum pernah ada di dunia ini. Semuanya baru, semuanya menarik.
"Yang Mulia, semuanya sudah siap," lapor Martha yang kini menjabat sebagai pengelola salon dengan bangga. "Para pelanggan dengan reservasi pertama sudah mulai berdatangan."
Catharina merapikan gaun kerjanya yang elegan. Hari ini ia mengenakan gaun merah muda pucat dengan blazer putih, terlihat profesional namun tetap feminin. "Baik. Mari kita mulai."
Pembukaan perdana dihadiri oleh puluhan wanita bangsawan yang penasaran dengan konsep salon modern yang belum pernah ada sebelumnya. Duchess Amelia hadir sebagai pelanggan pertama, diikuti oleh Countess Victoria, Lady Eleanor, dan masih banyak lagi.
Bahkan beberapa wanita dari keluarga kerajaan turut hadir, termasuk Putri Seraphina, adik Raja yang terkenal dengan kecantikan dan selera modisnya yang tinggi.
"Lady Catharina, tempat ini luar biasa!" puji Putri Seraphina sambil melihat sekeliling dengan mata yang membulat kagum. "Aku belum pernah melihat tempat seperti ini seumur hidupku. Ini benar-benar berbeda dari salon biasa."
"Terima kasih, Yang Mulia Putri. Saya harap Anda menikmati perawatan kami."
Sesi perawatan pertama dimulai. Para wanita dibagi ke berbagai ruangan sesuai dengan jenis perawatan yang mereka pilih. Duchess Amelia memilih perawatan wajah pencerah, Putri Seraphina memilih hair spa, sementara yang lain memilih berbagai pilihan lainnya.
Semua berjalan dengan lancar dan teratur. Para pelanggan terlihat sangat puas, wajah-wajah mereka berseri saat keluar dari ruangan perawatan, rambut mereka berkilau sehat, dan mereka semua meninggalkan salon dengan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan.
"Lady Catharina, kulitku terasa begitu lembut! Apa rahasianya?" tanya Duchess Amelia dengan antusias, tangannya tidak berhenti menyentuh pipinya sendiri.
"Perpaduan bahan alami dan teknik modern, Duchess. Saya menggunakan madu murni, susu kambing, dan beberapa ekstrak tumbuhan langka yang saya datangkan khusus." Catharina tersenyum. "Alam sudah menyediakan semua yang kita butuhkan. Kita hanya perlu tahu cara menggunakannya."
"Luar biasa! Aku akan jadi pelanggan tetap mulai sekarang!"
Di penghujung hari, pembukaan perdana dinyatakan sebagai keberhasilan besar. Catharina bahkan sudah mendapat daftar reservasi yang memanjang hingga dua bulan ke depan. Modal yang ia tanamkan pasti akan kembali jauh lebih cepat dari perkiraan awal.
Lucian datang di malam harinya membawa senyum dan rasa bangga yang tidak ia sembunyikan.
"Selamat, Catharina! Aku dengar hari ini sukses luar biasa. Bahkan Putri Seraphina memuji-mujimu sampai ke mana-mana."
Catharina memeluk Lucian dengan antusias, keletihannya sehari penuh seakan luruh seketika. "Terima kasih, Lucian! Ini semua juga berkat dukunganmu dari awal!"
"Kamu yang melakukan semua kerja keras ini. Aku hanya ada di pinggir sambil bersorak." Lucian menyerahkan seikat bunga mawar putih yang cantik dengan gerakan yang tampak sederhana namun penuh perhatian. "Ini untukmu. Untuk merayakan pencapaianmu hari ini."
Catharina menerima bunga itu dengan senyum yang menghangat. "Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia."
"Itu memang tugasku sekarang." Lucian mengeluarkan sebotol anggur dari kantong yang ia bawa. "Aku juga bawa ini untuk kita rayakan berdua. Bagaimana?"
Mereka duduk di ruang tamu salon yang sudah tutup, hanya cahaya lilin dan sinar bulan dari jendela besar sebagai penerangan. Lucian menuangkan anggur ke dalam dua gelas kristal, kilatan cahaya membuat cairan merah itu tampak berpendar indah.
"Untuk Catharina von Elsworth," ujar Lucian sambil mengangkat gelasnya, matanya tidak lepas dari wajah Catharina, "wanita paling luar biasa yang pernah aku kenal."
"Untuk kita, dan masa depan yang cerah." Catharina mengangkat gelasnya, menyentuhkannya pada gelas Lucian dengan bunyi ting yang nyaring.
Mereka lalu menengguk nya.
Tapi apa yang mereka tidak ketahui, anggur yang mereka minum sudah dicampur dengan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalamnya.
Elise berhasil menyelinap ke salon di tengah keramaian pembukaan perdana. Dengan menyamar sebagai pelayan pembawa perlengkapan, ia masuk ke ruang penyimpanan dan menemukan botol anggur yang sudah disiapkan Lucian. Ia mengetahui rencana kunjungan malam ini karena sempat mencuri satu surat dari ruang kerja Duke Raphael beberapa hari sebelumnya.
Dengan tangan yang gemetar bukan karena ragu, melainkan karena menahan kegembiraan yang tidak wajar, Elise menuangkan beberapa tetes racun ke dalam botol itu. Racun pemberian pamannya tidak akan langsung membunuh. Tapi akan membuat korban sakit parah dan tersiksa selama berhari-hari.
"Selamat menikmati malam bersama, Catharina," bisiknya dengan senyum yang mengerikan, lalu menyelinap keluar dengan langkah tanpa suara.
****
BERSAMBUNG