(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)
Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.
Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.
Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.
Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.
Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 126: Gerbang Neraka yang Dirampok
Alam Dewa (God Realm). Istana Langit Emas.
Di aula yang seluruhnya terbuat dari cahaya bintang dan pilar giok putih, puluhan Jenderal Dewa berdiri mengelilingi sebuah artefak raksasa berbentuk piringan air, Cermin Tiga Ribu Dunia.
Wajah para entitas abadi itu dipenuhi oleh keringat dingin dan keputusasaan. Di atas permukaan cermin air tersebut, jutaan titik merah pekat dari pasukan Alam Iblis merayap menelan wilayah-wilayah bercahaya di Alam Abadi dan Alam Dewa.
"Garis pertahanan ketiga di Utara telah invasi!" teriak seorang Jenderal Dewa dengan zirah retak. "Tiga Raja Iblis Primordial memimpin pasukan mereka secara langsung. Mereka mengincar anak-anak ber-Yin murni untuk Altar Darah mereka!"
Panglima Tertinggi Alam Dewa, Dewa Perang Xuanming, memukul meja giok hingga retak. Matanya memancarkan amarah yang tak berdaya. "Kita tidak memiliki cukup ahli tingkat Nirvana untuk menutup semua gerbang neraka itu secara bersamaan! Alam semesta sedang dikonsumsi!"
Namun, di tengah kepanikan itu, seorang intelijen dewa yang bertugas mengawasi sektor terluar tiba-tiba membelalakkan matanya.
"P-Panglima Xuanming! Lihat ini!" petugas itu menunjuk ke sudut paling bawah dari Cermin Tiga Ribu Dunia. "Di sektor selatan, di sebuah dunia fana seukuran debu bernama Benua Tianyun... ada sesuatu!"
Dewa Perang Xuanming mengerutkan kening dan memperbesar proyeksi cermin ke arah dunia fana tersebut.
Apa yang mereka lihat membuat seluruh jenderal dewa di ruangan itu menahan napas. Beberapa menit yang lalu, sebuah titik merah besar (mewakili iblis tingkat Puncak Core Formation beserta ratusan pasukannya) telah berhasil menembus Benua Tianyun. Namun, alih-alih menyebar seperti wabah... seluruh titik merah di wilayah Rawa Selatan dunia fana itu lenyap secara lansung.
Bukan memudar karena pertarungan panjang, melainkan terhapus dari eksistensi dalam hitungan detik.
"Satu jenderal iblis elit dan pasukannya musnah di dunia fana tanpa energi spiritual? Itu mustahil!" seru Xuanming, matanya menyipit tajam. "Dunia fana bahkan tidak memiliki ahli yang sanggup menggores kulit iblis tingkat Core Formation! Apalagi membantainya dalam sekejap!"
"Panglima... apakah ada Kaisar Dewa Kuno yang sedang mengasingkan diri di benua kotor itu?" bisik salah satu jenderal dengan nada penuh harap.
Xuanming terdiam, menatap titik kosong di peta itu dengan rasa hormat bercampur ngeri. "Siapa pun entitas yang bersembunyi itu... ia memiliki Niat Membunuh yang jauh lebih pekat dari iblis mana pun. Jangan pernah kirim pasukan kita ke dunia fana itu. Jangan usik monster yang sedang tertidur di sana."
Para dewa mulai memuja "sosok misterius" ini sebagai penyelamat rahasia. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang mereka takuti itu saat ini sedang berdiri di tengah rawa berlumpur, mengenakan jubah hitam, dan sedang sibuk menggeledah harta mayat iblis.
Dunia Fana, Benua Tianyun. Rawa Selatan.
"Miskin sekali," Zhao Xuan mendecakkan lidahnya, menendang abu sisa Jenderal Ba-Ghul dengan ekspresi kecewa. "Iblis raksasa ini bahkan tidak membawa Cincin Penyimpanan yang layak."
Di sekelilingnya, kelima Pemimpin Paviliun Sekte Langit Asura sedang membersihkan sisa-sisa anjing neraka terakhir. Pembantaian itu berlangsung sangat cepat berkat taktik bedah kelemahan yang diajarkan Zhao Xuan.
Tie Ba berjalan mendekat dengan tangan raksasanya menyeret seekor iblis kelelawar tingkat rendah yang sayapnya telah patah. Iblis itu gemetar hebat, air mata hitam mengalir dari mata merahnya.
"Tuan, saya menyisakan satu yang masih hidup untuk diinterogasi," lapor Tie Ba, melempar iblis itu ke depan kaki Zhao Xuan.
Iblis kelelawar itu langsung bersujud. Ia telah melihat bagaimana anak manusia ini menarik inti nyawa jenderalnya tanpa menyentuh kulitnya. Di mata iblis ini, Zhao Xuan adalah perwujudan kehancuran itu sendiri.
"A-Ampuni hamba, Tuan Monster! Hamba hanya prajurit rendahan!" ratap iblis itu.
Zhao Xuan berjongkok, menatap iblis itu dengan senyum yang sangat ramah. Senyum yang membuat Jue Ying di belakangnya tanpa sadar mundur selangkah.
"Aku bukan monster. Aku hanya pangeran fana yang cinta damai," ucap Zhao Xuan lembut. "Katakan padaku, prajurit kecil... dari mana kalian masuk ke rawa ini? Dan di mana komandan kalian menyimpan harta rampasan dan Batu Spiritual Yin yang sudah kalian kumpulkan dari dunia lain sebelum mampir ke sini?"
Iblis itu menggigit bibirnya. "H-Hamba tidak bisa mengatakannya! Jika hamba membocorkan lokasi Gerbang Neraka lokal, jiwa hamba akan dibakar oleh Altar Darah!"
Zhao Xuan menghela napas pasrah. "Kenapa semua penjahat selalu memilih cara yang sulit?"
Mata hitam Zhao Xuan memancarkan kilatan biru (Roda Bintang Kedua). Ia menjentikkan jarinya ke arah sayap kanan iblis tersebut. Ruang di sekitar sayap itu terlipat dan menekan ke dalam dengan sendirinya, meremukkan tulang dan daging sayap itu menjadi pasta dalam sedetik, lalu menghilangkannya ke dalam kehampaan.
KRAAAAK!
"AAARRRGGHHH!!" Iblis itu menjerit histeris. Rasa sakit dari robekan dimensi jauh lebih mengerikan dari tebasan pedang mana pun.
"Itu baru sayapmu," bisik Zhao Xuan, cahaya emas (Roda Bintang Ketiga) mulai berkedip di matanya. "Selanjutnya, aku akan melipat ruang di perutmu, dan memajukan waktu pencernaanmu seribu kali lipat agar asam lambungmu memakan organ dalammu sendiri hidup-hidup."
"DI ARAH UTARA! DUA MIL DARI SINI!" teriak iblis itu tanpa ragu sedetik pun, kewarasannya hancur lebur. "Di dasar Rawa Hitam! Ada Gerbang Neraka, dan seluruh peti harta Yin murni dijaga oleh tiga Ratusan Iblis Elit! Hamba mohon, bunuh saja hamba!"
"Terima kasih atas kerja samanya," Zhao Xuan mengangguk puas. Ia menatap Jian Yi, yang langsung merespons dengan satu tebasan pedang berkarat yang memutus leher iblis itu dengan rapi. Penderitaannya berakhir.
"Ayo bergerak," perintah Zhao Xuan, memasukkan kedua tangannya kembali ke dalam saku jubah. "Kita tidak boleh membiarkan harta curian mereka membusuk di dasar rawa. Aku akan membantu menjaga harta mereka."
Dalam waktu kurang dari lima menit, Zhao Xuan dan kelima bayangannya tiba di tepi sebuah pusaran air hitam pekat di tengah rawa terdalam.
Di dasar pusaran itu, sebuah retakan dimensi berwarna ungu menyala terang Gerbang Neraka. Di sekeliling gerbang tersebut, puluhan peti besi hitam bertumpuk rapi, memancarkan aura Yin Murni dan Batu Spiritual tingkat tinggi hasil rampasan iblis dari sekte-sekte fana lain. Tiga ratus iblis elit berjaga dengan senjata terhunus, menunggu kedatangan Jenderal Ba-Ghul yang tidak akan pernah kembali.
"Tuan, jumlah mereka terlalu banyak untuk kita habisi tanpa membuat keributan. Jika mereka sempat masuk ke gerbang dan memanggil bala bantuan..." Jue Ying menganalisis situasi dengan bisikan pelan.
"Siapa yang bilang kita akan bertarung?" Zhao Xuan tersenyum misterius. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan santai menuju tebing yang menghadap langsung ke arah kamp iblis dan tumpukan harta tersebut.
Para iblis elit segera menyadari kehadirannya.
"Penyusup fana! Bunuh dia!" raung salah satu komandan iblis, bersiap melemparkan tombak api hitam.
Namun, Zhao Xuan hanya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Cincin Jiwa Kuno di jarinya beresonansi dengan Roda Bintang Gravitasi (Pertama) dan Ruang (Kedua) di dalam jiwanya.
"Atas nama Asura... Sita."
WUUUUUSSSSH!
Bukan serangan mematikan yang keluar, melainkan sebuah lubang hisap spasial raksasa terbuka tepat di atas tumpukan puluhan peti harta karun milik para iblis! Gaya gravitasi ekstrem menarik seluruh peti berisi Batu Spiritual Yin, senjata, dan herbal berharga itu langsung masuk ke dalam dimensi Cincin Jiwa Kuno milik Zhao Xuan dalam satu tarikan napas!
Para iblis berdiri membeku. Tangan mereka masih memegang senjata, namun harta yang mereka jaga mati-matian baru saja... dirampok oleh seorang anak kecil di depan mata kepala mereka sendiri.
"H-Harta persembahan kita! Dia mencurinya!"
"Itu tidak sopan. Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milik alam," ucap Zhao Xuan datar. Ia kemudian mengangkat tangan kirinya, memfokuskan seluruh kekuatan Roda Bintang Gravitasi ke arah retakan Gerbang Neraka ungu tersebut.
"Dan sebagai bonus... aku akan menutup pintu rumah kalian dari luar."
Zhao Xuan mengepalkan tangan kirinya erat-erat.
BOOOOOOM!
Hukum ruang di sekitar Gerbang Neraka itu tiba-tiba runtuh! Gravitasi di titik itu dilipat gandakan menjadi jutaan kali lebih berat. Retakan dimensi itu tidak bisa menahan beban nya sendiri dan mulai runtuh ke dalam, menciptakan efek lubang hitam mini sementara.
Seluruh kamp, ratusan iblis elit, dan sisa-sisa energi rawa tersedot habis ke dalam keruntuhan spasial tersebut, dihancurkan menjadi atom sebelum gerbang itu tertutup rapat selamanya dengan suara letupan sonik yang memekakkan telinga.
Hening.
Satu pasukan elit dimensi, sebuah gerbang neraka, dan gunung harta karun telah dilenyapkan dan dirampok tanpa sisa oleh satu orang anak fana.
Zhao Xuan menepuk-nepuk debu dari jubah hitamnya. Ia menoleh ke arah lima muridnya yang sedang menatapnya dengan rahang terjatuh.
"Misi selesai. Rampasan kita malam ini cukup untuk membiayai Sekte Langit Asura selama seratus tahun ke depan," ucap Zhao Xuan santai. Ia menatap ke arah langit timur yang mulai memancarkan semburat jingga fajar. Wajah tiraninya perlahan melembut, mengingat wanita yang sedang tertidur di istana.
"Ayo pulang. Ibunda sudah menunggu sarapan, dan aku masih harus menyembuhkan Dantian nya dengan pil perakku."