Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batin Yang Hancur
Sepeninggalan mobil Gus Qais dari halaman rumah Warih, sebagai pertanda hancurnya harapan indah Aiza yang sudah ia rancang sejak awal. Namun, hari ini__ hanya tersisa kepasrahan yang terpaksa ia jalani.
Aiza sadar ini adalah takdir, hanya saja hatinya perlu waktu untuk bisa menerima dengan ikhlas.
Aiza, gadis itu bahkan hanya bisa pasrah saat cincin Gus Qais di jemari manisnya diganti dengan cincin tanda dari Arjuna. Ia menatap sedih cincin yang tergeletak seolah tiada harganya di mata keluarga Arjuna.
Cincin milik Arjuna mungkin lebih mewah dan mahal, tapi cincin Qais adalah harga yang tak bisa dibeli dengan uang. Bukan tentang seberapa mahal harganya, tapi seberapa berharga momennya. Dan saat ini, semua itu hanya ada di Gus Qais.
“Hari ini juga kamu harus berkemas! Kamu akan ikut kami ke Jakarta.”
Dengan matanya yang sudah basah itu Aiza mendongak pada Agatha, wanita yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
"Benar. Minggu depan kalian akan menikah," sahut Dirga.
Mendengar kata “menikah” hatinya mendadak sakit. Namun, Aiza tak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam dan menurut.
“Ayo, Aiza…. Bibi bantuin berkemas,” tawar Sarah terdengar lembut.
Namun Aiza tak langsung beranjak, gadis itu menatap Warih dengan tatapan sedih.
“Mbah, Aiza ndak bisa ninggalin Mbah sendirian. Nanti Mbah sama siapa di sini?" ucap Aiza sambil terisak. Gadis itu juga mengusap air mata neneknya.
Warih meraih Aiza ke dalam pelukannya. Cucu dan nenek itu akhirnya menangis bersama.
Namun belum puas mereka saling berbagi kesedihan, Sarah langsung menarik Aiza dengan paksa. Wanita itu juga menyeret paksa Aiza menuju mobil. Tak peduli Aiza memberontak sekalipun. Sarah seolah sudah tak mempedulikan perasaan keponakannya.
"Bibi…. Aiza ndak mau! Aiza ndak mau ninggalin mbah sendirian!” ucap Aiza histeris.
Sementara Warih ditahan oleh anak buah Dirga agar tak menghalangi mereka membawa Aiza.
Aiza dimasukkan ke dalam mobil, meninggalkan halaman rumah Warih yang terasa semakin sepi.
Warih terduduk lemas sambil menatap kepergian mobil mewah yang membawa cucunya, membawa semua kebahagiaannya yang selama ini hanya ada pada Aiza.
"AIZA!!”
Wanita tua itu menjerit pilu. Beberapa tetangga berdatangan setelah kepergian mobil yang membawa Aiza itu.
Seorang ibu-ibu yang bernama Sulis itu ikut menangis. Dia membantu Warih untuk berdiri.
“Mbok, sing ikhlas ya…. Nanti Aiza pasti bahagia. Mereka semua wong sugeh. Aiza ndak akan kekurangan disana," ujar Sulis.
“Tapi mbok tau, Nok….. Aiza bahagia cuma sama Gus Qais. Aiza bukan wanita yang gila harta yang bisa mereka sogok perasaannya pakai duit.”
"Sulis tau Aiza bukan gadis yang gila harta, tapi setidaknya dia ndak akan terlantar di sana, mbok. Dan mungkin Allah ndak menakdirkan Aiza dan Gus Qais karena mereka ndak berjodoh. Percaya sama Sulis, mbok…. Takdir seseorang sudah diatur sama Gusti Allah. Kalau mereka berjodoh, Gusti Allah pasti akan mempersatukan mereka kembali.”
Sulis tersenyum lembut sambil menepuk pelan pundak Warih. Setelahnya, barulah Warih sedikit tenang, meskipun tak bisa sepenuhnya ikhlas. Tapi setidaknya, kata-kata Sulis membuatnya sedikit berpikir positif.
***
Sementara itu, selama di perjalanan— Aiza sama sekali tak berbicara. Pesawat dengan fasilitas mewah serta pribadi itu tak membuatnya merasa nyaman, tapi justru semakin dia mendapatkan kemewahan, hatinya semakin sakit. Baginya, kemewahan itu adalah sebuah penghinaan untuk dirinya, karena dengan begitu, sama saja mereka mencoba membeli kebahagiaannya dengan hal-hal yang berbau kemewahan.
Beberapa jam kemudian, mereka pun tiba di kediaman Arjuna. Mobil mewah itu berhenti di halaman rumah megah bak istana, namun seperti penjara bagi Aiza.
Arjuna dan kedua orang tuanya keluar lebih dulu, sementara anak buah Dirga dengan sigap membukakan pintu untuk Aiza, dan beberapa asisten rumah langsung menyambutnya sekedar membawakan tas milik Aiza. Sebuah perlakuan istimewa dari pesuruh di rumah itu, tapi tidak dengan pemiliknya. Bahkan saat di perjalanan tadi, mereka sama sekali tak melirik Aiza, apalagi sekedar menyapa. Mereka asik sendiri dengan ponsel mereka, seolah itulah dunia mereka.
“Nona, ini kamar Anda sekarang. Silahkan beristirahat di dalam. Saya tinggal dulu. Permisi."
Meid itu menunduk sopan, dan setelah Aiza membalas dengan anggukan dan senyuman kecil, meid itu pun pergi.
Kini, Aiza hanya sendirian di kamar mewah itu. Tak ada neneknya, tak ada senyum lembut Gus Qais saat bertamu ke rumah Warih. Semuanya seolah hilang dalam sekejap, membawa semua kebahagiaan yang selama ini tersimpan rapi di relung hati.
***
Mobil sedan yang sudah agak kusam itu berhenti di halaman ndalem pesantren. Umi Khasanah sudah berdiri dengan senyum yang paling tulus untuk menyambut sang putra. Namun senyum itu seketika berganti rasa cemas ketika melihat yang keluar adalah pria paruh baya, yang dia ketahui adalah tetangga Warih.
Pria itu tampak membuka pintu mobil sebelahnya, membantu Qais keluar dari mobil.
Rasa cemas Umi Khasanah semakin bertambah ketika melihat sang putra pulang dengan wajah yang babak be*ur. Bahkan berdiri saja harus di bantu.
Umi Khasanah mendekat dengan tergesa. Tatapan panik tak luput dari wajah teduhnya.
“Ya Allah, astaghfirullah….. kamu kenapa, Nang? Kok bisa begini? Kamu habis keserempet atau apa?”
Rentetan pertanyaan itu seperti belati yang menusuk perasaan Qais. Qais menggeleng lemah, namun Umi Khasanah menangkap kepedihan di mata sang putra.
“Ndak, Umi…. Qais ndak keserempet kok. Tadi ada masalah sedikit,” ucap Qais jujur.
"Ya Allah, Nak. Masalah opo, kok sampai begini wajahnya?” tangan lembutnya menyentuh luka memar sang putra, membuat Qais sedikit mengaduh.
Qais tertegun dengan mata yang berkaca-kaca. "Umi……Qais dan Aiza…..ndak berjodoh. Aiza dibawa pergi bibinya ke kota untuk dinikahkan sama anak majikannya,” ucapnya pilu. Wajahnya menunduk dalam.
Umi Khasanah langsung mengusap dada. Matanya pun ikut berkaca-kaca, bahkan air matanya sudah menetes di pipi.
"Ya Allah, Nang….sabar ya. Allah punya rencana yang lebih indah untuk kalian."
Namun tanpa mereka tau, segerombolan santri yang kebetulan ingin melihat keadaan Qais, mendengar semuanya. Santriwati tampak ikut menangis, santri pria tampak mengusap dada melihat Gus kesayangan mereka tampak sangat hancur. Bukan hanya fisiknya, tapi juga batinnya.
"Gus….. hiks….hiks…!"
Seorang santriwati kecil berlari dan langsung memeluk kaki Qais.
Qais tertegun dan langsung berjongkok untuk mensejajarkan tingginya.
“Aisyah, kenapa menangis? Ada yang sakit, atau ada yang gangguin kamu, Nak?" tanya Qais lembut. Jemarinya dengan lembut mengusap sisa jejak air mata dari gadis kecil itu.
Anak kecil yang bernama Aisyah itu menggeleng. Pipi gembulnya ikut bergerak.
"Bukan. Tapi Aisyah sedih lihat Gus. Kata…. Kata kak Nina…. Gus ndak jadi nikah sama mbak Aiza…. Gus pasti sedih… hiks hiks.”
Sedikit terhibur meski batinnya pedih, Qais lantas terkekeh, namun masih terlihat sopan.
Pria berusia 25 tahun itu mencubit pelan pipi chubby Aisyah.
“Ndak apa-apa, sayang. Gus ndak sedih, kan ada Aisyah yang siap menghibur Gus.”
Pria itu lantas berdiri, menatap satu persatu santrinya yang masih berdiri, menatapnya dengan tatapan sedih.
"Saya ndak apa-apa. In Syaa Allah saya ikhlas, karena saya tahu Allah sedang mencintai saya dengan menguji saya melalui masalah ini. Kalian ndak usah mengkhawatirkan saya. Belajar dengan benar, agar kelak bukan hanya menjadi orang sukses, tapi juga menjadi orang yang selalu tawadhu."
Qais tersenyum lembut, tangannya terulur menyentuh pundak salah seorang santri pria.
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍