Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Bayangan
Pulang sekolah, Mauren harus menyeberang ke seberang jalan untuk memberhentikan angkot di sana. Angkot yang ditunggunya tidak lewat-lewat, dan halte mulai sepi. Tiba-tiba dari kejauhan muncul tiga lelaki berbadan tegap menghampiri dirinya di halte. Salah satunya pakai topi dan masker. Walau pakai topi dan masker, Mauren mengenali dengan mudah sosoknya, itu adalah Mat Kojak. Nggak tahu yang dua lagi, mungkin itu temannya atau anak buahnya.
Mauren langsung waspada dan bersiap-siap dengan kemungkinan yang terburuk.
“Itu dia bocil yang membuat aku malu. Tangkap dia!” kata Mat Kojak.
Dua temannya langsung maju dan berusaha menangkap Mauren.
Mauren segera melompat ke belakang, dan mengambil posisi dan kuda-kuda karatenya. Namun dua preman itu terus maju dan berusaha menangkap Mauren. Mauren lalu melakukan pukulan lurus ke ulu hati lawannya atau choku-tsuki.
Tapi salah satu preman kayaknya menguasai teknik karate, dia mematahkan serangan Mauren itu dan langsung melakukan serangan balik.
Dari belakang Mat Kojak meringkus Mauren yang meronta-ronta, namun tak berdaya.
“Ikat dia!” perintah Mat Kojak.
Lalu sebuah angkot kosong datang, tampaknya sopirnya kawanan Mat Kojak. Dan lalu segera tancap gas.
Tiba-tiba seorang anak muda melihat penculikan itu. Anak muda itu hanya memakai helm half face, jadi mudah diketahui dia adalah Axel!
Axel segera membuntuti angkot itu dari jauh secara diam-diam. Kawanan itu membawa Mauren yang sudah tidak berdaya itu ke sebuah gudang tua di luar kota yang jauh terlihat terpencil, dan tidak ada tetangga di samping kiri-kanannya.
“Lepaskan aku,” teriak Mauren sambil meronta-ronta.
“Tidak semudah itu, cewek!” balas Mat Kojak. “Jaga dia, jangan sampai ikatannya terlepas!”
Kedua orang kawan Mat Kojak lalu mengencangkan ikatan Mauren.
“Tempat ini jauh dari mana-mana, percuma kamu teriak, tidak ada yang bakal mendengar,” kata seorang anak buah Mat Kojak. “Kamu hemat tenagamu, dan jangan paksa kami mengasari kamu!”
“Kamu mau apa?” teriak Mauren bertanya.
“Namamu Mauren Korompis, anak Logan Korompis, pengusaha itu, kan?” kata Mat Kojak pelan. “Uang ayah kamu banyak, tentu uang sebanyak Rp 1 miliar tidak akan sulit buat pengusaha seperti ayahmu agar putrinya selamat.”
Mat Kojak lalu mengambil belati di atas mejanya dan menghunusnya pelan-pelan sambil bicara, “Tapi kalau dia pelit. Belati ini akan bicara! Hahaha.”
Mauren terus meronta-ronta dan berteriak-teriak lagi.
“Tutup mulutmu, gadis karate!” bentak Mat Kojak. “Karate dan mulut tidak akan membebaskanmu, kecuali uang!”
Di rumah Mauren, mama Mauren gelisah karena sudah sampai jam 5 ini, Mauren belum pulang. Biasanya jika ada ekskul, acara di sekolah, atau pelajaran tambahan di sekolah dia akan menelepon, paling tidak memberitahunya lewat WA.
Dia segera menelepon sekolah, lama baru diangkat.
“SMA Tunas Bangsa, selamat sore,” kata Pak Bandrio, penjaga sekolah, di seberang telepon.
“Sore, Pak. Anak saya Mauren sudah jam segini kok belum pulang, ya?” kata mamanya Mauren panik.
“Oh, jam pulang sekolah tadi jam 2.30 tuh, Bu? Sekolah sudah sepi dan tidak ada siapa-siapa. Kebetulan juga hari ini tidak ada ekskul. Jadi tidak ada yang datang ke sekolah sore ini,” jelas Pak Bandrio.
Mamanya Mauren tambah cemas. “Oh baik, Pak.”
Lalu dia menelepon suaminya yang masih berada di tempat pekerjaannya.
Di gudang tua tampak mereka bertiga sedang kewalahan menenangkan Mauren yang terus meronta sambil berteriak itu.
“Kalau kamu terus meronta akan kurobek mulut kamu!” bentak John, salah seorang preman itu.
“Kalau kamu berani melukai anak itu, kau yang akan kuhajar!” kata Mat Kojak.
Tiba-tiba dari luar ada suara kerikil dilempar mengenai pintu. “Klotak!”
Mat Kojak segera menyuruh John memeriksa sumber suara itu. John segera keluar dan memeriksa sekeliling rumah itu, namun setelah 15 menit John tidak kembali juga. Lalu Mat Kojak menyuruh Jamet menyusul John. “Met, susul John, aku akan jaga dia.”
Jamet menurut, lalu dia segera keluar, tapi nggak balik lagi juga. Mat Kojak berteriak, “Jon, Jamet, ke mana kamu?”
Lalu Mat Kojak mengambil kayu untuk mementung dan berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang terjadi.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor menerjang pintu dan masuk.
“Brak!”, hampir saja menabrak Mat Kojak.
“Siapa kamu?” tanya Mat Kojak bingung. “Mana John dan Jamet? Kau apakan mereka?”
Pemuda di sepeda motor itu ternyata Axel dan dia segera mengambil kayu lain dan diserangnya Mat Kojak. Kedua kayu bertemu di udara, menimbulkan suara keras, “Brak!”
Kedua kayu itu bergetar keras dan jatuh ke lantai. Kemudian Mat Kojak melancarkan pukulan dengan tangan kosong dengan keras namun lambat. Axel dengan mudah menghindarinya. Lalu Axel memberikan pukulan ke arah perut Mat Kojak.
Mat Kojak terhuyung sebentar lalu dia siaga lagi dengan posisi berkelahi.
Di lantai dalam keadaan terikat, Mauren meronta. “Axel, lepaskan aku, aku akan membantumu melawan Mat Kojak!”
Namun Axel tak merespons, dan maju menyerbu Mat Kojak dengan gaya tinju Mike Tyson. Bak macan ngamuk dia menghujani Mat Kojak dengan beberapa pukulan ke perut, namun Mat Kojak berhasil bertahan dan melakukan serangan balik ke perut.
“Bocil! Kamu berani melawanku?” bentak Mat Kojak.
“Namaku Axel, bukan bocil!” teriak Axel sambil terus memukul.
“John, Jamet, bantu aku meringkus bocil ini!” teriak Mat Kojak.
“Mereka sudah tidak ada!” gertak Axel. “Tinggal kamu melawan aku!”
“Kurang ajar kamu, anak kecil!” Mat Kojak memukul perut Axel, namun tidak terasa. Mungkin akibat didikan keras Coach Bruno?
Axel lalu memukul Mat Kojak ke segala target dengan gaya tinjunya yang beringas. Mat Kojak tampak kewalahan, dan begitu ada kesempatan dia kabur dari pintu yang terbuka di gudang tua itu. Axel segera berlari mengejarnya.
“Axel, lepaskan aku dari ikatan ini dulu!” teriak Mauren.
Lalu Axel mengurungkan niatnya untuk mengejar Mat Kojak dan memutuskan membebaskan Mauren terlebih dahulu. Mauren langsung memeluk Axel begitu ikatannya terlepas.
“Terima kasih, Axel,” kata Mauren. “Tanpa kau aku nggak bisa bayangkan apa yang akan terjadi.”
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Axel.
“Untung tidak apa-apa,” jawab Mauren tanpa melepaskan pelukannya. “Kamu hebat sekali?”
“Ah biasa saja. Mungkin karena gemblengan Coach Bruno,” bisik Axel. “Yang penting kau tidak apa-apa.”
“Ayo sekarang cepat kita kejar penjahat itu,” ujar Axel. “Kamu membonceng aku, kebetulan aku bawa dua helm. Yang satu ada di bagasi di bawah jok ini.”
Axel lalu membuka joknya dan mengambil helm yang satu dan memberikannya kepada Mauren. Kemudian Axel dan Mauren berboncengan mencari-cari Mat Kojak dengan motornya. Mauren duduk di boncengan sambil berpegangan erat pada pinggang Axel, seakan takut jatuh.
Cukup lama mereka mencari Mat Kojak, namun tidak ketemu.
“Sudahlah, Xel. Entah dia kabur ke mana,” kata Mauren. “Berhenti sebentar, Xel. Aku akan menelepon mamaku, pasti mereka bingung aku belum pulang.”
Lalu Axel berhenti sejenak menepikan motornya dan Mauren segera menelepon mamanya.
“Mauren! Kamu ke mana saja?” teriak mamanya Mauren di seberang telepon.
Papa Mauren juga ikut berteriak panik, “Mauren, kamu tidak apa-apa?” ujar papa Mauren berteriak panik.
“Mauren tidak apa-apa, Ma, Pa,” kata Mauren di ujung telepon. Mama Mauren lalu menekan speakerphone agar percakapan itu mudah didengar oleh papa Mauren juga.
“Mauren diculik oleh penjahat….”
Belum selesai Mauren bicara papa Mauren sudah memotong, “Apa? Kamu tidak apa-apa, Ren?”
“Tidak apa-apa, Pa,” jawab Mauren. “Seorang teman berhasil membantu Mauren dan membebaskan Mauren dari gerombolan penculik itu.”
“Cepat pulang, Papa pengin dengar cerita selengkapnya,” ujar papa Mauren.
Axel yang mendengarkan percakapan telpon Mauren dan papa mamanya hanya tersenyum dingin dan licik.