Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar Dibalik Luka
Malam pengantin yang seharusnya menjadi lambang kesucian berubah menjadi panggung sandiwara yang paling gelap dan menyesakkan.
Di lantai bawah, di salah satu kamar tersembunyi dekat bar, Aldrian Cavanough menunjukkan jati diri aslinya. Mabuk oleh kemenangan karena berhasil menikahi piala dari dinasti Sterling-Valerius, ia kehilangan kendali. Sifat playboy yang katanya sudah hilang itu nyatanya hanya tertidur. Ia menyeret seorang pelayan bar yang malang ke dalam kamarnya, meniduri wanita itu dalam kondisi mabuk berat, dan menggunakan otoritas namanya untuk memastikan staf hotel menutup mulut. Baginya, Andrea hanyalah status, sementara nafsu adalah kebutuhannya.
Namun, di Penthouse Suite, sebuah tragedi yang berbeda sekaligus ironis sedang berlangsung.
Setelah teriakan histeris Andrea mereda menjadi isak tangis yang sesak, keheningan menyelimuti kamar pengantin itu. Andrea meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk selimutnya seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang tersisa. Xavier tidak pergi. Ia tidak melarikan diri layaknya seorang pengecut.
Dengan gerakan yang sangat tenang, hampir seperti seorang perawat yang menghadapi pasien sekarat, Xavier beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil handuk lembut yang telah dibasahi air hangat dan minyak esensial beraroma lavender, aroma yang sengaja ia siapkan untuk menenangkan syaraf.
"Jangan sentuh aku!" desis Andrea, suaranya parau.
Xavier tidak membantah, namun ia tetap mendekat. Ia berlutut di lantai, tepat di samping tempat tidur tempat Andrea meringkuk. "Aku akan membersihkanmu, Andrea. Bukan karena aku menganggapmu kotor, tapi karena aku ingin menghapus rasa sakit itu."
Entah karena kelelahan fisik atau magnet aneh yang dimiliki Xavier, Andrea perlahan membiarkan pria itu menyentuhnya. Xavier melakukannya dengan sangat hati-hati, seolah setiap inci kulit Andrea adalah porselen mahal yang bisa pecah kapan saja. Ia mengusap sisa-sisa darah dan cairan di paha Andrea dengan kelembutan yang tidak pernah ditunjukkan oleh seorang Xavier di kampus.
"Maafkan aku," bisik Xavier, kepalanya tertunduk saat ia mengusap lengan Andrea. "Aku tahu ini salah. Aku tahu cara ini menghancurkanmu. Tapi melihatmu menjadi salah satu koleksi paman, melihatmu dipermalukan oleh pengkhianatannya nanti... aku tidak sanggup."
Andrea menatap Xavier dengan tatapan kosong. "Kamu tetap menghancurkanku, Xavier."
Xavier mendongak, matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api yang menyakitkan. "Lihat tanda-tanda ini, Andrea." Ia menunjuk pada bekas kemerahan yang ia tinggalkan di bahu, leher, dan dada Andrea.
"Ini bukan sekadar nafsu. Ini adalah tanda kepemilikan. Selama bertahun-tahun aku mencintaimu dalam diam, membencimu di kelas hanya agar aku punya alasan untuk menatapmu lebih lama. Aku memberikan diriku seutuhnya padamu malam ini karena aku ingin kamu tahu... bahwa pria yang seharusnya memilikimu adalah aku, bukan dia."
Xavier membantu Andrea mengenakan baju tidur satin dengan kerah tinggi yang menutupi hingga ke pangkal dagu. Kamar yang tadinya berantakan, kini kembali bersih dan wangi.
Xavier menyalakan diffuser aromaterapi yang menenangkan, membuat atmosfer kamar terasa damai seolah-olah badai besar tidak pernah terjadi di sana.
Matahari baru saja terbit saat ketenangan Penthouse pecah oleh teriakan melengking dari lantai bawah.
"Tolong! Tolong saya!"
Seorang pelayan bar berlari keluar dari salah satu kamar suite dengan pakaian compang-camping dan wajah penuh air mata. Teriakan itu memicu kegaduhan. Para tamu penting, keluarga besar Valerius, dan keluarga Cavanough yang menginap di lantai yang sama mulai keluar dari kamar mereka dengan wajah bingung.
Kate dan Alarick keluar dengan wajah cemas, tepat saat pintu kamar di ujung lorong terbuka.
Di sana, Aldrian berdiri dengan wajah linglung, tanpa sehelai benang pun, hanya tertutup selimut yang melilit pinggangnya secara asal. Bau alkohol tercium kuat dari tubuhnya.
"Aldrian? Apa-apaan ini?!" Alarick berteriak, suaranya menggelegar penuh amarah.
Di saat itulah, pintu utama Penthouse terbuka. Andrea muncul dari sana. Ia berjalan perlahan, tangannya mencengkeram erat kerah bajunya yang tinggi. Langkahnya terlihat tertatih dan kaku, setiap langkah memberikan rasa nyeri yang tajam di area sensitifnya, sisa dari pergulatan hebat dengan Xavier semalam.
Orang-orang yang melihat Andrea tertatih segera berasumsi bahwa ia adalah pengantin yang kelelahan karena malam pertama yang panjang, namun saat mereka melihat Aldrian yang tertangkap basah bersama pelayan, wajah mereka berubah menjadi jijik.
Andrea berdiri di depan suaminya yang masih mabuk itu. Ia menatap Aldrian dengan pandangan dingin yang paling tajam yang pernah ia miliki.
Di sampingnya, Xavier berdiri dengan tangan di saku, wajahnya datar namun matanya tertuju pada Andrea.
"Jadi... ini malam pengantin yang kamu janjikan, Aldrian?" tanya Andrea dengan suara yang stabil namun mematikan.
"Andrea... aku... aku bisa jelaskan... aku mabuk..." Aldrian mencoba mendekat, namun Alarick sudah lebih dulu menghalangi dengan tinju yang siap melayang.
Andrea tidak menangis. Sebaliknya, ia melirik Xavier yang berdiri beberapa langkah di belakang kerumunan. Andrea menyadari sebuah ironi yang luar biasa, Xavier telah meramalkan ini. Xavier menyelamatkannya dari malam pertama dengan pria pengkhianat itu.
Meskipun Xavier melakukannya dengan cara yang salah, Andrea merasa sebuah kepuasan yang aneh.
Andrea menggerakkan bibirnya tanpa suara ke arah Xavier: "Terima kasih."
Xavier membalasnya dengan anggukan tipis yang nyaris tak terlihat.
Publik kini melihat Andrea sebagai korban yang malang, pengantin suci yang dikhianati di malam pertamanya. Tak ada yang tahu bahwa di balik baju berkerah tinggi itu, tubuh Andrea dipenuhi tanda kepemilikan dari pria lain. Tak ada yang tahu bahwa rasa sakit saat ia berjalan bukan karena Aldrian, melainkan karena gairah liar sang keponakan.
Andrea tersenyum kecil di tengah kekacauan itu. Permainan baru saja dimulai. Aldrian baru saja jatuh ke dalam lubang yang ia gali sendiri, sementara Andrea kini memegang kartu as bersama Xavier, pria yang telah menghancurkannya, namun juga menjadi satu-satunya pria yang benar-benar memilikinya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading Dear😍😍