NovelToon NovelToon
Ratu Yang Memilih Takdirnya

Ratu Yang Memilih Takdirnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cintapertama
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Angin di ketinggian terasa berbeda. Bukan sekadar dingin, tapi menekan. Seolah udara sendiri menolak keberadaan Arcelia Virellia di sana. Ia melayang tepat di depan retakan langit.

Garis hitam itu kini tampak seperti pintu raksasa yang terbuka sedikit, memperlihatkan ruang di baliknya, bukan langit lain, bukan awan. Melainkan ruang tanpa warna. Dan di tengah kekosongan itu… sesuatu berdiri.

Bentuknya tidak sepenuhnya jelas.

Tinggi.

Tegap.

Tubuhnya seperti tersusun dari potongan bayangan yang saling bertumpuk. Di bagian wajah, hanya ada cahaya samar seperti mata yang menyala redup.

“Pewaris Virellia,” suara itu kembali bergema, lebih dalam. “Kau datang lebih cepat dari perkiraan.”

Arcelia menahan napas.

“Kau yang membuka ini?” tanyanya tegas.

Retakan di belakangnya bergetar ringan.

“Aku hanya membuka pintu. Dunia kalian terlalu rapuh. Terlalu mudah disentuh.”

Arcelia mengepalkan tangan. Cahaya dan bayangan di pergelangannya berdenyut cepat.

“Kota ini bukan milikmu.”

Sosok itu seperti tersenyum, walau tidak ada bibir yang bergerak.

“Kota itu berdiri di atas sesuatu yang lebih tua dari keluargamu.”

Jantung Arcelia berdetak keras.

“Jangan bicara seolah kau tahu segalanya.”

“Aku tahu lebih banyak dari yang kau sadari.”

Tiba-tiba tekanan di sekitarnya meningkat. Bayangan di dalam retakan bergerak liar, membentuk pusaran yang menarik Arcelia masuk lebih dalam. Ia hampir kehilangan keseimbangan.

“Tidak.”

Arcelia menghentakkan energi dari dalam dirinya. Cahaya putih bercampur hitam meledak di sekelilingnya, menahan tarikan itu. Simbol di pergelangannya menyala sangat terang.

Sosok itu mengamati.

“Kau bahkan belum memahami kekuatanmu sepenuhnya.”

“Kalau begitu jelaskan!” Arcelia membalas, suaranya bergetar antara marah dan takut.

“Hanya dua jenis energi yang bisa menutup gerbang. Cahaya murni… atau bayangan absolut.”

Arcelia menegang.

“Dan kau,” lanjut suara itu, “membawa keduanya. Tapi tidak sempurna.”

Di bawah, Kota Lumin masih dalam kekacauan. Ia bisa merasakan getaran pertarungan yang Ravenor hadapi sendirian. Waktunya tidak banyak.

“Kalau aku menutup gerbang ini, semua yang kau kirim akan hilang?” tanya Arcelia cepat.

“Ya.”

“Dan kau?”

“Gerbang tertutup berarti aku tidak bisa masuk. Untuk sementara.”

Untuk sementara.

Itu bukan akhir.

Tapi itu cukup untuk malam ini.

Arcelia menarik napas dalam.

Ia menutup mata sejenak, mencoba merasakan dua sisi energi di dalam dirinya. Selama ini ia selalu menyeimbangkan keduanya. Tak pernah membiarkan salah satu lebih dominan.

Tapi sekarang… Ia harus memilih. Cahaya di tangan kanannya membesar. Bayangan di tangan kirinya menebal. Jika salah satu tidak stabil, tubuhnya bisa hancur oleh tekanan energi itu sendiri.

“Pilihanmu akan menentukan apa yang kau jadi,” suara itu berbisik.

Arcelia membuka mata. “Aku tidak akan jadi seperti yang kau inginkan.”

Ia menyatukan kedua tangannya. Cahaya dan bayangan tidak lagi bertabrakan. Kali ini… ia memaksa mereka menyatu. Energi itu meledak di sekelilingnya, membentuk lingkaran raksasa yang menyelimuti retakan. Garis hitam di langit bergetar keras.

Sosok di dalamnya mundur satu langkah. “Tidak mungkin…”

Retakan mulai menutup perlahan. Arcelia menggigit bibirnya hingga terasa asin. Tubuhnya seperti ditarik ke dua arah. Darah terasa panas di nadinya.

“Kalau kau bisa membuka pintu,” bisiknya lirih, “aku juga bisa menutupnya.”

Cahaya menyilaukan menyebar ke seluruh langit Lumin. Di bawah, bayangan-bayangan yang tersisa mulai pecah satu per satu. Retakan menyempit.

Semakin kecil.

Semakin kecil.

Hingga akhirnya... Langit kembali utuh.

Sunyi.

Arcelia terdiam beberapa detik di udara sebelum tubuhnya kehilangan tenaga.

Ia jatuh. Namun sebelum menyentuh tanah, Seseorang menangkapnya.

“Lia!”

Suara itu familiar.

Ravenor.

Arcelia membuka mata perlahan. Pandangannya buram, tapi ia masih bisa melihat langit Kota Lumin yang kini kembali biru gelap tanpa retakan.

“Kita… berhasil?” suaranya hampir tak terdengar.

Ravenor mengangguk pelan. “Untuk malam ini.”

Untuk malam ini.

Arcelia tersenyum lemah sebelum akhirnya pingsan dalam pelukannya. Dan jauh di suatu tempat yang tak terlihat oleh mata manusia… Sosok bayangan itu masih berdiri, gerbang memang tertutup. Tapi garis tipis retakan… belum benar-benar hilang.

Arcelia Virellia terbangun dengan suara pelan mesin monitor.

Bukan rumah.

Bukan kamar asramanya.

Langit-langit putih. Bau antiseptik tipis.

Rumah sakit.

Ia mencoba menggerakkan tangannya. Berat. Seperti tubuhnya baru saja diperas habis.

“Jangan dipaksa.”

Suara itu familiar.

Ravenor duduk di kursi samping ranjang, jaketnya masih penuh debu tipis. Rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang terjadi.

“Kau pingsan hampir dua belas jam,” lanjutnya.

Arcelia memejamkan mata sebentar, mengingat.

Retakan.

Sosok bayangan.

Energi yang ia satukan.

Langit yang menutup.

“Retakannya?” tanyanya lirih.

“Tidak terlihat lagi,” jawab Ravenor. “Sensor juga tidak mendeteksi anomali besar. Kota kembali normal.”

Normal.

Kata itu terdengar asing setelah malam tadi.

Arcelia menoleh pelan ke jendela. Kota Lumin terlihat biasa saja. Mobil berlalu-lalang. Orang berjalan di trotoar. Seolah tidak pernah ada sesuatu yang hampir merobek langit.

“Kau seharusnya tidak memaksakan penyatuan energi,” Ravenor berkata lebih pelan. “Itu belum stabil.”

“Aku tidak punya waktu.”

Sunyi sejenak.

Ravenor menatapnya lama, lalu menghela napas. “Kau selalu seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Mengambil beban yang bukan hanya milikmu.”

Arcelia tidak menjawab. Karena sebagian dari dirinya tahu itu benar.

Sore harinya,

Papa Alveron dan Mama Mirella datang. Keduanya terlihat lega, meski jelas menyimpan banyak pertanyaan.

“Kami hanya diberi tahu kamu kelelahan Sayang,” kata Mirella lembut sambil merapikan selimutnya.

Arcelia tersenyum kecil. “Kelelahan saja, Ma.”

Ia tidak bisa menjelaskan tentang retakan langit. Tentang makhluk dari ruang tanpa warna.

Belum.

Bang Kaiven muncul beberapa menit kemudian, berdiri di pintu sambil menyandarkan tubuhnya.

“Kamu bikin heboh satu rumah saja Dek,” katanya santai, tapi matanya jelas cemas.

Elvarin bahkan membawa balon kecil bertuliskan Get Well Soon. Melihat mereka, dada Arcelia terasa hangat. Aku menutup gerbang untuk mereka, batinnya pelan. Dan aku akan melakukannya lagi kalau perlu.

Malamnya,

Setelah keluarganya, meskipun awalnya ada debat sedikit karna ada yang tidak mau pulang. Tapi, akhirnya mereka mau pulang dan kamar kembali sunyi, Arcelia mencoba duduk.

Pergelangannya terasa hangat. Ia menatap simbol yang kini tidak hanya hitam-putih. Ada garis tipis keperakan di tengahnya. Ia menyentuhnya pelan.

“Jadi ini akibatnya…”

Penyatuan energi meninggalkan bekas.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Bukan Ravenor kali ini.

Kaelion Ravert berdiri di ambang pintu.

Ia tidak tersenyum.

“Kau hampir mati.” Kalimatnya langsung, tanpa basa-basi.

Arcelia mengangkat alis tipis. “Kabar cepat sekali menyebar.”

“Aku tidak butuh kabar. Aku merasakannya.”

Hening.

Kaelion melangkah mendekat.

“Langit berubah,” katanya pelan. “Selama beberapa menit, semuanya terasa seperti… akan runtuh.” lanjutnya

Arcelia menatapnya. “Kau merasakan itu?”

Kaelion mengangguk sekali.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Arcelia melihat sesuatu di mata Kaelion selain ketenangan dingin itu.

Takut.

“Kau tidak perlu melakukan semuanya sendiri,” katanya lebih pelan.

Arcelia menahan napas. “Aku tidak sendirian Lion.”

Ia tidak tahu apakah itu untuk meyakinkan Kaelion… atau dirinya sendiri.

Di tempat lain.

Ruang gelap tanpa batas. Sosok bayangan itu berdiri di depan garis retakan tipis yang masih menggantung seperti bekas luka.

“Menarik,” gumamnya.

“Dia memilih menyatu.”

Di sekelilingnya, bayangan-bayangan kecil bergetar.

“Jika cahaya dan bayangan sudah tidak bertarung di dalam dirinya… maka keseimbangan dunia akan berubah.”

Sosok itu mengangkat tangan.

Retakan kecil itu berkilat samar.

“Kalau pintu utama tertutup… kita buat celah lain.”

Dan jauh di atas kota Lumin yang kembali tampak damai, angin malam berhembus sedikit lebih dingin dari biasanya. Sesuatu memang telah tertutup. Tapi sesuatu yang lain... baru saja terbangun.

1
Anaya Barnes
siap kaka
makasih udah mampir🙏
mfi Pebrian
aku dah mampir yah.....cerita nya bagus.....tetap semangat.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....
Raine
jujur ceritanya bagus, tapi sedikit bosan untuk saya, narasi author di setiap bab selalu mengulang kalimat dengan arti yg sama, kayak udah baca tadi trus di baca ulang lagi dan lagi
mfi Pebrian: mampir kak di novel saya"Dialah sang pewaris"
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!