Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 22
Semakin hari Gerald jadi lebih sering menemuiku untuk menggangguku. Tidak hanya Gerald, bahkan Mark juga beserta Yuga yang selalu mengikutinya selalu mengitari kemana pun aku pergi. Namun yang lebih mengejutkannya, Tuan Josep juga lebih sering mengintaiku dari kejauhan akhir-akhir ini. Dia pikir aku tidak tahu akan hal itu? Aku yakin, tindakan Tuan Josep beberapa hari ini ada hubungannya dengan ayah. Rasanya cukup sulit untuk menemukan ketenangan di sekolah. Terkadang aku juga meminta bantuan Jina untuk menyelinap ke perpustakaan. Entah sudah sejak kapan perpustakaan menjadi tempat yang tenang bagiku. Terlebih lagi tempat ini jarang sekali digunakan oleh siswa di sekolah.
"Mila, kamu serius bertingkah seperti ini? Kamu benar-benar aneh. Kalau aku jadi kamu, aku pasti akan berjalan dengan angkuh di sekolah ini karena jadi primadona di sekolah. Kamu tahu? Di setiap sudut sekolah ini, tidak ada yang tidak mengenal kamu. Kamu terkenal Mila."
"Kamu pikir enak jadi aku? Kalau kamu tahu rasanya jadi aku, kamu tidak akan bertahan bahkan sampai matahari terbenam hari ini."
Ucapku lalu kembali meletakkan kepalaku di atas meja dengan lesu.
"Mila..."
Suara Jina berubah. Sepertinya ia mulai kasian padaku.
"Buang perasaan menjijikan itu dariku. Aku tidak butuh di kasihani orang. Untuk hidupku, aku sudah menerimanya Jina. Hanya saja, aku... Aku takut Jina."
Tiba-tiba Jina menarik tanganku dan memelukku.
"Aku tidak pandai menghibur. Aku bahkan tidak tahu cara berteman. Tapi semenjak kejadian kakak tiriku. Ayahku. Aku ingin mencoba berubah. Aku tidak mau berakhir mengenaskan seperti kakak tiriku. Sudah cukup dengan aib sebagai anak haram. Aku tidak ingin menambah beban lagi bagi ayah. Jadi kita sama-sama belajar. Aku yang belajar berubah menjadi lebih baik. Dan kamu belajar melawan rasa takutmu."
Aku menangis dalam pelukannya. Aku memeluknya erat. Selama aku berteman dengan Ara dan Karin, aku tidak pernah secengeng ini.
"Mila. Aku... Selama ini, aku minta maaf atas perlakuanku padamu. Dan juga terimakasih banyak. Kemampuanmu itu... Bagi orang sepertiku yang sudah di tolong olehmu adalah berkah. Terimakasih."
"Ternyata... Dia tahu tentang mata ketigaku."
Aku mencoba menenangkan diriku. Jina melepaskan pelukannya dan menyeka air mataku dengan tangannya.
"Siapa sangka, tangan yang dulunya menyiram tubuhku dengan seember air, sekarang malah menyeka air mataku."
Ucapku merasa lucu di tengah kesedihan ini.
"Kau masih mengingatnya ya. Maaf. Aku gila waktu itu."
"Jina, kamu tidak takut denganku?"
"Hmm... Sebenarnya aku takut. Tapi selagi aku tidak melihat apa yang kamu lihat rasanya biasa saja. Eh tapi aku penasaran, yang kamu lihat sebelum itu pasti menyeramkan kan? Pertama kali aku melihatnya saja rasanya seperti akan ada orang yang menarik rohku ke langit. Benar-benar menyeramkan!"
Aku hanya tertawa mendengarnya berceloteh. Rasanya cukup lega mengungkapkan rahasia ini pada seseorang. Ternyata... Aku bisa punya teman di sekolah ini.
"Semakin banyak yang mengetahui kemampuanku. Tapi mengapa hanya Jina yang membicarakannya? Apa yang lain... Apa ayah yang membungkam mereka? Jina memang tidak berinteraksi dengan ayah. Mungkin itu menjadi alasan Jina membicarakan hal ini denganku."
...----------------...
Aku berjalan menuju kelasku bersama Jina. Jina merangkul tanganku. Semua orang yang mengetahui konflik antara aku dan Jina sebelumnya merasa aneh melihat pemandangan ini. Namun kami mengabaikan hal itu.
Ditengah perjalananku, aku melihat Gerald yang sudah menungguku di luar kelas. Begitu pula Mark dan Tuan Josep yang dari kejauhan seperti sedang menungguku juga. Tak jauh dari tempat Gerald berdiri, sosok wanita yang penuh darah ditubuhnya terlihat olehku. Aku menyadari, gelang yang ku berikan pada Gerald tidak ada. Sontak aku melepaskan tangan Jina dan berlari ke arah Gerald. Aku mulai panik lagi. Aku ambil benang suci di saku bajuku. Aku pun mengikatkannya lagi benda itu di tangannya.
"Mila!"
Suara Mark tampak marah.
"Senior Gerald? Apa kamu masih bermain wanita?"
Tanyaku padanya untuk memastikan.
"Kenapa? Kau ingin melakukannya?"
Mendengar hal itu, Mark sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Tinjuan itu melayang di pipinya.
"Kurang ajar kau Gerald!!"
Tuan Josep yang melihat hal itu berlari kearah kami. Aku menahan Gerald yang hendak membalas pukulan Mark.
"Mark!! Tenanglah!"
Ucap Yuga yang juga ikut melerai perkelahian itu.
Gerald mulai memberontak. Aku hampir kesulitan menahan tubuh besarnya. Saat tubuhnya terlepas dari tanganku, tanpa sengaja aku menggapai kalung yang ada di lehernya. Seketika pandanganku kabur. Dan tiba-tiba saja aku sudah berada ditempat lain.