NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan yang Tak Pernah Usai

Dua bulan setelah pertemuan di kafe Kemang, Rizky dan Sasha hidup dalam kebahagiaan yang tenang. Kandungan Sasha semakin besar, dan mereka sibuk mempersiapkan kelahiran anak pertama. Kamar bayi sudah ditata dengan warna pastel, baju-baju mungil tergantung rapi di lemari.

Di sisi lain, Wira dan Ima kembali ke Kalimantan setelah urusan di Jakarta selesai. Mereka rutin mengabari Rizky dan Sasha melalui grup WhatsApp yang mereka buat bersama. Foto-foto kebahagiaan mereka—Ima dengan perut membesar, Wira dengan senyum lebar di sampingnya sering menghiasi linimasa.

Semua tampak baik-baik saja.

Tapi Rizky mulai merasa ada yang aneh.

Pesan-pesan dari Ima akhir-akhir ini datang lebih sering. Bukan di grup, tapi di chat pribadi. Awalnya hanya sekedar menanyakan kabar, lalu berkembang menjadi obrolan yang lebih panjang. Ima sering mengirim foto-foto lama, foto mereka berdua dari masa lalu, dengan caption bernostalgia.

"Ingat ini? Waktu kamu pertama kali ke rumah Ima."

"Foto ini di mall, kamu beliin Ima es krim."

"Kamu masih ingat lagu favorit kita dulu?"

Rizky awalnya menganggapnya biasa saja. Mungkin Ima hanya sedang bernostalgia, apalagi dengan kehamilannya yang membuat hormon tidak stabil. Tapi lama-lama, ia mulai merasa risih.

Suatu malam, saat Sasha sudah tidur, ponsel Rizky bergetar. Ima mengirim pesan panjang.

"Rizky, Ima harus jujur. Ima masih sering mikirin kamu. Bukan sebagai teman, tapi lebih dari itu. Ima tahu ini salah, apalagi sekarang kita sama-sama sudah menikah. Tapi Ima nggak bisa bohong sama perasaan sendiri."

Rizky membaca pesan itu berulang kali. Jantungnya berdegup kencang.

Ia membalas dengan hati-hati: "Ima, kita sudah punya pasangan masing-masing. Kamu sama Wira, aku sama Sasha. Jangan seperti ini."

"Ima tahu. Tapi hati Ima nggak bisa dibohongin."

Rizky menghela napas. Ini masalah besar.

"Ima, kita harus dewasa. Apa yang kita punya dulu sudah berlalu. Sekarang kita punya tanggung jawab baru."

Tak ada balasan setelah itu. Rizky berharap Ima mengerti.

---

Seminggu kemudian, Rizky mendapat kabar bahwa perusahaannya akan mengadakan pelatihan di Balikpapan, kota yang sama tempat Wira dan Ima tinggal. Sebuah "kebetulan" yang membuatnya gelisah.

"Siapa tahu kamu bisa ketemu Wira dan Ima di sana," kata Sasha dengan polos saat Rizky pamit. "Titip salam buat mereka, ya. Apalagi buat Ima, kasih semangat karena sebentar lagi lahiran."

Rizky tersenyum getir. Istrinya tidak tahu apa-apa.

Di Balikpapan, pelatihan berlangsung selama tiga hari. Malam pertama, setelah acara selesai, Rizky menerima pesan dari Ima.

"Ima tahu kamu di Balikpapan. Wira cerita. Ketemu, yuk?"

Rizky ragu. Tapi rasa penasaran dan... sesuatu yang lain... membuatnya mengiyakan.

Mereka bertemu di sebuah kafe dekat hotel. Ima datang sendirian, dengan gamis longgar yang menyembunyikan perutnya yang besar. Wajahnya segar, matanya berbinar melihat Rizky.

"Makasih udah mau ketemu," kata Ima duduk di hadapannya.

"Wira mana?"

"Dinas ke luar kota. Pulang dua hari lagi."

Rizky mengangguk. Suasana canggung menyelimuti mereka.

"Ima, tentang pesan kamu—"

"Hush." Ima meletakkan jari di bibir. "Nggak usah bahas itu dulu. Nikmatin dulu ketemuan kita."

Percakapan mereka mengalir. Nostalgia masa lalu, cerita tentang kehidupan masing-masing. Ima bercerita tentang pernikahannya dengan Wira, baik, tapi ada yang kurang. Rizky cerita tentang Sasha dan calon anaknya.

"Kamu bahagia?" tanya Ima tiba-tiba.

Rizky diam sejenak. "Bahagia."

"Jujur?"

"Jujur."

Ima tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. "Ima ikut bahagia."

Mereka berpisah malam itu dengan janji akan bertemu lagi sebelum Rizky pulang.

---

Malam kedua, Ima kembali mengajak bertemu. Kali ini di hotel Rizky, dengan alasan lebih nyaman dan privat. Rizky tahu ini tidak benar. Tapi entah kenapa, ia mengizinkan Ima masuk ke kamarnya.

Mereka duduk di sofa kecil dekat jendela, memandangi gemerlap kota Balikpapan. Ima melepas hijabnya, rambutnya yang sebahu tergerai.

"Ingat dulu?" bisik Ima. "Waktu kita sering lihat pemandangan malam dari jendela rumah Ima."

Rizky menelan ludah. "Ima... ini nggak benar."

"Ima tahu." Ima meraih tangannya. "Tapi cuma sekali ini, Rizky. Ima cuma mau ngerasain lagi, buat terakhir kali."

Rizky ingin menolak. Tapi tubuhnya seperti membeku saat Ima mendekat. Wangi parfum yang dulu begitu ia kenal kembali tercium.

Ima menciumnya. Lembut, ragu, lalu semakin dalam.

Rizky membalasnya.

Semua pertimbangan logis lenyap dalam sekejap. Yang ada hanya kenangan dan hasrat yang tak pernah benar-benar padam.

Mereka bercinta malam itu dengan penuh gairah, juga penuh rasa bersalah. Seperti dua insan yang kehilangan arah, mencari pelipur dalam dosa yang sama.

---

Pagi harinya, Rizky terbangun dengan Ima di sampingnya. Perempuan itu masih tertidur lelap, dengan rambut tergerai dan napas teratur.

Realitas menghantamnya seperti truk.

Apa yang telah ia lakukan?

Ia mengkhianati Sasha. Istrinya yang sedang mengandung anaknya. Perempuan yang setia menemaninya saat ia hancur. Dan Ima, ia mengkhianati Wira. Sahabatnya sendiri.

Rizky bangkit, duduk di tepi kasur dengan kepala tertunduk. Rasa bersalah mencengkeram dadanya.

Ima terbangun. Ia melihat Rizky, lalu tersenyum lembut. "Pagi."

Rizky tak menjawab.

Ima duduk, meraih bahunya. "Rizky, jangan mikir yang aneh-aneh. Ini cuma sekali. Nggak akan terulang lagi."

"Kamu yakin?" suara Rizky serak.

Ima diam. Ia sendiri tidak yakin.

"Aku harus pergi," kata Rizky. "Aku nggak bisa... aku nggak boleh..."

Ima mengangguk pelan. "Ima ngerti."

Rizky mandi, berpakaian, dan pergi tanpa menoleh. Ia meninggalkan Ima di kamar hotel itu, dengan segala konsekuensi yang menanti.

---

Sepanjang penerbangan pulang ke Jakarta, Rizky diam membisu. Pikirannya kacau. Ia tahu ini awal dari kehancuran. Entah kapan, tapi bom waktu ini akan meledak.

Sasha menjemputnya di bandara dengan senyum lebar. Perutnya semakin besar, wajahnya berseri-seri.

"Sayang!" sambutnya, memeluk Rizky erat. "Kangen banget! Tiga hari rasanya tiga tahun."

Rizky membalas pelukannya, tapi ada beban berat di dadanya.

"Gimana pelatihannya?" tanya Sasha di mobil.

"Baik," jawab Rizky singkat.

"Ketemu Wira dan Ima?"

Rizky menelan ludah. "Iya. Ketemu."

"Senang dong? Cerita dong."

"Nanti, Sha. Capek."

Sasha mengangguk mengerti, tak mendesak.

Di apartemen, Rizky merebahkan diri di sofa. Sasha sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Dari dapur, ia bersenandung riang.

Rizky menatap istrinya dari kejauhan. Perempuan yang begitu tulus mencintainya. Perempuan yang tak pantas ia khianati.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ima.

"Rizky, Ima nggak nyesel. Tapi Ima juga nggak tahu harus gimana. Kita harus ketemu lagi. Bicarain ini."

Rizky membaca pesan itu, lalu menghapusnya tanpa membalas.

Ia menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Tapi kenyataannya, ia sudah terlanjur jatuh ke jurang yang sama, bahkan lebih besar.

Dan kali ini, risikonya jauh lebih besar.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!