NovelToon NovelToon
CEO MISTERIUS ITU TERNYATA SUAMI SAYA

CEO MISTERIUS ITU TERNYATA SUAMI SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kekasih misterius
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kazuki Taki

𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 31 - 2 DUNIA 1 JANJI

Pagi itu terasa sedikit berbeda bagi Vhiena, bukan karena cuaca yang berubah ataupun suara burung yang bernyanyi di luar jendela, melainkan karena satu hal kecil yang tiba-tiba tidak lagi ada, yaitu pesan singkat dari Rizuki yang biasanya datang sebelum matahari benar-benar naik.

Perlahan Vhiena membuka mata, sementara langit-langit kamarnya masih tampak sama seperti biasanya dan tirai krem di dekat jendela bergoyang lembut tertiup angin pagi. Meski semuanya terlihat biasa saja, ada ruang kosong kecil di dadanya yang sulit ia jelaskan.

Ia bangkit duduk sambil menyandarkan punggung pada kepala ranjang, lalu menatap sekeliling kamar dengan tatapan yang sedikit melamun. “Dia benar-benar pergi…” gumamnya lirih.

Rizuki pergi untuk kuliah, begitu yang rizuki katakan sebelum berangkat, dan waktu yang ia sebutkan bukanlah waktu yang singkat, melainkan enam atau bahkan tujuh tahun yang terasa seperti jarak yang sangat panjang.

Di lantai kamar, sebuah map besar masih tergeletak rapi sejak semalam, sehingga Vhiena pun mencondongkan tubuh, menarik map itu mendekat, lalu membuka perekatnya dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat foto-foto dari perjalanan mereka di Avermont.

Tangannya berhenti ketika melihat satu foto besar berukuran 50 x 80 cm, yaitu foto formal mereka di lobi hotel Avermont, di mana ia mengenakan gaun merah marun sementara Rizuki mengenakan jas yang serasi. Raut wajah mereka terlihat dewasa dan tenang dalam foto itu; tidak ada senyum yang berlebihan, hanya ketenangan dua orang yang saling percaya satu sama lain.

Setelah menatapnya beberapa saat, Vhiena berdiri, kemudian mengambil paku kecil dan palu ringan dari laci meja.

Tok.

Tok.

Dengan dua ketukan pelan, foto itu kini tergantung di dinding kamarnya.

Ia mundur selangkah sambil menatap foto tersebut dengan lama, seakan sedang berbicara dengan sosok yang ada di dalamnya.

“Kamu kelihatan jauh di sini,” katanya pelan kepada Rizuki di foto itu. Sementara itu, dua foto kecil lainnya yang berukuran 15 x 20 cm ia ambil dengan hati-hati, lalu menempatkannya setelah mempertimbangkan beberapa saat.

Satu foto ia letakkan di meja kecil dekat ranjang, sedangkan foto yang lain ia tempatkan di meja belajarnya tepat di samping buku tulis dan pulpen.

Dengan begitu, di setiap sudut penting dalam kesehariannya, Rizuki tetap hadir—meskipun hanya melalui gambar yang diam.

Tak lama kemudian ponselnya bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat jantung Vhiena berdetak sedikit lebih cepat. Rizuki.

Tanpa menunggu lama, ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.

Rizuki: Sudah bangun?

Vhiena tersenyum tipis sebelum membalas.

Vhiena: Sudah. Kamu di mana sekarang?

Di sisi lain, Rizuki membaca pesan itu sambil duduk di kursi belakang sebuah kendaraan tertutup yang sedang melaju di jalur khusus menuju pusat kota, kemudian ia mengetik balasan dengan tenang.

Rizuki: Dalam perjalanan Hari ini aku berangkat.

rizuki tidak menjelaskan dengan detail. karena ia tahu ia sedang menutupi dunianya yang lain.

Vhiena menelan ludah ketika membaca kalimat itu.

Vhiena: Aku masih belum terbiasa dengan itu…

Beberapa detik berlalu sebelum balasan datang.

Rizuki: Aku juga. Namun ini hanya sementara.

Vhiena menatap layar ponselnya lebih lama.

Vhiena: Enam atau tujuh tahun itu lama, Ki.

Hening sejenak.

Rizuki: Waktu akan terasa lebih singkat jika kamu menjalani hari-harimu dengan baik.

Meskipun matanya mulai berkaca, Vhiena tetap tersenyum tipis.

Vhiena: Kamu selalu terdengar dewasa.

Rizuki: Aku hanya ingin kamu kuat.

Sejak hari itu, hari-hari Vhiena terasa berjalan lebih sunyi, sehingga ia mulai membantu ibunya lebih sering di rumah, mulai dari menyapu halaman pada pagi hari hingga menyiapkan sarapan bersama ibunya, sementara pada sore hari ia terkadang menemani ayahnya menyiram tanaman di halaman.

Ayahnya sesekali menyinggung tentang Rizuki. Suatu sore, sambil memegang selang air, ayahnya berkata, “Anak itu kelihatannya serius sekali dengan pendidikannya.” Vhiena mengangguk pelan. “Iya, Yah. Dia memang begitu.”

Ia tentu saja tidak tahu bahwa ayahnya sebenarnya sedang berbicara tentang seorang pemuda yang diam-diam memegang kendali Bluesky Corporation—dan mungkin jauh lebih serius daripada yang bisa mereka bayangkan.

Sore hari ketika Vhiena sedang menata buku-buku untuk kelas 3, ponselnya kembali bergetar.

Rizuki: Sudah siap untuk besok?

Vhiena: Lumayan, Seragamnya sudah rapi dan buku juga sudah siap.

Rizuki: Bagus. Kelas 3 itu penting.

Vhiena tersenyum kecil.

Vhiena: Kamu terdengar seperti guru.

Rizuki: Aku hanya ingin kamu lulus dengan baik.

Sambil membaca pesan itu, Vhiena menoleh ke foto kecil Rizuki di meja belajarnya.

Vhiena: Kamu juga harus berhasil di kuliahmu.

Rizuki: Aku akan berusaha.

Ia berhenti sejenak sebelum menutup layar ponselnya. Untuk masa depan, Untuk masa depan kita, pikirnya, meskipun kalimat itu tidak pernah ia kirimkan.

Sementara itu, kendaraan yang membawa Rizuki telah memasuki jalur khusus menuju Gedung Cakrawala. Gedung itu tegak menembus langit. tanpa seorang pun tau tentang pemiliknya, dan bahkan sebagian besar karyawan tidak pernah tahu kapan pemilik perusahaan mereka datang atau pergi.

Lift khusus membawa Rizuki langsung menuju lantai 99. Ketika pintu lift terbuka otomatis, ruangan kerja yang luas dan elegan menyambutnya.

Rizuki melangkah masuk dengan tenang.

Seragam sekolah yang biasanya ia kenakan kini telah digantikan oleh kemeja gelap dan celana formal, sehingga aura remaja yang sering ia tampilkan menghilang dan digantikan oleh ketenangan dingin seorang pemimpin.

Ia duduk di kursi kerjanya, kemudian mengeluarkan ponsel kedua—ponsel khusus yang digunakan untuk mengelola Bluesky Corporation.

Layar menyala, menampilkan laporan pembangunan dari Kota Ravelin.

Pembangunan sekolah: dimulai

pembangunan Rumah sakit: di mulai

Pabrik manufaktur: tahap awal rekrutmen.

Rizuki menyandarkan punggungnya sambil mengamati data tersebut.

“Bagus,” gumamnya pelan.

Untuk saat ini belum ada integrasi dengan R Technology, karena ia hanya mengamati, mengumpulkan data, mempelajari dampak ekonomi, serta membaca grafik tenaga kerja dengan teliti.

Setelah itu ia membuka peta digital. Beberapa titik kota kecil mulai menyala di layar—kota-kota yang memiliki pola yang hampir sama dengan Ravelin, yaitu tingkat pengangguran tinggi, pendidikan rendah, tetapi memiliki potensi sumber daya yang besar.

Rizuki menatap peta itu dengan fokus. “Di sinilah,” katanya lirih. Bagi Rizuki, ini bukanlah ekspansi yang serakah, melainkan rencana keberlanjutan.

Anak-anak perusahaan Bluesky akan berdiri secara mandiri, menyerap tenaga kerja lokal, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar tanpa perlu sorotan media ataupun pencitraan.

Di tengah analisis data yang sedang ia lakukan, ponsel pertamanya kembali bergetar.

Vhiena.

Rizuki menarik napas pelan sebelum membuka pesan tersebut.

Vhiena: Aku pasang foto kita di kamar.

Rizuki berhenti membaca layar laporan sejenak.

Rizuki: Aku senang mendengarnya.

Vhiena: Rasanya kamu tidak benar-benar pergi.

Rizuki: Aku tidak pernah benar-benar pergi.

Beberapa detik kemudian pesan baru muncul.

Vhiena: Kamu janji akan sering kasih kabar?

Rizuki: Aku janji.

Vhiena tampaknya mengetik cukup lama sebelum mengirim pesan berikutnya.

Vhiena: Kalau kamu lelah di sana… ingat, ada aku yang selalu menunggu.

Rizuki menutup mata sesaat.

Ucapan ayah Vhiena beberapa waktu lalu kembali terngiang di kepalanya.

“Jika suatu hari kami tak lagi mampu menjaga dia…”

Rizuki membuka mata.

Rizuki: Aku akan selalu kembali.

Malam itu Vhiena memutuskan tidur lebih awal karena esok hari adalah hari pertama kelas 3. Seragam sekolahnya sudah tergantung rapi, sementara tas sekolah sudah disiapkan di dekat pintu kamar.

Setelah mematikan lampu utama dan menyisakan lampu meja kecil, ia berbaring sambil menatap foto Rizuki yang tergantung di dinding.

“Besok aku mulai langkah baru,” bisiknya pelan. “Tunggu aku juga, ya.”

Di lantai 99 Gedung Cakrawala, pada saat yang sama Rizuki berdiri di depan jendela besar sambil menatap kota yang berkilau di bawah cahaya malam.

Ia mematikan layar laporan perusahaan. Pada hari itu, ia bukan hanya CEO sebuah perusahaan besar, dan bukan pula mahasiswa yang akan belajar di luar negeri menurut pandangan vhiena, Ia hanyalah seorang pria yang menyimpan sebuah janji— dan berniat menepatinya, apa pun harga yang harus ia bayar.

1
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Vhiena malu-malu kucing/Proud/
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧: Iyaa/Smirk/
total 2 replies
Andik Rifai
sukaa bangeeettt. biasanya tuh alur percintaan CEO sama orang biasa kan ntah di jodohin tapi ditolak ntah dramanya harus diculik, atau keluarga berantakan broken home dll. tp ini tuh mengalir damai tanpa banyak drama. ini real cowok dingin sih ga banyak bacot atau suka ngancem ceweknya. fav banget cerita ini.. btw aku cewek yaa
Kazuki Taki: terimakasih kk
total 1 replies
✧ 𝒩ℴ𝓃𝒶̀_𝒮𝓎𝒶𝒶 ✧
Penyamaran yg bagus🙏😭

SMA kls 3, trnyta CEO😌
Kazuki Taki: 🥰❤, terimakasih kk
total 5 replies
Ananda Andin Angraini
Kebanyakan titik dan banyak lanjutan kata, alangkah baiknya jika d sambung jadi satu.

cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
Ananda Andin Angraini: Wokeh /Tongue//Facepalm/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
koreksi dkit ah
Kazuki Taki: koreksi di persilahkan kk 😀
total 1 replies
Ananda Andin Angraini
setinggi apa ya? /Shy/
Ananda Andin Angraini
/Doge/
Ananda Andin Angraini
berisik tapi ngangenin ya. /Joyful/
Ananda Andin Angraini
Untungnya bukan kata 'Y' doank /Facepalm/
Ananda Andin Angraini
"Mungkin." bisa iya, bisa tidak. /Chuckle/
Kazuki Taki: yang jelas iya, soalnya penasaran sama tu cwe🤭
total 1 replies
Kazuki Taki
sudahh kan 🤣
Ananda Andin Angraini
Tanda kutip kurang dan salah tempat kak, harusnya "Rizuki!" /Applaud/
Ananda Andin Angraini
Ah berharap pas dia jatuh d belakangnya ada Rizuki, /Proud/
Ananda Andin Angraini
iya nunggu ayank beb /Joyful/
Ananda Andin Angraini: hilal THR masih belum nampak /Chuckle/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
hmmm,
Ananda Andin Angraini
Da emnk bos muda. /Proud/
Ananda Andin Angraini
Singkat, jelas dan minta di lempar sendal. /Joyful/
Ananda Andin Angraini: Wah ternyata seperti itu /Chuckle/
total 2 replies
Ananda Andin Angraini
udah tanda2 nih Rizuki. /Proud/

kak skip titiknya /Whimper/
Ananda Andin Angraini
bagian akhir, kalau narasinya di satuin lebih baik kak. 🙏/Bye-Bye/
Ananda Andin Angraini
lebih menantang ya Vhin? /Grin/

Skip titiknya kak. /Bye-Bye/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!