Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Dewa langsung masuk kedalam kamar Ana setelah mengetuk pintu.
“Mas Dewa sudah pulang?” tanya Ana riang, membuat Dewa mengerutkan alisnya.
“Kau sudah baik saja?” tanya balik Dewa, penuh selidik.
“Aku baik-baik saja mas, tidak perlu khawatir, aku kan kuat,” jawab Ana cengengesan, membuat Dewa berdecih.
“Siapa yang khawatir, aku hanya nanya saja, bagus lah kalau kau baik-baik saja, aku tidak mau makan sendiri, tanganku pegel kalau makan sendiri.” jawab Dewa acuh.
“Bilang saja malas, mas Dewa itu lho udah gede, makan saja malas, nanti kalau beneran gak dikasih tangan sama Tuhan gimana, mau.” balas Ana mengejek.
“Kau nyumpahi aku gak punya tangan, mulutmu kejam sekali, kalau sampai iya, kontrakmu seumur hidup.” ucap Dewa kesal.
“Makanya bersyukur dan digunakan dengan baik tuh tangan, jangan hanya buat bully orang aja.” lanjut Ana ngegas.
“Cerewet, kan ada loe, lalu buat apa loe ada disini kalau gak disuruh, mau gaji buta.” jawab Dewa tidak mau kalah.
“Aku bayar hutang mas, gak digaji.” sahut Ana kesal kalau ingat hanya menabrak sedikit, harus jadi babu bertahun-tahun, sungguh sial.
“Nah itu tahu, ternyata emang dah sembuh kamu, udah pinter berdebat lagi, inget ya pacar, harus nurut.” ledek Dewa tersenyum tengil, membuat Ana geram, apa lagi kalau mengingat ia jadi pacar Dewa hanya gara-gara mau dimasukkan kedalam kolam, sungguh menyedihkan.
“Tau ah pacar apa an, kalau gak diancam aku juga ogah jadi pacar mas Dewa, mana ada pacar malah ditindas.” sahut Ana membuat Dewa hanya mesem, malah melempar tasnya keatas ranjang Ana, dan berbaring disana.
“Keluar mas, kenapa malah rebahan disini, nanti kalau mahluk jadi-jadian itu melihat bisa berabe,” ucap Ana berkacak pinggang.
“Tenang aja tiga hari ini ia gak tidur sini, lagi sibuk tuh Mangga, jadi gak pulang, sudah diem, aku lemes, laper, mau tidur, jadi jangan ganggu.“ balas Dewa malah tengkurap menutup matanya.
“Astaga, bukan yang punya rumah sudah aku seret kamu mas,” gerutu Ana yang mengalah dan keluar kamar, bisa darah tinggi lama-lama berdebat dengan Majikan rasa pacar menyebalkannya itu.
Bik Sum yang melihat Ana ngomel, tersenyum lega.
“Kenapa to non, ngomel kayak tawon,” canda bik Sum sembari tersenyum.
“Tuh majikan, seenak jidat malah tidur dikamar aku bik, kesel jadinya,” sahut Ana dengan pipi mengembung lucu.
“Sudah biarkan saja, ayo cepat makan, sudah bibik masakin, biar cepat sembuh, makan yang banyak,” bik Sum menarik lengan Ana untuk duduk.
“Yang lain puasa bik, masa Ana makan,” ucap Ana tidak nyaman.
“Mba Wati gak, lagi halangan, bentar bibik panggil kan biar ada temennya kamu makan,” ucap bik Sum yang langsung berlalu kebelakang memanggil Wati, Ana hanya nurut saja, tidak lama Wati datang tersenyum canggung.
“Sudah temenin non Ana makan, bibik tinggal,” ucap bik Sum meninggal kan mereka berdua, mereka pun akhirnya makan dengan tenang diselingi obrolan hangat, sampai mereka selesai. Ana pun yang bosan akhirnya keluar, ingin menyiram tanaman yang ada dihalaman rumah, sambil bersenandung dengan nada yang amburadul ia menyiram bunga, sampai sebuah mobil berhenti dihalaman rumah membuat jantung Ana serasa berhenti, tidak ada tempat untuk kabur, ia berdiri kaku saat ketiga pemuda itu keluar dari mobil, dan mereka sama tercengang nya melihat keberadaan Ana berdiri tidak jauh dari mereka, bahkan Aldo menggosok kedua matanya tidak percaya.
“Tian, coba pukul gue, kayak nya gue mimpi, atau mata gue yang sudah tidak berfungsi, kok ada si botol Yakult disini.” ucap Aldo dan tidak lama sebuah pukulan mendarat dikepalanya.
“Aduh.. setan, kenapa keras sekali loe mukul gue, panjol,” teriak Aldo mengusap kepalanya.
“Nah, berarti loe gak sedang mimpi,” jawab Aldi santai, sedangkan Cristian menatap Ana lekat, banyak pertanyaan bersarang di otaknya, ia pun melangkah dengan tegas, berdiri tegap dihadapan Ana, membuat gadis itu menjadi kikuk.
“Hai kak Tian,” sapa Ana cengengesan, tidak tahu harus apa.
“Kok loe disini?” tanya Tian langsung.
“Ya emang aku tinggal disini,” jawab Ana tersenyum.
“Apa!!” teriak mereka serempak terkejut. Ana sampai menutup telinganya saking nyaringnya mereka berteriak.
“Gak usah kaget gitu, biasa saja, disini aku jadi babunya mas Dewa kok.” lanjut Ana.
“Apa?!!” kembali mereka berteriak, membuat Ana menggosok telinganya, rasanya ingin menendang mereka, karena telinganya terasa sakit.
“Bisa gak jangan berteriak, sakit telingaku.” dengus Ana kesal.
“Loe gak bercanda kan?” tanya Aldi yang masih tidak percaya.
“Emang terlihat bercanda,” jawab Ana santai.
“Asu Dewa, tega bener jadiin anak orang babu gratisan.” ucap Tian, sungguh tidak menyangka, Dewa akan sejauh itu membuat perhitungan kepada Ana.
“Dimana Dewa?” tanya Tian lagi.
“Ada dikamar aku, sedang tidur “ jawab Ana keceplosan.
“Apa?!!!” teriak mereka kembali heboh, bahkan kali ini Ana sampai terlonjak karena kaget.
“Astaga bisa jantungan aku,” gerutu Ana.
“Heh!, ngapain Dewa tidur dikamar loe, kalian habis ngapain hayo.” tanya Aldo, yang langsung di tabok bibirnya sama Ana.
“Sembarangan mulutnya, bulan puasa ini, ya Cuma tidur aja, katanya kecapean dari kampus.” jawab Ana tidak terima dituduh ngapa-ngapain.
“Lha, wajar dong, lagian Dewa punya kamar sendiri ngapain tuh bocah tidur dikamar loe,” balas Aldo masih tidak terima.
“Tadi tuh mas Dewa jenguk aku, kemaren kan aku sakit, ni aja aku gak puasa, nah dia rebahan trus tertidur, ya aku tinggal, nih buktinya aku disini.” ucap Ana membela diri, Cristian memicing curiga, biasanya Dewa bukanlah orang yang mudah dekat dengan cewek, bahkan Oliv saja dulu sebagai pacar tidak pernah masuk kedalam kamar Dewa, ini kok malah Dewa yang masuk ke kamar cewek, sungguh diluar nalar.
“Yuk kedalam, penasaran gue,” ucap Aldi menerobos masuk.
“Jangan dibangunkan, mas Dewa baru tidur, nanti ngamuk.” teriak Ana yang tidak digubris oleh mereka.
Begitu sampai tangga mereka baru sadar, kalau mereka tidak tahu dimana kamar Ana.
“Astaga, dimana kamarnya, main kabur aja gak nanya yang mana kamarnya, tanya gih sana.” perintah Aldi kepada Aldo. Aldo mendengus kesal dan kembali turun menuju halaman depan, dimana Ana kembali menyiram bunga.
“Woy Na, dimana kamar loe?.” tanya Aldo, Ana menoleh.
“Cari sendiri.” jawabnya kesal.
“Busyet ngambek, awas kalau ketemu, aku obrak-abrik kamar loe,” ancam Aldo menyeringai, membuat Ana bertambah kesal, melempar selang, dan mematikannya, ia berjalan menghentak melewati Aldo, membuat Aldo tersenyum.
“Lucu juga, jadi pengen punya satu,” gumam Aldo mengikuti langkah Ana menuju tangga dimana kedua temannya yang masih berdiri disana. Cristian semakin penasaran, bukankah kamar pekerja berada dibelakang, sedangkan Ana malah naik keatas, pikiran mereka hampir sama dan saling lirik, tapi tetap mengikuti langkah Ana yang sedang terlihat kesal.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰