Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Balik Pintu Gudang Bola
Sore itu, GOR Universitas Cakrawala dipenuhi oleh aroma keringat yang bercampur dengan pembersih lantai. Suara decit sepatu basket yang beradu dengan semen halus terdengar seperti musik yang memacu adrenalin. Hari ini adalah latihan terakhir sebelum tim berangkat menuju lokasi turnamen besok pagi. Ketegangan terasa di udara, namun di sudut hati Justin dan Liana, ada ketegangan lain yang jauh lebih manis.
Kaila sedang sibuk memberikan instruksi terakhir pada tim putri di tengah lapangan. Sementara itu, tim putra sedang melakukan latihan tembakan bebas. Justin, sebagai kapten, tampak mengawasi dengan wibawa biasanya. Namun, setiap kali Liana berlari melewatinya, ada kilatan rahasia di matanya yang hanya bisa ditangkap oleh gadis itu.
"Oke, semuanya! Istirahat lima menit!" teriak Kaila. "Tim inti, siap-siap simulasi strategi terakhir!"
Justin melihat keranjang bola di pinggir lapangan mulai kosong. Beberapa bola sudah kempis dan perlu diganti dengan yang baru dari gudang peralatan.
"Liana," panggil Justin dengan nada suara sedatar mungkin, seolah-olah ia hanya memanggil junior biasa.
Liana yang baru saja meminum air mineralnya menoleh. "Iya, Kak?"
"Ikut gue ke gudang. Bantu bawa keranjang bola baru. Yang ini sudah nggak layak pakai," perintah Justin.
Liana mengangguk patuh, meski jantungnya mulai berdegup kencang. "Baik, Kak."
Beberapa anggota tim lain hanya melirik sekilas. Bagi mereka, ini hal biasa—kapten menyuruh maba untuk membantu urusan peralatan. Namun, Dhea yang sedang mengelap keringat sempat menyenggol lengan Liana sambil berbisik, "Ciye, tugas negara atau tugas hati nih?"
Liana hanya melotot pelan ke arah sahabatnya sebelum berjalan membuntuti langkah lebar Justin menuju pintu besi di pojok GOR.
Gudang bola adalah ruangan kecil yang pengap, dipenuhi rak-rak besi tinggi yang memuat bola basket, jaring cadangan, dan berbagai peralatan olahraga lainnya. Begitu mereka masuk, aroma karet bola yang khas menyambut mereka.
Justin menutup pintu besi itu. Begitu suara klik kunci terdengar, suasana berubah seratus delapan puluh derajat. Justin tidak langsung menuju rak bola. Ia berbalik dan menatap Liana yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
"Capek?" tanya Justin. Suaranya melembut, sangat berbeda dengan suaranya di lapangan tadi.
Liana mengembuskan napas lega, bahunya yang tegang mulai rileks. "Sedikit, Kak. Kak Kaila kalau kasih menu latihan beneran nggak main-main."
Justin melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka di ruang yang sempit itu. Ia mengulurkan tangan, menyeka sisa keringat di dahi Liana dengan ibu jarinya. "Tahan sebentar lagi. Besok kita sudah mulai tanding. aku mau kamu fokus, tapi jangan sampai jatuh sakit lagi."
Liana tersenyum, menatap mata tajam Justin yang kini penuh kelembutan. "Iya, Captain Ice Cream. aku bakal jaga diri kok."
Justin terkekeh mendengar panggilan kesayangan yang diberikan Liana di kontak ponselnya. Ia menarik Liana lembut ke dalam pelukannya. Di tengah tumpukan bola basket dan jaring, mereka menikmati momen singkat tanpa gangguan mata-mata kampus. Justin mengecup puncak kepala Liana dengan sayang.
"Setelah turnamen selesai, aku rasa kita nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi begini," bisik Justin di telinga Liana.
"Tapi Kak, gimana kalau Alena atau yang lain—"
Belum sempat Liana menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki yang berat dan cepat terdengar mendekat ke arah gudang. Disusul oleh suara siulan yang sangat familiar.
"Tin! Justin! Lo di dalem? Woi, bola barunya mana? Anak-anak mau scrimmage nih!" teriak Raka dari balik pintu.
Mata Liana membelalak panik. Ia langsung melepaskan pelukan Justin dan melompat mundur, hampir menabrak rak besi. Justin pun tersentak, ia segera menyambar sebuah bola dari rak terdekat agar terlihat sibuk.
"Iya! Sebentar!" jawab Justin dengan nada yang diusahakan tetap tenang, padahal jantungnya juga berpacu cepat.
Handle pintu mulai bergerak-gerak. Raka mencoba membukanya dari luar.
"Kok dikunci sih? Tin, buka woi! Jangan bilang lo lagi tidur siang di dalem!" seru Raka lagi, kali ini terdengar lebih curiga.
Liana panik luar biasa. Ia melihat ke sekeliling, mencoba mencari tempat sembunyi, namun ruangan itu terlalu sempit. Ia akhirnya hanya bisa berdiri kaku di belakang rak besi besar, berpura-pura sedang mengecek tekanan udara bola.
Justin menarik napas dalam, menetralkan raut wajahnya, lalu membuka kunci pintu.
Sret!
Pintu terbuka, menampakkan wajah Raka yang penuh keringat dan rasa penasaran. Mata Raka langsung menyapu seluruh isi ruangan. Ia melihat Justin yang sedang memegang bola, lalu matanya beralih ke arah Liana yang berdiri agak jauh di belakang.
"Lho? Ada Liana juga?" tanya Raka, alisnya terangkat sebelah. Matanya yang jeli mulai menyadari sesuatu. Suasana di gudang itu terasa... berbeda. "Lama banget kalian di dalem. Ngapain aja? Nyari bola apa nyari harta karun?"
Justin menatap Raka dengan tatapan "dingin" andalannya. "Bolanya ketumpuk di rak paling belakang. Liana bantu geser raknya. Kenapa? Masalah?"
Raka menyeringai jahil. Ia masuk ke dalam gudang, berjalan mendekati Liana yang wajahnya sudah semerah tomat. Raka memperhatikan napas Liana yang sedikit tidak beraturan.
"Geser rak ya? Kok mukanya Liana merah banget kayak habis lari maraton?" tanya Raka memancing.
Liana tergagap. "E-eh, itu Kak... di sini pengap banget. Panas."
Raka manggut-manggut dengan gaya yang dibuat-buat. "Oh, pengap ya? Gue pikir ada 'panas' yang lain di sini." Raka kemudian melirik Justin yang sudah siap-siap ingin menendang bokongnya. "Oke, oke. Kapten jangan galak-galak. Ayo bawa bolanya keluar, Kaila sudah mulai ngomel di lapangan."
Raka berbalik pergi sambil tetap bersiul, namun sebelum benar-benar keluar, ia menoleh lagi dan mengerlingkan matanya pada Justin. "Lain kali kalau mau 'diskusi strategi' di gudang, pastiin pintunya nggak dikunci, Tin. Malah makin mencurigakan tahu nggak."
Setelah Raka menghilang, Liana hampir saja merosot ke lantai karena lemas. "Aduh, Kak... Kak Raka pasti curiga."
Justin menghela napas, ia mendekati Liana dan menepuk bahunya pelan. "Tenang aja. Raka emang mulutnya ember, tapi dia setia kawan. Dia nggak bakal bocorin ke siapa-siapa, apalagi ke Alena."
Liana menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Semoga ya, Kak. Saya beneran takut kalau konsentrasi tim pecah gara-gara kita."
"Nggak akan," tegas Justin. Ia mengambil keranjang bola dan memberikannya pada Liana. "Ayo keluar. Anggap aja nggak terjadi apa-apa. Fokus ke turnamen besok. Itu yang paling penting sekarang."
Mereka berdua keluar dari gudang dengan wajah seprofesional mungkin. Namun, di kejauhan, di bangku penonton yang gelap, Alena ternyata masih di sana. Ia tidak mendekat, namun matanya yang tajam menangkap momen saat Justin dan Liana keluar dari gudang bersama-sama dengan wajah yang sedikit salah tingkah.
Alena tersenyum sinis. "Jadi, benar dugaan gue. Gudang bola ya? Klasik banget."
Ia merogoh ponselnya, bukan untuk mengirim pesan ke siapa-siapa, melainkan untuk melihat kembali foto sepatu basket Liana yang sudah ia "siapkan" tadi siang.
"Nikmati momen manis kalian selagi bisa," bisik Alena pada kegelapan. "Karena besok, manisnya bakal berubah jadi darah."