Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lidya menarik sudut bibirnya saat melihat Fatwa geram karena pukulannya pada Kevin ditangkas di udara. Dengan gerakan singkat tanpa ragu, Lidya mengibaskan tangan tua itu menjauh, cukup kasar hingga Fatwa terhuyung setengah langkah.
“Nenek tahu nggak, ini negara hukum,” ucap Lidya santai namun dingin. “Kalau orang yang Nenek pukul nggak terima, Nenek bisa masuk penjara.”
Fatwa tersentak. Emosinya yang sudah meluap membuat napasnya memburu. Dengan tangan gemetar, ia mengacungkan jari ke arah Lidya.
“Kamu jangan ikut campur!” bentaknya. “Dasar gadis ingusan!”
“Memangnya kenapa?” jawab Lidya ringan, seolah hinaan itu tidak ada artinya.
“Kamu!” Fatwa mendesis, suaranya bergetar. Amarah membuat wajahnya memerah, dadanya naik turun tidak beraturan.
Iren yang melihat kondisi itu langsung merangkul tubuh Fatwa dari samping. “Ibu, Ibu baik-baik saja?” suaranya terdengar panik.
Sementara itu, Vano yang masih setia merangkul bahu Iren menatap Lidya dengan sorot merendahkan. “Ini bukan urusanmu. Kamu masih muda. Nggak malu nanti dicap pelakor?”
Lidya melipat tangan di dada, lalu mendengus kecil. “Aku dicap pelakor?” katanya sambil mengangkat alis. “Orang yang ngomong gitu tandanya buta.”
Iren tersentak. Kesabarannya runtuh seketika.
“Kamu sudah jalan sama suami saya,” bentaknya. “Harusnya kamu sadar diri kalau nggak mau dicap gadis murahan!”
Lidya berdecak pelan, lalu melangkah mendekat ke arah Kevin yang sejak tadi hanya mengamati dengan rahang mengeras. Dengan sengaja, Lidya menyenggol lengan Kevin.
“Ini istrimu?” bisiknya pelan tapi tajam. “Pilihanmu… bagus juga.”
“Jangan urusin masalahku,” ujar Kevin rendah, suaranya tertahan. “Lebih baik kamu pergi dari sini. Biar aku yang tangani semuanya.”
Lidya menoleh cepat. “Nggak bisa,” sahutnya. “Sekalian saja. Lihat, biar aku bereskan.”
“Kalian malah ngobrol berdua,” tuduh Vano. “Kalian mau kabur ya?”
Alih-alih menjawab, Lidya justru tersenyum miring. Pandangannya berkeliling, memastikan perhatian pengunjung restoran sudah setengah tersedot ke arah mereka. Ia lalu meraih gelas kosong di meja sebelah beserta sendoknya.
Tanpa banyak bicara, Lidya mengetukkan sendok ke bibir gelas.
Ting.
Ting.
Ting.
Dentingannya nyaring, memecah riuh restoran. Percakapan terhenti. Beberapa pengunjung menoleh penuh rasa ingin tahu.
“Perhatian!” suara Lidya lantang dan jelas. “Tolong buka mata baik-baik.”
Ia mengangkat tangan, menunjuk Kevin, lalu menggeser jarinya ke arah Iren dan Vano.
“Menurut kalian,” lanjutnya tanpa ragu, “yang selingkuh itu aku sama lelaki ini, atau mereka?”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang sunyi yang menusuk.
“Perempuan ini bilang dia seorang istri,” Lidya menunjuk Iren. “Tapi laki-laki yang rangkul dia sekarang bukan suaminya.”
Restoran mendadak senyap. Beberapa pasang mata mulai beralih ke lengan Vano yang masih melingkar di bahu Iren. Bisik-bisik kecil kembali terdengar, kali ini arahnya berubah.
Iren refleks menepis tangan Vano.
“Apa-apaan kamu!” hardik Iren pada Lidya dengan nada gugup.
Vano terdiam, wajahnya menegang. Ia tidak menyangka gadis ingusan itu bisa memutar balikkan fakta.
Fatwa mendengus keras sambil melotot ke arah Lidya. “Kurang ajar. Kamu sengaja bikin malu keluarga kami.”
Namun Lidya justru terkekeh kecil tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Bukan aku yang bikin malu,” katanya santai, seolah tudingan itu tidak berarti apa-apa. “Aku cuma nunjukin apa yang kelihatan.”
Iren menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosinya sebelum situasi semakin tak terkendali. Dengan suara yang dipaksakan tetap tenang, ia akhirnya berkata,
“Aku dan dia hanya teman. Kami makan bertiga bersama ibuku. Jadi tuduhanmu tidak berdasar.”
“Oh ya?” Lidya mengangguk pelan seakan mencerna penjelasan itu, tetapi detik berikutnya ia justru menggenggam lengan Kevin tanpa ragu.
Kevin refleks menegang dan berusaha menarik lengannya, sayangnya Lidya tidak bergeming. Pegangannya justru semakin kuat seolah sengaja menunjukkan sesuatu.
“Aku dan Kak Kevin juga cuma adik kakak,” lanjut Lidya enteng. “Jadi apa salahnya kalau kami makan bareng? Tuduhan kamu juga nggak berdasar dong kalau bilang suamimu selingkuh sama aku.”
Kevin menoleh cepat dengan nada tertahan. “Lidya—”
Namun semuanya sudah terlambat. Lidya melangkah lebih dekat, lalu dengan gerakan cepat tanpa ragu ia mengecup pipi Kevin. Suara kecupan itu memang tidak keras, tetapi cukup jelas terdengar di tengah keheningan restoran yang mendadak membeku.
“Karena kami adik kakak,” lanjut Lidya ringan, seolah baru saja melakukan hal paling wajar di dunia, “kecupan ini tanda sayang. Nggak masalah juga kan?”
Kevin terpaku. Rahangnya mengeras sementara napasnya tertahan. Ia tidak sempat bereaksi apa pun selain menoleh dengan tatapan kaget bercampur amarah.
Di sisi lain, Iren membeku lebih dulu sebelum wajahnya berubah pucat dan kemudian memerah oleh emosi yang meledak.
“Kamu—!” suaranya bergetar. “Kamu sengaja!”
Lidya hanya mengangkat bahu dengan santai. “Sengaja apa? Aku cuma pakai logika kamu.”
Vano yang sejak tadi menahan diri akhirnya melangkah maju satu langkah. “Kamu keterlaluan.”
“Enggak,” potong Lidya cepat tanpa memberi celah. “Aku konsisten.”
Ia lalu menoleh ke arah para pengunjung yang sejak tadi memperhatikan dengan tatapan penasaran.
“Tadi kalian bilang ini selingkuh, kan? Sekarang aku pakai alasan yang sama kayak mereka. Masih salah?”
Tak ada yang menjawab. Yang terdengar justru bisik-bisik yang semakin liar dan menekan suasana.
Iren mengepalkan tangan, dadanya naik turun menahan emosi yang sudah hampir meledak. “Kevin,” katanya tajam. “Kamu biarin dia melakukan ini?”
Akhirnya Kevin bersuara. Nadanya rendah, dingin, dan tegas.
“Cukup.”
Ia melepaskan lengannya dari genggaman Lidya dengan kekuatan yang kali ini tidak bisa ditahan, lalu berdiri dengan sikap tegak.
“Ini restoran, bukan tempat kalian bikin drama,” lanjutnya sambil menatap Iren, Vano, dan Fatwa tanpa gentar. “Kalau mau ribut, jangan di sini.”
Fatwa hendak menyela, tetapi Kevin lebih dulu melanjutkan,
“Untuk sementara ini aku masih suami Iren, dan masalah rumah tangga kami bukan urusan publik.”
Lidya menatap Kevin sekilas. Ada kilat kecil di matanya, bukan tersinggung, melainkan seolah sedang menilai ulang.
“Wah,” gumamnya pelan. “Ternyata kamu masih punya batas.”
Kevin menoleh tajam. “Dan kamu sudah melewati batas itu.”
Lidya tersenyum miring. “Tenang. Aku cuma bantu kamu kelihatan jujur.”
Ia meraih tasnya dan bersiap pergi, tetapi sebelum benar-benar melangkah, ia menoleh ke arah Iren sekali lagi dengan senyum tipis yang menusuk.
“Oh iya, kalau mau nuduh orang selingkuh, pastikan posisi kamu bersih dulu.”
Seketika itu suasana dalam restoran menjadi hening, terutama Iren yang merasa tertampar dengan kalimat Lidya.