Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Gedung apartemen.
Mobil Dev berhenti tepat di depan lobi, suasana malam terasa tenang dengan cahaya lampu gedung yang menerangi sekitar. Dev menoleh ke arah Lolitta yang masih duduk di sampingnya, wajahnya terlihat santai namun tatapannya dalam.
"Kakek ingin kita makan bersamanya, besok aku akan datang menjemputmu," kata Dev.
"Baiklah," jawab Lolitta singkat, lalu hendak membuka pintu untuk turun.
Namun tiba-tiba Dev menahan lengannya. Gerakan itu membuat Lolitta berhenti dan kembali menatapnya. Jarak mereka kini sangat dekat, napas keduanya hampir bersentuhan.
"Beri aku ciuman," ucap Dev pelan sambil mendekat, berniat mencium bibir gadis itu.
Namun dengan sigap, Lolitta menahan dada Dev dengan tangannya, mencegahnya mendekat lebih jauh.
"Sudah malam. Terima kasih karena telah mentraktirku makan," ucap Lolitta tenang namun tegas.
Tanpa memberi kesempatan lagi, ia langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Pintu tertutup pelan di belakangnya, sementara ia berjalan masuk ke dalam gedung tanpa menoleh lagi.
Dev menghembuskan napas pelan, matanya masih mengikuti sosok Lolitta yang semakin menjauh hingga menghilang di balik pintu lobi.
"Shane, sepertinya Lolitta masih menjaga jarak denganku," ujar Dev.
Shane yang duduk di depan menatap melalui kaca spion tengah.
"Tuan, mungkin ada yang membuatnya tidak percaya pada Anda," jawab Shane hati-hati.
Dev terdiam, tatapannya masih tertuju ke arah pintu masuk gedung apartemen.
"Hari ini Carmen Hong mendatangi pabrik. Saya mendapat informasi bahwa dia ingin menggantikan Nona Fang sebagai manajer, dan ada seseorang yang mendukungnya dari belakang. Mengenai siapa orangnya, masih sedang saya cari tahu," kata Shane dengan nada serius, matanya sesekali melirik ke arah Dev melalui kaca spion.
"Cari tahu siapa dia dan pecat," ucap Dev dingin tanpa ragu. "Siapa dia sampai berani membuat keputusan sendiri?" lanjutnya, rahangnya mengeras menahan amarah. "Bagaimana dengan orang itu?"
"Sudah ditahan, Tuan," jawab Shane singkat.
Dev terdiam sejenak. Tangannya perlahan bergerak membuka kancing lengan kemejanya satu per satu, gerakannya tenang namun sarat emosi yang tertahan.
"Tanganku sudah lama tidak memukul orang," katanya rendah, suaranya terdengar dingin dan berbahaya. Ia menyandarkan punggungnya, tatapannya berubah tajam. "Malam ini... aku sangat ingin menghajarnya."
***
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gudang tua yang gelap dan sepi. Angin malam berhembus dingin, membawa suasana mencekam. Dev turun dari mobil dengan langkah tenang, diikuti Shane yang langsung memberi isyarat pada anak buahnya.
Di dalam gudang, pria yang tadi mengikuti Lolitta sudah berlutut dengan tangan terikat di belakang. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar ketakutan.
Dev mendekat perlahan, setiap langkahnya terdengar jelas di lantai beton.
"Angkat kepalamu," ucapnya dingin.
Pria itu ragu, tapi akhirnya menuruti. Tatapan mereka bertemu—dan saat itu juga, pria itu tahu ia tidak akan keluar dengan mudah.
"Kau yang mengikuti Lolitta?" tanya Dev.
Pria itu membuka mulut, tapi belum sempat menjawab—
BUGH!
Tinju Dev langsung menghantam wajahnya tanpa peringatan. Kepalanya terhempas ke samping, darah segar langsung mengalir dari bibirnya.
"Aku tidak suka menunggu jawaban," ucap Dev datar.
"I-iya… saya…" jawab pria itu terbata, belum selesai bicara—
BUGH!
Pukulan kedua mendarat lebih keras, membuat tubuh pria itu terjatuh ke lantai. Namun anak buah Dev segera menariknya kembali ke posisi berlutut.
Dev menggulung lengan kemejanya perlahan, wajahnya tetap dingin.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanyanya lagi.
"Saya… saya hanya dibayar—"
BUGH! BUGH!
Dua pukulan bertubi-tubi menghantam wajah dan rahangnya. Suara benturan terdengar jelas di ruangan kosong itu.
"Aku tanya, siapa!" suara Dev meninggi, penuh tekanan.
Pria itu sudah terengah-engah, wajahnya mulai bengkak, darah menetes ke lantai.
"Saya tidak tahu namanya… saya bersumpah… hanya orang perantara…" jawabnya panik.
Dev mencengkeram kerah bajunya, mengangkatnya paksa hingga hampir tercekik.
"Kau pikir aku bodoh?" desisnya.
Lalu—
BUGH!
Tinju keras kembali menghantam perut pria itu. Tubuhnya langsung terlipat, napasnya tersengal, hampir tidak bisa berdiri.
Namun Dev belum berhenti.
Ia melepaskan cengkeramannya, lalu menendang pria itu hingga terjatuh ke lantai.
DUK!
"Bangunkan dia!" perintah Dev dingin.
Anak buahnya langsung menarik pria itu lagi, meski tubuhnya sudah lemas dan wajahnya babak belur.
Dev melangkah mendekat lagi, matanya tajam penuh amarah yang tertahan sejak tadi.
"Tanganku sudah lama tidak memukul orang," ucapnya rendah. "Dan kau memilih orang yang salah untuk diikuti."
Ia menarik rambut pria itu, memaksanya mendongak.
"Katakan… siapa… yang menyuruhmu…" katanya perlahan, penuh tekanan.
Pria itu menangis, darah bercampur air liur di wajahnya. "Saya benar-benar tidak tahu… saya hanya disuruh mengawasi… wanita itu… mohon… ampun…"
Dev menatapnya beberapa detik, napasnya berat.
Lalu tanpa kata—
BUGH!
Pukulan terakhir menghantam wajah pria itu hingga tubuhnya kembali terjatuh, kali ini tak lagi mampu bangkit.
Tubuhnya tergeletak lemah, napasnya tersisa samar, wajahnya sudah tidak berbentuk.
Gudang kembali hening.
Dev berdiri tegak, merapikan lengan bajunya dengan ekspresi dingin seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jangan lepaskan dia," ucapnya akhirnya. "Selama dia belum bicara yang sebenarnya… biarkan dia tetap hidup."
Ia berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan suasana penuh bau darah dan ketakutan di belakangnya.
Malam semakin larut saat Dev keluar dari gudang. Udara dingin langsung menyambutnya, namun tidak cukup untuk meredakan emosi yang masih tersisa di wajahnya. Ia berdiri sejenak di samping mobil, lalu mengeluarkan rokok dari sakunya. Dengan gerakan tenang, ia menyalakan api dari pemantik dan mengisapnya dalam-dalam, asap tipis keluar perlahan dari bibirnya.
"Tuan, sepertinya dia memang tidak tahu siapa dalang utamanya," kata Shane yang berdiri tidak jauh darinya.
Dev menatap ke depan, sorot matanya gelap.
"Bagaimana dengan orang yang menghubunginya?" tanyanya.
"Sudah tidak bisa dihubungi. Nomornya hanya sekali pakai, sama sekali tidak bisa dilacak," jawab Shane jujur.
Dev terdiam sesaat, menghembuskan asap rokok ke udara malam.
"Mulai hari ini, ke mana pun Lolitta pergi, kau harus pastikan dia aman," ucapnya dingin namun tegas. "Kirim anggota kita. Lolitta sangat peka… jangan sampai dia tahu kita mengikutinya."
"Baik, Tuan," jawab Shane segera.
Suasana kembali hening beberapa detik. Dev menatap ujung rokok di tangannya, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Kenapa Lolitta tidak bertanya padaku tentang Carmen yang ingin merebut posisinya?" ucapnya pelan, nada suaranya berubah lebih rendah. "Aku adalah tunangannya… apakah dia mengira aku tidak akan membelanya?"
"Tuan, mungkin… nona Fang tidak ingin bergantung pada siapa pun. Termasuk Anda. Atau ... dia sama sekali tidak percaya pada hubungan ini."
Dev terdiam.
Asap rokok kembali keluar dari bibirnya, kali ini lebih berat.
Tatapannya mengarah ke kejauhan, namun pikirannya jelas tertuju pada satu orang—
wanita yang justru semakin sulit ia pahami.