NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11 tahta di bawah tanah dan penghinaan di aula emas

Kegelapan di bawah gubuk kayu Xing Shenyuan bukanlah kegelapan biasa. Itu adalah kegelapan yang pekat, seolah-olah cahaya itu sendiri ditelan oleh sejarah yang terkubur. Shenyuan melangkah menuruni tangga batu yang dingin, setiap langkahnya menggema di dinding lorong yang dipenuhi dengan ukiran kuno tentang perang dewa dan iblis.

Di tangannya, Lentera Abadi miliknya memancarkan cahaya redup namun stabil. Cahaya itu tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menenangkan jiwa-jiwa gelisah yang berbisik di balik dinding batu.

[Ding! Tuan telah memasuki wilayah: "Istana Bawah Tanah Sepuluh Kaisar".]

[Peringatan: Tekanan gravitasi meningkat 50 kali lipat. Energi spiritual di sini sangat murni namun mengandung 'Kehendak Kaisar' yang bisa menghancurkan Dantian kultivator biasa.]

Shenyuan merasakan dadanya sesak sejenak, namun Inti Kekacauan Sempurna di dalam dirinya segera berputar cepat, menyerap tekanan tersebut dan mengubahnya menjadi nutrisi. Baginya, tekanan ini adalah palu godam yang akan menempa fondasinya menjadi lebih keras lagi.

"Sepuluh Kaisar... mereka yang membangun fondasi Dinasti Bintang Agung, hanya untuk dilupakan oleh keturunan mereka yang serakah," gumam Shenyuan.

Ia sampai di sebuah aula bundar yang sangat luas. Di sana, sepuluh nisan raksasa berdiri melingkar. Di tengah lingkaran itu terdapat sebuah singgasana yang terbuat dari kristal hitam. Aura yang memancar dari sepuluh nisan itu begitu kuat hingga menciptakan badai Qi yang kasat mata.

Shenyuan duduk di singgasana kristal itu. Ia tidak terburu-buru. Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya meresap ke dalam tanah.

"Langkah kesebelas... memadatkan Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) bukan dari ego, tapi dari warisan darah dan kehampaan," bisiknya.

Istana Kekaisaran: Aula Emas

Sementara Shenyuan berada di kedalaman bumi, suasana di Aula Emas Kekaisaran Bintang Agung sedang mencekam. Kaisar Xing Tian duduk di tahtanya, dikelilingi oleh puluhan jenderal dan penasihat berbaju zirah lengkap.

Pintu aula terbuka lebar. Su Yan berjalan masuk dengan langkah yang anggun namun penuh wibawa. Jubah putihnya berkibar, dan aura Ranah Jiwa Baru Lahir yang baru saja ia peroleh terpancar dengan jelas, menekan semua orang di ruangan itu.

"Saintess Su Yan dari Balai Pengobatan Surgawi," seru penjaga istana dengan suara gemetar.

Kaisar Xing Tian berdiri, matanya berbinar penuh harap. "Saintess! Kami mendengar tentang kekacauan di makam. Bagaimana kabar putraku, Shenyuan? Apakah benar dia yang memimpin formasi untuk mengusir sekte-sekte serakah itu?"

Su Yan berhenti tepat sepuluh langkah di depan tahta. Ia tidak membungkuk. Statusnya sebagai ahli Jiwa Baru Lahir dan utusan dari "Penguasa Makam" memberinya hak untuk berdiri tegak di depan Kaisar manapun.

"Kaisar Xing Tian," suara Su Yan jernih dan dingin. "Saya datang bukan untuk membawa berita damai, melainkan untuk menyampaikan pesan dari Tuan Xing Shenyuan."

"Sampaikan! Apa pun permintaannya, Kekaisaran akan mengabulkannya. Apakah dia ingin kembali sebagai Putra Mahkota?" tanya Kaisar dengan penuh semangat.

Su Yan tersenyum sinis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Tuan Shenyuan berkata: Jika Kaisar ingin bertemu dengannya untuk memohon maaf atau membicarakan masa depan, Kaisar harus datang sendiri ke gerbang Makam Bintang Agung. Anda harus menanggalkan pakaian kebesaran Anda, berlutut di sana selama tiga hari tiga malam, dan bersujud pada nisan para leluhur yang telah Anda khianati."

Hening.

Seluruh aula seketika menjadi sesunyi kuburan. Para jenderal saling pandang dengan wajah pucat, sementara wajah Kaisar Xing Tian berubah dari putih menjadi merah padam, lalu biru keunguan karena kemarahan yang tertahan.

"Berani-beraninya dia!" teriak seorang Jenderal Besar, menghunus pedangnya. "Seorang pangeran buangan menyuruh Kaisar Langit untuk bersujud?! Ini adalah pemberontakan!"

Su Yan melirik jenderal itu dengan tatapan meremehkan. Hanya dengan satu lambaian tangan, tekanan Qi yang dahsyat menghantam jenderal tersebut hingga ia tersungkur dan muntah darah.

"Jaga bicaramu," ucap Su Yan tenang. "Kalian masih hidup hari ini hanya karena Tuan Shenyuan masih memiliki sedikit rasa hormat pada darah yang mengalir di tubuhnya. Jika kalian menolak, jangan salahkan jika Makam Bintang Agung memperluas wilayahnya hingga ke istana ini."

Kaisar Xing Tian gemetar hebat. Ia merasakan kekuatan Su Yan yang telah melonjak drastis. Ia menyadari bahwa di belakang wanita ini, ada kekuatan yang jauh lebih mengerikan.

"Tiga hari... tiga malam?" bisik Kaisar dengan suara serak.

"Tiga hari tiga malam," ulang Su Yan. "Dan jangan lupa, bawalah 'Segel Langit' yang kalian curi dari makam sepuluh tahun lalu. Jika segel itu tidak kembali, Tuan Shenyuan sendiri yang akan datang mengambilnya—bersama dengan kepala siapapun yang memegangnya."

Su Yan berbalik dan pergi, meninggalkan kepanikan massal di pusat kekuasaan.

Kembali ke Kedalaman Makam: Meditasi Esensi

Di bawah tanah, Shenyuan mulai menyerap esensi dari sepuluh nisan kaisar. Aliran energi berwarna perak merayap keluar dari nisan-nisan tersebut, masuk ke dalam pori-pori kulitnya.

Ini bukan sekadar penyerapan energi; ini adalah ujian mental. Shenyuan melihat kilasan memori dari sepuluh kaisar tersebut—pengkhianatan, peperangan, dan kesepian di puncak kekuasaan.

"Argh!" Shenyuan mengerang. Keringat darah mulai menetes dari dahinya.

[Peringatan: Integrasi Esensi Kaisar mencapai 40%. Risiko kegagalan: Kerusakan jiwa permanen. Apakah Tuan ingin melanjutkan?]

"Lanjutkan!" batin Shenyuan tegas. "Jika aku tidak bisa menahan beban sepuluh kaisar, bagaimana mungkin aku bisa menguasai seluruh Bintang di langit?"

Tiba-tiba, di tengah kegelapan spiritualnya, ia merasakan sentuhan lembut di hatinya. Itu adalah jejak energi dari Su Yan dan Lin Xiaoyue yang tertanam selama meditasi ganda semalam. Energi Yin mereka yang lembut bertindak sebagai jangkar, menjaga kesadaran Shenyuan agar tidak tenggelam dalam amarah para leluhur.

Shenyuan tersenyum dalam penderitaannya. Wanita-wanita itu... mereka benar-benar menjadi bagian dari kekuatanku sekarang.

Dengan fokus yang kembali tajam, ia memadatkan seluruh esensi itu ke dalam Inti Kekacauannya. Inti itu mulai retak, dan dari dalamnya, sesosok bayi mungil yang bercahaya mulai terbentuk. Ini adalah Jiwa Baru Lahir-nya.

Namun, tidak seperti Jiwa Baru Lahir biasa yang berwarna emas atau ungu, milik Shenyuan memiliki sembilan warna yang berputar, dengan sebuah mata kecil di dahi bayi tersebut yang menyerupai Mata Kebenaran Ilahi.

Perbatasan Makam: Penjagaan Xiaoyue

Di luar, matahari mulai terbenam. Lin Xiaoyue berdiri di atas dahan pohon pinus tertinggi di perbatasan makam. Matanya yang kini memiliki semburat biru api menatap ke arah jalan utama.

Sebuah kelompok kecil terdiri dari lima orang berpakaian serba hitam mencoba menyelinap melalui semak-semak. Mereka adalah mata-mata dari Sekte Bayangan, faksi rahasia yang disewa oleh para bangsawan yang tidak puas.

"Guru bilang, jangan biarkan ada yang lewat," gumam Xiaoyue.

Ia melompat turun dengan anggun. Saat kakinya menyentuh tanah, gelombang api biru meledak dalam radius sepuluh meter.

"Siapa di sana?!" teriak salah satu mata-mata, terkejut karena keberadaan mereka terdeteksi begitu cepat.

Xiaoyue tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya, dan seekor feniks api biru seukuran elang muncul di telapak tangannya.

"Api Feniks: Pembakaran Jiwa!"

Xiaoyue melesat maju. Gerakannya kini jauh lebih stabil dan mematikan. Hanya dalam tiga tarikan napas, kelima mata-mata itu telah berubah menjadi patung abu yang tertiup angin. Tidak ada jeritan, tidak ada darah. Hanya penyucian murni.

Xiaoyue berdiri di tengah sisa-sisa abu itu, napasnya sedikit terengah. Ia mengusap pipinya yang terkena sedikit debu.

"Aku merindukan tangan Guru yang mengelus kepalaku," bisiknya manja, kontras dengan kekejaman yang baru saja ia tunjukkan. "Aku harus lebih kuat, agar aku bisa terus berada di sampingnya saat dia menaklukkan dunia."

Puncak Terobosan

Di aula bawah tanah, badai energi spiritual mencapai puncaknya. Langit di atas Makam Bintang Agung tiba-tiba terbelah oleh guntur sembilan warna. Fenomena ini bisa dilihat dari jarak ribuan mil, menandakan lahirnya seorang entitas yang akan menantang hukum langit.

[Ding! Selamat! Tuan telah berhasil menembus ke: "Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) Sempurna".]

[Kemampuan baru terbuka: "Domain Kekaisaran Absolut" dan "Teleportasi Ruang Antar-Bintang".]

Shenyuan membuka matanya. Tekanan di aula bawah tanah itu seketika lenyap, seolah-olah seluruh tempat itu tunduk di bawah pandangannya. Ia berdiri dari singgasana kristal, tubuhnya kini terasa seringan bulu namun seberat gunung.

Ia melirik ke arah pintu keluar. Ia bisa merasakan kehadiran Su Yan yang sedang dalam perjalanan kembali, dan Xiaoyue yang sedang setia berjaga.

"Kaisar Xing Tian... kau punya waktu dua belas jam lagi sebelum matahari terbit," ucap Shenyuan, suaranya mengandung otoritas yang bisa membuat jiwa-jiwa di makam itu bersujud.

"Jika kau tidak ada di gerbang saat fajar menyingsing, maka Dinasti Bintang Agung akan resmi menjadi bagian dari sejarah makam ini."

Shenyuan berjalan perlahan menuju tangga. Ia tidak lagi menggunakan lentera; cahaya dari dalam tubuhnya sendiri sudah cukup untuk menerangi seluruh dunia bawah tanah itu.

Malam itu, di Benua Awan Azure, tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Semua orang tahu bahwa fajar esok bukan hanya membawa matahari baru, tapi juga era baru di bawah kendali seorang pangeran yang bangkit dari kematian.

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!