aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume II — The Weight of Survival Chapter 6 — Burden of the Survivor
Malam itu hening, tapi bagi Daniel, keheningan terasa seperti beban yang menekan setiap bagian tubuhnya. Kota barat sudah relatif aman setelah misi terakhir, tetapi bayangan warga yang tidak selamat dan iblis yang melarikan diri terus menghantui pikirannya.
Ia duduk di atas reruntuhan gedung, katana di pangkuannya, napasnya berat. Segel pertama berdenyut lembut, menahan rasa lelah fisik, namun tidak bisa menenangkan pikirannya yang kacau.
Kenapa aku masih hidup, sementara mereka mati?
Apakah aku benar-benar membantu, atau hanya menunda kehancuran?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Daniel menatap pedang katana—senjata yang membantunya menyelamatkan banyak nyawa, tapi juga yang memisahkannya dari perasaan normal manusia.
Bayangan Masa Lalu
Ia teringat misi terakhir—keluarga yang berhasil ia selamatkan, namun beberapa warga lain tewas di bawah reruntuhan. Wajah mereka muncul di matanya: mata yang ketakutan, tangan yang menjulur meminta pertolongan, suara yang memohon.
Daniel merasakan rasa bersalah yang tajam. Segel pertama menstabilkan tubuhnya, tapi tidak bisa menyelamatkannya dari beban moral.
Apakah aku cukup cepat?
Apakah aku terlalu egois memilih untuk menolong sebagian daripada semua?
Ia menggenggam pedang, lalu menekannya ke tanah. Katana itu bukan sekadar alat, tapi simbol dari pilihan yang tidak pernah sederhana.
Dialog Batin
“Daniel,” gumamnya pada diri sendiri, “kau masih hidup karena segel itu. Tapi apakah itu cukup?”
Bayangan dari masa lalunya muncul dalam imajinasi: wajah teman sekelas yang tewas saat invasi pertama, mata wanita yang pernah ia selamatkan tetapi kini mungkin berada dalam bahaya lagi. Semua bertabrakan di pikirannya, menciptakan kekacauan emosi yang sulit diatur.
“Aku tidak ingin menjadi simbol… tapi aku juga tidak bisa mundur,” Daniel berkata lirih, seolah pedang bisa mendengar.
Segel pertama berdenyut pelan, memberi ketenangan fisik, tetapi Daniel sadar bahwa hanya ketenangan fisik tidak cukup. Ia harus menghadapi trauma, rasa bersalah, dan ketakutan yang terus menempel.
Kontradiksi Tanggung Jawab
Raven mendekat, duduk di sisi Daniel tanpa berkata apa-apa. Ia membiarkan Daniel merenung. Daniel menatap ke depan, kota yang remuk, dan berkata pelan, “Setiap misi… aku merasa semakin berat. Rasanya aku menyelamatkan satu orang, tapi kehilangan sepuluh lainnya.”
Raven menatapnya. “Itulah yang membuatmu manusia. Tidak ada Hunter yang bisa menyelamatkan semuanya. Tidak ada yang sempurna.”
Daniel menggigit bibirnya. “Tapi… bagaimana aku bisa tetap kuat jika setiap keputusan yang kuambil selalu menghantui?”
Raven diam sejenak, lalu berkata, “Kau belajar dari setiap keputusan. Beban ini… tidak akan hilang. Tapi bagaimana kau menanggungnya yang akan menentukan siapa kau sebenarnya.”
Daniel menunduk, pedang di pangkuannya bersinar redup di cahaya malam. Segel pertama berdenyut lembut, seperti menekankan satu hal: tubuh bisa tetap stabil, tapi hati harus dilatih untuk bertahan.
Kesadaran Baru
Di malam yang sunyi itu, Daniel mulai memahami sesuatu yang penting: hidup sebagai Hunter bukan sekadar pertarungan fisik, tetapi pertarungan batin tanpa akhir. Setiap nyawa yang ia selamatkan, setiap korban yang tidak bisa ia hindari, setiap keputusan cepat di medan perang—semuanya membentuk siapa dirinya.
Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan berbicara pada dirinya sendiri:
“Aku mungkin tidak bisa menyelamatkan semua orang…
Tapi aku bisa memilih untuk tetap berdiri.
Aku bisa memilih untuk menghadapi rasa bersalah itu,
Dan menggunakan itu untuk menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah.”
Segel pertama berdenyut lembut sekali lagi. Tubuhnya stabil, napasnya tenang. Tapi kali ini, stabilitas itu datang bersama kesadaran batin yang lebih dalam.
Daniel membuka mata, menatap langit malam yang remang-remang. Ia tahu bahwa besok, ia harus melangkah lagi ke medan perang—dan besok, setiap keputusan akan tetap berat.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasakan sesuatu yang ia kira hilang sejak kebangkitannya: keyakinan bahwa ia bisa bertahan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk semua yang bergantung padanya.