Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Ladang dan air ajaib
Hamparan tanah hitam terpampang begitu jelas didepan mata Su Ran. Sebuah sungai kecil berada tepat disamping ‘ladang subur’ tersebut, seolah – olah sungai tersebut adalah sebuah irigasi alami.
Di Ujung ladang, berdiri sebuah gubuk jerami sederhana tetapi tampak kuat dan kokoh.
Berkali – kali ia mengucek mata, tetapi Fen Ran tetap melihat pemandangan yang .... menakjubkan. Pemandangan ini begitu .. Familiar!
Bukankah ini adalah tampilan permainan HayD*y yang ia download saat malam tahun baru? Game pertanian yang lagi – lagi direkomendasikan oleh A Feng saat tahu jika hobinya adalah bertani. Apakah ia mendapatkan tempat ini karena darahnya menetes pada liontin giok peninggalan? Mungkinkah darahnya memicu terbukanya tempat ini?
Hati Fen ran bergejolak penuh kegembiraan. Ia juga pernah membaca novel tentang transmigrasi atau berpindah dunia yang tokoh utamanya memiliki jari emas!
Apakah ini jari emasnya?
Fen Ran segera berlari menuju tepi sungai kecil. Airnya sangat bening hingga dasar sungai terlihat dengan jelas. Dengan hati – hati ia mengumpulkan air dengan kedua telapak tangannya dan menyeruputnya.
Manis! Segar dan dingin!
Pikirannya kembali melayang pada Novel yang ia baca, hatinya kembali gembira. Mungkinkah ini adalah air lingquan yang ajaib? Benar saja, rasa sakit dikepalanya berkurang drastis.
Fen Ran segera meneguk beberapa suap lagi, merasakan sensasi kesemutan hingga gatal. Fen Ran meraba belakang kepalanya dan mendapati lukanya sudah berkeropeng dan mengelupas.
Ini ... Ini sungguh kecepatan penyembuhan yang mengerikan. Fen Ran menahan diri untuk tidak berteriak. Kini ia berpikir, apakah airnya berguna untuk menumbuhkan tanaman lebih cepat?
Fen Ran segera berdiri, ia mulai masuk ke dalam gubuk sederhana. Sebuah ruang tamu kecil dengan barang – barang dari masa depan tv berwarna yang menyala entah dari mana listriknya. Disampingnya terdapat kulkas 4 pintu, yang begitu ia buka langsung tersaji berbagai macam buah dan daging segar.
Fen Ran Bersiul kegirangan, ia dengan cepat mengambil apel merah dan memakannya. Manis, sangat manis lebih dari apel dari zamannya. Ia mengantongi bijinya dan berniat untuk ‘menjajal’ fungsi lain dari air sungainya.
Feng Ran berjalan menuju dapur. Set peralatan dapur lengkap segera terlihat di matanya. Kompor listrik dua tungku, lengkap dengan berbagai macam panci dan wajan. Microwave, blender, Oven dan yang lainnya tertata rapi siap untuk dipakai.
Fen Ran membuka laci. Pikirannya kembali terguncang ketika melihat deretan benih sayuran yang lengkap. Yang bahkan belum ada di zaman ini seperti cabai setan!
Padi, gandum, jagung, bahkan ubi jalar! Waaahh meskipun ia berpisah keluarga, ia tidak akan menyesalinya seumur hidup!
Dengan ruangan ajaibnya, ia akan bertani di dalam dan menjual hasil panennya, tentu saja ia harus memastikan jika ia bisa bertani disini!
Fen Ran segera keluar, berlari menuju ladang dan mencungkil sedikit tanah lalu memasukkan benih cabai. Dengan tergesa, Fen Ran segera menciduk air sungai dengan tangan dan menyiram benihnya.
Ajaib! Setelah menunggu sekitar 5 detik, Fen Ran melihat 5-6 helai daun muncul! Gilaaa.. lebih cepat berkali – kali lipat. Biasanya benih akan membutuhkan waktu kurang lebih 20 hari untuk berubah menjadi benih siap tanam!
Bukankah ini menghemat waktu Fen Ran?
Dengan semangat sekaligus gugup, Fen Ran mengambil cangkul kecil dan mulai membuat lubang – lubang kecil.
Fen Ran bekerja kurang lebih 4 jam, ia berhasil membuat lubang dan menabur benih seluas 150m2. Pinggangnya terasa copot!
Tetapi jelas rasa puas menyelimuti hatinya. Ia akan keluar.
Tunggu! Bagaimana ia keluar? Seketika ia merasa panik.mondar mandir lah dia!
“ Tenang, aku harus tenang,” gumamnya pelan. Fen Ran segera diam dan mulai berpikir jernih. Ia tadi masuk ketika darah menetes pada liontin, kemudian Fen Ran segera menggenggam liontinnya dan berbisik pelan.
“ Keluar,” Fen Ran memejamkan mata. Begitu ia membuka mata, ia sudah kembali di kamar tidurnya yang sederhana.
Ia menahan diri untuk tidak bersorak. Fen Ran kemudian menguji dengan keluar masuk lagi dan akhirnya lega.
Hari masih Siang, Fen Ran asumsikan jika ini masih sekitar jam 2. Heh, ia sudah berada di dalam ruang dimensi selama hampir 5 jam, dan di dunia nyata hanya 12,5 menit!
Tangannya terkepal erat. Setelah masalah kebutuhan dan pekerjaannya terpecahkan, kini waktunya untuk membuat rencana. Sebuah keharusan yang diajarkan oleh nenek direktur panti asuhannya dulu.
Di Tangannya ia memegang uang 200 ribu yang kelihatannya banyak tetapi juga sedikit.
Ia harus mencari rumah, juga lahan. Fen Ran bertekad untuk menjalani kehidupan yang menyenangkan didunia ini!
Tuhan pasti sedang menyiapkan rencana sehingga ia dikirim ke dunia ini.
Dengan tekad yang kuat, Fen Ran merapikan dirinya. Ia akan menemui Paman kepala desa.
Beruntung ia sempat mandi di ruang dimensinya. Rambutnya dikuncir rapi. Luka yang besar di belakang kepala ia samarkan agar tidak ada yang curiga.
Bisa gawat jika ada yang tahu jika ia sudah sembuh!
Berbekal dengan ingatan pemilik tubuh asli, Fen Ran keluar dari rumahnya. Ia mengunci rumah dengan cermat dan menggenggam keranjang bambu berisi uang tunai dari keluarga tua FEN.
Fen Ran berjalan perlahan menuju rumah kepala desa yang berada di pusat desa. Sebuah rumah bata lainnya selain rumahnya dan juga milik cabang Fen pertama.
Kepala desa tampak sedang bersantai di depan depan rumahnya bersama dengan istrinya.
“ Paman Tetua,” sapa Fen Ran begitu ia sampai di depan gerbang rumah.
Kepala desa tampak tertegun, tidak menyangka jika Fen Ran akan bertamu ke rumahnya. Nyonya kepala desa, bibi Li shi juga sempat tertegun sebelum akhirnya tersenyum sumringah.
“ Hei, bukankah ini Ran’er. Ayo masuk. Kau ada perlu dengan paman tetuamu?” sapa nyonya Li hangat. Fen Ran tampak canggung tetapi segera mengangguk dan masuk.
“ Apa apa nak,” tanya kepala desa, istrinya masuk untuk menyiapkan minum.
“ Paman, aku ingin membeli sebidang tanah dan juga dengan tebal muka ingin meminta rumah kepada paman,”