NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Si Ibu Susu

Pembalasan Dendam Si Ibu Susu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: emmarisma

Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.

Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam. Apakah Kamu Tidak Peduli?

Mia menatap Queen dengan ekspresi tertegun. Biasanya hanya dengan satu atau dua kalimat darinya, dia akan mudah untuk dibujuk. Lalu kenapa saat ini dia merasa Queen agak lain. Ah, dia jadi ingat. Mungkin karena dia belum mengembalikan kalungnya yang dulu dia pinjam?

"Apakah kamu tidak ingin membantuku karena sebelumnya aku belum menggembalikan kalungmu yang dulu."

Queen menggeleng. "Bukan, bukan karena itu. Aku tidak masalah kamu tidak mengembalikannya padaku, tetapi apa yang tersisa sekarang itu yang aku miliki, kalau aku meminjamkan padamu, Bagaimana jika sewaktu waktu aku memerlukannya? Aku tidak mungkin merusak pertemanan kita dengan hal hal seperti ini. Maafkan aku, Mia, kali ini aku sungguh tidak bisa membantumu. Saranku, sebaiknya kamu melaporkan ayahmu pada pihak yang berwajib. Meski berat, tetapi setidaknya kamu bisa lepas darinya. Kelakuan ayahmu benar-benar sangat buruk."

Mendengar komentar miring terhadap ayahnya, kedua tangan Mia terkepal erat, kuku kuku jarinya menancap di daging. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Karena tidak berhasil membujuk Queen, Mia akhirnya meninggalkan Queen dengan alasan mengantuk.

Begitu masuk di kamar tamu, Mia mengumpat marah. Ia memukul ranjangnya dengan kasar sambil mengutuk Queenza dengan segala sumpah serapahnya.

Mia lantas mengirim pesan pada Xavier. Dia mengatakan jika dia gagal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di dalam kamarnya, Xavier sejak tadi menunggu pesan dari Mia. Begitu membaca pesan dari Mia, Xavier juga memukul ranjang dengan keras.

Ia merasa istrinya telah banyak berubah. Dulu Queen begitu patuh dan mudah diajak bicara, tetapi sekarang, semua hal tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Xavier memutuskan untuk keluar kamar. Dia bergegas ke ruang makan, tetapi Queen tidak ada di sana. Xavier menemukan Queen duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi.

"Ini sudah larut. Kenapa tidak kembali ke kamar?"

Queen mengangkat wajahnya dan memandang Xavier dengan tatapan lembut. "Jika malam Sofia akan lebih sering terjaga. Aku khawatir dia akan mengganggu istirahatmu. Aku tahu kamu sudah lelah bekerja seharian, makanya aku bawa dia keluar."

Xavier agaknya merasa tersentuh dengan ucapan Queen. Dia pun duduk di samping Queen dan menatap putrinya Sofia yang benar-benar sedang terjaga. Mata gadis kecil itu terbuka lebar seolah sedang mengamati semuanya.

"Tidurlah dulu. Besok kamu harus ke perusahaan, kan?" Queen berkata lembut. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keanehan apapun.

"Ya, besok aku ada agenda kunjungan untuk menilik proyek pembangunan mall. Blake tidak mau mengurusnya dan hanya memerintahku terus."

"Kamu harus bersabar. Bagaimana pun juga saham yang ada di tanganmu lebih sedikit dari saham milik Blake. Jadi kamu hanya bisa mematuhinya."

"Ya, andai saja aku memiliki saham lebih banyak dari dia. Mungkin situasiku tidak akan sesulit ini." Xavier melirik ekspresi Queen. Dia berharap perempuan itu lebih peka dan akan menawarkan saham yang ada ditangannya untuk dia kelola.

Akan tetapi, apa yang dia harapkan sia-sia. Queen hanya mengangguk sebagai jawaban.

Xavier kembali kehilangan kesabarannya lagi. Dia pun berkata, "Apakah kamu benar-benar sudah tidak peduli padaku?"

"Aku peduli padamu, Xavier, tetapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari kerjaannya hanya mengurus anak. Aku bisa apa?"

"Kenapa tidak kamu serahkan saja sahammu padaku?" tanya Xavier. Nadanya terdengar begitu mendesak. Alis Queen berkerut tajam.

"Dulu aku sudah sering menawarkan saham itu padamu, tetapi kamu terus menolaknya. Hari di mana aku melahirkan Sofia, Blake datang dan memaksaku mengambil alih semua saham yang ku miliki semuanya."

"APAA? Apa kamu gila Queen, kenapa kamu memberikan saham itu pada Blake?" Xavier terlihat sangat marah. Dia berdiri dan melotot pada Queen. Teriakannya mengejutkan Sofia. Bayi itu menangis dengan kencang. Queen menatap Xavier dengan penuh kekesalan.

"Blake adalah saudaraku, dia tidak akan mungkin menghianatiku. Dia meminta saham itu untuk dia kelola. Jadi aku memberikannya pada Blake dan kamu .... jangan pernah berteriak lagi di depanku."

Queen lantas menggendong bayinya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Queen tertawa. Dia membungkam mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh Xavier, lalu dengan lembut ia menepuk-nepuk pantat Sofia "Gadis baik, terima kasih sudah membantu mama."

"Ini baru permulaan, Xavier. Aku akan membuatmu menjadi gelandangan seperti dulu. Orang-orang yang tidak bisa bersyukur dengan apa yang dia miliki saat ini, memang sebaiknya tidak perlu memiliki apapun di masa depan."

Xavier yang kesal berjalan ke depan kamar tamu. Dia mendorong pintu dengan kasar. Mia yang bersiap untuk tidur menjadi terkejut melihatnya.

"Kenapa kamu ke sini? Bagaimana jika Queen tahu?" Mia bertanya dengan cemas. Namun, Xavier justru mendengus kesal.

"Dia sedang sibuk mengurus bayinya dan tidak punya waktu untuk mengurus urusanku. Jadi kamu tenang saja."

Meski Mia tidak banyak bertanya lagi, tetapi sejak tadi jantungnya terus bertalu dengan kencang. Dia khawatir Queen akan keluar kamar dan bingung mencari Xavier.

Xavier duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya. Mia mendekat dan mengusap bahu Xavier.

"Ada apa? Kenapa kamu begitu marah?"

"Wanita bodoh itu memberikan semua saham nya pada Blake. Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"

"APA? kenapa dia memberikannya pada Blake?" mendengar kenyataan ini, Mia seketika melotot. "Ku kira dia hanya bilang jika deviden dari sahamnya tidak diberikan oleh Blake. Bukan malah sahamnya juga dipegang oleh Blake. Lalu bagaimana sekarang?" Mia nampak cemas.

"Nanti saat dia tidur, aku akan mengambil sebagian perhiasannya. Kamu bisa membawanya pergi. Jual di pasar gelap. Jangan sampai kamu ketahuan." Mia mengangguk dengan mata berbinar. Dia lantas memeluk Xavier dari belakang dan menggesekkan dadanya pada pria itu, Xavier merasa hasratnya terpantik, dia pun menjatuhkan Mia di atas ranjang dan keduanya mulai bergumul tanpa mempedulikan apapun.

Queen mendengar semuanya, karena kamera canggih itu dilengkapi dengan mini microphone yang bisa menyaring suara sekecil apapun. Meski sudah mati rasa, tetapi sudut hatinya bergetar sakit.

Queen keluar dari pemantauan CCTV-nya, dia mencari kontak kakaknya. Sudah lama sekali dia tidak menghubungi Blake. Saat Queen menggulir layar ponselnya, hatinya berdebar tidak karuan. Antara gugup, takut dan malu.

Queen menekan layar ponselnya. Suara dering di telinganya membuat jantungnya semakin berdebar kencang. Saat panggilan tersambung, suara berat Blake terdengar.

Untuk sesaat Queen terdiam, Suara Blake kembali terdengar, "Queen, ada apa?"

"Blake." Suara Queenza tanpa sadar bergetar. Di seberang sana, Blake yang sedang duduk bersama beberapa sahabatnya seketika berdiri.

"Ada apa? Apakah ba*ingan itu menyakitimu?"

"Blake." Bibir Queenza seketika terasa kelu. Dia tidak sanggup mengatakan apapun selain memanggil nama sang kakak.

Blake tentu saja semakin khawatir. Meski dia hampir tidak pernah menghubungi adiknya, tetapi itu tidak mengurangi rasa sayangnya pada Queenza.

"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu. Jangan membuatku cemas, Queen." Suara Blake meninggi hingga membuat teman temannya mengeryit keheranan.

"Blake, maafkan aku. Aku bersalah. Aku seharusnya menuruti kata-katamu dan ayah waktu dulu. Maafkan aku."

"Baj*ngan itu benar-benar menyakitimu? Aku akan ke sana untuk menghajarnya, tunggu saja."

"Blake, jangan kemari, aku ingin bertemu denganmu. Ada hal yang ingin aku katakan langsung padamu."

"Baik, besok aku akan menunggumu di perusahaan."

"Tidak! Kita bertemu di rumah sakit. Aku ingin menjenguk ayah."

Alis Blake berkerut, tetapi dia tetap mengiyakan permintaan Queen.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Hihh udah gedeg rasanya sama pasangan ular ini/Hammer/
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cpt hmpaskn mokondo tu
🇦 🇵 🇷 🇾👎
💪💪💪💪💪💪moga lncr semua
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kebtln cincin ny sm bryan.. apakh....??
Cindy
lanjut
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Semangat... Semoga rencana kalian berjalan dengan baik
Cindy
lanjut
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Cieee ada yg udah nggak sabar nunggu status jandanya Queen ini mah🤣🤣
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Dihh ngaca woii, ngaca/Curse/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Berasa kek anak kembar, jangan² benar lagi kalo mereka dari bibit cebong yg sama😄
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Cihh bilang saja kamu sibuk dengan j4l4ng itu kan😏
Apthiana Devi
cerita nya selalu bagus2
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next ahhh🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mcm ank kmbr mog xan tmbh mnjd ank yg baik slig pengrtian
🇦 🇵 🇷 🇾👎
menjijikn x gy kau tu
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Kalo status Queen sudah jelas, coba minta Bryan untuk menikahinya, kek😄
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Semangat Queen
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next kk
Dewi kunti
dinikahkan sama bpknya ellara saja😄😄😄😄
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!