Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulip
Enjoy gays....
Keluar dari gedung kampus bersama keempat temannya, Aurora mengambil ponsel yang ada di saku celana karena baru saja ada pesan yang masuk di sana.
Melihat notifikasi yang tertera, Aurora dengan sendirinya tersenyum seraya membukanya. Itu dari Luca.
"Ra, sorry ya gue gak bisa jemput lo. Masih ada kerjaan di kantor. Tapi, gue udah minta orang lain buat jemput lo. Gak papa kan?"
Tanpa berlama-lama, Aurora langsung mengirimkan pesan balasannya untuk Luca.
Di waktu yang sama namun di tempat berbeda, Luca terlihat tengah serius dengan komputer yang ada di depannya.
Ting..
Bunyi notifikasi pesan terdengar. Memalingkan pandangannya, Luca mengambil handphonenya di atas meja lalu membukanya.
"Gak papa. Lo lanjutin aja kerjaan lo. Lagian, gue sama temen-temen juga mau pergi bareng. Jadi lo gak perlu nyuruh orang buat jemput gue. Boleh kan?"
Tersenyum bahagia, Luca benar-benar bersyukur saat membaca isi pesan Aurora karena Aurora selalu bisa mengerti kondisinya. Alih-alih bertanya lebih jauh apalagi menaruh curiga, Aurora selalu saja memberi pengertian dan rasa percaya yang begitu tinggi kepadanya.
Apalagi, setiap kali Aurora ingin melakukan apa-apa dia selalu saja izin padanya. Padahal, Luca pasti selalu memberikan izinnya meskipun Aurora tak memintanya.
Tak ingin membuat sang istri tercinta menunggu lama, Luca pun membalas pesan Aurora.
Sementara Aurora yang masih belum mendapatkan jawaban dari Luca hanya bisa menunggu sembari berdiri di samping mobil Alexa. Dia tak akan bisa pergi begitu saja sebelum mendapat persetujuan dari Luca. Selain itu, mereka juga tengah menunggu Audrey yang entah mampir kemana karena begitu lama.
Ting...
Notifikasi pesan masuk terdengar. Aurora cepat-cepat melihat handphonenya dan membuka pesan dari Luca.
"Boleh. Ohh... Ya udah kalo gitu. Selamat bersenang-senang." Tersenyum bahagia sekaligus menarik nafas lega, Aurora senang karena Luca mengizinkannya.
^^^"Makasih Luca."^^^
"Sama-sama."
"Cie-cie.... Yang mulai senyum-senyum sendiri.... Chattingan sama siapa sih kok sampe bahagia banget tuh ekspresinya." Ucap Alexa seraya tersenyum jail dan menaik turunkan kedua alisnya menggoda Aurora.
"Yang jelas sih sama suaminya. Siapa lagi?" Sahut Alice ikut menggoda.
"Ohh.... Kayaknya udah ada yang mulai jatuh cinta nih...."
"Kayaknya sih gitu.... Kalo beneran jangan lupa aja traktirannya."
"Bener banget tuh. Masak iya bahagia gak bagi-bagi."
"Brisik!" Sahut Aurora kesal lalu masuk ke dalam mobil lebih dulu meninggalkan ketiganya.
"Hahahaha..... Malu tuh dia." Tawa Alexa dan Alice puas seraya bertos ria. Sedangkan Aline yang juga ada di sana hanya diam dan menggelengkan kepala melihat tingkah teman juga saudara kembarnya. Lalu menyusul Aurora masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, di ruang kerjanya, Luca terlihat kembali melanjutkan pekerjaannya setelah memastikan pesan balasannya di baca oleh Aurora.
Tumpukan berkas yang baru saja di berikan oleh sang sekretaris langsung Luca cek satu per satu demi tak terjadi kesalahan sekecil apapun.
***
Orang bilang, memiliki lingkup pertemanan yang satu frekuensi dan satu pemikiran itu akan jauh lebih menguntungkan, menyenangkan dan tak merepotkan. Tapi bagi Aurora dan kawan-kawan, hal itu sepertinya tak berlaku untuk mereka.
Memiliki hobby dan kesukaan yang tak sejalan, mereka jelas berbeda antara satu dan yang lainnya, tapi justru itulah yang membuat mereka bisa saling mengerti, memahami, dan mendukung satu sama lain.
Karena yang berbeda akan lebih berwarna jika di satukan dalam tempat yang sama. Seperti pelangi yang menghiasi langit setelah datangnya hujan.
Seperti sekarang, walaupun Aurora dan kawan-kawan sama sekali tak mengerti tentang dunia otomotif atau semacamnya, tapi mereka tetap dengan sabar dan setia menemani Alexa memenuhi hasratnya mencari keperluan otomotifnya.
"Gays?" Tegur Alexa mengalihkan perhatian teman-temannya dari layar ponsel.
"Udah?" Tanya Audrey.
Alexa mengangguk sebagai jawaban.
"Ya udah yuk." Ajak Alice yang langsung berdiri dan memperbaiki tasnya.
"Mau kemana lagi kita?" Tanya Alexa di tengah langkah mereka.
"Temenin Audrey cari sepatu basket." Jawab Alice seraya membuka pintu mobil bagian depan sebelah kemudi setelah Alexa membuka kuncinya.
"Beli lagi? Bukannya bulan kemaren lo baru beli ya?" Sahut Alexa menatap Audrey di sebelahnya.
"Emang.... Tapi ada edisi terbaru yang mau gue beli." Balas Audrey.
"Belum penuh juga apa lemari sepatu lo? Setiap bulan pasti beli sepatu dan gak cuma satu lagi."
"Sama kayak lo Alexa.... Emang garasi lo gak penuh sama motor-motor racikan lo?"
"Ye.... Tapi gue kan gak sesering lo."
"Sama aja."
"Udah.... Gak usah berteman.... Namanya juga hobby." Lerai Aurora seraya merangkul pundak keduanya dan menatap mereka dengan senyum secara bergantian.
"Eh, tapi tunggu deh." Ucap Aurora tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap belakang.
"Kenapa?" Tanya Alice yang seakan tahu jika Aurora tengah menatapnya sekarang.
"Lo beneran gak pengen pergi belanja?" Tanya Aurora sekali lagi.
Dia tadi sudah menanyakan hal itu saat mereka tengah menunggu Alexa memilih keperluannya, dan Alice menjawab tidak. Kali ini, dia hanya ingin memastikannya saja. Jangan sampai tiba-tiba Alice berubah pikiran dan mereka tidak bisa menemaninya. Itu akan tidak adil untuk Alice nantinya.
"Gak. Gue lagi gak pengen beli apa-apa."
"Kalo lo gimana Line?" Beralih menatap Aline yang berdiri di sebelah Alice, Aurora bertanya.
"Kalo dia mah gak usah di tanya. Pasti Lego lagi." Sahut Alexa yang sudah sangat tahu dan hafal dengan kebiasaan Aline ketika mereka tengah pergi bersama. Apapun itu, pasti membeli Lega adalah pilihannya.
Membuka alarm kunci mobilnya, Alexa lebih dulu masuk ke dalam lalu di susul Aurora dan kawan-kawan.
***
Puas berkeliling dan sudah mendapatkan apa yang diinginkan, kini saatnya mereka untuk memulihkan tenaga dengan asupan yang bergizi dan juga enak.
Salah satu restoran Jepang yang ada di mall itu jadi pilihan. Sembari menunggu pesanan mereka datang, mereka sibuk bermain handphone masing-masing tanpa adanya obrolan.
Alice yang fokus dengan tontonan drama Koreanya, Audrey yang menonton pertandingan basket, Alexa yang mencari referensi tentang modifikasi mobil dan motor, Aline yang menyambungkan musik di handphonenya dengan earphones, dan Aurora yang asyik scroll media sosialnya.
"Permisi Mbak Silahkan pesanannya." Tegur seorang pelayan menarik perhatian mereka seraya menata semua pesanan mereka di atas meja.
"Makasih mas." Ucap Alexa dengan ramah setelah semuanya tertata.
"Sama-sama. Selamat menikmati."
Seakan sudah menjadi kebiasaan yang tak perlu diingatkan lagi, mereka kompak meletakkan handphonenya di atas meja dan mulai menikmati makanan masing-masing.
***
Sampai di rumahnya, Aurora langsung menyalakan semua lampu yang ada di lantai bawah. Tadi dia tidak melihat mobil Luca ada di depan seperti biasanya, jadi Aurora berkesimpulan jika Luca belum pulang. Dan benar saja, Luca belum pulang ternyata.
Meletakkan kresek yang dia bawa di atas meja dapur, Aurora berniat untuk mengambil minum guna menyegarkan tenggorokannya yang terasa sedikit kering. Namun, dering ponsel yang tiba-tiba terdengar membuat Aurora menunda keinginan itu dan lebih dulu mengangkat panggilan itu.
"Ra, udah pulang?" Tanpa basa-basi, Luca langsung bertanya.
^^^"Udah. Baru aja nyampe. Lo kenapa belum pulang? Masih di kantor?" Membawa gelas yang dia ambil dari lemari ke dispenser, Aurora mengisinya dengan air hangat hingga setengah. ^^^
"Iya. Tadi ada sedikit masalah, jadi gue mendadak harus lembur. Sorry ya gak sempet ngasih tau lo tadi." Memastikan semua pekerjaan yang ada di mejanya telah selesai dan mematikan komputer serta lampu mejanya, Luca pun bersiap untuk pulang.
Tak langsung menjawab ucapan Luca, Aurora meneguk minumannya lebih dulu hingga habis tak bersisa.
^^^"Iya gak papa. Sekarang gimana? Udah beres semuanya?"^^^
"Udah. Ini mau jalan pulang." Mengambil jas yang dia gantung di sandaran kursi, Luca pun keluar dari ruang kerjanya.
^^^"Ya udah, hati-hati. Gak usah ngebut bawa mobilnya."^^^
"Siap Bu Komandan. Mau di bawain martabak gak?"
^^^"Gak usah. Gue udah beli tadi pas jalan pulang."^^^
"Oh, oke. Ya udah ya, gue jalan dulu." Menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya, Luca berpamitan.
^^^"Hm."^^^
Mematikan panggilannya, Luca langsung masuk ke dalam mobilnya setelah membuka alarm kuncinya. Sedangkan Aurora langsung menaruh gelasnya ke dalam wastafel dan melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti bajunya sembari menunggu Luca pulang. Tak lupa, tas yang tadi dia pakai juga dia bawa.
***
Bunyi klakson yang tiba-tiba terdengar mengagetkan Aurora yang tengah serius membaca buku di atas tempat tidurnya.
Menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja nakas sebelah tempat tidur, Aurora turun dari tempat tidurnya dan keluar kamar untuk menyambut kepulangan Luca.
"Luca?" Tegur Aurora seraya menutup pintu kamarnya. Mengejutkan Luca yang baru saja melangkah masuk seraya mengendorkan ikatan dasinya.
"Astaga! Ngagetin Ara." Sahut Luca mengusap dadanya.
"Sorry. Gak sengaja gue." Kekeh Aurora seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa belum tidur?" Berjalan mendekat, Luca reflek membelai rambut Aurora seraya tersenyum.
"Nungguin lo. Udah makan malam belum?"
"Udah tadi. Pesen GrabFood."
Mengangguk paham, Aurora berniat kembali ke kamarnya. Tapi tiba-tiba Luca memberikan setangkai bunga tulip yang membuat Aurora kebingungan menatap bunga itu.
"Buat lo." Ucap Luca dengan tersenyum.
"Huh??" Kaget Aurora menautkan kedua alisnya tak percaya.
Menjawabnya dengan isyarat mata, Luca secara tidak langsung meminta Aurora untuk menerimanya.
"Oh, thanks." Tak tahu harus bersikap bagaimana dan mengucapkan apa, Aurora mengambil bunga itu dari tangan Luca dengan perasaan tak jelas.
"Sama-sama. I love you Ara." Setelah mengatakannya, Luca tak lupa memberikan kecupan selamat malam seperti biasanya lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
Bingung dengan perubahan sikap Luca yang tiba-tiba, Aurora hanya bisa termenung seraya menatap kepergian Luca dan bunga tulip yang ada di tangannya bergantian.
Dalam hati Aurora bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Luca sampai tiba-tiba dia memberinya bunga dan mengatakan kata cinta. Sungguh bukan Luca yang seperti biasanya.