Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Saat Elena Bergerak
Elena tidak bergerak ketika orang lain mengharapkannya.
Ia bergerak saat mereka merasa aman.
Pagi itu, rumah besar keluarga Marcus terasa lebih hidup dari biasanya. Pelayan lalu-lalang, suara cangkir beradu, dan tawa kecil Selene terdengar dari ruang makan. Segalanya tampak normal. Terlalu normal.
Elena duduk di ujung meja, tongkat putihnya bersandar rapi di sisi kursi. Matanya tertutup, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang wanita yang dianggap rapuh.
Marcus meliriknya sekilas.
“Jangan lupa obatmu,” katanya datar, seperti kewajiban.
Elena mengangguk pelan.
“Terima kasih.”
Suaranya lembut. Jinak.
Topeng yang ia rawat dengan sempurna.
Namun di balik kelopak mata tertutup itu, Elena melihat segalanya.
Cara tangan Selene menyentuh lengan Marcus terlalu lama.
Cara Marcus tidak menyingkir.
Cara mereka berpikir Elena tidak tahu apa pun.
Elena tersenyum kecil.
Hari ini, ia tidak akan membuka mata.
Hari ini, ia membuka permainan.
*******
Siang harinya, Elena meminta izin keluar rumah.
“Aku ingin ke galeri lama. Katanya ada pameran seni baru,” ucapnya tenang.
Marcus mengernyit. “Sendirian?”
“Ada supir.”
Marcus ragu. Selene menyela dengan senyum manis.
“Biarkan saja. Elena kan… tidak bisa ke mana-mana.”
Kalimat itu membuat Elena ingin tertawa.
Tapi ia hanya mengangguk patuh.
Mobil melaju meninggalkan rumah.
Namun galeri bukan tujuan Elena.
Mobil berhenti di sebuah gedung perkantoran yang tampak biasa. Tidak ada papan nama mencolok. Tidak ada penjagaan berlebihan.
Supir membuka pintu.
“Kita sudah sampai, Nona.”
Elena melangkah turun. Tongkatnya mengetuk lantai pelan.
Di dalam gedung itu, seorang pria sudah menunggunya.
“Lama tidak bertemu, Elena,” ucap suara yang ia kenal terlalu baik.
Elena berhenti di tengah langkah.
“Adrian.”
Ia membuka matanya.
Tatapan mereka bertemu—tajam, penuh rahasia, dan tidak ramah.
“Kau yakin ingin memulainya sekarang?” tanya Adrian.
Elena tersenyum dingin.
“Marcus sudah merasa terlalu aman.”
Adrian menghela napas pendek. “Maka kita mulai dari laporan keuangan. Semua yang mereka sembunyikan.”
Elena berjalan melewati meja, duduk tanpa ragu. Tidak ada lagi wanita buta di ruangan itu.
“Aku ingin semuanya,” katanya.
“Nama. Alur uang. Siapa saja yang terlibat.”
Adrian menatapnya lama.
“Kau tahu, setelah ini, tidak ada jalan mundur.”
Elena mengangkat wajahnya.
“Aku sudah lama mundur,” ujarnya pelan.
“Sekarang giliran mereka.”
*******
Sore itu, di rumah Marcus, Selene menerima pesan anonim di ponselnya.
“Hati-hati dengan wanita yang kau anggap tak melihat apa-apa.”
Selene menegang.
Di lantai atas, Elena duduk di ranjangnya, tongkatnya tergeletak tak terpakai. Wajahnya tenang, senyum tipis menghias bibir.
Satu langkah telah diambil.
Dan ini baru permulaan.
*******
Elena berdiri di depan jendela, membiarkan malam menelan bayangannya sendiri. Kota di bawah tampak hidup—lampu, suara, lalu lintas—semua bergerak tanpa tahu apa yang sedang disiapkan untuk mereka.
Tangannya mengepal perlahan.
Bukan karena takut.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena ia menahan diri.
Ia tahu, satu langkah ceroboh bisa membangunkan semua monster sekaligus. Dan Elena tidak ingin perang dimulai sebelum papan catur sepenuhnya miliknya.
Di balik pintu tertutup, suara tawa Marcus terdengar samar. Bersama Selene. Ringan. Penuh keyakinan.
Elena tersenyum tipis.
Kesalahan terbesar manusia adalah merasa aman terlalu cepat. Dan malam ini, rasa aman itu akan menjadi awal dari kehancuran yang tak bisa mereka tarik kembali.
Ia berbalik, melangkah pergi—tenang, pasti, tanpa suara.
Permainan sudah dimulai.
Jika kamu menunggu Elena bertindak…
ini baru langkah pertama.
Bab selanjutnya akan membuka rahasia yang membuat mereka panik.