Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Datang
Pagi buta di Sukabumi diselimuti kabut tebal yang dingin, namun ketenangan desa itu kembali koyak oleh raungan mesin mobil yang mendaki tanjakan curam menuju rumah keluarga Nurdin. Januar Suteja tidak datang dengan konvoi besar seperti sebelumnya. Kali ini, ia datang dengan satu mobil jip hitam yang tangguh, dikemudikan oleh dirinya sendiri. Wajahnya yang kuyu, dengan luka parut di pelipis yang mulai mengering, memancarkan aura keputusasaan yang berbahaya.
Ale, yang sedang menimba air di sumur belakang, segera berlari ke depan saat melihat jip itu berhenti mendadak. Ia menggenggam erat gagang kayu timba, bersiap untuk pertempuran fisik lainnya. Namun, saat Januar turun, pria itu tidak membawa senjata. Ia justru tampak hancur.
"Di mana dia? Di mana Nirmala?!" suara Januar parau, napasnya memburu di tengah udara dingin yang beruap.
Nirmala muncul dari balik pintu bambu, mengenakan jaket lusuh milik Ale. Wajahnya memucat melihat tunangannya—pria yang dulu ia anggap sebagai pelindung, namun kini tampak seperti hantu dari masa lalu yang kelam.
"Januar..." bisik Nirmala.
Januar melangkah maju, namun Ale segera menghalangi jalannya dengan dada membusung. "Cukup, Tuan Suteja! Anda sudah membawa cukup banyak penderitaan ke sini!"
"Minggir, Mahasiswa!" bentak Januar, namun suaranya pecah oleh emosi. Ia menatap Nirmala dengan mata yang memerah. "Nirmala, dengarkan aku! Rini sudah mengambil segalanya. Dia merampas perusahaan keluargaku, dia menginjak-injak namaku, dan dia akan menghapus jejak ayahmu dari Dizan Holding selamanya jika kita tidak bergerak sekarang!"
****
Januar jatuh berlutut di atas tanah basah, sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan oleh Nirmala. Sang singa korporasi itu kini bersimpuh di kaki seorang putri yang ia telantarkan.
"Aku butuh tanda tanganmu, Nirmala," isak Januar. "Hanya kau yang bisa menyelamatkan kita. Kita harus membuat surat pernyataan resmi sebagai ahli waris tunggal Marwan Dizan. Kita akan menyatakan bahwa penunjukan Elias Dizan sebagai Direktur Utama adalah tindakan ilegal dan tanpa persetujuanmu. Kita akan menggugat setiap transaksi yang dilakukan Rini atas nama Dizan Holding!"
Nirmala menatap tangannya yang kasar karena pekerjaan desa. "Kenapa aku harus membantumu, Januar? Kau hanya menginginkan sahamku."
"Demi Ayahmu!" Januar berteriak, air mata jatuh di pipinya yang kotor. "Jika kau tidak melakukan ini, Rini akan menggunakan harta Dizan untuk membiayai kartel narkoba dan menghancurkan ratusan keluarga lain! Dia sudah gila, Nirmala! Dia ingin mematikan semua orang yang memiliki darah Dizan atau Suteja!"
Ale menoleh ke arah Nirmala, memberikan tatapan yang dalam. "Nona, jika ini cara untuk menghentikan bibi lo yang iblis itu, lo harus lakukan. Gue akan temani lo sampai Jakarta."
Nirmala menarik napas panjang, menguatkan hatinya yang selama ini hancur. "Baik. Aku akan menandatanganinya. Bukan untukmu, Januar. Tapi untuk nama Ayah yang dia noda."
****
Sementara itu, di sebuah restoran privat yang sangat mewah di Jakarta, Rini Susilowati sedang memimpin sebuah "jamuan makan siang" yang lebih mirip dengan interogasi bawah tanah. Di hadapannya, duduk tiga petinggi bank pelat merah dan dua kreditur utama Suteja Group. Mereka tampak pucat, seolah-olah hidangan mahal di depan mereka adalah racun.
Rini duduk dengan anggun, menyandarkan dagunya pada tangan yang dihiasi berlian. Selendang sutra hitamnya tersampir di bahu, berkibar pelan tertiup angin dari mesin pendingin ruangan.
"Tuan-tuan," suara Rini lembut namun tajam seperti sembilu. "Saya tidak suka menunggu. Saya ingin proses merger antara Suteja Group dan Dizan Holding selesai minggu depan. Saya ingin kalian menyatakan bahwa Suteja Group sudah gagal bayar secara teknis, sehingga saya bisa menyita seluruh aset mereka sekarang juga."
"Tapi Nyonya Rini," salah satu bankir memberanikan diri bicara, "utang mereka baru jatuh tempo satu tahun lagi. Secara regulasi, kami tidak bisa memaksa likuidasi sekarang. Itu melanggar hukum."
Rini terdiam sejenak. Ia perlahan meraih selendang sutranya, melilitkannya ke jari-jarinya dengan gerakan ritmis yang menghipnotis sekaligus mengancam.
"Hukum?" Rini berbisik. "Saya adalah hukum di kota ini. Jika kalian tidak menandatangani persetujuan akuisisi ini sore ini, saya akan pastikan data-data tentang rekening rahasia kalian di Swiss bocor ke tangan KPK besok pagi. Dan jangan lupa, teman-teman saya di Kolombia sangat tidak suka jika bisnis mereka terhambat oleh... birokrasi."
Ancaman itu membuat ruangan menjadi senyap secara mutlak. Para petinggi bank itu saling pandang dengan keringat dingin yang mengucur. Mereka tahu Rini tidak menggertak. Wanita ini telah kehilangan nuraninya dan digantikan oleh ambisi yang haus darah.
Satu per satu, mereka menundukkan kepala, menyerah pada kekuatan gelap yang dipancarkan oleh Rini.
Begitu surat-surat itu ditandatangani, Rini kembali ke mobilnya. Begitu pintu tertutup rapat, ia tak lagi bisa membendung kegilaan yang membuncah di dadanya.
"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"
Tawa histeris itu meledak, diredam oleh kain sutra mahal yang ia tekan ke mulutnya. Rini tertawa sampai tubuhnya mengejang, kepalanya menghantam kaca jendela mobil berkali-kali saking bahagianya. Ia menyeka air mata dan ingus yang tumpah dengan tisu, lalu membuangnya ke lantai mobil seolah-olah itu adalah sisa-sisa kehidupan musuhnya.
"Suteja sudah di tanganku! Dizan sudah di bawah kakiku!" teriak Rini di sela-sela tawanya yang parau. "Besok, aku akan mengumumkan pada dunia bahwa akulah satu-satunya penguasa ekonomi di negeri ini! Tidak ada lagi Marwan, tidak ada lagi Rina, dan sebentar lagi... tidak akan ada lagi Nirmala!"
Ia kembali tertawa, suara melengking yang mengerikan, sementara di tengah tawa itu, selendang sutranya berkibar-kibar mengikuti guncangan tubuhnya yang kian tak terkendali.
****
Di Sukabumi, di atas meja kayu yang rapuh, Nirmala Dizan membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Sebuah surat pernyataan yang akan menjadi bom waktu bagi kekuasaan Rini.
Januar mengambil surat itu dengan tangan gemetar. "Ini dia. Besok, kita akan membuat kejutan di rapat umum luar biasa. Kita akan hancurkan dia di depan semua orang."
Ale berdiri di samping Nirmala, menggenggam tangannya dengan erat. "Gue ikut. Gue nggak akan biarkan Nirmala sendirian menghadapi iblis itu."
Nirmala menatap ke arah jalanan yang menuju Jakarta. Ia tahu, perjalanan kembali ke kota kelahirannya bukan lagi untuk menjadi putri yang dimanja, melainkan untuk menjadi prajurit yang akan menuntut balas di atas reruntuhan harga diri keluarganya.
Badai besar kini tengah bergerak menuju Jakarta. Dua kekuatan sedang bersiap untuk benturan terakhir: Rini dengan kegilaannya yang tak terbatas, dan Nirmala dengan kebenaran yang baru saja ia temukan di tengah kesederhanaan desa.
****
Aula utama Grand Ballroom Jakarta, tempat Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) digelar, tampak seperti kuil kekuasaan yang baru. Logo Dizan Holding dan Suteja Group dipajang berdampingan, namun ukuran logo Dizan tiga kali lebih besar, seolah sedang menelan saudaranya hidup-hidup. Karpet merah membentang, bunga-bunga lili putih yang melambangkan kemurnian justru terasa seperti bunga kematian di tengah atmosfer yang mencekam.
Rini Susilowati berdiri di atas podium dengan keanggunan yang mengerikan. Ia mengenakan kebaya hitam legam dengan sulaman emas yang rumit, dan tentu saja, selendang sutra hitam yang melingkar di lehernya. Hari ini, ia akan dinobatkan sebagai Komisaris Utama entitas gabungan baru tersebut.
"Hari ini," suara Rini menggema lewat pengeras suara, tenang namun berwibawa, "kita tidak hanya menyaksikan merger dua perusahaan besar. Kita menyaksikan kelahiran kembali sebuah dinasti yang akan menguasai pasar Asia Tenggara. Suteja Group dan Dizan Holding kini menjadi satu di bawah kepemimpinan yang lebih... bertenaga."