NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENYATU

"Anak-anak.. cemilaaan, " seru Bara sambil berjalan cepat menghampiri anak-anak panti yang tengah menonton di ruang kelas.

"Yeaaaay.. makasih bang, " jawab mereka hampir berbarengan.

Siska tercengang, melihat Bara membawa banyak tentengan begitu juga dengan Aira. Martabak manis sepuluh kotak, kripik singkong lima bungkus besar, martabak telur sepuluh kotak, roti bakar bandung sepuluh bungkus berbagai macam rasa. Milkshake tiga puluh gelas.

"Ini, ada perayaan apa gimana Bara? " tanya Siska terheran-heran.

Bi Sri tak kalah terkejut, tapi tetap antusias membantu Aira membagi milkshake pada anak-anak.

"Emmm...bisa dibilang begitu Bu, " jawab Bara sambil menggosok tengkuknya malu.

Siska spontan menoleh menatap Bara, lalu pada Aira yang juga tersipu sambil menata kue ke piring-piring kecil.

"Akhirnya balikan? " bisik Bara.

"Iya Bu, tapi ada yang mau kami bahas lagi rencana ke depannya bagaimana. Ibu bisa kasih kami masukan? "

Siska mengangguk, lalu mengajak Bara dan Aira ke ruang kerjanya. Anak-anak bersemangat menikmati makanan yang di bawa sambil menonton TV. Bi Sri menemani mereka disana.

"Duduk, Bara.. Aira. Jadi, ceritakan bagaimana diskusi kalian tadi, " minta Siska.

" Aira setuju kembali tinggal dengan Mas Bara, Bu. Aira jujur, memori itu kembali perlahan, tapi belum sepenuhnya. Aira bersedia memulai dari awal lagi dengan Mas Bara. Tapi, yang utama menjadi ke khawatiran Aira soal Ibu Mas Bara. Apa beliau akan menerima kondisi Aira? " ujar Aira tertunduk.

"Bagaimana dengan tawaran Mas waktu itu? Kita cari kontrakan saja, tinggal berdua. Kalau Aira masih mau bekerja disini, kita cari di sekitar sini."

"Tapi, Mas jadi jauh pergi kerjanya?"

"Nggak masalah, kan Mas naik motor juga ke kantornya. Kita bisa cari-cari besok."

"Benar, Aira. Itu hak Bara yang memutuskan, sejatinya orang tua akan mendukung keputusan anaknya. Tapi, kalian tetap harus menjaga silaturahmi dengan orang tua. Sering-sering berkunjung meski sudah tidak tinggal serumah."

"Pasti, Bu. Bagaimana Aira? "

Aira menarik nafas dalam, memantapkan hatinya. Ia menatap Bara lalu Siska. Mata mereka penuh harap, dan juga tatapan yang sangat mendukung.

"Baik, Mas. Aira setuju."

"Alhamdulillah... " seru Bara dan Siska bersamaan.

"Bara ijin menginap di sini boleh, Bu? "

Aira terkejut, 'Loh, kenapa menginap? ' batinnya.

"Tentu saja boleh Bara. Kamar Aira luas kok, kasurnya juga besar bisa berdua."

"Eh, ibu." Aira mendadak cemas.

"Nggak apa Aira, ini sudah jam sepuluh malam kasihan kalau Bara pulang larut. "

"Tapi..bisa di kamar anak-anak kan, Bu, " ujar Aira ragu.

"Bara suamimu, kenapa malah tidur sama anak-anak? "

Bara terkekeh, senyumnya penuh kemenangan. Dukungan Bu Siska membuatnya bersemangat.

"Terima kasih pengertiannya, Bu Siska."

"Ya, sudah. Kalian sambung lagi obrolannya. Ibu ke kamar duluan ya. Jangan lupa di makan yang dibeli tadi."

"Siap, Bu, " sahut Bara.

Siska berlalu keluar dari ruangan. Ia menghampiri anak-anak mengingatkan mereka untuk kembali ke kamar dan bersiap tidur.

Bara menatap Aira yang terlihat gugup. Aira tak sadar meremas-remas tangannya sendiri.

"Dek, nanti kalau kita sudah dapat kontrakannya. Kita pulang ketemu Ibu, ya. Ini bukan soal minta ijin lagi, tapi sekedar memberi tahu keputusan kita. Kamu jangan terlihat ragu atau takut. Mas yang akan memastikan ibu menerima keputusan kita. "

"Soal yang lain kamu tidak perlu khawatirkan. Fokus saja dengan pengobatan, dan aktifitas mu di sini ya."

Aira akhirnya mengangguk, tapi ia masih diam. Seperti mengkhawatirkan yang lain.

"Mas, aku ke kamar dulu ya. Siapkan tempat tidurnya."

Aira bergegas berdiri dan buru-buru keluar ruangan.

"Eh, aku ikut."

Bara mengekori Aira ke kamarnya. Aira menoleh sesekali melihat Bara yang begitu antusias. Pipi Aira sontak memerah, jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya dingin.

' Semoga Mas Bara berubah pikiran, ' batinnya.

Handphone Bara tiba-tiba berdering. Ia merogoh saku celana mengambil ponselnya dan menggeser tanda panggilan warna hijau.

"Assalamu'alaikum, Dek. Ada apa? "

"Wa'alaikumsalam. Mas Bara di mana? " tanya Puspa dibalik telpon.

"Mas di panti seperti biasa. Kenapa? "

"Kok tumben jam segini belum pulang? "

"Mas nginap di sini ya, Dek. Ada urusan sama Aira besok. Agak siang in syaa Allah pulang. Titip pesan ke Ibu. Ada apa memangnya? "

"Oh gitu, nggak apa-apa kok, Mas. Ibu cuma tanya jam segini kok belum pulang. Apa mampir kemana dulu atau ada kejadian apa di jalan gitu. Panti sama rumah kan jauh, jadi ibu cemas."

"Oh gitu, tadi mas memang ke pasar malam sama Aira carikan anak-anak cemilan, tapi kemalaman akhirnya nginap aja sekalian. Kebetulan besok juga ada urusan. "

"Ya, sudah. Titip salam sama Kak Aira. Puspa kangen loh sama Kak Aira. Puspa tutup telponnya, Mas. Assalamu'alaikum."

" Iya, nanti di sampaikan. Wa'alaikumsalam."

Bara mematikan ponsel dan mencari Aira yang sudah tak terlihat.

"Aduh, kamarnya yang mana? " gumam Bara sambil celingak celinguk.

"Kenapa, Bara? " tanya Bi Sri yang hendak ke kamarnya setelah memastikan situasi dapur.

"Itu Bi, kamar Aira yang mana ya? " tanyanya polos.

"Eh, mau menginap di sini? " tanya Bi Sri terkejut.

"Iya, Bi. Tadi sudah ijin sama Bu Siska."

"Baguslah, berarti udah baikan ya sama Aira?"

"Alhamdulillah, Bi."

"Alhamdulillah, Bi Sri ikut senang. Sini Bi Sri tunjukkan kamarnya. Dia pasti gugup itu makanya dia nggak sadar ninggalin kamu, " ujar Sri terkekeh.

"Ah, Bi Sri bisa aja."

TOKTOKTOK

CEKLEK

"Eh, Mas. Maaf aku tinggal. Baru mau aku panggil, " ujar Aira kikuk.

Bara tercengang melihat selimut tergerai di lantai dengan satu buah bantal diatasnya.

"Mas Bara tidur di atas aja. Aira yang tidur di bawah, " ujarnya sambil membersihkan kasur dengan sapu lidi.

"Kenapa kamu nggak di atas aja? "

"Ah itu, nggak apa-apa mas."

Bara menarik selimut di lantai, lalu melipatnya. Bantal ia letakkan lagi di atas kasur.

Aira terkejut melihat Bara bergerak cepat merapikan alas tidurnya.

"Eh, Mas. Itu--Hmmppph.. "

Bara menarik tubuh Aira---mendekapnya, lalu membungkam bibir Aira dengan ciuman. Aira berusaha mengelak. Bara memegang pergelangan tangannya dan menopang tubuhnya membawa ke atas kasur perlahan dengan ciuman yang tak lepas.

"Aira, kita sudah tiga bulan menikah, tapi belum sempat merasakan malam pengantin. Kamu sudah merasa lebih baik kan?"

Aira terdiam menatap Bara yang matanya memelas memohon.

"A.. aku takut, Mas, " jawab Aira gugup.

"Aku akan pelan-pelan, Ya. Boleh kan? "

Aira menelan saliva. Jantungnya berdegup makin kencang. Ekspresinya antara cemas, tapi juga kasihan melihat Bara yang sangat berharap.

Benar, bahkan kasur pengantin mereka tak sempat hangat waktu itu. Mereka justru menginap di rumah sakit saat malam pertama.

Aira mengangguk pelan. Bibir Bara menyabit dengan mata berbinar. Tanpa ragu lagi, Bara menghangatkan suasana malam mereka.

Hawa malam makin dingin, rintik-rintik suara hujan terdengar menimpa atap. Menciptakan irama yang syahdu menemani malam pertama mereka di kamar panti yang remang-remang.

Desahan penuh kerinduan, ciuman penuh kemesraan, pelukan kehangatan. Kasur menderit pelan, dengan gerakan teratur dengan tubuh yang akhirnya menyatu di atasnya. Menyatukan hati yang sempat canggung dan terluka.

Tiga bulan..waktu yang lama untuk pertemuan yang penuh drama kesedihan dan harapan. Perjuangan seorang suami yang mengharapkan keharmonisan rumah tangga. Dengan kondisi sang istri yang penuh tekanan. Tekanan psikologis karena sakit yang ia derita, karena amnesia yang menekan emosinya dan karena penolakan dari ibu mertua.

Kini mereka bisa bersama kembali. Meski masih butuh usaha lebih untuk meyakinkan. Meski masih butuh banyak waktu untuk saling menguatkan satu sama lain.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!