NovelToon NovelToon
Bakti Suami Derita Istri

Bakti Suami Derita Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Identitas Tersembunyi / Nikahmuda / Keluarga / Romansa
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."

Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.

​Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.

​Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Bakti Suami Derita Istri

​​Senin Pagi, 05.00 WIB.

​Disa terbangun dengan perut yang melilit. Bukan karena sakit, tapi karena lapar yang sudah menjadi temannya selama tiga tahun terakhir. Ia melirik sisa nasi di magic com yang sudah menguning—hanya cukup untuk satu porsi sarapan Fikri. Disa menghela napas, ia akan minum air putih yang banyak lagi pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya.

​Di ruang tengah, Pak Hendra dan Bu Fatma sedang merapikan barang-barang Fikri. Wajah mereka tampak berat, namun ini keputusan bulat. Fikri harus dibawa ke kampung demi keselamatannya.

​"Dis, kamu benar-benar mau kerja?" tanya Bu Fatma lirih sambil memberikan botol susu ke Fikri.

​Disa mengangguk mantap sambil memoles bedak tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat. "Harus, Bu. Kalau Disa cuma ngandelin uang tiga juta dari Mas Abdi, Fikri nggak akan bisa sekolah dengan layak. Disa nggak mau anak Disa kekurangan gizi."

Pak Hendra menepuk bahu putrinya. "Ayah sudah urus perpindahan sekolah Fikri ke TK dekat rumah kita di kampung. Guru-gurunya teman Ayah semua, mereka bakal jaga Fikri dengan baik. Kamu fokuslah di sini, benahi apa yang harus dibenahi."

​Abdi keluar dari kamar dengan wajah segar, kontras dengan Disa yang tampak kuyu. "Lho, Yah... Bu... kok subuh-subuh sudah mau pulang? Fikri mau dibawa ke mana?" tanya Abdi bingung.

"Mas, mulai hari ini Fikri tinggal sama Ibu dan Ayah di kampung," jawab Disa dingin sambil memoles lipstik di bibirnya hal yang sudah lama tidak ia lakukan.

"Dia butuh udara segar dan perhatian penuh. Aku harus mulai kerja di firma auditor mulai jam sembilan pagi ini."

​"Tapi, Dis! Apa kata orang nanti kalau anak kita dititipkan ke mertua? Ibu pasti marah, dia merasa nggak dianggap sebagai Nenek!" Abdi mulai protes, suaranya naik satu oktaf.

​Disa berbalik, menatap suaminya dengan tatapan yang membuat Abdi langsung bungkam. "Ibumu nggak berhak protes soal siapa yang jaga Fikri, selama dia masih pamer emas di saat cucunya kritis kekurangan biaya. Lagipula, Mas... bukannya kamu senang? Kalau Fikri nggak di sini, pengeluaran kita buat susu dan sekolahnya jadi berkurang, kan? Kamu jadi punya sisa uang lebih buat 'berbakti' sama Ibumu."

​Kalimat sarkasme Disa menghujam jantung Abdi. Ia hanya bisa berdiri mematung saat melihat mertuanya menggendong Fikri yang masih mengantuk masuk ke dalam mobil. Fikri juga merasa senang bisa ikut dengan neneknya dari pada harus di jakarta selalu melihat orang dewasa bertengkar.

​"Jaga diri kamu Dis dan kamu Andi istri kamu jangan sering di ajak bertengkar " sindir Bu Fatma sebelum masuk kedalam mobil.

Disa memutuskan mengikuti Bunda dan Ayahnya yang akan masuk kedalam mobil mereka, Abdi dengan wajah kesal juga ikut mengantar kepergian anak dan mertuanya. Mobil sudah pergi dan jujur Disa merasakan kosong tapi ini semua memang demi Fikri.

​Disa yang masih berdiri mematung lalu menatap suaminya yang masih juga berdiri di sampingnya. Pria ini memakai kemeja brand ternama hasil "bonus" yang katanya jarang-jarang ada. Padahal, Disa tahu itu hanya alasan. "Mas, aku berangkat dulu. Fikri juga sudah pergi."

​Setelah momen haru melepas Fikri di depan kontrakan, Disa melangkah menuju halte bus dengan kaki gemetar. Ia belum makan sejak kemarin siang demi memastikan Fikri dapat potongan ayam terakhir.

​Kantor Firma Audit, 10.00 WIB.

​"Disa! Kamu tampak lebih kurus," sapa Pak Heru saat Disa masuk ke ruangannya.

​Disa hanya tersenyum tipis. "Hanya diet, Pak. Saya siap bekerja hari ini pak Heru."

​Pak Heru tersenyum dan memberikan tumpukan dokumen. "Ini data awal untuk audit kepatuhan perusahaan logistik. Kamu mulai dari verifikasi gaji dan tunjangan karyawan tingkat manajerial ya. Kita perlu pastikan tidak ada kebocoran dana."

"Baik pak saya akan melaksanakan." Jawab Disa.

"Ya sudah kamu boleh ke ruang kerja kamu ya Dis, masih sama di ruang kerja yang nyaman kamu itu, mau saya antar ?." Tanya pak Heru dengan nada becanda.

"Tidak usah repot-repot pak, saya permisi dulu ya pak." Jawab Disa.

Pak Heru tersenyum dan mengangguk dengan ucapan Disa, jujur pak Heru sangat senang dan bahagia bisa bertemu dengn Disa lagi dan disa juga kerja di kantornya lagi.

​Disa masuk kedalam ruang kerjanya dan tersenyum, ini adalah ruang kerja yang benar-benar memberikan Disa kenyamanan yang luar biasa. Disa langsung duduk di mejanya. Tangannya yang dingin mulai membuka file digital. Awalnya semua terasa biasa, sampai matanya tertuju pada tabel perbandingan gaji industri untuk posisi Purchasing Manager posisi yang sama dengan suaminya di kantor sebelah.

​Rata-rata gaji posisi itu adalah 20 hingga 30 juta rupiah.

​Jantung Disa berdegup kencang. Ia mencoba mengingat-ingat slip gaji yang pernah ditunjukkan Abdi lembaran kertas print-an biasa yang selalu tertulis angka 10.000.000. Selama tiga tahun, Abdi mengeluh betapa beratnya menghidupi keluarga dengan gaji sekecil itu, sampai Disa merasa bersalah jika meminta uang belanja lebih dari 3 juta.

​"Nggak mungkin..." bisik Disa. Ia mencoba mengakses database riset gaji kantornya.

​Jika Abdi berbohong soal 15 juta setiap bulan, ke mana uang itu pergi? 15 juta dikali 12 bulan adalah 180 juta setahun. Dalam tiga tahun, itu hampir setengah miliar rupiah!

​Bayangan rumah mewah mertuanya yang baru saja diganti lantainya dengan granit mahal langsung melintas di pikiran Disa. Kebenaran itu menghantamnya lebih menyakitkan daripada rasa lapar di perutnya.

​Setelah kebenaran soal gaji itu menghantamnya, Disa terdiam cukup lama di depan layar monitor. Ia merasa seperti orang paling bodoh sedunia. Setengah miliar rupiah lenyap begitu saja selama tiga tahun, sementara ia harus menahan lapar sampai perutnya sering berbunyi saat sujud salat malam.

​"Lima belas juta tiap bulan... Mas tega?" bisiknya lirih.

​Disa menyandarkan punggungnya di kursi kerja yang empuk. Ironis. Kursi di kantor ini jauh lebih nyaman daripada kursi kayu di kontrakannya yang sering membuat punggungnya pegal. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebu.

​Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya digedor dengan heboh.

​"DISSA?! INI BENERAN KAMU?!"

​Disa tersentak dan membuka mata. Tiga sosok familiar sudah berdiri di depan pintu dengan wajah melongo. Ada Rio yang masih setia dengan kacamata bingkai tebalnya, serta Sinta dan Manda yang tampil sangat modis dengan tas branded di bahu mereka.

​"Ya ampun, Dis! Pak Heru nggak bohong! Dia bilang ada auditor legendaris balik, aku pikir siapa!" teriak Rio sambil menghampiri meja Disa.

​Sinta dan Manda langsung memeluk Disa erat. "Dis! Ya ampun, kamu ke mana aja?! Tiga tahun hilang ditelan bumi, tau-tau muncul lagi!"

​Disa mencoba tersenyum sealami mungkin, meski ia merasa sangat kecil di hadapan mereka. Sinta dan Manda, yang dulu menikah hampir bersamaan dengannya dan kini sama-sama punya anak satu, terlihat sangat terawat. Kulit mereka bersih, pakaian mereka berkualitas, dan aura mereka menunjukkan kalau mereka adalah wanita yang "dimuliakan" oleh keadaan finansialnya.

"Dis... kamu kok... kurusan banget?" celetuk Manda sambil memegang lengan Disa. "Diet ya? Atau kerjaan di rumah seberat itu?"

​Disa tertawa getir. "Iya, biasalah... urus anak kecil kan emang bikin kurus."

​"Halah, bohong! Aku juga punya anak, tapi malah makin lebar nih," sahut Sinta sambil tertawa, menunjukkan jam tangan emas mungil di pergelangan tangannya. "Eh, makan siang yuk! Kita harus ngerayain kembalinya Ratu Auditor kita ke kantor ini!"

​Rio menyambar, "Ayok! Aku yang traktir! Spesial buat Disa yang sudah balik ke jalan yang benar daripada cuma di rumah jadi menteri keuangan yang nggak ada duitnya!"

​Rio berniat bercanda, tapi kata-kata "menteri keuangan yang nggak ada duitnya" itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Disa.

​Mereka makan di restoran dekat kantor. Selama makan, Disa lebih banyak diam mendengarkan cerita mereka.

​Sinta bercerita soal suaminya yang baru saja membelikan asuransi pendidikan kelas satu untuk anaknya. Manda sibuk menunjukkan foto-foto liburan singkat keluarganya ke Bali bulan lalu.

​"Dis, anak kamu sekolah di mana sekarang? Fikri, kan?" tanya Manda.

​Disa menelan ludahnya yang terasa pahit. "Fikri... baru aku pindahin ke kampung sama Ibu, Man. Biar ada yang jagain selama aku kerja."

​"Lho, kenapa? Padahal di Jakarta kan banyak sekolah bagus. Suami kamu kan Manager di perusahaan logistik besar, ya? Harusnya mah gampang bayar sekolah internasional," timpal Rio polos.

Disa hanya bisa tersenyum kaku. Ia teringat kembali angka 25 juta dan 3 juta. Perbedaan yang sangat mencolok. Di saat teman-temannya mendiskusikan tabungan hari tua dan investasi, Disa di sini bahkan bingung apakah besok dia masih punya uang untuk ongkos bus kalau Abdi tiba-tiba tidak memberinya uang transport.

​Setelah makan siang selesai dan teman-temannya kembali ke meja masing-masing, Disa duduk di sudut pantry kantor yang sepi. Ia menatap secangkir kopi hitam tanpa gula di depannya.

​Ia tidak lagi menangis. Matanya kering, tapi hatinya membatu. Kebahagiaan teman-temannya tadi adalah cermin dari hidup yang seharusnya ia miliki jika saja suaminya tidak egois.

"​Mas Abdi... kamu membuatku hidup seperti pengemis di rumah kita sendiri," batinnya.

​Disa mengeluarkan buku catatan kecilnya. Ia tidak lagi merenung meratapi nasib. Ia mulai menulis strategi. Jika Abdi menyembunyikan 15 juta setiap bulan, maka Disa harus mencari tahu di mana uang itu "parkir". Apakah di rekening rahasia? Ataukah langsung ludes di tangan Ibu mertuanya?

​Ia akan menjadi auditor di dalam rumah tangganya sendiri. Dan kali ini, tidak akan ada ampun bagi setiap rupiah yang dikorupsi oleh suaminya.

1
Andez Aryani
bukan'y nama adik ipar'y tu sinta sama rian yah thor
Ariany Sudjana
hahahaha dasar laki-laki mokondo kamu Abdi 😂😂🤣🤣 ga ada harga diri, tunduk sama kemauan Rini
-Thiea-
punya keluarga mertua kayak gini serem ya. 😑
Soraya
mampir thor
blcak areng: mksh Akak 😍
total 1 replies
aku
aku suka keributan begini 🤣🤣
aku
🌹🌹🌹 gassss lg toooorrr buar smgt 😁
Ariany Sudjana
dasar laki-laki bodoh kamu abdi 🤣🤣🤣 kamu membuang permata demi batu kerikil
Ariany Sudjana
bagus Disa, hancurkan abdi dan keluarga toxic itu
Ariany Sudjana
percuma abdi, mau kamu jungkir balik juga ga akan merubah tekad Disa untuk berpisah sama kamu
mom'snya devadhamian
iya semangat Disa..hancurkan aja lagi ga berguna kaya si abdi mah tuman😏
Ariany Sudjana
sebaiknya sih kamu bercerai dengan abdi, kalau sesudah itu abdi mau foya-foya, dan cari istri baru supaya bisa diinjak lagi, ya itu urusan si abdi, bukan urusan kamu lagi. kamu bodoh kalau masiih mau bertahan di rumah tangga yang toxic
Ayesha Almira
skrng abdi bru sadar..dh kelewatan...
mom'snya devadhamian
satu kata buat laki dan keluarga laki kaya gitu...mampus😈
Ayesha Almira
andi g sadar2 jd suami..
Ayesha Almira
aduh knp sih g kapok trs cari gara
Ayesha Almira
makanya jgn remehkn seorng istri...distap kbrhsiln suami da doa istri,..berbakti kpd ortuang sngt penting.stdknya mo pa2 berbicara dlu terhdp istrimu..br g slh phm..
blcak areng: betul kak 🙏
total 1 replies
Ayesha Almira
disa sprt itu krna kalian..seharusnya ibu menjdi panutan buat mantu...
Ayesha Almira
enakn d balikin omngnnya,g bs jwb kn
Ayesha Almira
skrng istriku berubh suami cr bantuan...slh kmu sndri mas g adil dlm rumah tangga..stdknya jujur k istri..
Ayesha Almira
disa bnr,memng surga suami da pada ibunya..knpa g berdikap adil pada disa..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!