***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Familiar
Dea tidak ingin memikirkan Jule lagi dia sudah benar benar hancur gara gara permainan bodoh nya, sekarang dia hanya ingin pulang ke rumah ibu nya, memikirkan cara untuk membujuk Rea agar mau memaafkan diri nya.
Dean sudah terlanjur jatuh cinta pada Rea, cinta nya memang sungguh besar, namun godaan Jule pada nya juga tak bisa dia abaikan, makanya dia lupa diri dan bermain api pada Jule, Dean akan melakukan apapun yang Rea perintahkan dan Rea minta sebagai syarat agar Rea mau kembali rujuk sama dia.
Satu lagi yang Dean sesali kenapa dia tidak mendaftar kan pernikahan mereka ke KUA, dan malah menuruti keinginan dan ancaman Jule.
Dia merasa sangat menyesal karena kebodohannya sendiri Rea bisa lepas dengan mudah dari tangan nya, seandainya saja Dean dan Rea menikah resmi, pasti Rea gak segampang itu meminta talak dan meninggal kan nya, apa lagi sampai menjual rumah dan membawa kabur mobil nya, namun nasi sudah menjadi bubur Dean tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, yang bisa dia lakukan sekarang adalah menemukan Rea dan memohon ampun pada nya.
✨✨✨✨
Waktu menunjukan pukul 20:45 Willie masih setia menunggu di rumah sakit, beberapa saat kemudian, dokter yang baru memeriksa keadaan rea baru keluar dari ruang ICU.
" Bagaimana keadaan pasien dok ?? Apa ada perkembangan." tanya Willie segera mendekat tepat saat dokter itu menutup pintu kaca besar di belakang nya.
Sang dokter menghela nafas berat sebelum menjawab. " Maaf sekali tuan, belum ada perkembangan, keadaanya sudah stabil tapi dia masih belum sadar, mungkin akibat trauma pada kepalanya tapi tenang saja, kita tunggu satu kali dua puluh empat jam, kita lihat saja perkembangan nya, semoga saja dia segera sadar." Dokter menepuk bahu Willie sebagai bentuk empati.
" Lebih baik tuan beristirahat saja dulu atau pulang, jika ada apa apa, pihak kami pasti langsung menghubungi tuan, seperti nya tuan butuh istirahat."
Willie menghela nafas lirih, dia jelas kelelahan namun rasa khawatir enggan meninggal kan Rea.
" Baik dokter, saya akan menginap di apartemen saya tidak jauh dari sini, berjalan kaki hanya lima menit, saya titip pasien ini, kalau ada keadaan darurat atau perkembangan apa pun tolong hubungin saya. " ucap Willie bersungguh sungguh. " gadis itu telah menyelamatkan putri saya, kalau bukan karena dia yang menyelamatkan, mungkin saya akan kehilangan putri saya hari ini."
Dokter itu mengangguk lalu tersenyum kecil. " Kami akan melakukan yang terbaik untuk nya tuan, saya yakin pasien akan baik baik saja tapi, apa kah tidak ada keluarga yang bisa di hubungi."
Willie menggeleng. " Tidak ada dok, ponsel nya hancur, di kartu identitas nya juga tertulis dia sendirian, bahkan saya sudah menyuruh anak buah saya untuk mendatangi alamat yang tertera di KTP, tapi rumah nya kosong menurut tetangga ayah dan ibu gadis itu sudah meninggal, gadis ini bekerja di kota sendirian."
Dokter kembali mengangguk dengan tatapan prihatin. " Baik tuan, kami akan mengabari setiap perkembangan kondisi pasien."
Akhir nya Willie pun memutuskan untuk kembali ke apartemen nya yang memang tidak jauh dari rumah sakit, mengistirahatkan tubuh nya meski pikiran nya masih tertinggal di pintu ruang ICU tempat Rea terbaring tidak berdaya.
Dengan berat hati Willie meninggal kan rumah sakit, dia datang ke sana bersama ambulans, jadi dia tidak memiliki kendaraan untuk pulang, untung nya, apartemen nya hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari rumah sakit, dia pun memutuskan berjalan kaki saja.
Langkah nya berat, pikiran nya tertinggal di ruang ICU dia takut kalau Rea tiba tiba sadar dan tidak ada siapa pun di samping nya, namun dia meyakinkan diri kalap dokter atau perawat akan menghubunginya jika ada perkembangan.
Setiba nya di apartemen, Willie langsung menjatuhkan tubuh nya ke ruang tengah, pandangan nya langsung tertuju pada tas ransel Rea yang dia bawa dari lokasi kejadian, di dalam nya ada beberapa barang~ sebuah uang tunai yang mungkin jumlah nya mencapai Seratus juta rupiah, buku tabungan atas nama Rea, dan sebuah kamera kecil.
Rasa penasaran nya menyeruak. " Siapa sebenarnya kamu Rea."
Dia mengambil laptop dari kamar nya lalu menghubungkan kamera kecil yang ternyata memiliki memori internal, detik berikut nya layar laptop menampilkan rekaman video.
Di sana Rea tampak mengamuk pada seorang pria dan wanita yang bermesraan di dalam kamar, Tangis, teriakan, kemarahan semua nya terkena jelas.
Dan yang membuat Willie terkejut adalah sebuah percakapan mereka.
Dia mendengar jelas bahwa Rea pernah menikah dan baru saja bercerai, suaminya berselingkuh di depan mata, pengkhianatan yang begitu kejam rekaman itu yang menjadi bukti nyata.
Willie terdiam tak berkedip.
" Malang sekali gadis ini." gumam nya hati nya seperti di remas sakit, membayangkan betapa berat luka yang Rea tanggung seorang diri.
Namun di balik luka itu Willie melihat sesuatu yang membuat nya menghela nafas kagum, keberanian Rea.
Dia memilih bercerai, meski itu menghancurkan diri nya, dia memilih pergi dari pada terus di sakiti, dia memilih mempertahankan harga diri yang tersisa.
Perlahan senyum tipis muncul di wajah Willie, bukan senyum senang tapi senyum rasa hormat.
" Bahkan di dalam sakit nya dia tetap kuat." ucap nya lirih, rasa kagum menghangat kan dada nya.
Setelah melihat semua itu Willie akhirnya menutup laptop nya dengan nafas berat, dia memasukan kembali barang barang milik Rea ke dalam tas, berusaha menata semua nya seperti semula, namun tepat ketika hendak menutup resleting mata nya menangkap selembar foto yang sudah kusam di sudut tas.
Dengan hati hati dia mengambil nya.
Foto itu memperlihatkan wanita muda yang sangat mirip dengan Rea, wajah lembut, senyum tipis dan sorot mata yang sangat familiar di samping nya berdiri seorang pria muda, seumuran dengan nya yang memeluk sang wanita dengan penuh kebanggaan, kebahagiaan terpancar jelas dari potret itu.
Willie membalik foto tersebut, lalu membaca tulisan nya.
" Dimas Anggara & Steffy Saputri."
Kening Willie langsung berkerut. " Kenapa aku sepertinya pernah mendengar nama pria ini." gumam nya mencoba mengingat nama itu terdengar tidak asing, seperti pernah lewat di telinga nya mungkin di dunia bisnis, seminar atau tamu undangan.
Namun semakin di paksa pikiran nya tetap kosong.
" Ah sudah lah mungkin cuma kebetulan nama nya mirip." ucap Willie akhir nya sambil menghela nafas.
Dia memasukan foto itu kembali ke dalam tas ransel Rea dan menutup nya rapat, pria itu berdiri menarik nafas panjang sebelum akhir nya masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin membersihkan diri berharap rasa lelah dan pikiran nya sedikit berkurang.
walau kau menjauh dari jule itupun kau tak akan pernah mendapatkan rea. tidak sekarang juga tidak nanti. karena hati rea saat ini sudah terpaut sama duda beranak satu.
jadi nikmatilah penyesalanmu itu.
jule itu cuma memanfaatkan hartamu saja. kau dijadikan mesin ATM berjalan. kau harus ingat semua kekayaanmu itu bukanlah milikmu. itu semua milik rea. harus kau ingat itu.
ayo dong thor up lagi yang banyak hari ini?