💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — FOTO YANG BIKIN RETAK
Cahaya ponsel itu membelah gelap kamar tanpa peringatan.
Deretan angka asing di layar tak menjanjikan apa pun.
Tanpa sapaan akrab. Tanpa kalimat ancaman.
Hanya satu kiriman foto—satu potret yang seharusnya tak pernah ada.
Alinea membukanya dengan wajah biasa saja.
Dan dalam satu detik, sesuatu di dalam dadanya retak tipis.
Di foto itu, Arsenio berdiri terlalu dekat. Terlampau dekat.
Perempuan di sampingnya mengenakan gaun elegan dengan rambut yang disanggul rapi—citra sempurna yang nampak asing. Mereka tertawa, sebuah tawa lepas yang menghapus jarak di antara keduanya hingga nyaris tak bersisa.
Itu bukan pose formal untuk sampul majalah.
Bukan pula jabat tangan kaku khas urusan bisnis.
Ada keakraban yang tidak seharusnya di sana. Sebuah keintiman yang hanya dimiliki oleh dua orang yang sudah saling hafal detak jantung masing-masing.
Alinea memperbesar gambar itu. Meneliti setiap detail. Tatapan Arsenio terlihat lembut. Tangannya seolah hampir menyentuh punggung perempuan itu.
Alinea menarik napas panjang.
“Cuma sudut kamera,” gumamnya.
Lalu dia menutup layar. Meletakkan ponsel. Menegakkan punggung.
Ini cuma sandiwara.
Alinea tidak berhak cemburu. Tidak berhak marah. Tidak berhak menuntut apa pun. Baginya, hak itu adalah kemewahan yang tak pernah ia miliki.
Namun, sepanjang hari itu, tubuhnya mengkhianati logikanya sendiri. Ia bergerak kaku, seperti seseorang yang sedang menahan ledakan di dalam dada. Ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, namun ia paksa telan kembali hingga tenggorokannya terasa perih.
Saat Arsenio masuk ke ruangannya pagi itu, seperti biasa tanpa mengetuk panjang, Alinea sudah berdiri dengan tablet di tangan.
“Selamat pagi, Pak.”
Biasanya ada nada ringan di akhir kalimatnya.
Hari ini datar.
Arsenio langsung menangkap perbedaan sekecil itu.
“Laporan tender?”
“Sudah saya kirim ke email Bapak.”
“Baik.”
Sunyi menggantung beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Arsenio menatapnya—sebuah tatapan yang mencari-cari sesuatu di wajah itu. Namun, Alinea tidak sekali pun membalasnya. Pandangannya terpaku pada layar, jari-jarinya bergerak tenang di atas pointer, menjelaskan setiap poin presentasi dengan ketenangan yang mematikan. Profesional. Rapi. Tepat sasaran.
Tanpa celah sedikit pun.
Tak ada senyum tipis yang biasanya terselip di sela kalimat. Tak ada candaan spontan yang biasanya mencairkan suasana.
Kesempurnaan itu justru menjadi alarm yang bising bagi Arsenio. Karena dalam keheningan dan ketepatan Alinea hari ini, ada jarak yang mendadak membentang ribuan mil di antara mereka.
“Ada masalah?” tanya Arsenio akhirnya.
“Tidak ada.”
Jawaban yang terlalu cepat.
Arsenio menyipitkan mata sedikit—sebuah insting yang muncul tanpa ia sadari. Ia terbiasa membaca orang itu adalah bakat alaminya.
Seorang negosiator hebat selalu hidup dari mengamati perubahan mikro getar tipis di sudut bibir, jeda napas yang terlalu panjang, atau tatapan yang mendadak kehilangan binar.
Dan siang ini, di depannya, Alinea sedang berubah.
Ia bukan lagi Alinea yang ia kenal. Ia adalah benteng yang dingin dan kedap suara. Dan bagi Arsenio, perubahan sekecil apa pun adalah sebuah pernyataan perang yang tak terucapkan.
Siang itu, meja makan menjadi panggung sandiwara yang melelahkan di depan klien.
Biasanya, Alinea akan duduk sedikit condong ke arahnya—sebuah gravitasi alami yang tak terbantahkan. Ia biasanya menyelipkan komentar kecil yang cerdas atau menguatkan argumen Arsenio hanya dengan satu tatapan yakin yang sanggup meruntuhkan keraguan siapa pun.
Hari ini, gravitasi itu hilang.
Alinea duduk dengan jarak yang terukur. Punggungnya tegak, gerakannya elegan, namun memancarkan hawa dingin yang menusuk. Ia tetap profesional, tetap memikat, tapi ia terasa jauh—seolah berada di balik lapisan kaca tebal yang tak bisa ditembus.
Beberapa kali Arsenio sengaja menyebut namanya, melempar umpan untuk menariknya kembali ke dalam percakapan yang lebih hangat. Namun, Alinea hanya menanggapi dengan anggukan sopan atau jawaban singkat yang seefisien mesin.
“Alinea, bagaimana menurut Anda?”
Jawabannya tetap cerdas. Analitis. Tidak ada yang salah.
Kecuali jarak itu.
Dan jarak itu terasa lebih mengganggu daripada kesalahan besar.
Sore itu, lift menjadi ruang kedap suara yang menyiksa.
Hanya ada mereka berdua.
Lampu angka menyala satu per satu, berganti dalam sunyi.
Alinea menatap lurus ke depan, seolah pintu lift adalah satu-satunya hal yang layak dilihat.
Lalu,tanpa menoleh sedikit pun, ia bicara.
“Pak.”
“Ya?”
“Kalau sandiwara ini gagal…”
suaranya terdengar santai, seolah topik itu tidak penting, “…siapa yang paling sering ganti partner?”
Lift seolah berhenti berdetak.
Arsenio menoleh pelan.
Pertanyaan itu tidak muncul tanpa sebab.
“Kamu dapat pertanyaan itu dari mana?” tanyanya datar.
“Cuma penasaran.”
“Alinea.”
Ia akhirnya menoleh, tapi hanya sekilas.
“Saya cuma ingin tahu. Kalau ini cuma permainan citra… berarti sebelumnya juga pernah, kan?”
Nada bicara Alinea terlalu datar. Terlalu netral. Sesuatu yang seharusnya emosional, ia sampaikan dengan nada yang hampir tanpa nyawa.
Arsenio tidak menjawab. Ia terpaku selama beberapa detik yang terasa abadi.
Lalu, pintu lift berdenting terbuka.
Alinea melangkah keluar tanpa menoleh. Langkahnya mantap, elegan, dan menjauh. Arsenio tetap berdiri di dalam kotak besi yang mendadak terasa kosong itu, membiarkan pintu menutup kembali di depannya.
Seseorang baru saja mengacaukan ritme yang ia susun dengan rapi.
Dan Alinea adalah targetnya.
Malam itu, di kamar yang mendadak terasa terlalu luas dan sunyi, Alinea membuka kembali foto itu.
Kali ini, ia mengabaikan sosok perempuan cantik itu. Matanya beralih ke latar belakang.
Lampu gantung kristal yang megah. Pilar-pilar marmer yang dingin. Tangga melengkung dengan pagar besi hitam bermotif klasik. Ingatannya berputar cepat—ia pernah melihat kemewahan ini sebelumnya. Bukan secara langsung, melainkan dari lembaran majalah bisnis yang mengulas profil keluarga besar Arsenio.
Itu bukan sekadar gedung. Itu adalah wilayah kekuasaan yang tak tersentuh.
Dengan jempol yang sedikit gemetar, Alinea memperbesar sudut kiri foto.
Ada banner kecil, sebagian terpotong.
“Family Appreciation Night”
Jantungnya berdetak lebih keras.
Itu bukan acara publik.
Bukan gala perusahaan.
Itu acara keluarga.
Berarti yang mengambil foto itu bukan wartawan.
Bukan paparazzi.
Bukan orang asing. Ini adalah pekerjaan orang dalam.
Seseorang yang memiliki akses ke ruang privat itu. Seseorang yang dengan sengaja, dengan presisi yang matang, memilihnya sebagai penerima.
Kini, pertanyaannya bukan lagi, siapa perempuan di samping Arsenio? Melainkan, siapa yang ingin Alinea melihatnya?
Alinea menatap layar ponsel itu hingga matanya terasa panas. Di tengah kesunyian kamar, sebuah kesadaran menghantamnya—jauh lebih mengerikan daripada rasa cemburu mana pun.
Alinea tidak marah karena memikirkan reputasi Arsenio yang bisa hancur. Alinea marah karena ia peduli pada pria itu. Dan di dunianya yang kaku, peduli adalah kesalahan fatal yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Di sisi lain kota, Arsenio berdiri di tengah ruang kerjanya yang gelap.
Hanya ada sunyi yang berat.
Ia mengingat ulang kata-kata Alinea di lift tadi.
Suaranya tidak bergetar. Tidak ada nada terluka,ia hanya bertanya pelan tanpa menoleh.
“Siapa yang paling sering ganti partner?”
Itu bukan pertanyaan random.
Itu tuduhan terselubung.
Arsenio mengambil ponsel. Membuka daftar tamu acara keluarga minggu lalu.
Acara itu tertutup. Sangat privat. Hanya keluarga inti, segelintir kerabat, dan staf internal tepercaya. Tidak ada kamera media. Tidak ada tamu luar yang diizinkan masuk.
Arsenio memejamkan mata, memutar ulang ingatannya malam itu. Ia memang berdiri di sana, mengobrol dengan sepupunya yang baru pulang dari luar negeri. Mereka tertawa sejenak, mengenang lelucon lama yang sudah berdebu.
Jika foto itu diambil dari sudut kanan belakang...
Berarti orang itu berdiri sangat dekat dengannya.
Bukan orang asing yang memegang kamera itu. Melainkan seseorang yang berbagi tawa atau setidaknya bernapas di ruangan yang sama dengannya malam itu. Seseorang yang ia sebut "keluarga".
“Cek ulang dokumentasi internal Family Appreciation Night. Siapa saja yang memegang kamera selain fotografer resmi.”
Balasan datang cepat.
“Siap, Pak.”
Arsenio menurunkan ponselnya.
Tujuan orang itu bukan sekadar menjatuhkannya.
Orang itu ingin menghancurkan Alinea.
Seseorang ingin mematahkan kepercayaan Alinea, membuatnya menjauh, dan merusak satu-satunya hal yang Arsenio hargai di luar bisnisnya. Kesadaran itu menghantam Arsenio lebih keras dari apa pun.
Kini, ia bukan lagi sekadar waspada. Ia sedang bersiap untuk menyerang balik siapa pun yang berani menyentuh miliknya.
Keesokan paginya, Alinea kembali bersikap profesional seperti biasa.
Terlalu biasa.
Arsenio masuk tanpa ekspresi.
“Kita perlu bicara.”
“Ada revisi kontrak?”
“Bukan soal kerja.”
Alinea akhirnya menatapnya penuh.
“Kalau soal pribadi, Pak, bukannya kita sepakat ini hanya sandiwara?”
Kalimat itu tajam.
Arsenio melangkah lebih dekat.
“Kamu melihat sesuatu.”
Alinea tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum tipis.
“Kalau saya melihat sesuatu, bukankah itu berarti memang ada sesuatu?”
Hening.
Tatapan mereka bertemu. Kali ini jauh lebih lama, seolah ada percakapan tak kasatmata yang sedang berlangsung.
Arsenio menyadari satu hal ia bisa menghadapi pesaing bisnis yang paling licik, tekanan keluarga yang menyesakkan, atau ancaman saham yang terjun bebas. Semua itu punya solusi logis.
Tapi melihat ekspresi Alinea yang mulai menjauh—jarak yang sengaja diciptakan perempuan itu—mulai mengganggu konsentrasinya dengan cara yang tidak rasional. Itu adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa ia kendalikan. Dan itu membuatnya takut.
“Alinea,” suaranya lebih rendah sekarang, “kalau ada yang mencoba mengadu domba, kamu seharusnya bicara pada saya.”
Itu bukan perintah.
Itu hampir terdengar seperti permintaan.
Dan justru itu yang membuat Alinea goyah sesaat.
Tapi dia menahan diri.
“Bukankah dalam sandiwara, kita tidak perlu jujur?”
Alinea mengambil map di meja.
“Kalau tidak ada lagi, saya lanjut kerja.”
Alinea melangkah keluar ruangan.
Arsenio mengepalkan rahang.
Seseorang sedang memainkan bidak.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa permainan itu menyentuh wilayah yang tidak ingin ia akui.
Malam itu, Alinea membuka foto itu untuk terakhir kali.
Ia memperbesar wajah perempuan di samping Arsenio. Cantik. Percaya diri. Sosok yang terlihat begitu serasi di dunia Arsenio yang mewah. Namun, bukan itu yang membuat napasnya tertahan.
Mata Alinea terpaku pada pantulan kaca jendela di belakang mereka. Di sana, samar-samar terlihat bayangan seseorang sedang memegang ponsel.
Sudut pengambilannya tidak profesional. Itu diambil secara sembunyi-sembunyi. Dan dari posisinya, orang itu berdiri sangat dekat dengan lingkaran keluarga inti.
Bukan staf biasa. Bukan tamu umum.
Ini adalah musuh dalam selimut.
Alinea menelan ludah yang terasa getir.
Ini bukan sekadar foto untuk memicu cemburu. Ini adalah pesan.
Sebuah peringatan yang berbisik tajam:
Kau tidak akan pernah benar-benar masuk ke dunia Arsenio. Dan jika kau berani mencoba, kami akan mengingatkan di mana tempatmu sebenarnya.
Layar ponsel perlahan meredup, menyisakan kegelapan di kamar itu. Untuk pertama kalinya sejak sandiwara ini dimulai, Alinea tidak takut reputasinya hancur. Ia takut hatinya yang hancur lebih dulu.
Dan di sudut lain kota, di balik meja kerjanya yang dingin, Arsenio sudah mulai memburu satu nama.
Arsenio menyisir setiap wajah yang ada di ingatannya malam itu. Seseorang yang tahu persis titik lemahnya. Seseorang yang tahu bahwa cara tercepat untuk melumpuhkannya bukanlah dengan menyerang bisnisnya, melainkan dengan menyentuh Alinea.
Di dunia yang penuh dengan musuh berkedok saudara, Arsenio sadar ia tidak sedang mencari orang asing. Ia sedang mencari seseorang yang mungkin tadi siang baru saja tersenyum padanya.
Siapa orang dalam yang cukup berani memancing retakan…
dan cukup cerdas menyembunyikan diri di balik keluarga sendiri?
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨