"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Kota Medan, menyebarkan rona jingga kebiruan yang menembus celah gorden sutra di kamar utama mansion keluarga Darwin. Di dalam ruangan luas yang didominasi furnitur bergaya Italia modern itu, keheningan terasa begitu berat.
Garvi Darwin tidak beranjak satu inci pun dari posisinya sejak semalam. Pria itu duduk bersandar pada headboard ranjang, dengan kedua mata yang memerah menatap lekat ke arah wanita yang terlelap di sampingnya. Sepanjang malam, pikirannya berperang. Kata-kata Roy di bar terus berputar seperti kaset rusak, menghantam egonya yang setinggi langit.
Ia memandangi setiap inci wajah istrinya. Alsava Emily Claretta, wanita yang biasanya tampil begitu tangguh dan tak tersentuh sebagai COO Skyline Group, kini tampak begitu rapuh dalam tidurnya. Rambut brunette curly miliknya tersebar berantakan di atas bantal sutra, menutupi sebagian bahunya yang mulus.
Garvi tidak berani memejamkan mata. Ia takut jika ia tidur, saat terbangun nanti, ia akan mendapati Sava telah menghilang—pergi mencari kebebasan yang selama ini ia rampas.
Perlahan, kelopak mata Sava bergetar. Wanita itu mengerang kecil, mencoba menghalau kantuk yang masih menggelayut. Saat pandangannya mulai memperjelas bayangan di depannya, jantung Sava berdegup kencang secara spontan.
"Mas... Mas Garvi?" suara Sava parau, khas orang yang baru bangun tidur. ia sedikit beringsut duduk, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "Mas sudah bangun?"
Garvi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, namun tatapannya tidak lepas dari manik mata Sava.
Sava mengerutkan kening. Ia mempertajam pandangannya, menatap wajah suaminya lebih dekat. Di bawah pencahayaan lampu tidur yang masih menyala, ia bisa melihat gurat lelah yang sangat jelas. Mata Garvi yang biasanya tajam dan penuh kendali, kini tampak sayu dengan lingkaran hitam yang samar.
"Mas tidak tidur?" tanya Sava dengan nada heran sekaligus cemas yang berusaha ia sembunyikan.
"Aku mendengar kamu bermimpi buruk semalam," suara Garvi terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan. "Jadi, aku memilih untuk tetap terjaga. Aku ingin memastikan tidak ada hal buruk yang mendekatimu, bahkan dalam mimpimu sekalipun."
Sava tertegun. Ia menatap Garvi bingung. Selama bertahun-tahun pernikahan rahasia ini berjalan, Garvi tidak pernah bersikap selembut ini. Biasanya, pria ini hanya akan bangun, mandi, dan memerintahkannya menyiapkan segala keperluan kantor dengan nada otoriter.
Sebelum Sava sempat bertanya lebih jauh, secara tiba-tiba Garvi menarik tubuh Sava ke dalam pelukannya. Gerakannya begitu cepat namun penuh kehati-hatian, seolah ia sedang mendekap porselen mahal yang mudah retak. Kepala Sava bersandar tepat di dada bidang Garvi yang hanya terbalut kemeja tipis.
"Maafkan aku, Ave..."
Sava membeku di pelukan suaminya. Permintaan maaf? Dari seorang Garvi Darwin?
"Maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini. Maaf untuk keegoisanku, untuk kata-kataku yang menyakitimu, dan untuk semua hal yang bahkan tidak kusadari telah menghancurkan senyummu," bisik Garvi. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Sava, menghirup aroma vanila dan melati yang selalu menjadi candunya.
"Terima kasih... terima kasih karena mau bertahan sampai detik ini. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan pernah bisa sesabar ini menghadapi pria brengsek sepertiku."
Sava hanya diam. Tubuhnya kaku, namun di dalam hatinya, sebuah benteng pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun mulai goyah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ini bagian dari manipulasi baru suaminya? Ataukah kecelakaan kemarin benar-benar mengubah cara pandang pria cassanova ini?
"Mas... Mas lebih baik tidur sekarang. Matamu sangat merah," ucap Sava lirih, mencoba melepaskan diri dari suasana yang terlalu intim itu. "Aku harus bersiap-siap. Hari ini ada rapat direksi di kantor."
Garvi melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya masih memegang bahu Sava. Ia menggeleng tegas.
"Aku tidak mau tidur. Aku mau pergi ke kantor bersamamu."
"Tapi Mas tidak tidur semalaman! Mas bisa pingsan di tengah rapat," protes Sava.
"Aku tidak peduli," sahut Garvi dengan kilat posesif yang kembali muncul di matanya. "Aku tidak mau membiarkanmu pergi sendirian hari ini. Aku ingin di dekatmu, Ave."
Garvi menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Sava meremang. Secara spontan dan tanpa peringatan, Garvi menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Sava, mengangkat tubuh semampai itu ke dalam gendongannya.
"Mas! Apa yang Mas lakukan?!" seru Sava kaget, refleks melingkarkan lengannya di leher Garvi agar tidak terjatuh.
Garvi tidak menjawab. Dengan langkah tegap, ia membawa Sava menuju kamar mandi luas yang berlapis marmer hitam dan emas.
Garvi menurunkan Sava tepat di bawah standing shower. Sebelum Sava sempat protes, Garvi sudah menyalakan air. Seketika, guyuran air hangat membasahi tubuh mereka berdua, membuat piyama sutra tipis yang dikenakan Sava melekat sempurna pada lekuk tubuhnya yang body goals.
Sava terkesiap, napasnya memburu saat air mulai membasahi wajahnya. Ia menatap Garvi yang juga basah kuyup. Kemeja putih yang dikenakan pria itu kini menjadi transparan, memperlihatkan otot-otot dada dan perutnya yang atletis.
Garvi melangkah mendekat, memojokkan Sava ke dinding marmer yang dingin. Tangan kanannya terangkat, membelai lembut pipi Sava yang basah, lalu jari-jarinya menyusuri bibir bawah istrinya dengan gerakan sensual.
"Mas... kita harus bersiap ke kantor," bisik Sava, namun suaranya terdengar sangat lemah.
"Kantor bisa menunggu, Ave," jawab Garvi serak.
Garvi menarik dagu Sava ke atas, memaksanya menatap langsung ke dalam matanya yang kini dipenuhi oleh gairah dan rasa haus akan penebusan. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Kecupan pertama mendarat dengan sangat lembut di bibir Sava, seolah ia sedang mencicipi madu yang paling berharga.
Namun, kelembutan itu tidak bertahan lama. Rasa posesif dan gairah yang terpendam meledak seketika. Ciuman Garvi berubah menjadi menuntut, lapar, dan penuh dengan kepemilikan. Ia mencium Sava seolah-olah ia ingin menyerap seluruh napas wanita itu ke dalam dirinya sendiri.
Sava merasakan lututnya lemas. Di bawah guyuran air shower yang terus mengalir, ia membalas ciuman suaminya. Seluruh kemarahan dan rasa sakit yang ia simpan seolah melebur dalam panasnya sentuhan Garvi pagi ini. Tangan Garvi mulai bergerilya, menyusuri lekuk tubuh Sava yang indah, menarik pinggangnya agar tidak ada jarak sedikit pun di antara mereka.
Suasana di kamar mandi itu berubah menjadi sangat panas, beradu dengan uap air hangat yang memenuhi ruangan. Sebuah adegan penuh gairah antara sepasang suami istri yang selama ini terjebak dalam kedinginan ego masing-masing, kini meledak dalam satu momen yang tak terkendali.
Beberapa saat kemudian, di tengah napas yang tersengal, Garvi melepaskan ciumannya sejenak. Ia menyandarkan keningnya di kening Sava, sementara air terus mengguyur mereka.
"Ave," bisik Garvi dengan nada yang sangat serius, membuat Sava membuka matanya.
"Ya, Mas?"
"Jika suatu saat... ada seseorang dari masa lalumu kembali," Garvi menjeda, matanya berkilat berbahaya. "Dan dia mencoba membawamu pergi dariku dengan alasan kebahagiaanmu... aku ingin kau tahu satu hal."
Sava menatap suaminya bingung. "Maksud Mas apa?"
Garvi tidak menjawab secara langsung. Ia justru merogoh sesuatu dari saku celananya yang basah kuyup. Sebuah cincin berlian dengan ukiran kuno yang sangat indah—cincin yang seharusnya diberikan saat hari pernikahan mereka, namun Garvi buang saat itu.
"Cincin ini... aku menemukannya kembali di brankas Kakek. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk dirimu sendiri, melepaskannya lagi." Garvi memasangkan cincin itu dijari manis Sava, Sava menatap setiap gerakan lembut Garvi dengan sorot mata yang masih menilai serta memahami apa yang sesungguhnya terjadi dengan suaminya.
***
mereka ini saling cinta mati tp saling menyakiti.... 😁😂🤭
pada gengsian mau bilang ilopeyu