Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Athalia berusaha menghindari karyawan yang berjalan mendekatinya, sehingga tidak menyadari Ethan sedang melihatnya. Ethan segera mengeluarkan ponsel untuk telpon setelah melihat situasi lobby.
"Rion, di mana?" Ethan bertanya, karena Rion menggunakan lift khusus bagi pejabat perusahaan.
"Di tempat parkir, Pak." Jawab Rion cepat.
"Kembali ke ruangan." Ucap Ethan serius saat pria yang melihat Athalia mendekati tempat resepsionis. Ada hal yang mengganggunya.
Sedangkan Athalia yang menyadari kehadiran pria itu makin dekat, dia segera menunduk. Dia bersikap seola-ola mau mengambil sesuatu di bawah, agar dia bisa menunduk.
"Hendry, ternyata kau di situ. Aku cari di atas dan telpon, kau ngga angkat." Terdengar suara seorang pria yang mendekati resepsionis. Sehingga Athalia mengangkat kepala.
"Oh, sorry. Aku ada perlu sebentar, jadi duluan turun." Ucap Hendry sambil melihat Athalia.
"Ok. Sudah selesai keperluannya? Aku lapar."
"Sebentar." Hendry mendekati Athalia yang sudah berdiri. Namun Athalia bersikap seakan tidak mendengar percakapan dua pria yang sudah di depannya.
"Talia, aku mau ajak makan siang dengan kami." Ucap Hendry serius, sambil melihat Athalia.
"Terima kasih, Pak. Saya bawa makan sendiri." Athalia menolak sopan dan halus, tapi tanpa senyum.
"Bawa pulang saja makannya. Mari ikut lunch dengan kami." Hendry tetap mengajak Athalia.
"Okein saja, Talia. Mumpung ada yang traktir." Temannya yang baru datang menambahkan, sambil menggerakan wajah untuk meyakinkan Athalia.
"Terima kasih, Pak. Saya makan yang dibawa saja. Perut lagi kurang baik." Athalia tetap teguh dan sopan.
"Baik. Lain kali mau ditraktir, ya." Hendry mengalah, tapi tidak mau menyerah.
"Saya tidak janji, Pak." Ucap Athalia tegas.
"Kita pergi saja. Mungkin lain kali dia berubah pikiran." Teman Hendry menarik tangan Hendry, karena khawatir kehilangan waktu dan terlambat makan siang.
Ketika mereka berlalu, Athalia menarik nafas panjang, lalu berjalan ke tempat security. Kemudian, dia menuju pantri untuk makan sebelum waktu istirahat berakhir.
~••~
Beberapa waktu kemudian, menjelang waktu pulang kantor, Athalia dan Alea menuju ruangan administrasi. "Talia, apa terjadi sesuatu? Kenapa kita diminta menghadap Pak Super?" Alea berbisik sambil berjalan cepat.
"Jangan tanya aku, Lea. Aku sama saja denganmu tidak mengerti apa pun." Bisik Athalia.
"Aku ngga terlalu dag dig dug, karna ada denganmu. Kalau aku sendiri yang dipanggil, sudah bisa dipastikan, masa trainingku berakhir." Ucap Athalia yakin.
"Iya, sih. Apa ini karna kau tolak ajakan pria itu?" Alea ingat yang diceritakan Athalia saat kembali dari istirahat siang.
"Pria yang bernama Hendry itu?"
"Emang ada yang lain lagi?"
"Tidak, sih. Cuma aku curiga padanya. Dia tahu dari mana nama panggilanku."
"Benar, kan yang kubilang. Mungkin dia naksir, jadi sudah cek and ricek tentangmu." Ucap Alea sambil tersenyum.
"Lagian kalau dia melapor karna aku tidak mau ditraktir, makin minus kelakuannya. Itu kan, hak kita mau tolak atau terima. Kenapa bawa-bawa perusahaan?"
"Jangan sampai dia petinggi di perusahaan ini, jadi gunakan jalur belakang untuk menekanmu." Bisik Alea.
Sontak Athalia menutup mulut dengan tangan dan melihat Alea dengan mata membesar. "Iya, ya. Tapi biarkan saja, Lea. Aku sudah terlanjur tolak dan terlanjur ilfeel sama orangnya."
"Ayo, cepat. Sekarang aku jadi penasaran dengan pemikiranku sendiri." Alea menarik tangan Athalia, agar cepat bertemu supervisor.
Athalia jadi ikut penasaran dengan yang dikatakan Alea. Dia mempercepat langkah dengan perasaan yang mulai was-was.
Ketika masuk ke ruangan administrasi, mereka diperhatikan oleh para karyawan yang sedang sibuk bekerja dan ada yang mulai bersiap mau pulang.
Mereka hanya mengangguk dan tersenyum, lalu menuju ruangan supervisor. "Nah, bagus. Kalian sudah datang. Silahkan duduk di situ." Supervisor menunjuk kursi yang ada di ruangannya.
"Siapa dari kalian yang kenal dengan orang di atas?" Supervisor menunjuk jari ke atas, sebagai isyarat pejabat perusahaan.
Hal itu mengherankan Athalia dan Alea. "Saya tidak kenal, Pak." Jawab Athalia dan Alea bersamaan.
"Tidak ada yang kenal? Mungkin bukan kenal, tapi berhubungan." Supervisor penasaran, dan ingin meyakinkan.
Supervisor mengira, mungkin antara Athalia atau Alea ada berhubungan dengan staff. Karena mereka memiliki paras yang cantik dan berattitude. Sehingga bisa saja di antara staff ada yang jatuh cinta kepada mereka.
Supervisor berpikir demikian, karena ada permintaan khusus untuk mereka berdua. Hal itu baru pernah terjadi, sehingga mencurigakan.
Alea menyenggol Athalia. Dia mengingatkan pembicaraan mereka sebelum masuk ke ruangan administrasi. "Pak, maaf. Kami tidak mengerti maksud bapak." Ucap Alea.
"Iya, Pak. Kalau berhubungan, hampir setiap hari kami berhubungan dengan staff, karena banyak tamu yang menemui mereka." Athalia tidak mau berspekulasi dan menyebut nama Hendry seperti yang dipikirkan Alea. Karena mereka tidak tahu jabatannya, walau dia sering keluar dari lift.
"Baik. Ya, sudah. Saya hanya bertanya saja. Lupakan itu. Sekarang yang utama, mulai minggu depan, hari senin, kalian sudah dipindahkan ke bagian administrasi." Ucap supervisor serius.
Mendengar hal itu, Athalia dan Alea saling pandang. "Maksud bapak, kami tidak bekerja di resepsionis lagi?" Tanya Alea yang lebih cepat paham, sebab Athalia sedang memikirkan masa trainingnya.
"Iya. Kalian tidak bekerja lagi di sana, sebab ada perubahan struktur jabatan perusahaan dan juga ruangan. Mulai minggu depan, perusahaan akan pakai access control system. Jadi semua karyawan harus pakai access...." Supervisor menjelaskan.
"Begitu juga dengan tamu...." Supervisor lanjut menjelaskan surat keputusan yang diterima dari petinggi perusahaan.
Alea bersyukur dalam hati, karena dengan demikian, ada peningkatan baginya dan juga Athalia.
"Maaf, Pak. Lalu bagaimana dengan masa training saya?" Athalia bertanya, karena masa depan traningnya yang dia pikirkan dan ingin tahu.
"Masa trainingmu diperpanjang lagi. Ini suratnya...." Supervisor menjelaskan dan memberikan surat perjanjian perpanjangan kepada Athalia.
Athalia menerima dengan tangan bergetar dan jantung berdegup kuat. Dia membaca sepintas surat perjanjian dengan mata berembun. "Terima kasih, Pak." Ucapnya pelan.
"Baik. Mulai minggu depan, ini akan jadi pekerjaan kalian berdua, sambil menunggu keputusan selanjutnya." Supervisor menyerahkan map kepada Athalia dan Alea untuk dipelajari.
"Sepanjang libur akhir pekan, kalian pelajari itu. Supaya hari senin kalian bisa mulai menyesuaikan dengan yang lain." Ucap Supervisor lagi.
"Iya, Pak. Terima kasih." Ucap Athalia dan Alea bersamaan.
"Baik. Kalian sudah boleh langsung pulang." Ucap supervisor sambil berdiri.
Athalia dan Alea segera pamit. Hati mereka sangat penuh mendapati yang terduga. Oleh sebab itu, mereka ingin segera keluar untuk meluapkan rasa hati mereka.
Setelah berada di resepsionis, mereka berpelukan tanpa suara, karena tidak tahan. Tanpa terasa, air mata mereka mengalir. "Selamat, ya." Mereka saling mengucapkan selamat.
"Apa orang yang bernama Hendry itu, lakukan ini pada kita?" Bisik Alea.
"Mungkin, ya, mungkin tidak." Ucap Athalia sambil mengambil tissu.
"Maksudmu?"
"Entah, Lea. Aku tidak mau menebak." Athalia menarik nafas panjang. "Aku tidak mau pikirkan itu. Aku mau bersyukur saja." Athalia memberikan tissu, lalu mengelus lengan Alea.
...~•••~...
...~•○♡○•~...