"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: YATIM DI TENGAH DARAH
Dinginnya air laut yang merembes masuk ke laboratorium dasar laut ini tidak sebanding dengan kedinginan yang membekukan jantungku. Aku menatap pria yang berdiri di tengah reruntuhan kaca itu pria yang selama sepuluh tahun kutangisi di depan nisan kosongnya. Ayahku.
"Yati, dengarkan Ayah... semua ini demi kebaikanmu," suara Ayah terdengar bergetar, namun ada nada obsesi yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Demi kebaikanku?" Aku tertawa getir, suaraku parau akibat cekikan mesin tadi. "Ayah memalsukan kematian, membiarkan aku menjadi yatim piatu yang lapar, lalu membiarkan aku dinikahi oleh monster ciptaan Ayah sendiri? Ayah menyebut ini kebaikan?!"
Stevanus yang asli berdiri dengan angkuh di samping tangki birunya, menikmati pemandangan kehancuran batinku. "Ayahmu adalah ilmuwan jenius, Yati. Tapi dia pengecut. Dia menanamkan Nanocore prototipe ke dalam rahimmu saat kau masih remaja, lalu dia lari karena takut organisasiku akan membedahmu."
Aku menatap Ayah dengan pandangan tidak percaya. "Ayah... menjadikanku kelinci percobaan sejak aku kecil?"
Ayah melangkah maju, senjatanya masih terarah pada Stevanus, namun matanya memohon padaku. "Itu untuk melindungimu, Nak! Nanocore itu adalah pelindung biologis. Hanya saja... aku tidak menyangka Lidya Kencana akan menemukanmu dan menjebakmu dalam pernikahan sialan itu."
"Cukup!" teriakku. Suaraku menggema di antara deru mesin laboratorium yang mulai korsleting. "Kalian semua sama. Kalian melihatku sebagai wadah, sebagai kunci, sebagai aset. Tidak ada satu pun dari kalian yang melihatku sebagai manusia!"
Tiba-tiba, tekanan air laut menghantam dinding kaca lebih keras. KRAKK! Retakan besar merayap cepat. Alarm bahaya kini berteriak: "STRUCTURAL COLLAPSE IMMINENT. 60 SECONDS TO TOTAL FLOODING."
"Yati, kemari! Ikut Ayah!" Ayah mengulurkan tangannya.
"Tidak!" Stevanus menerjang Ayah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Pertarungan pecah di hadapanku. Dua pria yang paling berpengaruh dalam hidupku saling hantam dengan kebencian murni. Stevanus menggunakan kekuatan biotiknya, sementara Ayah menggunakan alat-alat canggih yang tersembunyi di seragam tempurnya.
Maya, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba mendekatiku. Dia memegang sebuah alat suntik kecil berisi cairan keperakan. "Yati, maafkan aku. Tapi 'Kunci' ini harus tetap berada di tangan organisasi."
Maya hendak menusukkan jarum itu ke leherku, namun Aris yang sempat pingsan tiba-tiba bangkit dan menerjang kaki Maya. Mereka bergulat di atas lantai yang mulai digenangi air setinggi mata kaki.
"Widya... lari!" Aris berteriak, wajahnya dipenuhi darah. "Jangan percayai siapa pun! Pergi ke dermaga darurat di sektor utara!"
Aku tidak punya waktu untuk menangis. Dengan sisa tenaga, aku melepaskan diri dari sisa-sisan lengan robotik yang sudah kehilangan daya. Aku berlari menembus lorong-lorong kaca yang mulai bocor. Di belakangku, aku mendengar suara ledakan dan teriakan marah Stevanus.
Aku mencapai sektor utara. Sebuah kapal selam mini otomatis sudah menunggu di sana. Namun, saat tanganku menyentuh pintu kapal, sebuah tangan lain menahanku.
Itu adalah wanita yang wajahnya identik denganku Widya dari masa depan atau klon sempurna itu. Dia tampak sangat lemah, kulitnya mulai mengelupas memperlihatkan sirkuit elektronik di bawahnya.
"Jangan masuk ke kapal itu, Yati," bisiknya, suaranya seperti desis angin. "Kapal itu tidak akan membawamu ke permukaan. Ayahmu telah memprogramnya untuk membawamu ke markas rahasianya di pedalaman hutan."
"Lalu aku harus ke mana?!" isyakku. Air laut sudah mencapai pinggangku.
Wanita itu memberikan sebuah tabung oksigen kecil dan sebuah tas punggung kedap air. "Gunakan jalur pembuangan limbah. Itu satu-satunya jalan yang tidak terpantau radar mereka. Dan satu hal lagi..."
Dia menempelkan tangannya ke perutku. Aku merasakan kehangatan yang aneh menjalar. "Bayi ini... dia bukan hanya kuncinya. Dia adalah penyeimbang. Jaga dia dengan nyawamu."
Wanita itu kemudian mendorongku ke saluran pembuangan dan menguncinya dari luar tepat saat air laut menghantam seluruh sektor itu dengan kekuatan penuh.
Aku tersedot ke dalam pipa pembuangan yang gelap, terombang-ambing di dalam air yang menyesakkan. Saat aku akhirnya terlempar keluar ke laut lepas, aku melihat ke bawah. Laboratorium dasar laut itu meledak dalam bola api biru yang raksasa di kedalaman samudra.
Di tengah kegelapan air malam itu, aku melihat sebuah cahaya merah dari kejauhan. Sebuah kapal selam pengintai dengan logo yang belum pernah kulihat sebelumnya logo seekor ular yang melingkari bola dunia mendekat ke arahku.
Sebuah suara terdengar melalui alat komunikasi di dalam tas yang diberikan wanita tadi: "Subjek A telah diamankan. Tapi dia tidak sendirian. Ada denyut jantung ketiga yang terdeteksi di dalam tubuhnya. Mulai Protokol Kelahiran Gelap."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...