NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Liburan bareng

Jordan langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Nenek Rita dengan penuh semangat, begitu erat seolah kebahagiaannya bisa tumpah ruah kapan saja.

“Nenek… Jordan bahagia sekali,” ucapnya dengan suara sedikit bergetar. “Rasanya kayak… akhirnya nemu tempat paling nyaman.”

Nenek Rita sempat terkejut, lalu tertawa kecil sambil menepuk-nepuk punggung cucunya.

“Ya ampun, cucu nenek yang satu ini. Pelukannya kayak mau ngremukin tulang nenek saja,” candanya, tapi matanya tampak berkaca-kaca. “Jadi… Nana itu benar-benar menerima kamu?”

Jordan mengangguk mantap. “Dia gak langsung bilang iya, Nek. Tapi dia mau kasih aku kesempatan. Buat aku… itu sudah lebih dari cukup.”

Nenek Rita tersenyum hangat. Ia menarik Jordan untuk duduk kembali di tepi ranjang, lalu menggenggam tangan cucunya dengan lembut.

“Kalau begitu, nenek ikut bahagia. Jarang-jarang Jordan bisa sebahagia ini. Dari kecil sampai besar, kamu itu selalu serius, jarang sekali nunjukin perasaan.”

Jordan terkekeh kecil. “Mungkin karena baru kali ini Jordan ngerasa yakin, Nek.”

“Ceritakan sama nenek,” pinta Nenek Rita lembut. “Siapa Nana itu sebenarnya?”

Jordan menghela napas, lalu mulai bercerita dengan pelan namun runtut. Tentang pertemuannya dengan Nana di rumah sakit pusat rehabilitasi. Tentang bagaimana Nana datang sebagai pasien dengan luka fisik dan batin yang sama-sama dalam. Tentang hari-hari di mana ia mendampingi Nana bukan hanya sebagai dokter, tapi juga sebagai manusia.

“Awalnya Jordan pikir ini cuma rasa empati, Nek,” katanya jujur. “Tapi ternyata lebih dari itu. Nana itu… kuat, tapi juga rapuh. Dan entah kenapa, Jordan pengen ada di sisinya.”

Nenek Rita mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk pelan.

“Lalu tadi kamu bilang… kalian pernah satu kelas?”

“Iya,” jawab Jordan. “Waktu SMA. Satu kelas selama satu tahun.”

Nenek Rita mengernyitkan dahi, mencoba mengingat.

“Yang sebelum kamu ikut ayah dan ibumu ke Belanda itu?”

“Iya,” jawab Jordan lagi. “Waktu itu Jordan masih culun, pendiam, dan gak banyak bicara. Nana juga gak terlalu menonjol. Kita bukan teman dekat. Bahkan jarang saling sapa.”

Nenek Rita tiba-tiba menarik Jordan ke dalam pelukannya. Pelukan itu tidak sekeras pelukan Jordan sebelumnya, tapi hangat dan penuh ketenangan, seperti doa yang tak terucap.

“Nenek gak mau kamu menikah cuma karena kewajiban, Jordan,” ucap Nenek Rita lirih namun tegas. “Nenek sudah lihat terlalu banyak orang hidup tanpa cinta. Rumah tangga tanpa rasa itu melelahkan, Nak.”

Jordan terdiam. Dadanya terasa penuh. Ia membalas pelukan neneknya, menempelkan kening ke bahu renta yang sejak kecil selalu menjadi tempat paling aman baginya.

“Makasih, Nek,” ucapnya tulus. “Jordan takut… waktu keluarga mulai bahas perjodohan. Jordan gak enak nolak, tapi Jordan juga gak mau bohong sama diri sendiri.”

Nenek Rita mengusap punggung cucunya perlahan.

“Makanya nenek selalu bilang, jangan ambil keputusan besar waktu hatimu belum yakin. Perjodohan itu bukan dosa, tapi memaksakan diri itu yang menyiksa.”

Jordan menarik napas dalam.

“Jordan bersyukur, Nek. Karena nenek selalu jadi orang pertama yang berdiri di pihak Jordan. Karena nenek… keluarga akhirnya berhenti mendesak.”

Nenek Rita tersenyum kecil.

“Bukan karena nenek keras kepala,” katanya lembut. “Tapi karena semua itu bisa dibicarakan. Orang tua kamu juga akhirnya mengerti. Mereka cuma takut kamu sendirian terlalu lama.”

Jordan mengangguk pelan.

“Jordan paham maksud mereka. Tapi Jordan mau menikah bukan karena umur, bukan karena status. Jordan mau karena hati.”

“Itu yang benar,” sahut Nenek Rita mantap. “Dan kalau sekarang hatimu condong ke Nana, nenek cuma mau satu hal.”

“Apa, Nek?” tanya Jordan.

“Pastikan kamu bertanggung jawab,” jawab Nenek Rita. “Kalau kamu datang ke hidup perempuan itu, datanglah dengan niat yang utuh. Jangan setengah-setengah.”

Jordan tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Jordan janji, Nek. Jordan gak main-main.”

Nenek Rita melepas pelukannya, lalu menatap Jordan dengan tatapan penuh kasih.

“Kalau begitu, nenek doakan. Semoga Nana adalah jawaban dari doa-doa kamu selama ini.”

Jordan mengangguk mantap. Di dalam dadanya, keyakinan itu semakin menguat—bahwa kali ini, ia tidak salah memilih jalan. Disaat bahagia ini, terlihat seorang wanita yang menguping sejak beberapa detik lalu....

"Oh jadi ini yang bikin kalian lupa sama aku?" ucap kakak sepupu Jordan, Yuna namanya.

"Ya ampun kakak,kenapa gak bilang kalau mau datang?" teriak Jordan seperti anak kecil saat melihat kakak sepupu yang sangat ia sayangi karena selalu membelanya tanpa pamrih.

"Ayahmu bilang kamu ingin menikah,jadi aku pulang dong. Eh, baru mau nanya soal calon... Keknya ada rahasia yang tidak aku tahu."

"Kakak, aku punya cinta terbaik. Kakak mau lihat gak?" Jordan lantas memperlihatkan foto profil milik Tasya yang ada potret Nana.

"Ini Kak, cantik gak?" Jordan begitu excited.

"Biasa aja sih, cantikkan aku!"

"Kakak!!"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!